NovelToon NovelToon
SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Tampan)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:521.4k
Nilai: 5
Nama Author: Windii Riya FinoLa

Hai, ini adalah karya emak yang keempat. Semoga kalian pada suka, bahkan lebih dari novel emak yg ketiga.

Adzilla Rahma harus menelan pil pahit setiap hari karena memiliki suami yang pelit dan perhitungan.

Suara bentakan dari suaminya adalah makanan Adzilla setiap hari.

Hingga di pernikahan nya yang ke 7 tahun, dengan mata dan telinganya sendiri menyaksikan mertua dan suaminya menghina ayahnya membuat ia murka.

Sakit hati dan emosi yang sudah lama di pendam ia ungkapkan dan tak memberi ampun bagi siapa saja yang telah menghina ayah nya.

Perpisahan tak terelakkan lagi, ia memulai menata hati dan hidupnya yang terbuang sia-sia selama ini.

Sampai ia bertemu dengan seseorang yang beberapa kali membantu nya di masa pernikahan nya dahulu.

Dia, pria muda penjual Kebab yang ternyata ada hati padanya sedari menjadi istri orang mampu mengobati luka, mampu mengembalikan dirinya yang dahulu.

Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Ikuti terus kisah cinta Adzilla di SETITIK CAHAYA (Janda Kesayangan Berondong Narsis)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windii Riya FinoLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Di rumah sakit

Adzilla menyusuri koridor Rumah Sakit dengan perasaan gamang menyelimuti hatinya. Setelah Hana dan Heri mendatanginya dua hari lalu, barulah ia memberanikan diri.

Benar-benar tak menyangka bila keputusan meninggalkan Askar secara sepihak membuat pria yang masih ia cintai itu begitu terpuruk.

"Askar, ini faktor usia mu yang masih muda atau karena cinta mu yang menggila?" tanya Adzilla pada diri sendiri karena masih tak percaya dengan perubahan Askar.

Memang, semenjak terakhir kali Askar mendatangi untuk membujuk dirinya kembali berhubungan tak pernah lagi Adzilla bertemu dengan pria itu.

Bukan tak rindu ataupun tak cinta lagi. Adzilla belajar untuk menerima takdir yang sudah di gariskan untuknya.

Dengan menenteng rantang berisi makanan kesukaan Askar dan buah-buahan, ia terus berjalan menguatkan hati untuk mengobati luka hati dan fisik Askar.

"Kenapa aku gugup begini, sih?" sungut Adzilla tepat di depan pintu ruang rawat Askar.

"Awwh.. Sakit, woy."

Mendengat suara pekikkan dari dalam membuat Adzilla menempelkan telinga di daun pintu tersebut.

"Makanya, galau gagal nikah itu banyakin sholat dan ngaji bukan malah balapan. Rasakan akibatnya. Kau kira Zilla mau sama kau dengan luka lecet dan tangan yang patah?"

"Zilla gak bakal tahu kalau kau gak kasih tahu dia. Bisa ganti gak sih makanan nya? ini hambar, Za."

"Kenapa kau cerewet sekali? kau kan sakit makanya makan beginian. Ak**u heran lihat kau, As. Kau kan sudah tahu kalau permasalahan kalian sudah selesai. Kenapa gak datangin Zilla? malah balapan begini."

"Diamlah, Aku takut di tolak lagi."

Adzilla menggeleng mendengar perdebatan mereka. Bahkan ingin rasanya Adzilla tertawa mendengar itu.

"Baiklah, Zilla. Sudah waktunya kau menebus kesalahan mu. Semangat cantik." Adzilla memberi semangat pada diri sendiri. Mengetuk pintu seraya mengucap salam.

Mendengar jawaban salam dari dalam dan mempersilahkan untuk masuk, segera mendorong handle pintu.

Mencoba tetap tersenyum di tengah rasa gugup. Memilih duduk di sebelah brankar berseberangan dengan Reza.

"A-aku keluar dulu cari makan siang. Kak Zilla bisa suapi Askar kan?" Sebenarnya Reza ingin sekali melihat bagaimana interaksi teman dekat nya dengan Adzilla namun, tatapan Askar memberi kode untuk meninggalkan mereka berdua maka memilih mengalah saja.

...****...

Adzilla berdehem menetralkan kegugupan. Rasanya sangat canggung berada di dekat Askar dari sekian lama mereka berpisah.

Ia pun merasa heran mengapa Askar diam saja bahkan tak ada niat untuk melihat ke arah nya.

Apa dia ngambek?

"As."

"Hem?"

"Mau makan? aku bawain sup ayam sama sambal kesukaan mu." Adzilla mencoba terus mengajak Askar bicara.

Ia mengerti bila Askar wajar marah padanya karena rasa cinta nya tak begitu kuat seperti cinta Askar. Seharusnya dirinya percaya pada Askar karena bisa di lihat bagaimana Askar sangat menjaga jarak di antara mereka walau satu kebiasaan pria itu yang tak ia tolak.

Mengecup tiga ujung jemari lalu di tempelkan pada dahinya.

"Aku sudah makan." ucap Askar datar.

Adzilla menghela nafas. "Aku yang masak." ucapnya membuat Askar menoleh ke arahnya tetapi tetap dengan wajah datar.

"Sedikit saja."

Adzilla tidak mempermasalahkan tatapan datar Askar. Dengan semangat ia membuka rantang kemudian mengambil nasi dan sup ayam beserta sambalnya.

Ketika Adzilla hendak menyuapi, Askar menolak dan berusaha merebut piring dari tangannya. Tentu saja ia mengelak.

"Aku mau makan sendiri."

Ingin rasanya Adzilla tertawa saat ini melihat wajah Askar yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.

"Biar aku saja, As. Fokus lah untuk kesembuhan mu. Aku nggak mau di nikahi laki-laki penuh luka dan tangan nya begini? Gimana mau gendong aku, anak-anak, dan anak selanjutnya?"

"Atau aku hatus menerima pinangan dari laki-laki lain saja?" cecar Adzilla membuat Askar diam saja untuk beberapa saar. Bisa di pastikan jika pria di depan nya ini tengah memikirkan semua ucapan nya.

Benarkan? sangat jelas Askar baru menyadari dengan mata terbelalak kemudian menatapnya aneh.

Tetapi tatapan aneh itu seakan mengintimidasi dirinya hingga membuat gugup. "Ada apa, As?"

"Aku baru sadari kalau kau tambah cantik, yang."

Ah, senyuman pria itu salah satu yang sangat dirindukan. "Yang?"

Askar tampak mengangguk. "Sayang."

"Aku akan sembuh kalau kau yang merawat. Awas saja kalau kau berani terima pinangan dari orang lain. Aku bakalan ganggu rumah tangga kalian. Kalau perlu, aku bakal lakuin apa yang sudah kalian tuduhkan padaku."

Adzilla tercengang dengan ucapan Askar tetapi tangan nya terus bergerak menyuapi pria itu. "Emang kau mau lakhin apa, As?"

Askar tak lantas langsung menjawab tetapi tatapan nya benar-benar mengintimidasi Adzilla.

"Aku bakal perkosa kau, yang. Biar kita bisa segera nikah."

"Astaghfirullah, Askar. Perkosa endasmu. Awas saja kalau kau berniat begitu." Saking gemas nya Adzilla pada Askar membuat ia mencubit perut.

"Awwh.. Sakit, yang." ringis Askar membuag Adzilla merasa bersalah.

Ia menyingkap pakaian Askar untuk melihat luka yang terkena cubitan nya. "Askar, kau mengerjaiku? jahil banget sih." sungut Adzilla karena di perut Askar tak ada yang luka dan ia pun meletakkan piring di atas nakas karena sudah habis.

Askar tertawa kemudian memeluk kepala Adzilla berbalut hijab itu dengan satu tangan. Tubuh Adzilla terpaku atas perlakuan dari pria itu. Terdengar jelas detak jantung Askar begitu kencang.

"As."

"Biaekan begini sebentar lagi, yang. Aku begitu merindukan mu. Bahkan detak jantungku masih sama saat berada di dekatmu."

Adzilla menelan saliva dengan kasar. "As, aku merasa tak nyaman." Setelah mengatakan itu barulah pelukan terlepas.

"Maaf." kata Askar membuat Adzilla mengangguk.

"Jangan aneh-aneh lagi, kau buat aku khawatir, As. Gimana kalau anak-anak tahu kau begini? cukup buat aku pusing harus beralasan karena papi mereka tak datang lagi."

"Hanya khawatir?"

Tatapan mereka bertemu. Mata Adzilla menganak sungai. "Aku takut kau akan pergi ninggalin aku." Setelah mengucapkan itu, Adzilla duduk kembali dengan kepala menunduk dalam.

Askar sendiri hanya diam mengelus kepala Adzilla berbalut hijab itu. "Bahkan setelah masalah serumit itu dan kau memilih memutuskan hubungan kita saja aku tak pernah meninggalkan mu."

Adzilla mendongak membuat Askar mengusap air matanya. "Aku takut kehilanganmu lagi." ucap Adzilla dengan wajah sendu.

...****...

Cukup lama Askar berusaha menenangkan Adzilla yaang terus saja menangis setelah menceritakan apa yang terjadi dan penyebab wanita itu mengambil keputusan secara sepihak.

Sungguh, ia tak marah walau seharusnya hal itu wajar jika dilakukan. Tetapi Askar lebih memilih menasehati dan membuat kesepakatan.

"Apapun itu, mau sekecil apapun yang gak sukai di antara kita. Bicarakan lebih dulu agar bisa menemukan solusi."

Dan ketika Adzilla meminta untuk memaafkan Hana, ini lah yang dihindari tetapi karena wanita itu mengatakan bahwa tak pernah marah pada kakaknya menjadi kan ia terpaksa memaafkan.

"As."

"Ya." Tatapan mereka bertemu lalu Adzilla memutuskan pandangan karena tengah melihat luka lecet di beberapa bagian tangan dan kaki, lalu tangan kiri nya berada di arm slim.

"Kok cuma tangan sama kaki yang luka? kepala nya kok gak ada?"

❤️

TBC

1
Siti Masitah
dasar reza mokondo
Rizky Rahma Aulia Akbar
Lumayan
Rizky Rahma Aulia Akbar
Luar biasa
Jade Meamoure
bagus banget Thor
Qta Aini
sy ada mak, punya kenalan kl sm orang lain duh ringan tangan membantu, apapun itu mau uang atau tenaga tp sm anak istri pelitnya minta ampun sampai utk nambah pemasukan sang istri rela jd ojek, tukang urut, buruh cuci dan gosok baju tetangga...
Nadja 🎀
btw suka bgt ceritanya suami brondong gk bertele-tele mantap!
Kalsum
kasihan mentari ..berikan jodoh buat mentari yg bisa menerima ap adanya thooor
Kalsum
alhamdulillah selamat
Kalsum
lama amat hr h nya thoor
Kalsum
yg nyesal ma emaknya bari
Kalsum
💪💪💪💪💪
Kalsum
semangat bang azka kejar janda💪💪💪
Kalsum
7thn bertahan.alhamdulillah udh di talak
Kalsum
semangat azka kejar jodoh mu
Ocanya gava
Luar biasa
Siti Romlah
gimana ya kalo di dunia nyata apa ada yg seperti di dunia novel. Tabrak lelaki tuk nikahi dirinya, padahal cinta ma lelaki lain danasih berlanjut.
kerbau saja tidak begitu to
Asngadah Baruharjo
terhura 😭😭😭
Asngadah Baruharjo
waduuuuhhhhhhhhhh
Asngadah Baruharjo
siap 2 ke kondangan 🤣🤣🤣
Asngadah Baruharjo
ibu mertua kaya gitu di sambal goreng sajo🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!