Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Eksis Kembali
Pelahan Ela membuka jendela kamar Depy.
Krieeeeeeet... Prekeeeeeteeeeek...
Baaaaaaa...
Sepi.
Tak ada apa-apa.
Kosong.
Hampa.
Seperti hidup tanpamu. (Aseeeek)
Ela melongokkan kepalanya, celingak-celinguk, mencari sesuatu, atau mencari sebab serta mencari alasan.
Nihil.
Hanya angin yang berhembus sempoyongan.
Ela akhirnya menutup jendela lagi, tak lupa menguncinya.
"Nggak ada apa-apa Dep, kayaknya tokek mabok."
Kata Ela.
Depy yang sudah jantungan takut itu hantu akhirnya terduduk lemas.
"Duh kalau begini hidupku jadi tidak tenang La, rasanya seperti jadi kayak punya tagihan kartu kredit."
Kata Depy.
Ela berjalan ke kasur lantai lagi, dan duduk sila di sana.
Sekotak martabak susu keju kiriman Asep melambai-lambai meminta dicolek.
Ela pun mengulurkan tangannya dan langsung mengambil satu potong untuk langsung ia makan dengan lahap.
"Santai saja, kamu kalau nurutin rasa takut nanti dia kesenengan gangguin terus. Hantu itu kalau kitanya berani, mereka malah takut."
Kata Ela.
"Kamu mah, mana bisa nggak takut sama hantu La, mereka kan serem."
"Anggap aja kamu ketemu orang gila."
Kata Ela.
"Lah kalau orang gila kan kita masuk rumah juga mereka udah nggak bakal bisa ngejar La."
Depy mengelus dadanya yang masih deg-degan.
"Udah minum dulu minum..."
Kata Ela sambil mendorong gelas sisa es sirup Depy ke arah si Depy.
Depy pun menurut meminumnya.
"Kalau dia nongol malah bagus aku bisa tanya dia mau apa ngikutin kamu, jangan-jangan mau utang."
Kata Ela.
Depy yang masih posisi minum jadi tersedak mendengar kata-kata Ela.
Yang benar saja hantu mau hutang, lagian dipikir Depy ini buka usaha simpan pinjam apa bagaimana.
Ela minum sisa es sirupnya juga, lalu mencomot satu potong martabak lagi.
Depy juga mulai mencomot satu potong martabak pemberian Babang Asep.
"Kayaknya Babang Asep sudah mulai pedekate nih Dep."
Kata Ela disela acara mengunyah martabaknya.
Depy senyum-senyum dikulum.
"Apaan sih..."
Kata Depy setengah malu-malu.
Ela nyengir melihat sahabatnya wajahnya bersemu merah macam roti dioles selai strawberry.
"Kalau kataku mah terima saja Dep misal beneran Babang Asep ternyata suka sama kamu."
"Ah jangan mikir kejauhan dulu La..."
"Hmm kamu mah pake acara malu-malu koceng."
Ela geleng-geleng kepala.
"Ya kan masa belum apa-apa udah GR kan nggak lucu kalau ternyata enggak."
Ujar Depy.
"Ah berani taruhan sih, nanti pasti iya deh."
Ela cekikikan, membuat Depy salah tingkah.
Mereka pun mengobrol ke sana ke mari sampai tanpa terasa waktu sudah menyentuh angka 22.04 WIB.
Depy yang biasanya jam sembilan malam saja sudah sampai New York, kini terlihat matanya mulai berat dan mulutnya bolak-balik menguap.
"Ngantuk tidur gih."
Kata Ela pada Depy.
Depy mantuk-mantuk.
"Iya nih ngantuk banget, aku gosok gigi dulu."
Kata Depy.
Ela mengangguk, lalu membereskan semua makanan dan gelas minuman mereka untuk disingkirkan ke atas meja kosong dekat pintu.
Depy sendiri keluar dari kamar untuk ke kamar mandi di sebelah kamarnya untuk gosok gigi.
Di lantai satu Ibu dan Bapak yang sepertinya baru pulang terlihat mengobrol di depan ruang TV.
Ela kembali ke kasur lantai di kamar Depy, setelah sebelumnya menambah kecepatan kipas angin agar lebih semangat muternya.
Ela rebahan dan mulai main game lagi.
Hingga tiba-tiba, sayup Ela mendengar suara dari luar jendela.
"Jauhi Bang Asep... Jauhi Bang Asep... Jauhi Bang Aseeeep..."
Ela begitu mendengar suara itu langsung duduk, dan segera beranjak dari kasur lagi untuk mengejar suara itu yang sepertinya di dekat jendela.
Ela membuka jendela kamar Depy lagi, dan begitu Ela membuka jendelanya, terlihat bayangan perempuan menggunakan baju terusan putih melayang menjauh.
"Heh kupret!!"
Panggil Ela.
Sosok perempuan itu menoleh sejenak, lalu cepat membuang muka dan melayang lagi menghilang dari pandangan Ela.
"Sialan, berani-beraninya dia buang muka, awas saja kalau ketemu lagi, aku akan buang angin di depannya."
Ela ngomel sendirian.
Tepat saat Ela mengomel, Depy masuk kamar lagi, ia tampak heran melihat Ela berdiri di dekat jendela dan jendelanya dibuka lagi oleh Ela.
"La, kenapa dibuka lagi jendelanya?"
Tanya Depy.
Tak mau Depy takut, akhirnya Ela terpaksa bohong.
"Hehe... mules Dep, buang angin barusan."
Ujar Ela.
Depy nyengir mendengar jawaban Ela.
"Kamu ini, makan martabak kebanyakan sampai mules, sana ke toilet, nanti BAB di kasur."
Kata Depy sambil naik ke tempat tidur.
Ela menutup jendela lagi dan menguncinya lagi.
"Nanti aja belum kebelet banget, baru gas doang yang penuh."
Kata Ela.
Depy cekikikan.
"Lampunya nggak usah dimatiin La, biarin nyala aja."
Kata Depy yang mulai berbaring.
Ela mantuk-mantuk, lalu lompat lagi ke atas kasur lantainya.
"Tidur gih, aku mau lanjutin game."
Ujar Ela.
Depy menguap lagi, lalu mengangguk.
"Aku tidur duluan yah La."
Kata Depy.
"Iya."
Ela rebahan juga dan mulai bersiap dengan hp nya lagi.
Depy memejamkan matanya, dan pelahan mulai tertidur.
Ela yang semula mau main game, karena teringat kata-kata si hantu tadi, akhirnya jadi kepikiran dan memutuskan mengirim chat pada Kais yang Ela yakin belum tidur karena sedang lembur bikin lontong.
[Kais, belum tidur kan?]
Tanya Ela di pesan yang ia kirimkan.
Kais di rumah yang benar masih menemani Ibunya menunggui lontong matang sambil menikmati martabak dan teh anget begitu ada pesan masuk dari Ela langsung membacanya.
"Siapa?"
Tanya Bi Iswanto kepo.
Ia memang cukup protektif pada anak gadisnya.
Tiap pegang hp dan mulai cengar-cengir, Bu Iswanto langsung sigap tanya pesan dari siapa.
Bu Iswanto khawatir jika Kais sampai ikutan tren gadis sekarang yang banyak memburu laki-laki sukses yang sudah beristri.
"Ela, Bu, dia lagi menginap di rumah Depy."
Kata Kais.
"Oooh ya sudah."
Ibu mantuk-mantuk.
Sobir sendiri di ruang depan duduk-duduk dengan Bapaknya, ia malah belum pulang ke rumah Bik Marni meskipun Asep sudah bolak balik tanya kapan mau balik.
[Aku masih nemenin Ibu nungguin lontong matang semua, ada apa La?]
Kais membalas pesan Ela.
[Ada hantu neror Depy nih, namanya Melati]
Tulis Ela langsung ke point tanpa muter lagi.
Kais begitu membaca tentu saja jadi kaget.
Tak telaten mengetik pesan, Kais pun ganti mengirim pesan audio.
"Hantu Melati apa?"
Dan suara Kais yang menyebut hantu itupun terdengar oleh Bu Iswanto.
"Hus, kamu kenapa malam-malam sebut nama hantu?"
Bu Iswanto melempar Kais dengan lap yang untuk daun.
Kais nyengir kuda pada Ibunya.
"Habisnya Ela bahas hantu."
Kata Kais.
"Jangan sebut namanya, apalagi hantu itu, sudah lama dia tidak ada yang cerita lihat penampakannya lagi, sekarang malah kamu sebutin namanya, dasar."
Tak disangka Bu Iswanto jadi marah-marah.
Lho memangnya ada apa ya sama Melati?
Kais yang lupa kisah Melati jadi penasaran.
**--------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus