20 Tahun sudah berlalu, Yunia sudah memiliki kehidupan keluarga yang cukup bahagia, namun ternyata ada yang disembunyikan yunia, bahwa ia hampir setiap malam bermimpi bertemu dengan sang masa lalu. Sang cinta pertama yang tidak benar benar pergi dari hatinya.
Lalu tanpa sengaja mereka tiba-tiba bertemu di dunia nyata, dan ternyata sang mantan pun sudah memiliki keluarga yang bahagia
yunia tidak bisa menampik jantungnya berdebar lebih kencang ketika kembali bertemu dengan sang pemilik mimpinya selama ini "Didi Permana Putra".
apa yang akan terjadi selanjutnya? apakah selama ini Didi pun memiliki mimpin yang sama dengan yunia?
bagaimana Yunia menata hatinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss ii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Danang 4
Akhirnya Danang sampai di rumah duka pukul 14.30 wib. Sampai di halaman rumah, pelayat dan keluarga telah banyak yang hadir menunggu kedatangan Johan. Johan masih dijalan menuju Kotabumi. Keluarga besar sepakat untuk menunggu Johan saja memakamkan Wak Rama. Dikarenakan seperti nya sebelum jam 4 sore Johan akan sampai di rumah duka.
Danang pun menghampiri semua saudara dan membantu persiapan pemakaman. Akhirnya jam 15.45 Johan sampai di rumah duka. Prosesi pemakaman pun disiapkan, mulai mengantar ke pemakaman dan proses pemakaman di ikuti semua oleh keluarga dan kerabat Wak Rama.
Prosesi pemakaman akhirnya selesai pukul 16.30 wib. Semua keluarga pun berkumpul di rumah duka untuk mempersiapkan tahlilan selepas magrib nanti. Kegiatan Tahlilan selesai hampir isya. Semuanya pun makan malam dengan keterpaksaan, jika tidak ingat yang hidup harus tetap melanjutkan hidup tentu semuanya akan tetap berdiam diri menahan kesedihan. Selesai makan malam, semuanya berkumpul di ruang tengah mendengarkan wejangan dari Wak santi. Bahwa setelah kepergian Wak rama, maka yang akan menjadi tetua di keluarga ini adalah Wak santi. Dan diharapkan semua keluarga besar saling membantu dan bersama-sama melewati masa Duka ini.
Namun ada yang membuat hati Danang tersayat tidak ada satu kalimat pun yang menyebut ibunya Danang. Namun apalah daya Danang tetap harus menahan perih di hati demi utuhnya keluarga besar ini.
Ke esokan harinya ketika tengah sarapan, tiba-tiba Wak santi menghampiri Danang dan berkata :" Danang niku selama sa Radu di Tulung jama kiyai Rama, Ganta waktuna niku balas Budi jama keluarga sa". (Danang selama ini kamu sudah dibantu oleh Abang Rama, sekarang waktunya kamu membalas Budi di keluarga ini).
Danang pun terdiam mencoba mencerna perkataan Wak santi, karena selama ini Wak rama tidak pernah menyampaikan bahwa dirinya harus membalas Budi terhadap keluarga ini.
Di tengah diamnya Rama, Johan datang menghampiri dan ikut dalam obrolan ini.
Johan :"api da sa, balas Budi api sai Tanto maksud? Alm ayahku Mak pernah behitung jama keluarga". (ada apa ini, balas Budi apa yang Tante maksud? Alm. Ayah saya tidak pernah hitung-hitungan dengan keluarga)
Wak santi pun menjawab :" la Johan, sanak sija kak nyusahko ayahmu selama sa, jadi wajar Amun nyak kilu balos jasa ayahmu jama ya. Ya harus gantian berkorban guwai keluarga sa" . (Hei Johan, anak ini selama ini sudah. Menyusahkan ayah kamu, jadi wajar saja kalau saya minta balas jasa ayah kamu ke dia, dia harus gantian berkorban untuk keluarga ini).
Mendengar nada Wak santi yang semakin meninggi, ibu Danang pun datang menghampiri, duduk sambil memegang tangan Danang agar tidak pergi meninggalkan tempat, karena selama ini bila Wak santi membuat gara-gara maka Danang biasanya akan segera pergi meninggalkan Wak santi.
Emak : "mahap yai sija api salah Danang, Amun wat sai salah sikam kilu mahap, dan kilu ikhlas segala sai sikam terima " . (maaf kak ini Danang salah apa, kalau ada yang salah kami mohon maaf, dan minta ikhlasnya atas semua yang kami terima).
Wak santi sambil menunjuk ke arah Danang :"Kuti na selama sa Radu nyusahko kiyai rama, jadi ganta kuti gantian sai ngebiayai keluarga sa". (kalian selama ini sudah menyusahkan kakak Rama, jadi sekarang kalian harus gantian membiayai keluarga ini).
Johan pun bicara dengan menahan emosi :"maksud Wak sa api? Sikam Mak pernah mempermasalahko segala sai kak di Tulung ayah jama keluarga Danang. keluarga sipa sai Wak maksud sai harus dibiayai Danang? Nyak Lekok horek insya Allah dapok mencukupi kebutuhan emak jam dekku. Dang sampai Kuti sai butuh angin Kuti ngorbanku ayahku marai tujuan Kuti tercapai. (maksud Wak ini apa? Kami tidak pernah mempermasalahkan apapun yang sudah ayah bantu ke keluarga Danang . Keluarga siapa yang Wak maksud harus dibiayai Danang? Saya masih hidup insyaAllah masih bisa mencukupi kebutuhan ibu dan adik saya. Jangan sampai kalian yang butuh tapi kalian mengorbankan ayah saya, supaya tujuan kalian tercapai).
Wak santi : "Johan dang kurang ajar niku nuduh sikam sai Mak wat Mak wat. Sebagai tetua keluarga wajar nyak nagih haguk Danang, sanak sa sanak tumban, Amun Mak digabor ayahmu mak bakal jadi jelma" . (Johan jangan kurang ajar kamu menuduh kami yang tidak -tidak, sebagai keluarga yang dituakan, wajar saya menagih ke Danang, anak ini anak yang terbuang, kalo tidak di pegang ayah kamu ga bakal jadi orang).
Emak pun beristigfar sambil memeluk Danang dan berkata : "Radu Nang heningko, ingok keluarga Wak Rama, dang nah Wak santimu". (sudah Nang diamkan, inget keluarga Wak Rama, jangan liat Wak santi kamu).
Johan pun berkata sambil berdiri dan dipegangi ibunya:" Tante ancak mulang Jak nuwa sija, sikam ja lagi berduka, butuh ketenangan layon ribut-ribut Mak jelas gogoh sija, kintu nyak khilaf ngusir Tante dan keluarga Tante Jak ja". (Tante lebih baik pulang dari rumah ini, kami ini sedang berduka, butuh ketenangan bukan ribut-ribut tidak jelas seperti ini, takut saya khilaf mengusir Tante dan keluarga Tante dari sini).
Wak santi:"kedo hebat niku na Johan, berani jama sai tuha, bapi gonjor ga ngebel Danang". (sudah hebat kamu Danang, berani dengan orang tua, kenapa bodoh amat membela Danang).
Ibu Johan pun menghampiri Wak santi dan bilang :"pengatu nyak Santi, Tulung hargai nyak sebagai iparmu, niku mulang Pai istirahat marai pekeranmu jernih, Mak ngacau gogoh sija". (tolong saya Santi, tolong hargai saya sebagai kakak iparmu, kamu pulang istirahat supaya fikiran kamu jernih, tidak kacau seperti ini).
Wak santi : "Payo nyak mulang". (ok saya pulang).
Sepeninggal Wak santi dan keluarga nya Danang pun masih terdiam di ruang tamu bersandar di tembok dan duduk bersandar. tanpa di sadarinya ibunya Johan dan Johan datang menghampiri.
Wak Maya : "Nang, tolong mahapko Santi yu, ya gogoh Sina baulah lagi wat masalah jama anakna, mantuna ketangkap pelisi bijo baulah narkoba, jadi anggopna ya Haga kilu duitmu baka Nebus anak jama mantuna Sina, Wak mu ja pun lapah sa awalna tekanjat baulah tiba-tiba Santi ratong tengah bingi makpokmak Haga kilu duit 30 juta baka Nebus mantuna Sina, wakmu Mak Haga ngejuk duit Sina, angin Santi marah-marah malah nuduh pilih kasih jama niku Nang, segala cawana nyakikko hati Amun kuti Haga pandai, akhirnya Wak mu ngusir Santi, ampai Santi tigoh rangok, Wak mu pingsan, laju kilu Tulung jama um daud depan ngusung Wak mu haguk rumah sakit, tigoh rumah sakit Mak Muni wakmu belepas", sambil menangis terisak. (Nang maafin Santi ya, dia seperti itu karena lagi ada masalah dengan anak dan menantunya yang tertangkap polisi karena masalah narkoba, jadi dia bermaksud mau minta uang kamu untuk menebus mantu dan anaknya itu, uwakmu ini pun pergi karena shock karena tiba-tiba dini hari Santi datang dan memaksa minta uang 30 juta untuk menebus anak dan mantunya itu. Wakmu tidak mau memberikan uang itu, tapi Santi marah-marah dan menuduh uwakmu pilih kasih dengan kamu nang. semua perkataan nya menyakitkan hati kalo kamu mendengar nya, akhirnya uwakmu ngusir Santi, baru Santi sampai pintu, uwakmu pingsan, lalu minta bantuan ke om daud yang di seberang rumah untuk bawa uwakmu k rumah sakit. Sampai rumah sakit ga lama uwakmu pergi).
Danang pun menutup matanya sambil menahan air mata dan berkata :" Wak nyak kilu mahap selama sa Radu ngebebani Wak Rama dan keluarga, nyak makkung sempat ngebalosna, Wak kak malah kak makdok lagi". (Wak saya minta maaf, sudah ngebebani Wak Rama dan keluarga, saya belum sempat membalas sekarang Wak Rama malah pergi selamanya).
Johan pun menimpali: "niku ngumung api Nang, Sina kewajiban ayah jama niku, cukup doako ayah supaya rulus ranglayana duda. Ram sai waras dang lawang gogoh Tante santi". (kamu ngomong apa Nang, itu kewajiban ayah ke kamu, cukup doain aja ayah lurus perjalanan di sana. Kita yang waras jangan gila kayak Tante Santi)
Wak Maya pun meminta Danang dan ibunya untuk pulang dulu ke rumah agar bisa tenang beristirahat di sana. Dan kembali lagi nanti sore untuk tahlilan hari ke 2.