Aira, siswi pindahan dari Surabaya yang mampu mengaduk-aduk hati Rafka. Cowok berandal itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sial memang saat cewek incarannya ternyata saudara kembar musuh bebuyutannya. Semakin rumit karena Aira menaruh hati pada kakak laki-laki Rafka.
Mampukah Rafka memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Rafka kini sudah berada di panggung seni acara perpisahan sekaligus pelepasan murid kelas tiga. Cowok itu menghampiri Pak Bambang dengan raut muka tidak niat.
"Bapak ngapain sih panggil-panggil saya?" tanya Rafka.
"Saya mau kasih penghargaan buat kamu Raf, udah tenang aja." Pak Bambang menyerahkan satu mikrofon kepada Rafka. Lalu, Rafka menerima dengan malas.
Rafka masih melirik Pak Bambang, ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang direncanakan gurunya itu.
"Rafka, kamu sebagai murid paling tidak teladan, apa ada yang ingin disampaikan, saat kuliah nanti, atau mungkin setelah berumah tangga, kamu pasti akan merindukan sekolah ini." Pak Bambang membuka percakapan dengan mikrofon.
Rafka menatap tajam pada Pak Bambang, membuat teman-temannya tertawa dengan ekspresi aneh Rafka.
"Bapak mau bikin saya malu? Pak, meskipun saya berumah tangga, yang saya kangenin bukan sekolahnya," jawab Rafka yang memancing Pak Bambang untuk kembali bertanya.
"Terus siapa? Saya?" Pak Bambang menunjuk dirinya sendiri.
"Bukanlah, ngapain saya kangen Bapak, saya masih normal. Yang saya kangenin pasti Aira," jawab Rafka yang membuat teman-temannya bersorak heboh. "Eh, tapi nggak deh. Saya kan berumah tangganya sama Aira." Rafka menatap Aira dengan senyum malu-malu.
"Cih, palingan kamu ditolak sama Aira. Baru masuk terasnya saja sudah diusir kamu," sahut Pak Bambang ketus.
"Bapak sirik banget sama saya."
"Nanti kita berantem di bawah panggung Raf, sekarang kasih kesan-kesan kamu selama sekolah di sini!" perintah Pak Bambang.
"Iya iya Pak, waktu saya memang sangat berharga kok."
Lagi-lagi teman-temannya tertawa. Aira yang melihat suaminya di atas panggung hanya bisa tersenyum geli.
"Rafka jangan banyak omong ya kamu!" Kali ini Pak Bambang melotot pada Rafka, kesal.
"Iya iya. Em, kesan-kesan sekolah di sini. Senenglah pasti, karena ketemu Aira. Dulunya nggak, biasa aja, aku kan ganteng, terlalu banyak yang suka."
"Rafka, Rafka." Rendi berteriak memanggil Rafka, ia berdiri dengan tangan menangkup pipinya sendiri, dan semua penonton tertawa karenanya.
"Itu yang kamu bilang suka kamu," ejek Pak Bambang yang tertawa puas.
"Bukan, bukan mereka. Tapi tuh contohnya, anak MM dua, MM tiga juga banyak. Hayo lo pada ngaku nggak yang valentine suka ngasih gue coklat. Sory, gue sekarang ada Aira, pemilik hatiku."
"Pemilik hati pret, nanti juga kalau kuliah Aira ketemu cowok yang lebih ganteng kamu dilepeh," sahut Pak Bambang.
"Aira istri saya, Pak." Raut wajah Rafka tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Kamu nggak bercanda kan?" Pak Bambang tampak terkejut, begitu juga dengan teman-teman Rafka dan Aira. Mereka saling berbisik.
"Nggak Pak, kami sudah menikah setelah ujian selesai. Mohon doa restunya," jawab Rafka dengan mantap, ia juga tersenyum ke arah Aira.
"Oh, baiklah. Semoga langgeng. Tapi, kalian nggak MBA kan?"
"Alhamdulillah nggak Pak, saya emang nakal, tapi nakal yang nggak merugikan orang lain. Kalau merugikan orang lain, saya nggak mau, Pak."
"Baguslah. Kamu kecil-kecil udah jadi kepala rumah tangga. Tanggung jawabnya besar Raf. Kalau bisa kamu lanjutin kuliah, bagaimana pun juga, sekarang pendidikan itu penting. Cari kerjaan susah, sukur-sukur kalau kamu bisa jadi pengusaha sukses seperti papimu," pesan Pak Bambang sembari menepuk pundak Rafka.
"Makasih Pak, saya akan lebih sukses dari papi saya."
"Ini ada penghargaan buat kamu, sebentar." Pak Bambang meminta panitia acara yang tak lain adalah anggota OSIS untuk membawa naik baki berisi sesuatu yang dikhususkan untuk Rafka.
Pak Bambang langsung mengalungkan kalung besar yang berisi rangkaian permen ke leher Rafka.
"Selamat dan sukses menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Jangan jadi anak bandel lagi."
"Bapak niat banget bikin malu saya," jawab Rafka.
"Kamu juga niat banget bikin saya pusing tiga tahun ini," balas Pak Bambang. "Kita foto dulu Raf, jarang-jarang kamu dapat penghargaan kan?" Pak Bambang merangkul pundak Rafka.
Dengan malas, Rafka menurut dan mengabadikan momen paling bersejarah itu. Dia akan selali dikenal sebagai murid tidak teladan yang selalu membuat masalah.
Aira mengacungkan jempol pada Rafka tepat saat cowok itu berpose.
🦋🦋🦋🦋
Aku udah doble up gaess, mon maap kondisi belum terlalu oke. 🥰🥰🥰 Jangan lupa jempol, komen, ritualnya. 😘😘😘