(Novel sedang dalam tahap perbaikan. Akan ada perbaikan kata dan perubahan bab. Maaf untuk Season 2 yang saya hapus)
Demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya, Hanan Kourosh, Seorang Ceo pemilik perusahaan terkenal ibukota.
Rela menikahi seorang gadis yang tak ia cintai dan tak sesuai standarnya, Zara Altair. Seorang gadis yatim piatu, putri dari pembunuh kedua orang tuanya. Dengan rupanya yang jauh dari kata cantik dan memiliki tompel besar di pipinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dijalani, tak terlihat sedikitpun bahwa pernikahan hanya didasari pada balas dendam
Akankah Zara mendapat kebahagiaannya, atau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kleo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 (Rumor)
Keesokan Harinya....
Di pagi yang begitu indah, Zara terlihat menuruni anak tangga. Suasana tampak sangat tenang, para pelayan melakukan pekerjaannya dalam diam, hanya derap langkah kaki Zara yang memecah kesunyian pagi itu.
Ia memandangi satu-persatu para pelayan yang hanya sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tampak aneh untuk seseorang yang bekerja sebagai pelayan atau pembantu. Entahlah, rasanya itu mencurigakan, seolah mereka hanyalah seorang penyamar.
Tanpa melihat sedikit pun, para pelayan menyapa Nyonya rumahnya.
“Selamat pagi, Nona!”
“Oh, selamat pagi untuk kalian juga”
“Jika anda ingin sarapan, hidangan telah siap di atas meja, Nona” ucap salah satu pelayan.
“Tidak, nanti saja. Aku hanya ingin berjalan pagi di sekitar sini”
Salah satu pelayan mengangguk tanda mengerti, ia memberikan sebuah kode pada para pelayan lain, yang membuat mereka satu persatu pergi melakukan pekerjaan masing-masing di ruangan lain.
Zara melanjutkan langkahnya, ia berjalan keluar melihat taman di samping rumah. Zara duduk di gazebo, melihat sekitarnya yang tampak suram, walaupun bunga bermekaran indah menghiasi taman.
Ya, suasana tampak sunyi, Hanya suara kicauan burung yang terdengar. Sangat sedikit kendaraan yang berlalu lalang melewati jalanan, bahkan setiap rumah bergaya Eropa Klasik ini pun tak satu pun terlihat penghuninya.
“Nona, saya membawakan teh untuk anda”
Suara pelan dari pelayan bernama Mirya itu mengejutkan Zara. Ia sama sekali tak
menyadari kedatangan Mirya di sampingnya.
Buru-buru Zara menerima teh yang diberikan Mirya.
“Ya, terima kasih untuk tehnya”
“Baiklah, Nona. Kalau begitu saya permisi”
Jawabnya sembari pergi meninggalkan Zara.
Ketika Zara melihat punggung pelayan telah menghilang dari padangan, ia merasa para pelayan itu cukup aneh, banyak pertanyaan muncul di benaknya karna itu. Belum lagi dengan wajah diam tanpa ekspresi itu cukup menakutkan bagi Zara.
“Padahal suasana di sini sangat sunyi, tapi bagaimana bisa aku tak mendengar suara langkah kakinya menghampiriku?”
Tak berapa lama, Zara kembali masuk ke dalam rumah. Suasana di sana masih sama. Para pelayan tetap bekerja dalam diam bahkan tanpa suara.
“Nona, Tuan menyuruh saya memberikan ini pada anda”
Pelayan itu langsung memberikan sebuah tas belanjaan pada Zara. Di dalamnya terdapat kotak berisi gaun modelan Off-Shoulder berwarna Complower Blue
Zara menerimanya, ia membawa tas belanjaan berisi gaun ke lantai atas. Entah mengapa ketika melihat gaun itu, Zara merasa gelisah, takut akan pesta yang ia datangi nanti malam.
Hanan yang meminta untuk tidak menggunakan abu hitam di pesta kali ini membuatnya takut, takut jika ia mengingat lagi masa lalunya.
Waktu berlalu, malam dengan cepat tiba. Zara yang telah selesai mandi, terlihat di dandani oleh tiga orang pelayan. Seperti yang di pinta Hanan, Zara tak menggunakan abu hitam juga tompel di wajahnya. Walaupun begitu, tak terlihat ada cermin di sekitar Zara.
Ya, Hanan lah yang telah menyuruh para pelayan menyingkirkan cermin di sekitar Zara.
Di sisi lain, Hanan telah menunggu Zara di lantai bawah. Ia telah siap dengan setelan jas berwarna hitam dan sepatu pantofel berwarna senada.
Hanan duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, menunggu kedatangan Zara yang cukup lama.
“Apa dia masih lama?” tanya Hanan pada pelayan yang kebetulan lewat.
“Sebentar lagi, Nona akan turun” balas pelayan itu singkat.
“Sudahkah kau melakukan tugas yang aku perintahkan?” tanya Hanan lagi.
“Anda tidak perlu khawatir kami telah melakukannya”
Tepat ketika pelayan itu menyelesaikan perkataannya, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Hanan tak perlu menebak siapa itu, ia tahu itu Zara. Maka ia berdiri dari tempatnya dan berbalik menghadap tangga.
Sesosok wanita dengan gaun Off-Shoulder dan rambut bergaya Modern Updo-nya, Juga riasan tipis di wajah. Telah menampilkan wanita cantik nan elegan yang cukup berbeda dari Zara yang di kenal.
Mata abu kecokelatan yang tampak cerah itu memandang Hanan dengan wajah takut, atau mungkin gelisah. Sangat berbanding terbalik dengan Hanan, ia tak berpaling meski sedetik pun dari sosok Zara di depannya.
Terperangah dengan mulut sedikit terbuka, itulah reaksi Hanan sekarang.
“Maaf, jika anda menunggu lama” Ucap Zara membuka pembicaraan.
“tidak perlu meminta maaf. Ayo, sekarang kita harus pergi” jawab Hanan.
Keduanya berjalan secara beriringan, tak ada niatan bagi Zara untuk berjalan berdampingan dengan suaminya. Apalagi dengan suasana hatinya yang sedikit takut untuk pergi ke pesta kali ini
Sesampainya di pesta...
Hanan lebih dulu turun dari mobil hitam kesayangannya, ia membukakan pintu untuk Zara, walau istrinya tidak terbiasa akan sikapnya yang seperti itu.
Zara turun dari mobil, ia dapat melihat gedung yang menjulang tinggi di depannya. Juga dekorasi dan hiasan yang terlihat menghias di pintu masuk telah menandakan pesta di dalamnya.
Ayo, Zara kau bisa! Ini demi nama baik Teyze dan Hanan. Kau pasti bisa. Zara
Dengan sedikit gemetar, Zara pergi secara berdampingan dengan Hanan. Ia melingkarkan salah satu lengannya di tangan sang suami. Hanan hanya diam melihat apa yang di lakukan Zara, tanpa berpikir pun, ia tahu bahwa itu hanyalah sebagai formalitas.
Keduanya berjalan menuju pesta, ketika pintu terbuka. Semua perhatian teralih pada Zara dan Hanan. Zara yang takut membuat senyum palsu di wajahnya.
Tidak, kali ini pusat perhatiannya bukan pada pemilik pesta, tapi pada pasangan sempurna yang berjalan pelan menuruni anak tangga menuju pesta.
Ya, perhatian lebih di dapatkan untuk Zara, tampilannya itu membuat semua orang memperhatikan gerak-geriknya di samping sang suami.
‘Benarkah itu istrinya, tapi aku banyak mendengar rumor yang mengatakan kalau istri dari Hanan Kourosh itu buruk rupa” Bisik tamu wanita’
‘Hah, tidakkah kau mendengar kabar tentang pesta yang di adakan terakhir kali oleh Nyonya Helen Kourosh? Orang-orang bergosip tentang pesta yang kacau itu’
‘Oh, dia tampak Cantik. Aku tidak mengira jika istri dari tuan Hanan itu sangat cantik'
‘Sekarang yang menjadi tokoh utama pesta adalah pasangan yang serasi itu. Bukan lagi Tuan dan Nyonya Erhan'
‘Ya, tampaknya rumor dan gosip yang tersebar tentang mereka itu palsu
Bisikan-bisikan yang terdengar dari sisi kiri dan kanan pesta, membuat perasaan Zara bercampur aduk. Ia semakin mempererat genggamnya. Tetapi sebisa mungkin tetap terlihat tentang dan mempertahankan senyum di wajahnya.
“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau gemetar?” bisik Hanan pelan sambil memperlihatkan senyum di wajahnya untuk orang-orang.
“Saya hanya sedikit takut” balas Zara dengan suara yang cukup pelan, hingga bisa terdengar oleh keduanya.
“Apa yang kau takutkan? Aku ada di sisimu, jadi jangan khawatir” bisik Hanan lagi.
Zara menolehkan wajahnya pada Hanan, tersenyum dan sedikit mengangguk. Tanda mengerti dan setuju akan perkataan Hanan. Walaupun ia masih merasakan tangan istrinya yang gemetaran.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Kourosh. Saya tak menyangka anda berdua akan hadir di pesta saya, saya merasa terhormat akan pesta ulang tahun kali ini. Saya harap Tuan dan Nyonya bisa menikmati pesta kecil yang kami adakan ini” Sambut pemilik pesta, Ayden Erhan dan Gulbahar Erhan
Kecil? Dia dengan enteng bicara pesta sebesar ini sebagai pesta kecil. Zara
Hanan tersenyum sembari berjabat tangan dengan pemilik pesta.
“Justru aku dan istriku yang sangat senang, bahwa anda mau mengundang kami ke pesta anda, bukan Begitu?”
Hanan melirik Zara, dengan ekspresinya, sudah cukup untuk mengetahui bahwa ia menyuruh Zara untuk berbicara.
“Ya, kami sangat senang anda berdua mengundang kami ke pesta ini. Juga saya ucapkan 'selamat ulang tahun untuk Tuan dan Nyonya Erhan' yang berulang tahun di tanggal yang sama”
“Ah, ha. Terima kasih, Nyonya Kourosh. Kalau begitu. Mari silakan nikmati pestanya” Ucap Nyonya Gulbahar Erhan.
Zara dan Hanan menutup pembicaraan dengan senyum, kedua berjalan menuju meja khusus dengan Name tag bertulis Hanan Kourosh di tengah meja.
Sangat di sayangkan bagi Zara meja keduanya berada di tengah-tengah meja lain, membuatnya harus tetap menjaga sikap dari pandangan sebagian orang yang masih menatap mereka.
Zara dengan pelan menyantap makanan yang di hidangkan. Melihat orang-orang yang masih menatapnya sinis juga takjub. Agghh, Zara tak tahan dengan padangan orang terhadapnya.
Bisakah mereka melakukan aktivitas mereka sendiri, kenapa harus bergosip di tengah pesta sambil melihatku seperti itu?. Zara
keren ceritanya
semangat