Bagaimana jadinya ketika sesuatu terjadi tanpa di sengaja, iseng pembawa malapetaka. Akan kah hidup Zoya bahagia setelah ia mendadak hamil hanya karena kesalahan 1 malam?.
Setelah bertanggung jawab, apakah semuanya selesai?? pernikahan yang di lakukan ketika masih sekolah apa akan berjalan lancar??
Ikutin kisah Zoya yuk, baca dari awal hingga ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN AZLAN.
Seluruh sekolah telah ramai membincangkan gosip tentang Zoya yang terkunci di dalam toilet. Banyak yang mulai menerka nerka siapa yang sudah melakukannya.
Intan berjalan santai menuju kelasnya,ia merasa risih dengan tatapan aneh yang mengarah padanya.
"Ihhh apaan sih liatin gue begitu! " ketus Intan pada siswa siswi yang menatapnya aneh, lalu berbisik bisik.
"Mereka kenapa sih" tanya Intan pada temannya. temannya tak menjawab, mereka hanya menggeleng.
Intan melangkah cepat menuju kelasnya melewati kelas Zoya, tiba-tiba Mila dan Nisa menghadangnya.
"Heh bule nyasar! " bentak Mila menarik lengan Intan agar berhenti melangkah.
"Ihh apaan sih narik narik gue!! lecet ni" balas Intan mengusap usap lengannya yang di cengkram Mila.
"Loe kan yang lakuin semua itu! " tuduh Nisa menatap Intan tajam.
"Eh jangan asal tuduh dong" bela jini teman Intan.
"Benar tuh, gak baik tahu sembarangan nuduh gitu" sahut Yuli.
"Siapa lagi kalo bukan kalian pelakunya!! " ucap Mila sinis.
"Enak aja, emang si ganjen itu kenapa? "tanya Intan penasaran, kemarin gadis itu sibuk membersihkan perpustakaan, jadi gadis itu tidak tahu apa yang terjadi di saat jam istirahat hingga pulang.
" Loe gak usah sok gak tahu deh" sanggah Mila.
"Kita yakin loe yang udah ngunciin Zoya di toilet kan! " Tekan Nisa, gadis itu sangat yakin intan lah pelakunya, karena intan sangat tidak suka dengan Zoya.
"Hee, loe pikir gue bakalan melakukan hal keji itu?? gue emang gak suka sama tu cewe, tapi gue gak suka main licik kaya gitu! " balas Intan panjang lebar.
"Udah deh Intan ngaku aja" sahut siswa lain menyoraki Intan agar segera mengaku. Mereka semua sudah berkumpul menyaksikan perdebatan Nisa, Mila dan geng Intan.
"Azlan!! ini, dia pelakunya!! " ucap Nisa pada Azlan, ketika pria itu baru datang bersama Zoya.
"Intan!!! " ucap Azlan dingin.
Intan terlihat panik, tapi dia benar-benar tidak Melakukannya. "My baby Azlan, gue bersumpah!! gue gak melakukannya"
"Apa buktinya! " tegas Azlan. Mata coklat itu menatap tajam ke arah gadis berambut coklat. Amarah Azlan benar-benar memuncak, karena ini adalah permasalahan yang menyangkut pauti istrinya.
"Mereka, mereka buktinya. Gue bersama mereka ketika jam ketiga" jelas Intan menunjuk jini dan Yuli. Kedua gadis itu mengangguk menyetujui ucapan Intan.
"Yaiyalah mereka mengangguki ucapan loe,mereka itu kacung loe" ujar Mila.
Zoya tak bersuara, gadis itu hanya diam membiarkan teman temannya yang mengintrogasi Intan.
"Intan, ngaku ajah. Kemarin loe dan teman teman loe bolos" ucap Ali.
"Iya, kita memang bolos, tapi kita gak di toilet iuuuu itu" jawab Intan.
"Kita kena hukum sama bu Mina, membersihkan perpustakaan, membuat tangan dan kaki gue pegel" jelas Intan lagi dengan kata kata lebaynya.
"Ada apa ini? " tanya pak Johar. Seketika semua murid berhamburan kabur masuk ke dalam kelas masing-masing.
"Lagi ada pertunjukan pak" sahut Ali yang langsung mendapat kan pukulan maut dari pak Johar.
"Sudah masuk sana!! " usir pak Johar pada seluruh siswa yang masih di luar.
Azlan mengantar Zoya hingga ke tempat duduknya, terlihat sesekali Azlan melirik ke sudut kirinya. Matanya mengkilap tajam ketika bersirobok pandang dengan seseorang yang langsung menunduk ketika ketahuan sedang menatap Azlan.
"Ada apa? "tanya Zoya menyadarkan Azlan.
" Tidak ada apa apa, gue masuk dulu yah" pamit Azlan lalu melenggang keluar kelas Zoya.
Seluruh murid telah duduk di bangkunya masing masing, Zoya tampak sibuk dengan teman temannya yang mengkhawatirkan dirinya.
"Siska, loe kemana kemarin.? " tanya Adit menghampiri meja Siska. Si ketua kelas itu bertanggung jawab jika ada teman teman sekelas nya tidak masuk kelas.
Siska gelagapan, gadis itu tampak gelisah mendapat pertanyaan dari Adit.
"Gue di panggil guru" jawab Siska asal.
"Oh iya, gue baru sadar, Siska kemarin ngilang yah" sahut Nisa ikut menghampiri meja Siska.
"Loe jangan asal nuduh yah! " bentak Siska, padahal Nisa tidak ada menuduhnya ngapa ngapain.
"Wahhh mencurigakan nih" sahut Mila, kini ia pula yang ikut mengintrogasi Siska.
"Gue gak ada nuduh loe, kenapa loe merasa sendiri" pancing Nisa membuat Siska semakin panik. Matanya bergerak menatap Adit Nisa dan Mila bergantian, gerakan gelisah Siska menanda kan gadis itu sedang ketakutan.
"Mendingan loe ngaku aja, sebelum Azlan yang turun tangan" ujar Zoya dari tempat duduknya.
"Gue gak mau, orang gue gak salah" tolak Siska bersikeras.
"Kita gak nuduh loe, tapi loe lupa sesuatu" ujar Adit.
"Aa aapa? " tanya Siska gugup.
"Kemarin guru Rapat, hanya kelas IPS yang masuk. " tutur Adit tersenyum miring.
"Lalu, guru mana yang manggil loe? " cibir Mila.
"Kalian gak punya bukti, kalian gak bisa nuduh gue sembarangan" ucap Siska dingin, lalu bangkit dari tempat duduknya melangkah keluar dari kelas.
"Gue yakin dia yang melakukannya" gumam Nisa.
"Gue juga merasa begitu" sahut Mila.
"Udah ayo duduk, gue udah laporin ke Azlan kok"
Nisa dan Mila kembali ke tempat duduknya, memeluk Zoya yang tampak masih lemes.
"Loe jangan khawatir lagi yah, kita gak akan biarkan orang lain menyakiti loe lagi" janji Mila.
"Dan keponakan gue" bisik Nisa membuat mereka bertiga tertawa pelan.
"Awas jangan keras keras" peringat Mila pada Nisa.
Di luar kelas, Siska berlari menuju atap sekolah. Di sana ia bisa menenangkan dirinya dari rasa ketakutan.
"Gak, gue gak boleh ketahuan" gumam Siska terus melangkah menaiki tangga. Bibirnya bergetar ketakutan, Siska terus mondar mandir di sana. Otaknya berpikir bagaimana cara agar terbebas dari tuduhan itu.
Kekesalan pada Zoya membuat Siska bertindak tanpa pikir panjang.
Tap tap ~ langkah kaki menggema menaiki anak tangga. Seketika Siska melirik ke arah pintu masuk, jantung nya berdetak cepat.
"Azlan" lirih Siska melihat seseorang berdiri di ambang pintu.
Pria itu berjalan angkuh memasuki atap Sekolah, matanya tajam tak bersahabat. Azlan yang saat ini siska lihat adalah sisi kekejaman Azlan.
Azlan berdiri tepat di depan Siska, Aurah intimidasi keluar dari tubuh Azlan.
"Loe yang melakukannya? " tanya Azlan to the poin,Menatap Siska yang menunduk tak berani menatap balik Azlan.
Siska sangat paham maksud dari pertanyaan Azlan. Namun ia tidak mungkin mengaku jika dirinya yang melakukan semua ini, jika ia mengaku maka semuanya akan hancur.
"Bukan, buka gue yang lakuin nya Azlan! " sangkal Siska.
"Loe tahu kan akibatnya jika loe berani berbohong sama gue" ujar Azlan dingin.
Siska menarik nafasnya dalam, mengumpulkan keberanian nya untuk menatap mata Azlan.
"Loe yang buat gue kaya gini!" lirih Siska penuh penekanan.
"Loe yang buat gue melakukan tindakan konyol ini, Zoya, Zoya!! hanya Zoya yang loe liat!! " teriak Siska. Ia sudah tak punya pilihan lain, mau mengelak, percuma, Azlan pasti akan mengetahuinya.
"Gue harap loe ingat dengan posisi loe" lirih Azlan mengingatkan Siska siapa dirinya.
Siska wulan dari, salah satu siswi yang mendapat kan beasiswa di sekolah ini karena berkat bantuan Azlan.
Semuanya berawal ketika Siska lulus Sekolah dasar, Azlan melihat Siska berlutut pada panitia pengurus penerima murid baru, gadis remaja itu memohon agar diterima sekolah di sana karena ia tidak memiliki uang untuk membayar biaya sekolahnya. Karena kasian, Azlan meminta pihak sekolah untuk memberikannya beasiswa, kebetulan sekali orang tua Azlan adalah pemilik yayasan itu.
Sejak saat itu, Azlan memberikan Siska beasiswa hingga ke sekolah menengah Atas, dengan Syarat Siska harus belajar dengan rajin.
Ketika masuk SmA triyaksa Siska mengetahui bahwa Azlan yang telah membantunya, hingga saat itu ia menyukai Azlan. Bahkan gadis itu secara diam diam menguntit kegiatan Azlan.
"Gue tahu gue orang miskin! tapi apa salah, gue menyukai loe yang udah bantuin gue hingga gue bisa sekolah seperti saat ini" ungkap Siska menahan tangisnya.
"Loe salah, sejak awal gue udah bilang sama loe. Anggap kita gak pernah kenal, karena gue gak akan pernah menyukai cewe picik seperti loe" tutur Azlan, lalu berbalik meninggalkan Siska sendiri.
"Gue berharap loe tidak melakukan hal konyol seperti ini lagi" peringatan Azlan sebelum ia melangkah dan benar-benar pergi dari sana.
Azlan sudah bisa menebak ini sejak awal, sejak Siska menyatakan perasaannya pada Azlan, sejak saat itu gadis lugu yang menginginkan sekolah berubah menjadi picik dan terobsesi dengan nya. Azlan mulai tak suka dengan Siska, dan mengatakan pada pihak sekolah jika Siska tidak termasuk ke dalam 5 besar maka beasiswa nya akan di cabut.
😞😞😞jahat bener Siska, untung Zoya dan janinnya kuat. Azlan juga lumayan baik hati. kalo gue mah udah gue gantung tuh bocah🤣🤣🤣