Khayra Naffeza seorang gadis cantik yang harus rela mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkan kedua anaknya memberikan mereka cinta dan kasih sayang orang tua.
namun suatu ketika anaknya bertanya " Apa kami punya papa ?" seketika hati Khayra sakit karena tidak tau harus menjawab apa karena dia tidak tau siapaayah kandung anaknya.
Arkana Khaleed seorang CEO muda yang tampan dan dingin Arkana tidak bisa melupakan seorang gadis yang dia temui 5 tahun lalu dan terus mencarinya hingga 5 tahun berlalu.
Apakah Khayra bisa berjumpa dengan ayah anaknya ?
Apakah Arkana bisa berjumpa gadis 5 tahun lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Charyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUKAN HANGAT
Diaula, acara berlangsung dengan sangat meriah kini tiba acara pemotongan kue. Papi Ali, Mami alin dan Arka dipersilahkan menaiki panggung untuk acara tersebut.
Ketiganya dan kepala sekolah bersama mereka memotong kue, tepuk tangan yang bergemuru didalam aula memeriahkan acara tersebut.
Tibalah acara terakhir yang ditunggu-tunggu oleh para murud dan juga orang tua murid yang hadir Pengumuman penerimaan Beasiswa bagi para murid berprestasi.
Emci menyebut nama-nama dewan direksi sekolah dan juga Papi Ali beserta Arkana selaku Pemilik sekolah untuk naik keatas panggung dan duduk dibangku yang disediakan.
Disisi lain Hana dan sikembar sudah sampai ditempat parkir sekolah tersebut, ketiganya keluar dari mobil dan menuju Aula sekolah.
"Ayo Ayi cepat kita sudah sangat terlambat ini." ucap Ghava sambil menarik tangan Hana.
"Iya sayang sabar jangan ditarik-tarik donk." ucap Hana yang ditarik kedua tangannya oleh sikembar.
"Kita harus cepat Ayi Ghani ingin mendengar pengumuman penerimaan beasiswa itu." ucap Ghani yang juga menarik tangan Hana.
"Iya, iya ayo." ucap Hana pasrah.
Setelah ketiganya sampai diaula benar saja MCI sedang mau membacakan nama murid-murid yang menerima beasiswa.
Hana, Ghani dan Ghava mengambil meja paling belakang karena memang meja itu yang kosong.
"Ayi ayo kita duduk sana." ucap Ghava yang melihat meja yang kosong.
Disaat mereka duduk Ghava yang sedari tadi melihat kedepan panggung tanpa sengaja melihat Arka diatas panggung.
"Kaka itu Papa." ucap Ghava sambil menunjuk seseorang diatas panggung.
Sontak membuat Ghani dan Hana melihat arah yang Ghava tunjuk, Hana yang melihat itu terkejut dan dia mempertajam penglihatannya dia tidak percaya lelaki yang diatas panggung itu benar-benar mirip dengan sikembar.
"Ya Allah benarkah yang aku lihat ini, laki-laki itu, dia sangat mirip dengan Ghani dan Ghava, Apa dia Arkana Khaleed seorang pengusaha hebat dan berpengaruh diAsia benarkah dia Ayah kandung sikembar tanpa harus tes DNA pun orang pasti akan tau jika dia Ayahnya sikembar." ucap Hana tanpa memalingkin pandangannya.
"Ghava apa kamu lupa dengan ucapa Mama waktu itu kita tidak boleh mengaku seseorang sebagai Papa walau wajahnya sama seperti kita." ucap Ghani menegur adiknya itu.
"Tapi Kakak aku yakin dia itu Papa kita." ucap Ghava pelan sambil mata berkaca-kaca.
" Iya kaka tau dan kaka juga ingin kalau paman itu adalah Papa kita tapi kita tidak boleh seperti itu." ucap Ghani sambil mengelus pundak adiknya untuk menguatkan.
"Iya kaka." ucap Ghava lirih.
Hana yang mendengar ucapan kedua anak itu hanya bisa terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Satu-satu nama murid yang menerima beasiswa dipanggil kedepan.
"Ya untuk Nama selanjutnya adalah atas nama GHANI NAFFEZA dan GHAVA NAFFEZA..." ucap MCI tersebut dan suara tepuk tangan bergemuru dipenjuru Aula.
"Wah sepertinya mereka bersaudara untuk anak kami GHANI dan GHAVA dipersilakan naik keatas panggung.
Ghani dan Ghava mendengar nama mereka disebut seketika senang karena mereka mendapatkan Beasiswa lagi dan itu membuat Hana juga merasa senang dan langsung mencium pipi keduanya.
"Ayo sayang sana, kalian naik keatas panggung." ucap Hana sambil menitikan air mata bahagianya.
Mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan menuju panggung. Endri yang melihat kedua keponakannya itu merasa senang dan terharu.
Saat sudah hampir sampai didepan panggung Mami Ali yang melihat Ghani dan Ghava terkejut sambil berdiri sambil menutup mulutnya, matanya melotot tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Ya Tuhan....wajah kedua anak itu kenapa mirip sekali dengan Arka, ada apa ini." ucap Alin dengan wajah terkejutnya.
Begitu juga dengan Papi Ali dia terkejut melihat kedua anak itu memiliki wajah yang sama dengan Arka.
Arka yang sedari tadi melihat kedua anak yang sedang bejalan kearahnya langsung berdiri dari kursinya, dengan pandangan yang tidak lepas dari apa yang dia lihat dia berjalan untuk melihat lebih dekat.
Ghani dan Ghava yang sedari tadi memandangi Arka tanpa berpaling hanya bisa memanggil Papa dalam hati mereka
"PAPA..PAPA..PAPA" ucap keduanya dalam hati. Mereka juga berusahan supaya air mata yang mereka tahan tidak mengalir.
Keduanya berjalan untuk saling mendekat, tanpa sikembar sadari saat langkah kaki mereka menaiki tangga terakhir mereka tersandung dan hampir jatuh kemudian dengan cepat Arka menangkap tubuh keduanya dan mereka berpelukan.
"Papa.." ucap keduanya lirih sampai Arka tidak mendengarnya.
Seketika air mata Arka mengalir dia merasa didadanya ada perasaan yang hangat dan ada rindu yang sangat besar disana, entah kenapa ada persaan tidak rela melepas kedua anak itu dari pelukannya.
Endri dan Hana yang melihat itu merasa terharu keduanya tersenyum senang.
"Arka akhirnya kau berjumapa dengan kedua anakmu dan merasakan pelukan dari kedua anak-anakmu, apa yang kau rasakan Ar hangat bukan." ucap Endri terharu dalam hati.
" Sayang akhirnya kalian merasakan pelukan yang sangat ingin kalian rasakan, pelukan seorang Papa. Apa kalian merasa senang sayang." ucap Ayi sambil menangis haru.