NovelToon NovelToon
Jalan Takdir Kami "JIKA"

Jalan Takdir Kami "JIKA"

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / TimeTravel / Contest / Duniamasadepan
Popularitas:59k
Nilai: 5
Nama Author: Lailatul Zulfa

KARYA INI HANYA FIKSI BELAKA, APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA DAN TEMPAT ITU HANYA KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN.


DILARANG KERAS PLAGIAT!!! SEMUA ISI DARI NOVEL REAL DARI IDE DAN PEMIKIRAN SAYA SENDIRI.

SEGALA TINDAKAN YANG TIDAK BAIK DALAM CERITA TIDAK UNTUK DITIRU. AMBIL SISI POSITIFNYA SAJA!!!

Pemuda tampan,gagah dan kekar itu bernama Yusuf. Ia hidup berdua dengan kakeknya.Kehidupan yang ia jalani bisa dikatakan serba kekurangan dengan menjadi kuli cangkul ataupun serabutan disawah.

Rasa sayang pada kakenya, membuat ia mampu untuk tetap berdiri tegak dan mengesampingkan segala sesuatu yang tidak terlalu penting.

Dilema dengan dua pilihan yang sama-sama berarti dalam kehidupannya.Pergi atau tetap tinggal.

Kehidupan yang tak selalu mulus, meski berulang kali yang disebut kematian membuatnya seakan putus asa. Mencintai gadis yang sudah tiada adalah hal yang paling menyakitkan.

Hingga hampir mustahil untuk membuka kembali lembaran yang telah penuh dengan goresan tinta.

Bagaimana cara untuk menghapus???
Atau memberi lembaran baru untuk menghapus yang telah usang.

Bagaimana kisah Yusuf, Muluskah perjalanan cintanya? Bagaimana kisah hidupnya saat cinta yang baru telah tumbuh dihatinya?


Yukk.. Simak terus kisah perjalan hidup dan cinta Yusuf sampai selesai ya.Maaf update nya tidak menentu, jadi mohon bersabar untuk para reader. Tapi insyaa Allah author akan menyelesaikan hingga tamat.


Karya ini orisinil ya para readers..

Semoga bermanfaat dan banyak hikmah yang bisa diambil..


mohon dukungannya supaya author lebih gigih, dan lebih baik lagi dalam pembuatan naskah. 😍🙏

Selamat membaca para readers....... Dukunganmu, Semangatkuu...😍😍😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatul Zulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpamitan II

Hasan teringat kembali atas perlakuannya kemarin, tidak seharusnya ia seperti itu. Kuliahnya kini sudah menanti, dan sudah berniat untuk fokus.

Sebenarnya Ajeng dan juga Hasan, mereka tidak mau dikatakan bahwa kesuksesannya kelak karena mendompleng ayahnya. Mereka memiliki impiannya masing-masing.

"Kak, dalam waktu dekat aku akan kembali ke Jogja."

"Ya bagus lah kalau gitu, Has." Jawab Ajeng.

"Yah, nggak ada sedih-sedihnya gitu?" Hasan cemberut mendengar jawaban dari kakaknya.

"Lagian sih Has, kau banyak ngeselinnya."

"Gini-gini, aku tetap menjaga privasi Kak Ajeng, ya."

Ajeng meliriki Hasan, ia tahu apa yang dimaksud adiknya itu.

"Hmm, kau ini Has. Bagaimana nasib Reni ya?" Ajeng mulai meledek.

"Huuff.. Kalau kau bukan Kakakku, udah ku sentil kau Kak."

"Kenapa sih Has, kau nggak jujur aja?" Tanya Ajeng penasran.

"Ah pertanyaan macam apa ini, Kak?" Hasan balik bertannya.

"Yah, kau itu modelnya susah ditebak, Has."

"Dia yang terlalu bodoh, atau emang terlalu polos, Kak."

Mendengar jawaban dari adiknya, seketika Ajeng tertawa terkekeh-kekeh. Dia sedikit paham walau Reni hanya beberapa hari dirumahnya. Setidaknya bisa mengambil kesimpulan, seperti apa Reni orangnya.

Sebenarnya dalam hati Ajeng, ia mendukung adiknya menyukai gadis itu.

Kemudian beberapa saat wajah Hasan manjadi serius, menatap tajam kearah kakaknya.

"Kak, aku akan mulai serius dengan kuliahku. Besok Lusa aku akan kembali ke Jogja."

"Ada apa, Has? Kau serius sekali, biasanya kau kan nyelelek."

"Aku pingin sukses dengan caraku sendiri, Kak. Aku tidak mau selamanya terpaut dengan usaha Bapak. Lebih baik Kak Ajeng aja yang nerusin."

"Apa? Aku tidak salah dengar, Has?" Tanya Ajeng, seraya mengernyitkan dahi.

"Iya aku serius, Kak. Aku pingin merintis semua dari nol.

'Kenapa tiba-tiba Hasan menjadi seperti ini? Ada apa? Apa hatinya sedang labil karena perasaan?' Hati Ajeng terus terus bertanya-tanya.

Dia menyadari bahwa itu bukan adiknya yang dulu. Sekarang mendadak menjadi sangat dewasa sekali.

"Lalu kau mau memulainya dari mana, Has? Mau usaha apa?"

"Kalau soal itu Kakak tidak perlu tau. Saat ini aku hanya ingin fokus selesai kuliah dulu. Hasan harap Kak Ajeng bisa mendukung."

"Kau ini Has, nggak pernah berubah. Aku pasti mendukungmu. Kau menyukai Reni, kan?"

Suasana yang tadinya serius kini lenyap setelah ledekan kembali mencuat. Ajeng tertawa kecil.

"Ingat Kak, aku menjaga rahasiamu."

"Kau mengancamku, Has?"

"Bukan, lebih tepatnya simbiosis mutualisme aja, Kak."

Ia mengerti sekarang apa yang dimaksud adiknya itu. Sukar untuk mengakui sesuatu. Dia selalu berkelit dari sebuah kebenaran didalam hatinya, dan itulah yang membuatnya sulit untuk ditebak.

Dari beberapa kejadian yang ia rasakan saat berada di Dusun Kali Jati, ia mulai paham. Bahwa hidup serba ada itu bukan jaminan semua orang akan menyukai. Terkadang kita yang sudah berbuat baik belum tentu akan dibalas dengan baik. Mengerti arti berjuang hidup.

Yang dulu hidupnya hanya ia ketahui serba ada tanpa berpikir bagaimana berusaha mendapatkannya. Kini perlahan ia mengerti saat bertemu dengan Reni. Ikut merasakan bagaimana susahnya mencari pundi-pundi rupiah. Dihantam cobaan yang bertubi-tubi.

Bertemu dengannya juga seolah melunturkan jiwa playboynya itu. Hanya saja ia tak pernah menampakkan. Ayahnya tak akan mungkin merestui. Ayahnya mengetahui gerak-gerik gadis itu dirumahnya. Itu saja sudah bisa tertebak, Ia pasti akan menentangnya.

Hari dimana jadwal keberangkatannya untuk kembali ke Jogja sudah tiba. Hasan mempersiapkan segala hal untuk ia bawa kembali kesana. Dan juga sesuatu yang perlu ia tinggalkan untuk Reni, gadis dengan nasib yang sangat malang itu.

Kotak kecil entah apa isinya, sudah ia persiapkan dari semalam. Beserta secarik surat untuk Reni.

"Has, Ibu masih nggak percaya kamu bisa berubah seperti ini."

"Ya kan, Hasan juga sadar Bu. Nggak selamanya akan nyelelek. Hasan punya masa depan yang harus di ikhtiari."

"Ciye, sekarang gaya banget, Has. Sok bijak, hihi.." Celoteh Ajeng.

"Biarin, jarang-jarang kan, kayak motivator. Welk.."

"Kalian ini, selalu aja nggak akur. Ledek-ledekan melulu." Ucap Bu Halimah.

"Biarkan Bu, dia kan mau menjemput masa depannya. Iya kan, Has?"

Senyum dan lirikannya benar-benar membuat Hasan tak bisa menahan untuk sengaja beranjak dan menginjak kaki kakaknya itu.

Krreekk...

"Aow ... Wah dasar, kau pasti sengaja kan, Has?"

"Maaf aku nggak sengaja, lagian kaki kok disini sih," tukasnya.

Mereka sedang duduk berasama diruang tamu. Ada jalan lain, namun Hasan sengaja melewati kakaknya untuk menginjak kaki.

"Hiihh..." Ajeng geram dengan ulah adiknya itu.

Ajeng pun berlari mengejar Hasan, berasa gemas dan ingin segera menyentil jidatnya. Sedangkan Bu Halimah hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua anaknya itu.

"Iiih, sakit Kak." Ajeng membalas Hasan dengan sentilan mautnya.

"Biarin, rasain. Welk.."

Hasan pun meringis kesakitan dan mengelus-elus jidatnya.

'Hmm, rumah ini pasti bakalan berasa sepi sekali tanpa Hasan. Nggak ada suara falsnya, jailnya yang kadang suka kelewatan.'

Walau bagaimana pun sikap mereka satu sama lain, sering meledek, jail-jailan, namun dihati mereka pasti merasakan sepi saat berpisah sementara nantinya.

"Udah nggak usah sedih gitu Kak. Aku kan bisa kesini kapan aja."

"Idihh, ge er banget kau, Has. Udah fokus aja tuh sama kuliahmu."

"Hmm, baiklah ..." Singkat jawab Hasan.

'Gimana ya? Apa perlu ku titipkan aja ke Kak Ajeng, atau ku kasih aja langsung ke orangnya?'

Yang biasanya ia ceplas ceplos, bisa juga merasa grogi. Kini perasaannya diliputi rasa kalut juga, karena sebenarnya tetap ingin singgah disini. Akan tetapi ia pergi juga demi untuk masa depan. Ia berkemas sambil berpikir keras, bagaimana nasib kotak yang terbungkus kertas kado itu.

'Ah sudah lah, sepertinya memang harus aku sendiri yang kesana. Kalau titip Kak Ajeng, hmm.. Aku tidak yakin bakal aman. Pasti akan ketahuan lagi. Dan aku tidak mau itu terjadi.'

Setelah berpamitan pada ayah, ibu, beserta kakaknya, ia segera meninggalkan pekarangan rumahnya. Mobilnya sudah siap, dan tancap gas. Tanpa pikir panjang ia sempatkan untuk ke rumah Reni. Walau mungkin hanya akan sebentar saja.

Terdengar suara mobil yang berhenti tepat didepan rumah Reni. Ia pun bergegas keluar dan membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka,

"Sudah, tidak usah mempersilahkanku untuk masuk." Ternyata tanpa basa-basi Hasan berkata.

"Iih.. Gimana, sih? Kenapa nggak masuk dulu aja?" Tanya Reni penuh keheranan.

Dari dalam terdengar suara Pak Seno,

'S**opo Nduk? Kok gak dikon mlebu?' Kebetulan hari itu bapaknya sedang berada dirumah. (Siapa Nduk? Kok nggak suruh masuk?)

"Ini Pak, teman Reni."

"Sudah nggak usah, aku buru-buru. Aku akan kembali ke Jogja saat ini juga. Dan ini terimalah!" Sambil menyodorkan bingkisan kecil yang didalamnya terdapat kado.

"Apa ini???" Tanya Reni.

"Kebiasaan sekali kau banyak tanya. Sudah kau buka saja nanti, tapi jangan sampai orang lain tau, termasuk orang tuamu. Apalagi sahabatmu yang antik itu."

"Baik lah kalau gitu. Terimakasih."

Hasan menjawabnya seraya ia berjalan menuju mobil, dan segera bergegas meninggalkannya sebelum bapaknya keluar.

Sepertinya akan terdengar sebuah lagu dari Cryse yang berjudul "Pergilah Kasih".

Beberapa lirik yang menggambarkan keadaan mereka, walau dihati masing-masing belum menemui titik terang tentang perasaan yang sebenarnya.

*Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu

Selagi masih ada waktu...

Jangan hiraukan diriku, aku rela berpisah

Demi untuk dirimu, semoga tercapai segala keinginan mu*

Reni masih terpaku, nampak mobil lelaki yang sering membuatnya kesal itu sudah tidak terlihat.

Ketika Reni akan masuk kamar, ia ditanya oleh bapaknya,

"Apa itu Ren? Apa kau berpacaran dengan lelaki kaya itu?"

"Ah Pak, aku tidak berpacaran dengannya. Dia hanya sebatas teman."

"Yah siapa tau suatu saat pacaran. Kan bisa bantuin Bapak bayar hutang."

"Ah sudah Pak, nggak usah mimpi ketinggian. Kita ini siapa."

Reni pun segera masuk ke kamarnya. Agar tidak ditanya lagi soal Hasan. Apalagi melihat bingkisannya itu.

'Apa isinya ya? Kenapa dia memberikan ini padaku?'

Hati Reni masih bertanya-tanya, seraya membolak-balikkan kotak kecil itu. Rasa penasarannya membuat ia ingin membukanya saat itu juga.

'Buka, enggak? Buka, enggak? Buka aja lah.'

Perlahan ia membukanya,

"Benar-benar, ini kotak persis orang yang memberi. Misterius, bahkan aku tidak bisa menebak apa isinya." Reni ngedumel sendiri.

Sampai kertas kados terbuka semua, terlihat kotak seperti wadah cincin. Perlahan ia buka, dan ternyata lapisan paling atas tertutup kertas.

'Apa ini? Sepertinya surat.'

Dibalik kertas yang menutupi, ada sebuah cincin indah yang mengkilap. Cincin emas, dengan permata diatasnya.

'Waduh, gawat ini kalau sampai Bapak tau. Harus ku sembunyikan dengan aman.'

Segera ia membaca surat dari Hasan. Sepertinya penjelasan dari semua ini ada pada secarik surat itu.

Isi surat dari Hasan,

* Saat kau membukanya nanti, jangan ge er dulu! Aku memberikan ini, agar kau menjaganya sampai aku kembali kesini lagi. Jangan sampai kau berani untuk memakainya tanpa adanya perintah dariku.

Ingat, kau jadi perempuan jangan polos-polos amat. Kalau kau seperti itu, kau mudah untuk dibohongi. Satu lagi, jangan mau dijodohkan!*

Seketika amarahnya hampir sampai ke ubun-ubun membaca pesan dari Hasan. Reni tidak habis pikir, sebenarnya apa yang Hasan inginkan dari Reni.

'Kenapa sih dia selalu seperti itu. Maksudnya apa coba, suruh jagain cincin? Kayak ngepet aja, jaga lilin. Kalo ini benar-benar kampret, suruh jagain cincin. Apa mungkin ini untuk Mbak Ajeng? Yah mungkin aja, buat kado kejutan kali ya? Tapi kenapa nggak sekalian aja langsung kasih orangnya. Ah sudahlah bisa gila aku, dia sungguh menyebalkan.'

Hati Reni terus bertanya-tanya, namun apalah daya ia tetap tidak menemukan jawaban. Surat itu tidak memberikan titik terang, ia malah kesal dibuatnya. Mentang-mentang ia punya kuasa, seenaknya bisa mengancam ataupun menyuruh sesuatu yang kadang nggak masuk akal.

1
Na Gi Rah
Iya aku mampir nih ke chenel Karyamu kak. Otwe mau imajinasi dulu sama cerita nya...😆
Rini Antika
Aku mampir Kak, Salken ya, nanti bacanya nyicil, smg berkenan mampir jg ke ceritaku..🙏
Darah Biru (Bangsawan)
favorit ♥️ rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 saling mendukung ya Thor 👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
💕💕💕💕
Darah Biru (Bangsawan)
mantap 👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
like 💕
Darah Biru (Bangsawan)
👍🏻👍🏻👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
mantap ❤️
Darah Biru (Bangsawan)
assalamualaikum jejak dukungan ❤️
Wanda Harahap
Kalau sekarang udah jarang ada anak2 yg mau latihan tari gak kayak dulu
sekarang anak2 lebih Suka main hp ,fb atau game online, disuruh ikut latihan beladiri aja di kelurahan gak mau😔😔
Wanda Harahap
Ajeng itu ,mungkin Jodohnya Ucup😘😘😘😘
Wanda Harahap
Pemuda yg itu pastinya Yusuf😘😘😘
Nampaknya Ajeng nih yg mulai jatuh hati
Wanda Harahap
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Wanda Harahap
Aku suka Aku Suka😘😘😘😘
Wanda Harahap
Ceritanya lain dari pada yg lain
Tentang realita kehidupan yg sebenarnya
gak halu
😘😘😘😘
hiatus
Halooo aku mampir kak, salam kenal, auto masuk list favorit 🥰🌹
S_P astuti
5 like untuk JIKA...
semangat terus...
😍😍
syafridawati
aku mampir dengan like dan fav semangat saling dukung ya
Mommy Gyo
2 like hadir lagi thor mampir di karyaku cantik tapi berbahaya
Mommy Gyo
3 like hadir thor mampir di karyaku cantik tapi berbahaya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!