[Area termehek-mehek, siapkan tisu untuk menyeka air mata]
George selalu memperlakukan Gabby dengan kasar, dingin, dan mereka berdua selalu berseteru. Hingga membuat Gabby sangat membenci George.
Suatu ketika, Geroge mengetahui siapa Gabby sesungguhnya. Orang yang ia cari selama ini. Ia hendak menepati janjinya untuk menikah dengan Gabby setelah mengetahui identitas wanita itu. Namun sayang, hati Gabby sudah terlanjur beku. Ia sudah membenci George.
Disaat George sedang mencoba mendekati Gabby, seorang pria bernama Marvel hadir dengan membawa pembuktian cinta untuk Gabby.
Hingga suatu hari, George dan Gabby terjebak dalam satu ruangan dan terjadilah malam yang membuat Gabby kehilangan kehormatannya.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu.” George.
“Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya.” Gabby.
“Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu.” Marvel.
Siapakah yang akan dipilih oleh Gabby? George yang sudah merenggut kehormatannya atau Marvel yang menunjukkan betapa besar cintanya pada Gabby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Gabby menatap ke arah George untuk meminta penjelasan dari pria itu. Mungkin George yang memesan makanannya. Namun George hanya menjawab dengan kedikan bahu.
Pelayan hanya menjalankan tugasnya. Ia tetap meletakkan hidangan yang sudah dia bawa. Lalu segera kembali ke dapur.
“Kau yang memesannya?” Gabby mencoba bertanya baik-baik dengan George.
“Tidak.” George tak mengalihkan pandangan matanya dari layar ponselnya.
Gabby akhirnya bertanya dengan pelayan tentang pesanannya.
“Pesanan meja delapan belas sudah diganti, nona. Dan yang dihantarkan ke meja anda itu adalah pesanan baru.” Pelayan itu mencoba menjelaskan.
Gabby mengangguk mengerti. Ia kembali lagi ke mejanya. “Kau yang mengganti pesananku?”
“Iya.” George menjawab seperti orang yang tak bersalah.
“Tadi kau ku tanya menjawab tidak, sekarang iya!”
“Tadi kau bertanya apakah aku yang memesan, jawabanku memang tidak. Pertanyaan keduamu baru benar.”
Mendengus kesal Gabby dengan jawaban George. “Kenapa kau kurang ajar sekali! Main mengganti pesanan orang lain!” geramnya.
“Makan saja! Itu untuk mempercepat lukamu sembuh juga. Makanan yang kau pesan semuanya adalah larangan dokter,” jelas George tak mau dibantah.
“Lain kali, kau tak perlu mencampuri urusanku!”
“Hm.”
Mau tak mau, suka tak suka, Gabby pun memakan nasi dan sayur sop biasa. Daripada terbuang sia-sia.
Disela-sela Gabby menyantap makanannya, George mengajaknya bicara.
“Desain kamarmu sama persis dengan ini, kau menirunya?” George menunjukkan sebuah video di youtube GARCHI.
Gabby melihat sekilas ponsel itu. “Bukan urusanmu!”
“Tentu saja urusanku! Kau tahu, dia itu orang berbakat yang aku idolakan, dan kau meniru karyanya dengan gratis? Bukankah kau itu mahasiswi jurusan arsitektur?”
Gabby menahan tawanya mendengar kejujuran George. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa itu adalah dirinya, tapi diurungkan. Ia takut mulut pria itu tak bisa menjaga rahasia.
“Memangnya kenapa?”
“Kau seharusnya bisa membuat desainmu sendiri dan tak meniru karya orang lain. Cih! Mahasiswi arsitektur abal-abal,” hina George dan Gabby tak menanggapinya.
Gabby menenggak air mineral setelah selesai menghabiskan makanannya. “Kau yang membayarnya, karena kau yang memesan, bukan aku!” Setelah mengucapkan itu, Gabby langsung beranjak pergi.
Wanita itu pun berjalan ke arah jalan raya. Sambil menikmati ramainya pulau Bali yang selalu menjadi tujuan banyak turis asing.
Menyusuri trotoar seraya matanya terus membaca setiap tulisan yang ada di ruko sekitar. “Itu dia.”
Gabby menyeberang jalan karena tempat yang ingin dia tuju ada di arah yang berlawanan dari lokasinya berjalan.
Setelah Gabby mendapatkan apa yang dia cari, kakinya mengayun kembali ke villa.
Brug!
Gabby yang sedang fokus menatap ponselnya tak sadar jika di hadapannya ada orang yang dia tabrak hingga sesuatu yang baru saja dia beli terjatuh ke lantai.
“Maaf.” Gabby sadar jika dia salah, sehingga ia mengucapkan kata tersebut.
Orang yang ditabrak terlihat berjongkok mengambil barang Gabby yang jatuh. Lalu membaca informasi di kemasan itu.
“Kenapa kau membelinya?” Seraya menyodorkan botol berwarna putih kepada Gabby.
Gabby tahu betul pemilik suara itu. Kepalanya sedikit mendongak untuk memastikan. Benar saja, George orang yang dia tabrak.
Gabby langsung menyabar miliknya dari tangan George. “Bukan urusanmu, urusi saja kepentinganmu sendiri.” Dia tabrak bahu kokoh George. Sudah terlalu jauh pria itu mencampuri urusannya.
Langkahnya terhenti sejenak, ia membalikkan badannya dan bertemu tatap dengan George. “Jangan pernah kau katakan pada siapapun jika aku mengkonsumsi obat tidur!” Ia pun berlalu menuju kamarnya.
Entah mengapa, George semakin penasaran dengan Gabby. Wanita itu seolah menyimpan segala sesuatunya sendiri.
mending mati aja klo kyk gtu
huhuhu😭😭😭
sakit bngt jd gabby
*aku kalau diposisi George mana mau menunggu gabi, ditolak, melihat gabi bermesraan dengan pria lain, melihat gabi bercumbu dengan pria lain, dan hanya dibuat kayak boneka yang pasrah dan megiti gabi selesai dia harus ada
thor aku tanya pribadi padamu, apakah kau diposisi George dan dilakukan kayak gitu kau mau menerima begitu saja
thor jadi novelis netral, lihat lah semua disitu pandang jangan hanya melihat sudut pandang wanita saja
*sudut pandang gabi enak menolak Georg menikah dan bercumbu dengan pria lain didepan Georg setelah dia selesai dengan pria itu, Georgia harus ada untuknya, enak benar hidupnya
*yang kasian geoge, ditolak, harus pasah melihat gabi bermesraan dan bercumbu dengan pria lain, setelah gabi selesai dengan pria itu, George harus menerima begitu saja
thor pakai hati berkarya, kalau kau adil buat gabi berjuang juga untuk George, karena faktanya gabi telah melukai hati George, jangan semudah itu, kalian buat George kayak boneka yang tidak punya hati yang bisa terluka juga
pakai hati thor