Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Saat terbangun dari tidurnya, Putri masih terlelap. Tangan
gadis itu memeluknya erat, hangat tubuhnya seakan tersalur sehingga meski tanpa
selimut, Vian tidak merasa kedinginan. Vian teringat kembali jawaban
pertanyaannya semalam. Meskipun berkata tidak, pria itu tahu, apa yang
sebenarnya ada di dalam hati Putri.
Vian bukanlah orang baru dalam hal mengenal wanita. Ia sudah
merasakan hawa ketertarikan dari Putri. Hanya saja, gadis itu tidak akan mau
bersaing dengan Vanessa. Perasaan Vian sendiri juga kurang lebih sama dengan
Putri, tetapi untuk saat ini ia juga tidak bisa meninggalkan Vanessa begitu
saja, apalagi gadis itu adalah cinta pertamanya.
Pria itu memiringkan badannya agar ia dapat memandang wajah
Putri dengan jelas. Mata pandanya terlihat jelas, sepertinya semalam gadis itu
mengalami susah tidur. Tidur Putri sangat pulas, bahkan ia tidak bergeming saat
Vian menggeser letak tangannya.
Perlahan, Vian menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi lembut gadis itu. ia
mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas kening Putri.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu, Put. Meskipun
aku sadar, akulah duri itu. Aku janji, tidak akan lagi membuatmu kesal atau
marah, aku akan menyayangimu, meskipun aku mungkin tidak bisa menjadi seseorang
yang kamu harapkan. Maafkan aku.” Bisik Vian dengan sangat pelan.
Dengan sangat hati-hati, Vian turun dari ranjang,
membersihkan diri seperlunya lalu keluar dari kamar, lalu kembali lagi setelah
beberapa saat sambil membawa makanan dan Putri masih tidur dengan pulas. Vian
menuliskan sebuah pesan dan meletakkannya tidak auh dari makanan yang ia bawa
dan di taruh di atas nakas.
Sebelum pergi, Vian masih menyempatkan diri mengelus rambut
Putri pelan. Entah mengapa perasaannya menjadi lemah di depan wanita itu.
Mungkin, kebersamaan mereka selama ini telah membuat hati Vian bergeser sedikit
pada Putri. Di bandingkan dengan perasaannya kepada Vanessa, Tya dan juga
Viona, perasaan yang ia rasakan terhadap Putri benar-benar berbeda.
Sebelum kembali ke kamarnya, Vian terlebih dulu mendatangi
kamar Vanessa. Setelah mengetuknya berulang kali, kekasihnya itu tak kunjung
keluar. Vian memutuskan untuk menunggu, barangkali wanita itu tengah pergi
membeli makanan untuk sarapan.
Vian menunggu cukup lama untuk bertemu dengan Vanessa,
hingga akhirnya wanita itu kembali ke kamarnya. Masih dengan pakaian yang sama
dengan yang ia gunakan semalam. Saat melihat Vian, wajahnya tampak sedikit
terkejut, tetapi ia berusaha bersikap
seolah semuanya baik-baik saja.
“Darimana?” tanya Vian dengan sikap dingin. Ia dapat
menghirup bau alkohol yang sedikit menyengat dari pakaian yang di kenakan
kekasihnya.
“Hanya sedikit bersenang-senang.” Jawab Vanessa singkat.
Wanita itu membenarkan letak tali tasnya yang akan melorot lalu membuka pintu
kamarnya.
“Dengan laki-laki lain?” Vian mulai mencecar pertanyaan demi
pertanyaan pada Vanessa.
“Jadi kamu menuduhku? Apa kamu punya bukti?” Vanessa cuek, ia melenggangka kakinya dan masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Vian.
“Aku bukan menuduh, hanya bertanya. Apa itu salah? Mengapa
kamu menanggapinya dengan begitu serius? Atau jangan-jangan kamu memang benar,
bermain api di belakangku?” Vian mulai menaruh kecurigaan terhadap Vanessa.
Sementara, wanita itu sedang memutar otak, harus berbicara apa lagi untuk
menghilangkan jejak kecurigaan Vian.
“Sayang, kamu kenapa? Dari semalam kamu selalu marah-marah
kepadaku, maafkan aku... ya...” Vanessa
bergelayut manja pada Vian. Ia memeluk pria itu erat-erat, hingga hidungnya
dapat mencium bau parfum yang tidak seperti biasa dari baju kekasihnya.
“Kamu ganti parfum?” Vanessa menatap Vian dengan tatapan
penuh kecurigaan. Vian seketika flashback apa yang terjadi padanya dan Putri semalam, dengan pelukan erat gadis
itu, wajar saja jika bau parfumnya melekat di bajunya.
“Ini bukan parfumku, tapi... parfum Putri.” Vian mengatakan
pa adanya, wangi parfum yang melekat memang milik wanita itu.
“Parfum Putri? Bagaimana bisa bau parfum wanita itu ada di
bajumu? Jangan-jangan kalian...” Vanessa mulai menduga-duga apa yang terjadi
antara Vian dan Putri. Meskipun sebenarnya ia juga paham, orang seperti apa
Vian itu.
“Apa aku harus menjawabnya untukmu? Jangan coba mengalihkan
pembicaraan.” Vian melepaskan dirinya
dan memillih merebahkan dirinya ke atas ranjang. Ia mendengus kesal karena
Vanessa balik memojokkannya.
“Kamu sekarang banyak menutupi sesuatu dariku, sebenarnya
aku ini siapamu? Vian, kamu sungguh membuatku frustasi...” Vanessa duduk di samping Vian, menaruh tas
kecilnya tak jauh dari tempatnya berada. Ia meraup mukanya sendiri, berusaha terlihat sedih dan tak berdaya di
hadapan Vian.
“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah jujur padaku?” Vian
bangkit dari tidurnya dan duduk di samping wanita yang merupakan kekasihnya
itu. seolah kepercayaannya telah luntur, Vian menaruh curiga terhadap Vanessa.
Entah mengapa, ia merasa perkataan Vanessa bukan yang sebenarnya terjadi.
“Aku harus apa supaya kamu mempercayaiku, Vian?” Vanessa benar-benar frustasi karena Vian
sekarang lebih peka di bandingkan biasanya. Dulu, saat mereka terlibat konflik biasanya Vian akan mengalah, tetapi
kali ini ia sulit untuk mempercayainya.
“Tatap aku dan jawab dengan jujur, darimana kamu dan dengan
siapa kamu semalam setelah bersamaku?” Vian memegang erat kedua bahu kekasihnya itu, sementara Vanessa tampak
sangat ragu untuk melakukan kontak mata dengan Vian. Tentu saja Vanessa takut
kalau Vian mengetahui kebohongannya. Kali ini ia kembali memutar otak untuk
tetap mendapatkan kepercayaan Vian atau setidaknya mencari celah agar dapat
bebas dari tuduhannya yang sebenarnya adalah fakta.
“Ka-kamu meragukan aku? Kamu tidak mempercayaiku lagi? Sudahlah,
keluar dari kamarku. Aku tidak perduli kamu percaya atau tidak padaku, cepat
keluar!” Vanessa mengeraskan volume suaranya di dua kata terakhir kalimat yang
di ucapkannya sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya yang terbuka.
“Oke, oke aku keluar. Nggak perlu ngebentak aku, tapi ingat,
kalau terbukti kamu bermain api di belakangku, hubungan kita selesai secara
otomatis.” Vanessa melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vanessa, membawa
hatinya yang kecewa dengan wajah yang kusut. Di saat seperti itu, di pikirannya
justru timbul bayangan-bayangan Putri, membuat lelaki itu semakin bimbang.
“Terserah.” Ujar Vanessa sambil mengekori Vian, lalu ia
menutup pintunya cukup kencang setelah prianya itu benar-benar berada di luar.
Vian kembali ke kamarnya dengan penampilan yang tidak
menggambarkan dirinya seperti biasa. Kemeja putihnya lusuh, wajahnya yang
begitu kacau, di tambah langkahnya yang gontai dan tidak bersemangat. Mungkin jika saat ini karyawan di kantornya
ada yang melihat, mereka tidak akan percaya kalau itu Vian.
Seperti sebuah styrofoam yang jatuh ke dalam air, begitulah
perasaannya terhadap Vanessa, mengambang. Setelah mencintai perempuan itu
selama bertahun-tahun lamanya, baru
sekarang ia merasa bahwa perasaan wanita itu tidak tulus padanya. Ada apa
dengan Vian? apakah ini semua karena kehadiran Putri? Atau karena sikap Putri
yang mulai lembut padanya? Entahlah, Vian tidak dapat mengartikannya.
mulai suka dan coment.
lanjut....