Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 33 pov maira
Aku sempat tinggal beberapa hari di apartment, namun karena keuanganku semakin menipis rasanya tidak cukup jika harus menyewa apartmen, saat itu Mas Hendra menelfonku kuceritakan keadaanku padanya, akhirnya ma hendra menyuruhku untuk ikut tinggal bersamanya.
Mas Hendra sangat baik padaku,dia selalu berusaha menenuhi kebutuhanku.
Sudah satu bulan aku di tinggalkan Mas Refan, aku mulai memperbaiki diri, aku sering merilekskan tubuhku seperti ikut shopping bersama teman-tenan, aku juga sering liburan ke luar kota, ya Mas Hendra tidak melarangku dalam hal itu.
Jika aku pergi ke luar kota Mas Hendra menyuruh bi Ijah ikut bersamaku, untuk mengurusku di sana nanti, ya tentu saja aku tidak keberatan dengan hal itu.
Aku berusaha kembali membangun bisnisku yang telah di renggut oleh Mas Refan dulu.
Malam itu Mas Hendra pulang lebih awal,aku dan Bi Ijah sibuk meyiapkan makan malam, aku bergegas mendekati Mas Hendra.
"Mas tumben pulang cepat!" Tanyaku pada Mas Hendra.
"Iya nih dek, oiya kalian masak apa hari ini?"
"Bi Ijah masak semur jengkol utuk Mas tadi,katanya Mas suka semur jengkol." Ujarku pada mas refan.
Tiba-tiba saja mas hendra menyelonong pergi kedapur.
"Eh mas, mau ngapain?"
"Makan lah dek." Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat masa lalu, saat Mas Refan pulang ke kampung dulu, menyelonong pengen makan sayur asam pedes, namun aku melarangnya.
"Dek kenapa bengong, ayuk makan." kulihat Mas Hendra sibuk menyantap makanan itu.
Aku sedikit tersenyum melihat tingkahnya yang sangat mengemaskan itu.
Tiba-tiba mas hendra menghentikan sendoknya dan mendekatiku.
"Dek kenapa lagi, masih sedih?" Mas Hendra bertanya padaku.
"Ngak kok Mas,mai binggung aja,kenapa nasib Maira segini amat, apa harus sesakit ini!" Aku menghamburkan tangis di dada Mas Hendra.
"Udahlah dek, ngak usah di sesali, lagian itu bukan salah kamu kok, mungkin saja pak Refan yang tidak pernah bersyukur mendapatkan wanita sebaik kamu." Ujarnya sembari mendekap erat tubuhku.
Rasanya begitu nyaman berada di dekatnya.
"Dek jika seandainya mas yang mengambil alih tanggung jawab pak Refan terhadapmu apakah kamu mau menerima Mas seperti pak Refan juga." Aku sedikit terkejut mendengar tawaran Mas Hendra padaku.
"Tapi Mas,,,"
"Sebenarnya jauh sebelum pak Tefan mengenali mu dek, Mas udah dari dulu menyukai mu dek Maira, tapi Mas mengalah demi pak Tefan, karena Mas sudah banyak berhutang budi pada pak Refan." Aku sedikit tertekun mendengar penjelasannya, mas hendra memandangku begitu tulus.
Entahlah saat ini aku belum bisa melupakan Mas Refan.
"Mas, aku,,"
"Nga apa-apa kalau belum bisa dek, Mas ngak akan maksa kok, Mas akan tunggu sampai kapanpun itu." Ujarnya membuatku terdiam,mas hendra beranjak dari hadapanku dan mengambil handuk yang terletak di dalam lemari dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Kata-kata mas Hendra membuatku sedikit binggung, Entahlah apa aku harus menerima lamaran Mas Hendra atau aku harus menjalani hidup sediri dulu, di dalam hatiku rasanya sangat sulit sekali jika harus menerima orang baru kembali.
Rrrrtttt,,,
Teleponku berdering, aku bergegas mengambil teleponku di dalam tas milikku, ku usap layar benda pipih itu, ku lihat Ibu yang menelpon.
"Hallo Bu."
"Nak Maira gimana kabarmu nak, akhir-akhir ini Ibu sering mimpi buruk, nak Maira sama nak Refan baik-baik sajakan."
"Tidak ada yang baik-baik saja Bu." Gumamku sambil neneteskan air mata.
"Hallo Mai."
"Ibu gimana kabarnya sehat kan, oiya gimana kabar ayah juga Bu?" Jawabku pada ibu.
"Alhamdulillah semuanya sehat nak."
"Ibu Maira sekarang sedikit sibuk, nanti Maira telfon lagi ya Bu." Ujarku sembari menutup telepon, tak lupa pula aku mengucapkan salam pada Ibu.