Ardhan Husein Zakhori adalah CEO di Millenial Group. Ia mewarisi perusahaan Kakeknya. Pribadinya yang sangat ramah membuatnya disukai banyak orang. Ia memiliki ambisi yang besar diumur yang masih muda. Namun, karena Kakeknya semakin tua dan mulai sakit-sakitan ia harus mencari calon istri dan menikah secepatnya. Saat itu pula cinta masa kecilnya datang.
"Will you marry me?" tanya Ardhan.
"Yes, I do," jawab wanita itu.
Ardhan yang malang. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi awal ia mengetahui banyak kenyataan pahit. Akankah Ardhan menerima kenyataan dan mempertahankan cinta masa kecilnya? Atau menikahi orang lain demi mewujudkan keinginan Kakeknya? Dapatkah Ardhan bertahan dengan semua ujian ini? Penuh puzzle yang harus diselesaikan, ikuti perjuangan Ardhan dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daratullaila 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Rumah Ardhan
..."Kesopanan tak ditunjukkan oleh wajah melainkan sifat dan kata-kata."...
...✨...
Titin yang masih terpukul tak berkata apapun dari tadi. Hamil di luar nikah akan menjadi aib bagi keluarganya. Apalagi hubungan mereka sudah di tentang. Titin tak tau bagaimana nasib anak dalam kandungannya nanti.
"Apa benar Tuan sudah dijodohkan?" tanya Titin datar.
Pria pengusaha itu hanya diam.
"Kalau diam artinya benar," ucap Titin menahan tangisnya.
"Tin ...," pria itu mencoba menenangkan Titin tapi tangis Titin malah pecah.
"Bagaimana nasib anak ini Tuan? Hiks ... hiks .... Bagimana nasib keluarga saya Tuan? Saya malu, saya malu .... Ibu maafkan Titin. Ayah Titin salah yah hukum Titin yah, hiks ... hiks .... Aku memang pelacur. Aku gak bisa jaga kehormatan aku sendiri, hiks. Aku udah gak punya harga diri, hiks ... hiks ...," Titin menangis menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku akan tanggung jawab," ucap pria itu tegas menyeka air mata Titin.
"Pembohong!" ujar Titin tak percaya.
Pria pengusaha itu pun memeluk Titin dan menenangkannya. Kemudian mengajaknya pulang untuk bertemu keluarganya. Mereka menaiki mobil. Terlihat pria itu dengan hati-hati memapah tubuh Titin yang masih lemah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Titin sibuk memandang keluar sedangkan pria itu sibuk menenangkan Titin.
Setelah sampai Titin langsung masuk rumah dan bersujud pada ayahnya.
"Ayah maafkan Titin ... hiks ... hiks .... Titin salah, Titin udah buat aib, maafkan Titin ...," ucap Titin menangis.
"Ada apa?" tanya ayahnya heran seraya membantu Titin bangkit.
"Pak saya ingin bicara," ajak pria pengusaha itu.
Mereka pun berbicara di dapur. Pria itu memastikan terlebih dahulu bahwa tak ada yang mendengar mereka.
"Ada apa? Kenapa Titin tiba-tiba nangis dan minta maaf?" tanya ayah Titin langsung.
"Pak, Titin hamil," jelas pria pengusaha itu menunduk.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Wajahnya terlihat memerah tapi wajah orang di depannya lebih merah karena amarah.
***
GA-RA, batin Ardhan geram.
"Kita selesaikan ini segera ya ca-lon Pa-pa mer-tu-a," ucapnya menekan beberapa kalimat.
Ardhan mengetik sesuatu di komputernya. Matanya membaca dengan cepat dan senyumnya menyeringai saat menekan tombol terakhir.
Klik.
"Ardhaaannnn ...," teriak Key dari luar.
Ardhan segera mengganti tab di komputernya dan mengubah ekspresi wajahnya. Key memasuki rungan Ardhan dengan tangan penuh tas belanja.
"Lihat nih Dhan. Ini untuk Kakek, ini untuk kamu, ini untuk aku," ucap Key menyingkirkan dua tas belanja dan membawa sisanya.
"Aku duduk sini boleh gak Dhan?" tanya Key saat tak mendapat respon Ardhan.
"Boleh," jawab Ardhan santai.
Key duduk di salah satu sofa dan mengagumi belanjaannya. Ia membuka satu persatu tas belanja. Sedangkan Ardhan memperhatikan sambil berpangku tangan.
"Dhan mallnya buruk banget tau. Lihat nih bajunya. Aku udah beli yang paling mahal tapi motifnya tetap jelek. Sepatunya juga nih. Aku udah pilih yang paling bagus. Apalagi tasnya. Aduuhhh cukup terakhir aku belanja di sana Dhan," adu Key panjang lebar.
Mall jelek tapi kartu limitnya gak dibalikin, batin Ardhan sinis.
"Yaudah kamu ganti dulu gih. Sebentar lagi kita pergi," ucap Ardhan mengusir Key halus.
"Peluk dulu," Key berbicara manja.
Tanpa aba-aba Ardhan langsung memeluknya dan menggiringnya sampai depan pintu. Setelah itu ia mendorong Key keluar sebelum Key sempat bicara. Ardhan segera menepuk-nepuk badannya tempat ia memeluk Key.
Duh badan suci gue ternodai, batin Ardhan kesal.
Ardhan segera membereskan pekerjaannya kemudian mendatangi ruangan Key. Ia telah memakai banyak parfum agar wangi parfum Key yang menempel di bajunya menghilang. Para staf menunduk hormat saat Ardhan lewat sedangkan Ardhan membalas mereka tersenyum.
Sebelum Ardhan membuka pintu Key sudah menghampirinya dan menggandengnya. Para staf yang melihat langsung menunduk saat Ardhan melirik sinis. Ardhan pun membawa Key lewat jalan khusus.
"Ardhan kamu bawa mobil apa?" tanya Key di perjalanan.
"Ferrari," jawab Ardhan singkat.
"Ayo ayo cepat," ucap Key bersemangat setelah mendengar jawaban Ardhan.
Mereka sedikit berlari. Ardhan membukakan pintu mobil saat sudah sampai. Key masuk dengan cepat dan segera memperanggun cara duduknya. Ardhan yang melihat hanya geleng-geleng dan segera melajukan mobil.
Key sibuk mengagumi mobil Ardhan. Seluruh bagian mobil Ardhan sudah disentuhnya. Bahkan ia mengambil coklat Ardhan tanpa izin. Dengan lahap Key memakan coklat itu dan meninggalkan noda di sekitar mulutnya.
"Ayo kita udah sampai," ucap Ardhan mengajak Key turun.
"Bentar-bentar," ucap Key membersihkan noda di mulutnya.
Mereka berjalan bergandengan. Bi Titin menyambut mereka di depan pintu.
"Aduh bibi ini pakaiannya lusuh sekali," ucap Key acuh.
"Maaf ya nona pakaian Anda juga tidak terlalu bagus. Saya sering melihat baju Anda saat pergi ke pasar," balas bi Titin.
"Baju saya beli di mall. Yang ada di pasar itu pasti kw. Pembantu tau apa. Huh," ujar Key berlalu pergi.
"Bi buatkan minum dan cemilan ya," perintah Ardhan.
Bi Titin segera pergi ke dapur. Ardhan menemani Key duduk di ruang tamu. Key yang baru pertama kali ke rumahnya mengagumi desain rumah itu.
"Dhan rumah kamu bagus banget," ucap Key kagum.
"Dulu kan kamu sering ke sini," ujar Ardhan santai.
"Eh ... iya aku dulu memang sering ke sini. Tapi sekarang lebih bagus lagi hehe," jawab Key canggung.
Cih, padahal ini rumah Kakek. Kamu aja gak pernah ke rumah aku apalagi ke rumah Kakek. Pembual, batin Ardhan kesal.
Bi Titin datang membawa beberapa biskuit dan jus. Ia meletakkan itu dengan hati-hati. Saat hendak bangkit Key sengaja menjegal kaki bi Titin sehingga minuman di meja tersenggol dan mengenai Key.
"Aduh bi gimana sih kerjanya? Gak becus banget! Kalau aku udah jadi nyonya rumah di sini akan aku usir kamu! Dasar pembantu gak becus!" bentak Key.
Jangan harap bisa jadi nyonya rumah, batin Ardhan.
"Ardhan lihat ini. Baju mahal aku kotor," adu Key manja.
"Maaf ya nona. Anda yang membuat saya jatuh. Itu kesalahan Anda," ucap bi Titin tak mau kalah.
"Heh pembantu! Jangan melawan aja kerjaan kamu! Bentar lagi aku akan jadi nyonya rumah!" ketus Key kasar.
"Anda pikir pantas menjadi nyonya rumah? Wanita tidak punya sopan santun. Orangtua kamu tidak pernah mendidik kamu dengan benar ya?" balas bi Titin tidak kalah kasar.
Key murka. Ia bangkit dan mendaratkan satu tamparan di pipi bi Titin.
Plak!
Plak!
Bi Titin menampar Key balik.
"Ardhan kamu lihat dia kan? Dia nampar aku Dhan?" adu Key menangis.
"Bi ambilkan kotak obat," perintah Ardhan santai.
"Dhan kamu marahin dia dong! Lihat nih pipi aku merah hiks hiks," adu Key makin menangis.
"Ulululu sini sini. Cup cup sayang," ucap Ardhan mengelus pipi Key.
Anak ibu pun taunya bertengkar. Huh membuat pusing saja, batin Ardhan lelah.
mohon dukungannya juga untuk novelku kak....SunFlower. mohon tinggalkan saran, masukan dan kritik kan dariku yang masih belajar ini....🙏🏻😊🤗
semangat terus, ditunggu updatenya
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
💛 Good luck! 💛
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
semangat^^
maaf Cinta dan air mata dan cinta Berlumur Dosa tahap penghapusan gak usah di like ya Thor 🙏🙏