Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01. Diperlakukan bagai pembantu
.
Musik mengalun lembut di tengah aula kediaman keluarga Wijaya yang malam itu dipenuhi tamu. Lampu-lampu kristal memantulkan kilauan keemasan ke lantai marmer, sementara para kerabat dan rekan bisnis Darma Wijaya bercengkerama dengan gelas di tangan.
Di antara gaun-gaun mahal dan jas berjahitan sempurna, Keira Anindita berdiri dengan sebuah nampan di tangannya.
“Keira, meja sebelah sana belum mendapatkan minuman.” Marissa Wijaya menunjuk ke arah sekelompok tamu dengan dagunya. “Cepat antarkan!”
Keira menatap nampan yang berisi beberapa gelas jus dan minuman ringan, lalu mengangguk tenang. “Baik, Ma,” jawabnya lalu berjalan melewati kerumunan tanpa menunjukkan keberatan sedikit pun.
Sudah beberapa bulan terakhir Marissa semakin sering memperlakukannya seperti itu. Dahulu, ibu mertuanya bahkan tidak membiarkan Keira mengangkat piring kotor sendiri. Namun sejak perusahaan Arsen berkembang pesat, sikap perempuan itu perlahan berubah.
Keira masih ingat ketika keluarga Wijaya belum memiliki apa-apa. Saat itu, Marissa sering menggenggam tangannya sambil berkata bahwa Keira adalah menantu yang paling ia sayangi. Sekarang, perempuan yang sama bahkan merasa Keira tidak pantas duduk di meja keluarga.
“Terima kasih, Nak,” ucap seorang tamu mengambil gelas dari nampannya sambil tersenyum sopan. Keira membalas dengan senyum tipis sebelum kembali mengambil minuman lainnya.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Arsen. Suaminya itu sedang dikelilingi beberapa rekan bisnis. Mengenakan jas hitam yang rapi, Arsen tampak berbeda dari laki-laki yang empat tahun lalu menikahinya dengan sebuah cincin sederhana. Kini semua orang mengenalnya sebagai pengusaha muda yang berhasil membawa Wijaya Group melewati masa sulit.
Keira tersenyum samar. Setidaknya perjuangan mereka tidak sia-sia. Ia masih ingat bagaimana empat tahun lalu Arsen pulang larut malam dengan wajah cemas karena modal usahanya hampir habis. Keira diam-diam menggunakan jaringan bisnisnya untuk memperkenalkan beberapa pemasok dan investor tanpa pernah menyebut namanya.
Ketika Arsen berhasil mendapatkan kontrak pertamanya, Keira adalah orang yang paling bahagia. Ia tidak pernah menginginkan penghargaan. Ia hanya ingin melihat pria yang dicintainya berhasil.
“Keira!” Suara Marissa kembali terdengar.
Keira segera menoleh. “Iya, Ma.”
“Bawa makanan dari dapur ke meja utama. Para tamu sebentar lagi akan makan,” perintah Marissa padanya. Padahal di sekitar mereka juga ada pelayan yang berlalu lalang. Tetapi yang dipanggil oleh Marissa selalu hanya Keira.
“Sekarang?” Keira melirik meja utama yang masih dipenuhi hidangan pembuka.
Marissa mengangkat alis. “Kenapa? Kamu keberatan?”
“Tidak.” Keira segera menggeleng. “Aku kerjakan.”
Marissa mendengus kecil sebelum berbalik.
Seorang sepupu Arsen yang berdiri tidak jauh dari sana tertawa pelan. “Bibi benar-benar tahu cara mendidik menantu.”
Beberapa orang yang berada di tempat itu ikut tertawa terkekeh.
Keira mendengarnya, namun wanita itu memilih diam. Ia mengambil piring-piring dari meja samping dan membawanya menuju meja utama. Ketika melewati Arsen, mata mereka sempat bertemu.
Arsen menatapnya beberapa detik dan Keira berharap suaminya akan datang membantu. Namun, Arsen hanya memberikan senyum kecil sebelum kembali melanjutkan pembicaraan dengan rekan bisnisnya.
Senyum Arsen yang biasanya membuatnya merasa bahagia kini membuat dada Keira terasa sesak. Ia tidak membutuhkan Arsen mengangkat piring untuknya. Ia hanya ingin laki-laki itu mengatakan satu kalimat sederhana kepada keluarganya.
“Dia istriku. Jangan perlakukan dia seperti pelayan.”
Tetapi kalimat yang ditunggu oleh Keira tidak pernah keluar.
Setelah semua makanan tersusun, Keira kembali ke sisi ruangan. Ia baru saja hendak duduk ketika Marissa menghampiri dan menegurnya.
“Jangan duduk dulu. Tolong periksa apakah minuman untuk tamu di teras sudah tersedia.”
Keira menarik napas perlahan kemudian menjawab, “Baik, Ma.”
Kaki Keira baru melangkah beberapa langkah ketika suara seorang kerabat terdengar dari belakang.
“Keira memang rajin sekali.” Disusul tawa kecil.
“Ya, pantas saja Tante Marissa senang. Dapat menantu yang tahu diri.”
Keira berhenti sepersekian detik dengan tangan mengepal di sisi tubuh. Namun, kemudian ia melepaskannya kembali dan terus berjalan. Kalau itu dulu, mungkin ia akan menangis. Tetapi sekarang ia bahkan tidak tahu apa yang harus dirasakan.
Satu jam kemudian, pesta semakin ramai.
Keira akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri di dekat jendela kaca dengan segelas air putih di tangan lalu meneguknya perlahan. Dari pantulan kaca jendela itu, ia melihat dirinya sendiri. Gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya sebenarnya sangat elegan. Tidak semewah pakaian para perempuan yang hadir malam itu, tetapi juga sama sekali tidak pantas disebut buruk.
Keira sengaja memilih model sederhana seperti itu karena ia tidak suka mengamalkan sesuatu yang berlebihan. Dan tidak seorang pun tahu bahwa satu gelang dengan bentuk sederhana yang melingkar di pergelangan tangannya saja memiliki nilai lebih tinggi daripada sebuah mobil mewah yang terparkir di halaman. Keira tidak pernah merasa perlu menunjukkan semua itu.
“Keira.”
Keira menoleh dan tersenyum kecil mendapati Arsen akhirnya menghampirinya.
“Sudah selesai bicara dengan klien mu?” tanya Keira lembut.
“Sebagian.” Arsen berdiri di sampingnya, lalu mengambil gelas air dari tangan Keira dan menyerahkannya kembali setelah meneguk sedikit. “Kamu capek?”
“Sedikit.” Keira mengangguk pelan
Arsen memperhatikannya. “Ibu banyak menyuruhmu?”
Keira hampir tertawa mendengar pertanyaan yang terlambat itu. “Semuanya baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum.
Arsen hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Marissa tiba-tiba terdengar dari tengah ruangan. “Perhatian semuanya!”
Percakapan para tamu perlahan berhenti. Semua orang melihat ke arah Marissa yang berdiri di samping Darma dengan senyum lebar. Begitu juga dengan Keira dan Arsen yang otomatis menoleh.
“Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan malam ini,” kata Marissa sambil meraih tangan seorang perempuan yang baru saja datang dari pintu samping.
Perempuan yang begitu cantik dengan gaun biru muda yang membalut tubuhnya dengan anggun, rambut panjangnya tertata sempurna dan berkilau indah tertimpa cahaya lampu ruang, dan senyumnya membuat beberapa pria di ruangan itu langsung memperhatikannya.
Keira menatap perempuan tersebut merasa sama sekali tak mengenalnya. Tapi ia bisa melihat Marissa tampak sangat bangga dengan perempuan itu.
“Perkenalkan, ini Clarissa Halim. Putri dari keluarga Halim yang selama ini sudah lama menjalin hubungan bisnis dengan keluarga Wijaya.” Marisa memperkenalkan gadis itu sambil tersenyum lebar.
Tepuk tangan terdengar dari beberapa sudut ruangan. Sementara Keira mengerutkan kening masih mencoba meraba ke arah mana pembicaraan Ibu mertuanya. Sampai kemudian Marissa mengatakan kalimat yang membuat seluruh tubuh Keira seketika membeku.
“Dan Clarissa ini adalah calon istri putra kami, Arsen Wijaya.”
Suasana yang awalnya begitu tenang berubah menjadi bisik-bisik. Semua tamu saling pandang dengan orang yang ada di dekat mereka.
Keira tidak bergerak, hanya matanya yang perlahan beralih kepada Arsen. Suaminya itu berdiri hanya beberapa langkah darinya dengan wajah kaku. Pria itu juga tampak terkejut. Namun, bukan itu yang membuat hati Keira sakit.
Arsen sama sekali tidak membantah atau menghentikan ibunya. Juga tidak mengatakan bahwa dirinya telah memiliki seorang istri. Dan saat ia melihat ke arah Marissa, Ibu mertuanya itu justru tersenyum kepadanya seolah baru menyadari keberadaannya.
“Keira, kamu jangan hanya berdiri di sana. Kemarilah.” Marisa melambaikan tangan pada Keira.
Keira berjalan mendekat dengan langkah yang terasa berat. Ada sesuatu yang bagai menghantam dadanya. Kedua tangannya kembali terkepal di sisi badan. Dan ketika langkah Keira telah sampai di dekat Marisa, Ibu mertuanya itu malah merangkul bahu Clarissa dengan bangga, lalu berkata kepada seluruh keluarga, “Lihatlah. Bukankah Clarissa lebih cocok jika bersanding dengan Arsen?”
Beberapa orang yang melihat perbedaan penampilan antara Keira dan Clarissa langsung mengangguk setuju.
“Benar sekali.”
“Nona Clarissa memang lebih pantas menjadi istri seorang pengusaha besar seperti Tuan Arsen.”
“Dari keluarga Halim pula.”
Keira mendengar semuanya. Matanya menatap ke arah Arsen, menunggu jawaban dari pria itu. Sedetik, dua detik, tiga detik… tetapi laki-laki itu tetap diam di tempatnya.
Keira akhirnya tersenyum karena akhirnya ia mengerti sesuatu yang selama empat tahun tidak pernah benar-benar ingin ia akui. Ternyata yang membuat seseorang pergi bukan selalu karena tidak dicintai. Bisa jadi karena terlalu lama mencintai orang yang tidak pernah memilihnya.
Keira menurunkan pandangan, lalu melepaskan napas perlahan. Pesta malam ini belum selesai. Tetapi pernikahannya sudah jelas berakhir.
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏