Jatuh cinta kepada seorang Arthur Mayer yang memiliki masa lalu kelam tidak dipermasalahkan Shannon Claire karena ia sungguh mencintai pria itu.
Namun bagaimana ketika terungkap dimasa lalu Arthur lah dalang dari peristiwa yang menyebabkan Shannon kehilangan orang yang disayanginya? apakah Shannon memilih bertahan atau meninggalkan Arthur? simak kisahnya di novel hasil menghalu dari Ratu Halu Base 😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Base Fams, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AD #9
"Ayah muncul dari kejauhan. Begitu melihat anak-anaknya pulang, ia segera menghampiri mereka dengan wajah cemas. Sang ayah kemudian mengatakan bahwa ibu tiri Hansel dan Gretel telah meninggal. Ia memeluk kedua anaknya sambil meminta maaf atas kesalahannya. Selesai."
Shannon menutup buku setelah menceritakan dongeng Hansel dan Gratel, untuk Arabella. Shannon mengembalikan buku tersebut ditempat semula, kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya di samping Arabella.
"Apa kau sudah mengantuk? " tanya Shannon seraya membelai rambut keriting Arabella.
"Sudah, Shannon." Arabella pun menguap dengan maniknya yang meredup. "Apakah kau bisa menggaruk punggungku?"
"Tentu, tapi sebelumnya kau harus berdoa dulu." Shannon mencubit hidung Arabella, dan menyelimuti gadis kecil itu.
"Terimakasih, Shannon. Aku menyayangimu." Arabella memberikan kecupan di pipi Shannon.
"Aku juga menyayangimu." Dan Shannon membalas, mengecup Arabella.
Satu jam berikutnya, setelah memastikan Arabella tidur, Shannon kembali ke kamarnya. Ia meraih, dan memakai jas pria itu sebelum naik ke tempat tidurnya. Shannon menatap langit-langit, dan bayangan pria itu pun muncul memenuhi pikirannya. Sudah 5 hari berlalu, setelah pertemuan itu, Shannon tidak bisa melupakan pria itu.
"Bagaimana kabarnya? apa pria itu baik-baik saja? " pertanyaannya yang tidak akan mendapat jawaban. Shannon menghirup wangi parfum pria itu yang masih menempel di jas tersebut. Shannon tersenyum, setidaknya memakai jas pria itu bisa mengobati rasa rindunya.
Tok.. Tok.. Tok..
Shannon bangun dari posisinya saat mendengar pintu kamar di ketuk. Ia meraih handle, kemudian pintu terbuka.
"Shannon!!" teriak Chloe seperti kaleng rombeng.
Pekikan cetar dari sahabatnya membuat Shannon harus menutup kedua telinganya. "Astaga, kau berisik sekali Chloe. Adik-adik kita sudah pada tidur." Bisik Shannon. "Masuklah."
Kedua gadis yang bertaut usai 2 tahun itu masuk, dan Shanon menutup pintu.
"Hei.. Hei.. Jas siapa yang kau pakai? " telisik Chloe baru menyadari penampilan Shannon. Shannon tersenyum. Mengenai pertemuan dengan pria itu, Shannon belum menceritakan kepada Chloe. "Kau tau, kau terlihat seperti orang-orangan sawah, Shannon." Chloe cekikikan yang mendapatkan pukulan dari Shannon.
"Ck kau ini, " Shannon duduk di tepian ranjang disusul Chloe. "Apa yang kau bawa?" tanya Shannon.
"Hadiah untukmu."
"Hadiah? ulang tahunku masih dua bulan lagi."
Chloe meletakkan paper bag yang dibawanya diatas pangkuan Shannon. "Hadiah untuk kesembuhanmu, bukalah!" perintah gadis 21 tahun itu. "Semoga kau menyukainya."
Shannon mengeluarkan sebuah kotak berbentuk persegi dari dalam paper bag tersebut. "Ponsel? kau membelikan aku ponsel?"
Chloe mengangguk, tersenyum. "Kau membutuhkannya, Shannon."
"Pasti kau memakai tabunganmu lagi, untuk membeli ponsel ini."
"Tidak... Aku membelinya dari bonusku."
"Chloe.. "
"Tolong, jangan kau tolak."
"Terimakasih Chloe," Shannon memeluk sahabatnya itu. Ini hadiah kesekian kalinya yang Chloe berikan untuknya.
Shannon melonggarkan pelukannya. "Aku tidak tau cara menggunakannya. Kau bisa mengajariku?"
"Tentu, kemari-kan ponselmu. Aku akan mengajarimu." Shannon memberikan ponselnya kepada Chloe. Chloe mengajari Shannon sampai sahabat itu benar-benar bisa. Tidak memerlukan waktu yang lama, Shannon belajar dengan cepat.
Senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. "Aku akan mencoba mengirim pesan untukmu." Shannon mulai menggerakkan jemarinya mengirim pesan untuk Chloe.
Notifikasi dari ponsel Chloe berbunyi. "Pesanmu sudah masuk." Chloe menunjukkan pesan yang dikirim Shannon barusan. "Mulai sekarang kita bisa bertukar kabar. Kau bisa menghubungiku, begitu juga sebaliknya." Kedua gadis itu tersenyum bersama.
"Kau ingin coklat panas, Chloe?"
"Boleh... Sepertinya biskuit cemilan yang tepat untuk bergosip ria."
"Tunggulah, aku akan membuatkan coklat panas."
Lima menit, waktu Shannon membuat dua gelas coklat panas untuknya, dan juga Chloe. Ia dengan Chloe duduk di bawah, di atas alas berbahan bulu tepatnya.
"Sekarang ceritakan padaku, jas siapa yang kau pakai?" tanpa basa-basi lagi, Chloe langsung melayangkan pertanyaan langsung ke intinya. Ia dilanda rasa penasaran mengenai jas yang di pakai Shannon.
Shannon tersenyum seraya membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Shannon menyilangkan kedua kakinya. "Entahlah, aku tidak mengetahui namanya. "
"Ceritakan, bagaimana pertemuan kalian?" Chloe meraih bantal, dan meletakkannya diatas pangkuannya.
"Lima hari yang lalu. Aku bertemu dengannya di swalayan. Pria itu memberikan jasnya untuk menutupi noda darah di celanaku."
"Kau menstruasi? " Shannon mengangguk. Chloe membuka mulutnya. "Astaga," respon Chloe berlebihan. "Apa dia memasang jasnya di tubuhmu? seperti di film-film?"
"Korban drama. Itu tidak terjadi, Chloe. Yang terjadi sebaliknya" Shannon tertawa. "Pria itu menjatuhkan jasnya kemudian dia berlalu."
"Misterius sekali."
"Ya, dia misterius."
"Lalu, apa yang kau lakukan?" Chloe mengambil gelasnya. Meniup asap dari minumannya sebelum ia menyesapnya.
"Mengejarnya, " balas Shannon terkekeh geli mengingat raut wajah kesal pria itu.
"Kenapa kau tertawa? apa ada kejadian lucu di antara kalian?"
Shannon melanjutkan ceritanya. Tidak ada yang dikurangi oleh Shannon. Shannon menceritakan semua, sampai pria itu mengantarnya. Chloe pun ikut tertawa.
"Jadi, dia benar-benar mengantarmu." Ucap Chloe di sela tawanya. "Apa pria itu sangat tampan?"
"Iya, sangat. Terlebih tatapan pria itu." Shannon menerawang, membayangkan wajah pria itu. Arthur Mayer.
Chloe tersenyum ringan. "Sepertinya, pria itu sudah memenuhi ruang di hatimu." Duga Chloe. "
"Aku tidak tau, Chloe. Apa aku menyukainya, atau hanya sebatas mengaguminya."
"Bagaimana, perasaanmu pertama kali bertemu dengannya?" .
"Gugup, jantungku menghentak-hentak dengan keras, seperti ada kupu-kupu semu yang berterbangan disini." Shannon memegangi dadanya. He, bahkan hanya menceritakan pria itu, jantung Shannon berdebar kuat.
"Dugaanku benar. Kau jatuh cinta pada pandangan pertama, Shannon."
Pipi Shannon merona seketika seperti tomat. "Benarkah seperti itu? "
"Hmm, ya."
"Tapi Chloe, dia menolak berkenalan denganku. Apa dia sudah memiliki kekasih, atau jangan-jangan pria itu sudah memiliki seorang istri. Oh.. ya ampun, kenapa aku baru memikirkan hal itu." Dalam sekejap wajah Shannon berubah murung dengan wajahnya di tekuk.
"Kenapa kau berubah murung? Cinta bisa datang, dan pergi dengan sendirinya, Shannon. Yang perlu kau lakukan adalah menjalaninya."
"Kau benar, Chloe." Shannon baru menyesap coklat panas miliknya, sambil mengingat wajah pria yang sulit dilupakannya.
"Aku jadi penasaran dengan wujud pria itu." Lanjut Chloe
"Dia tampan."
"Kau sudah mengatakannya tadi, Shannon. Coba kau beritahu ciri-cirinya."
"Dia memiliki sepasang mata berwarna hitam, rambutnya berwarna coklat, alisnya tebal, hidungnya mancung, rahangnya tegas." Shannon menjabarkan ciri-ciri fisik pria itu sambil membayangkannya.
"Pasti tubuhnya tinggi, dan juga seksi. Benarkan?" tebak Chloe.
"Kau benar Chloe. Aku menyaksikan tangannya sangat kekar ketika dia menggulung bagian lengan kemejanya."
"Lalu bagaimana dengan bentuk bibirnya?" tanya Chloe dengan kerlingan, jenaka.
"Aku tidak ingin menjawabnya." Wajah Shannon kembali memerah.
"Pasti seksi. Hahaha... Wajahmu memerah Shannon. Aku jadi semakin penasaran dengan ketampanan pria pencuri hatimu itu, sampai-sampai kau lupa dengan tujuanmu ke swalayan."
Kedua gadis itu tertawa bersama. "Omong-omong... Kau sudah memutuskan apa yang ingin kau lakukan, Shannon?"
"Aku ingin bekerja, Chloe." Keputusannya yang diambilnya setelah berhari-hari merenung. "Menghasilkan uang, dan bisa membantu Bibi untuk membiayai adik-adik."
"Kau ingin bekerja di tempatku bekerja?"
"Apa ada lowongan?"
"Besok, aku akan mencoba menghubungi Bibi Gabriella, dan bertanya kepadanya."
"Baiklah... Sekarang ceritakan hubunganmu dengan Daren? aku merasakan jika dia menyukaimu Chloe."
"Aku juga merasakan seperti itu."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku tidak tau." Chloe menghembuskan napasnya yang berat. "Jujur, aku merasa nyaman dengannya. Tapi.. "
"Kau belum sepenuhnya melupakan Carlos?"
"Hmm ya.. "
Shannon mengusap punggung Chloe. Memahami perasaan Chloe. Carlos, pria pertama yang membuat Chloe jatuh cinta. Begitu juga dengan Carlos. Namun, takdir tidak berpihak kepada mereka, yang pada akhirnya mereka memilih berpisah karena hubungan mereka tidak mendapatkan restu dari kedua orangtua Carlos.
Keduanya gadis itu melanjutkan obrolan mereka sampai larut, dan tepat pukul 1, keduanya tertidur.
juga para pemeran nya 😅😅
hati yang terluka 🤣🤣🤣