NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Keheningan seketika menyergap ruang tamu rumah Rania. Kenan dan Rania berdiri membeku di dekat ambang pintu, saling lempar tatap dengan raut wajah penuh tanda tanya yang teramat besar.

"Mama... Papa... kok bisa ada di sini?" tanya Kenan terbata-bata, menunjuk kedua orang tuanya bergantian.

Ibu Rania terkekeh renyah, meletakkan cangkir tehnya di atas meja porselen. "Lho, kalian belum tahu ya? Mumpung kalian berdua ada di sini, sekalian aja Mama sama Tante kasih tahu."

Ibu Kenan tersenyum lebar, menatap Rania dengan binar mata penuh kasih sayang. "Kenan, Rania... sebenarnya keluarga kita itu udah sepakat perjodohan kalian dari kalian masih SMA. Dulu kan keluarga kita sempat bisnis bareng di Surabaya. Tapi karena kalian sibuk kuliah dan Kenan kelihatan lagi ngejar cewek lain, kita tunda dulu omongannya."

Rania membelalak kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sementara Kenan yang tadinya tegang, perlahan menghembuskan napas lega yang teramat dalam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar.

Pantas saja semuanya terasa begitu mulus, batin Kenan bersorak girang. Dengan begini, jalan terjal yang ia bayangkan untuk meluluhkan hati orang tua Rania seketika runtuh tanpa sisa.

Malam harinya, setelah acara makan malam keluarga yang dipenuhi gelak tawa usai, Kenan mengantar Rania berdiri di teras depan rumah. Suasana malam terasa begitu sejuk di bawah temaram lampu teras.

Kenan memutar tubuhnya, menatap Rania dalam-dalam. Pemuda itu mengikis jarak, memegang lembut kedua jemari Rania yang terasa dingin.

"Ran..." panggil Kenan dengan suara berat dan tulus. "Aku gak mau buang-buang waktu lagi. Lewat perjodohan orang tua kita atau enggak, jujur... perasaan aku ke kamu itu nyata. Aku mau kamu jadi pacar aku. Kamu mau, kan?"

Rania tersentak kaku, dadanya berdebar liar tak beraturan. Matanya berbinar menatap wajah tampan Kenan. Impian terpendamnya sejak awal masuk kuliah—impian sederhana untuk bisa disayangi oleh pria di hadapannya ini—akhirnya menjadi kenyataan.

"Aku... aku mau, Ken," jawab Rania pelan namun mantap, menganggukkan kepalanya dengan rona merah membakar kedua pipinya.

Kenan tersenyum gembira, langsung menarik Rania ke dalam pelukan hangat.

"Jujur ya, Ran," celetuk Kenan seraya terkekeh pelan di samping telinga Rania. "Kalau diingat-ingat lagi, lucu banget. Dulu aku gila-gilaan ngejar Aluna sampai frustrasi... eh, ternyata takdir aku malah berlabuh di sahabatnya sendiri."

Rania tertawa lepas di dalam dekapan Kenan, menepuk dada pemuda itu pelan. "Makanya, jangan suka terobsesi sama yang jauh kalau yang tulus ternyata ada di dekat kamu!"

Sementara itu di kediaman keluarga Raharja, suasana berkebalikan justru dirasakan oleh Luna. Gadis itu tiduran telentang di sofa ruang keluarga sambil terus menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala.

"Ih! Om Marko kemana sih?! Seharian ini gak ada kabar sama sekali!" omel Luna kesal, mengerucutkan bibirnya gemas. Pesan singkat yang dikirimnya sejak siang tadi bahkan hanya menunjukkan centang dua tanpa balasan.

Ardi yang sedang membaca koran di sofa sebelah melirik putri semata mayangnya itu sambil tertawa kecil. "Kenapa sih, Kak? Cemberut terus dari tadi. Kayak cewek kurang perhatian aja."

Luna mengubah posisinya menjadi duduk, menyandarkan kepalanya manja di bahu sang papa. "Gak ada apa-apa kok, Pa... cuma lagi nunggu kabar aja."

"Gimana kabar temen kamu si Kenan itu?" pancing Ardi santai, mengingat dulu pemuda itu rajin main ke rumah. "Masih sering ngejar-ngejar kamu?"

Luna tertawa renyah, mengibaskan tangannya. "Yee, Papa ketinggalan berita! Kenan tuh sekarang udah jadian sama Rania, sahabat Luna sendiri. Tadi siang aja mereka berdua lengket banget kayak perangko."

"Oh ya?" Ardi manggut-manggut tersenum. "Baguslah kalau begitu. Berarti Kenan udah nemuin pasangan yang pas."

Malam makin larut. Begitu Luna melangkah masuk ke kamarnya untuk bersiap tidur, ponsel di tangannya mendadak bergetar kencang. Nama Om Marko memanggil di layar.

Luna langsung menggeser ikon hijau dengan raut wajah berpura-pura galak. "Halo! Baru inget punya pacar ya?!"

Di ujung telepon, terdengar hembusan napas lelah Marko disusul terkekeh pelan. "Maafkan saya ya, Sayang... Hari ini benar-benar gila. Dari pagi sampai malam ini saya harus rapat maraton sama klien besar dari Singapura buat bahas proyek baru Janitra Group. HP saya sampai mati kehabisan baterai."

Mendengar suara parau dan lelah kekasihnya, lumer sudah seluruh kejengkelan di hati Luna. "Iya deh, aku maafin. Om udah makan belum?"

"Udah kok di restoran tadi sama Yoga," jawab Marko lembut. "Oh iya, kata Yoga kamu minggu ini gak ke kantor ya?"

"Iya, Om. Seminggu ini anak-anak magang fokus bimbingan dosen di kampus buat kelarin laporan," jelas Luna seraya memeluk bantal guling. "Kangen banget padahal mau liat muka Om."

"Sama, saya juga kangen banget," bisik Marko manis, sukses membuat dada Luna berdesir hangat. "Besok sore usai kamu selesai kuliah, saya jemput ya. Kita jalan-jalan berdua, mau?"

"Mau banget, Om! Janji ya jemput!" seru Luna antusias sebelum akhirnya mereka menutup sambungan telepon dengan ucapan selamat malam yang teramat mesra.

Namun, di dalam ruang kerja penthouse-nya yang sunyi, kehangatan di wajah Marko seketika sirna begitu panggilan telepon berakhir.

Pria matang itu menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap nanar layar monitor laptop yang masih menyala terang di hadapannya. Email ancaman pemerasan yang diterimanya kemarin malam masih terpampang jelas, lengkap dengan tenggat waktu timer yang terus berjalan mundur.

Satu per satu foto dan video mesranya bersama Luna diputar ulang oleh Marko. Kamera yang mengambil gambar itu begitu rapi, teratur, dan dilakukan dari jarak dekat.

"Siapa sebenarnya kamu..." gumam Marko dingin dengan rahang yang mengeras rapat. Tangannya mengepal kencang di atas meja.

Pikirannya berputar liar menerka-nerka. Apakah ini ulah Jessi yang dendam karena kontraknya diputus? Atau ulah pesaing bisnis Janitra Group yang ingin menjatuhkan posisinya sebagai CEO? Atau justru... ada orang dalam di Janitra Group yang selama ini mengawasi gerak-geriknya dan Luna?

Ting!

Sebuah notifikasi pesan balasan dari Yoga yang sedang melacak alamat IP pengirim email tersebut masuk di ponsel Marko:

"Ko, gue udah minta tim IT buat lacak IP pengirimnya. Tapi pelakunya pinter banget, dia pakai VPN berlapis dari luar negeri. Tapi ada satu hal aneh... file itu pertama kali diunggah lewat jaringan Wi-Fi internal gedung kantor Janitra Group."

Mata Marko membelalak sempurna. Darahnya terasa membeku seketika.

Musuh misterius yang memegang bom waktu hubungan rahasianya dengan Luna ternyata bukan orang luar... melainkan seseorang yang berada sangat dekat dan berkeliaran bebas di dalam gedung kantornya sendiri!

Siapakah sosok pengkhianat di dalam Janitra Group tersebut, dan bahaya apa yang akan meledak saat Marko menjemput Luna besok sore?

1
sundusiyah86
minta kompensasi thor 1bln aja wkwkkw biar langsung nikah..tambah bab thor
papoy: tahan yaa kak hehe..
total 1 replies
sundusiyah86
ko jadi gini siih thor... kenapa papa n mmh nya Aluna ngak setuju aja siih .. iiihh pengen cepet" romantis ..
sundusiyah86
lanjut thor nambah bab
sundusiyah86
lanjut thor tinggal romantis ny aja 🤭
papoy: terimakasih kaka, di spill dikit tinggal satu ujian lagi dpt restu apa ngga dari ayah nya luna 🤭
total 1 replies
Adiba Adisa
visual om marko, ganteng banget 😍
Adiba Adisa
om marko tipe om om greenflag yaa 😍
Emily
Marko jgn mengingkari perasaan mu
Emily
, wkwkwk Marco mau menjerit gak mungkin bisa jatoh harga dirimu
Emily
gimana Skrang perasaanmu marko
papoy: marko menyesal dengan apa yg udh dia lakukan hehe..
total 1 replies
Emily
bang Marko datang lun😁
Emily
hampir saja wkwkwk
Emily
lha ngomong OPO Kowe Marco😁
Adiba Adisa
marko galau berat
Adiba Adisa
pak Ardi, gak ngeh marko lagi ngode tuh
Adiba Adisa
blak blakan banget ngomong nya pak 🤣
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
papoy
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!