NovelToon NovelToon
Mr. Sinclair Bride

Mr. Sinclair Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Action
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.

Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.

Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.14

Usapan lembut di garis rahang Ayyana terasa begitu nyata di samar-samar sisa mimpinya. Jemari kekar yang terbiasa memegang senjata itu bergerak amat perlahan, menyapu kulit mulusnya dengan kepemilikan yang tertahan dan kaku.

"Saya berangkat ke markas," bisik suara bas yang amat rendah dan serak di dekat telinganya.

Ayyana tak mampu merespons. Rasa kantuk yang kelewat berat mengikat seluruh sarafnya, membuatnya hanya sanggup menghembuskan napas halus saat dekapan hangat di sisinya menghilang secara bertahap.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara ketukan pantofel khas militer yang teratur itu perlahan menuruni anak tangga lantai dua, diikuti bunyi engsel pintu utama yang tertutup rapat dari lantai bawah.

Cklek.

Suara kuncian pintu itu seketika bertindak bagaikan sengatan listrik.

Kesadaran Ayyana mendadak kembali seratus persen. Manik mata cokelatnya terbuka lebar. Ia langsung mendudukkan dirinya di atas kasur king size, membiarkan rambut hitamnya yang terurai berantakan jatuh melintasi bahunya.

Ayyana menatap sisi kasur di sampingnya yang sudah kosong—namun masih menyisakan kehangatan samar dan aroma woody khas Chester.

"Sial," umpat Ayyana pelan dengan nada jengkel yang amat pekat.

Ayyana bangkit berdiri dari tempat tidur dengan amarah yang mendidih.

Gaun tidur sutra malam berpotongan rendah yang menyapu tubuhnya mengayun mengikuti langkah cepatnya menuju ambang pintu kamar.

Semalam ia sudah hampir meruntuhkan seluruh dinding pertahanan Kapten kaku itu! Ia sudah berhasil memecahkan aturan 150 sentimeter, membuatnya gusar di pangkalan, bahkan menarik pria itu sampai bertekuk lutut di tepi kasur ini.

Tapi kenapa... kenapa di saat paling krusial ia justru menyerah pada rasa kantuk konyol ini?!

Dengan jemari yang mengepal erat di sisi gaun tidur sutranya, Ayyana menatap lorong tangga yang kini sepi tanpa penghuni.

"Chester!!" pekik Ayyana kesal, suaranya menggema tegas menembus kesunyian rumah dinas yang sudah ditinggal kabur oleh suaminya pagi-pagi sekali.

Ayyana mengepalkan jemarinya, bernapas memburu di depan pintu kamar yang terbuka lebar. Keheningan rumah dinas yang melingkupinya seolah mengejek kekalahannya pagi ini.

Tanpa membuang waktu, Ayyana memutar tumitnya kembali ke dalam kamar. Jemari lentiknya menyambar ponsel di atas meja nakas dengan satu tarikan kasar.

Ia memintas layar, mengabaikan seluruh notifikasi formal dari kalangan pejabat pangkalan, dan langsung menekan nomor teratas di daftar panggilannya.

Tut... tut... tut...

Di seberang sana, di dalam kabin SUV hitam yang baru saja melewati gerbang pos penjagaan utama markas, ponsel taktis Chester yang terletak di konsol tengah bergetar nyaring.

Chester melirik layar sejenak. Nama Ayyana tertera di sana.

Sudut bibir kaku sang Kapten terangkat membentuk senyum tipis yang amat tipis—sebuah kepuasan tersembunyi karena tahu betul istrinya pasti baru saja terbangun dan menyadari pelariannya. Chester menekan tombol speaker tanpa menghentikan laju mobilnya.

"Saya sudah sampai di pangkalan, Nyonya Sinclair," ujar Chester dengan suara bas yang rendah, tenang, dan amat kaku, seolah ia sedang memberikan laporan dinas rutin.

"Chester Sinclair!" tegur Ayyana dari seberang telepon. Suara mewahnya bergetar tipis oleh amarah yang sarat akan dominasi berkelas. "Kamu benar-benar memanfaatkan rasa kantukku untuk kabur jam enam pagi?!"

Chester mengetatkan jemarinya pada roda kemudi. Binar mata abu gelapnya menatap lurus ke arah kompleks barak Team Eclipse yang membentang di depannya.

"Saya tidak kabur," balasan Chester keluar dengan nada teratur yang justru makin memancing emosi Ayyana. "Saya ada jadwal pengawasan taktis jam tujuh. Dan sesuai janji... saya menunggumu bangun, namun kamu tertidur sangat pulas."

Ayyana mendengus pelan di seberang sana. Ia berjalan menuju jendela kamar utama, memutar tiang tirai hingga pendar matahari pagi menyiram gaun tidur sutra berpotongan rendah yang masih melekat di tubuhnya.

"Jangan berlagak polos, Kapten," bisik Ayyana halus, intonasinya berubah menjadi ancaman manis yang menusuk lurus ke balik perisai militer suaminya. "Semalam kamu merebahkan tubuhmu di kasur ini. Kamu mengusap wajahku. Dan kamu melanggar batas yang kamu buat sendiri."

Chester mendadak bungkam.

Hembusan napasnya tertahan di tenggorokan. Ingatan tentang bagaimana jemari lembut Ayyana menariknya semalam—serta kehangatan tubuh istrinya yang terbalut sutra malam—seketika membakar habis ketenangan taktis yang coba ia pertahankan pagi ini.

"Kembali ke rumah untuk makan siang," lanjut Ayyana tanpa memberikan ruang untuk tawar-menawar. "Atau aku yang akan datang ke markas Team Eclipse dengan gaun ini."

"Ayyana!" bentak Chester serak, kepanikan kaku mendadak melingkupi suaranya saat membayangkan istrinya benar-benar nekat melangkah ke barak dengan gaun tidur tersebut.

Ayyana menyunggingkan senyum paling manis di balik telepon.

"Jam dua belas tepat, Kapten. Jangan terlambat satu detik pun."

Bip.

Sambungan terputus secara sepihak.

Chester mematung di dalam mobil yang kini sudah terparkir di pelataran barak. Rahang tegasnya mengetat keras seraya membuang napas berat yang terengah.

Kilasan kejadian semalam di atas kasur king size itu berputar ulang di dalam kepala Chester saat ia bersandar di kursi komandonya.

Mana bisa ia tidur?

Sepanjang malam, pria itu berada dalam siksaan paling manis sekaligus menyiksa sepanjang hidupnya.

Begitu Chester mengalah dan merebahkan tubuh tegapnya di tepi kasur, Ayyana yang berada di ambang batas sadar dan tidak justru bergerak makin mendekat.

Wanita itu menjadikan kaki kekar Chester seperti guling—melingkarkan paha halus berbalut sutra malamnya tanpa sisa rasa sungkan. Kepalanya bergeser tanpa henti, bergerak mencari kenyamanan hingga mengelus lembut dada bidang Chester, menyebarkan aroma vanilla yang pekat melingkupi seluruh indra sang Kapten.

Chester setengah mati menahan diri.

Seluruh otot di tubuhnya menegang kaku sekeras baja sepanjang malam. Napasnya terengah berat dan tak teratur, berjuang mati-matian menekan insting posesif dan dorongan liar untuk merebut wanita itu sepenuhnya.

Setiap detik berjalan terasa bagaikan siksaan jam dinding yang merambat amat lambat.

Itulah mengapa, tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah lima subuh dan pendar fajar mulai menyusup tipis, Chester melihat celah emas di depan mata.

Ia dengan hati-hati mengurai lingkaran kaki Ayyana dari pahanya, memindahkan kepala istrinya ke atas bantal secara amat perlahan seperti sedang menjinakkan bom waktu, lalu buru-buru melarikan diri ke pangkalan sebelum pertahanannya hancur total.

"Kapten!"

Panggilan Flyn memecahkan lamunan kaku Chester di ruang komando.

Prajurit pirang itu berdiri di ambang pintu bersama Zack, menatap sang Komandan dengan raut wajah yang amat janggal.

"Ada apa?" tegur Chester dengan suara bas yang amat rendah dan kaku, berusaha menegakkan kembali postur militernya.

Flyn menggaruk belakang kepalanya, melirik Zack sejenak sebelum kembali menatap Chester.

"ada kendala..."

Chester mengepalkan tangannya di atas meja kerja.

Masalah teknis pada sistem enkripsi komunikasi Sektor Bravo mendadak buntu, menahannya di ruang komando hingga jarum jam dinding menunjukkan pukul 12.14 siang.

Empat menit melewati batas waktu.

Rahang Chester mengetat keras, raut wajahnya menyinarkan ketegangan taktis tingkat tinggi.

Chester menghentikan jemarinya di atas papan ketik sistem enkripsi.

Mata abu gelapnya tertuju kaku pada layar ponsel taktis di sebelah laptopnya.

Notifikasi pesan masuk terpampang jelas, dikirim tepat pada pukul 12.14 siang.

Ayyana: Kamu menantangku, Kapten?

Pesan singkat itu rasanya lebih mengintimidasi daripada ancaman serangan rudal dari faksi musuh.

Rahang Chester mengetat sekeras karang.

Kepanikan kaku mendadak melingkupi jalan pikirannya saat membayangkan Ayyana benar-benar melangkah ke barak berbalut gaun tidur sutra berpotongan rendah seperti ancamannya tadi pagi.

Dengan ketegangan taktis tingkat tinggi, Chester berusaha menyapu jemarinya cepat di atas papan ketik, berniat menyelesaikan verifikasi dokumen dalam dua menit sebelum nekat menyambar kunci mobil.

Namun, sebelum baris kode terakhir selesai diunggah, ketukan tegas menggema dari pintu jati ruang komando.

Tuk. Tuk. Tuk.

Seorang taruna muda melangkah masuk dengan postur tegap sempurna, memberi hormat militer yang kaku di depan meja sang Komandan.

"Lapor, Kapten!" ujar taruna itu dengan intonasi nyaring khas prajurit muda. "Nyonya Sinclair sudah berada di lobby utama markas."

Chester membeku seketika. Jemarinya melayang di udara, tepat di atas papan ketik.

"Bagaimana..." Chester berdeham kaku, mengontrol intonasi suara basnya agar tidak mengindikasikan kepanikan domestic di depan bawahannya. "...bagaimana penampilannya?"

Taruna muda itu berkedip dua kali, tampak agak serba salah sebelum menjawab. "Nyonya Sinclair... beliau mengenakan dress putih gading."

Flyn, yang berdiri di sudut ruangan bersama Zack, langsung menutup mukanya rapat-rapat menahan tawa.

Chester berdiri mendadak dari kursi komandonya dengan dorongan posesif yang langsung membakar dada.

Rahang tegasnya mengetat keras, binar mata abu-dark milik suaminya menyala pekat oleh gelombang cemburu mutlak.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sang Kapten Komandan melangkah lebar membelah pintu ruang kerja, berpacu menuju lobby untuk mengamankan istrinya dari pandangan seluruh pria di markas tersebut.

1
Mei TResna Rahmatika
kok di ulang thor bab nya
Muse_Cha: oiya ya. maaf ya aku jadwalin 2x brati 😭🙏 makasih ya kak udah remind
total 1 replies
YuWie
lhaaa begitu ternyata mbak kendall
IceQueen
mulai muncul nih gangguan2 dedemit/Smug/
karina
guaaaa suka bangetttt cerita nyaa aaaaa baperr bangett 🤣
Muse_Cha: makasihhh ya kak 😍😭
total 1 replies
IceQueen
mulai muncul serangan fajar
Muse_Cha: serangan ayya ini kak 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
porak poranda sudah hati Chester 🤣
Muse_Cha: kalah bom molotov ya😭
total 1 replies
IceQueen
selalu ada aja gebrakan dari ayyana🤣
Muse_Cha: ini dia si kancilll🤭
total 1 replies
YuWie
wah wahhh.... masih kita tunggu action mu yg lebih berani kapt..
Muse_Cha: jabatan doang kapten ya, ama istri sendiri cemen🤭
total 1 replies
YuWie
gagal kapt..hukumanmu ke ayyana
Muse_Cha: kurang beruntung, silahkan coba lagi besok😄
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wkwkw Chester 🤣bikin Ayana hamil Chester biar kalo si pecundang kembali ga bisa ngrebut ayana🤭
Muse_Cha: pelaaaaaaan pelaaaan pak sopiiiiir🤣🤭
total 1 replies
YuWie
walahh..kupikir akan terjadi hal yg iya2... btw rambutbayyana hitam atau coklat kak thor..
Muse_Cha: iya² nya delay ini😶‍🌫️cokelat kak. makasih yaa🙏
total 1 replies
YuWie
nah lho..
YuWie
sik, aku gak salah baca kan..perkawinan ayyana dan cester sdh berapa lama..kenapa ayy tanya ke jacob..kemana haikal menghilang 2th lalu?
YuWie
dasar kanebo..dikasih sinyal2 gak paham..memang harus dijelaskan secara gamblany ayy..biar mudeng tuj si kapten
YuWie
semangat kak..aku aja baru nemu cerita cester dan ayyana kemaren..
YuWie
maniss dikit.. terus ayy..buat suamimu makin salting dan akhirnya bucin akut
YuWie
goda goda aja terus itu suami mu ayy...
YuWie
kapan manis2 nya tho kapten...
YuWie
sdhh terima aja kapt..ayyana kan mmg istrimu
YuWie
jar kan saja si kapten ya Ayy..biar berjuang mendapatkanmu dan lepas dr bayang2 haikal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!