NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Jejak di Ruang Arsip Lama

Udara di lantai paling bawah gedung PT Arunika Jaya terasa jauh lebih berat dan pengap. Ruang arsip lama jarang sekali dijamah oleh karyawan modern yang terbiasa dengan penyimpanan berbasis awan dan server digital. Di tempat ini, bau debu bercampur aroma kertas tua yang menguning langsung menyengat indra penciuman begitu pintu besi dorong dibuka. Fajar menyalakan lampu senter dari ponselnya, membiarkan cahayanya membelah kegelapan lorong di antara deretan lemari besi tinggi yang berkarat di beberapa bagian.

Berdasarkan petunjuk dari catatan tempel yang ia temukan sebelumnya, ia harus mencari rak nomor empat puluh dua di sudut paling timur ruangan. Langkah kaki Fajar berderap pelan di atas lantai semen yang dingin, menciptakan gema tipis di ruangan yang sunyi senyap itu. Suasana di sini begitu kontras dengan hiruk-pikuk kekacauan yang sedang terjadi di lantai atas. Rasanya seperti melangkah masuk ke dalam kuburan rahasia perusahaan tempat segala sejarah kelam dikubur rapat-rapat agar tak pernah ditemukan oleh siapa pun.

"Nomor empat puluh... empat puluh satu... dan ini empat puluh dua," gumam Fajar pelan saat ia berhenti di depan sebuah lemari arsip yang tertutup rapat.

Tangannya yang bersarung tangan tipis mulai meraba gagang besi lemari tersebut. Dengan sedikit tenaga, ia menariknya. Suara decitan logam tua menggema nyaring, membuat bulu kuduk merinding. Di dalam lemari itu, tumpukan map manila tebal berdebu tersusun rapi. Fajar mulai memindai satu per satu label tahun yang tertera di punggung map, mencari dokumen dari sepuluh tahun silam, masa ketika awal mula perebutan kekuasaan dan pertukaran identitas itu terjadi.

Di tengah keseriusannya memeriksa berkas, suara derap langkah kaki yang menggema di ujung koridor arsip tiba-tiba menghentikan gerakannya. Fajar langsung memadamkan lampu senter ponselnya, membiarkan tubuhnya menyatu dengan kegelapan di balik bayangan lemari besar. Seseorang sedang mendekat ke arah ruang arsip lama. Siapa yang malam-malam begini masih sudi menginjakkan kaki di tempat pembuangan arsip ini? Fajar menahan napas, bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan terburuk dari sisa-sisa anak buah Ardi.

Langkah kaki itu semakin mendekat, berhenti tepat di ambang pintu ruang arsip yang terbuka setengah. Cahaya senter lain menyapu ruangan, memantul di debu-debu yang berterbangan di udara. Fajar menyipitkan mata, mencoba mengenali siluet tubuh yang berdiri di balik sorot cahaya tersebut. Sesaat kemudian, sosok itu melangkah masuk lebih jauh, dan napas Fajar seketika tertahan saat melihat siapa yang datang ke tempat tersembunyi ini seorang diri.

Itu adalah Kirana. Sang Direktur Marketing berdiri mematung di tengah ruangan, memegang ponselnya sebagai alat penerang dengan tatapan mata yang menyiratkan kebingungan sekaligus ketegasan. Gadis itu tidak mengenakan blazer formalnya; ia hanya memakai kemeja putih longgar dengan lengan yang digulung sebatas siku, menunjukkan sisi rapuh sekaligus tangguh yang jarang diperlihatkan di hadapan umum. Fajar perlahan keluar dari persembunyiannya, memunculkan diri dari balik lemari besi agar tidak mengejutkan gadis itu secara tiba-tiba.

"Kirana? Kamu ngapain di sini malam-malam begini?" tanya Fajar dengan nada rendah, memecah keheningan ruangan yang pengap.

Kirana sedikit tersentak kaget, namun ia tidak berteriak. Gadis itu menoleh, mengarahkan cahaya ponselnya langsung ke wajah Fajar, lalu mengembuskan napas panjang seolah beban di pundaknya sedikit berkurang. "Aku harus tanya hal yang sama ke kamu, Fajar. Kenapa kamu ada di ruang arsip tua ini? Seseorang mengirimiku pesan singkat berisi koordinat tempat ini, mengatakan kalau aku bisa menemukan jawaban atas semua kebohongan ayahku di sini."

Fajar mengerutkan kening. Pesan yang sama? Berarti seseorang memang sengaja memancing mereka berdua untuk datang ke tempat ini, menyatukan kepingan teka-teki masa lalu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Ardi. Fajar melangkah mendekat, berniat menjelaskan situasi, namun sebelum ia sempat membuka mulut, sorot mata Kirana beralih ke tumpukan berkas tua di atas meja kayu di sebelah mereka. Map-map itu terbuka, menampilkan lembar akta pendirian perusahaan lama dan foto-foto usang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Jadi... pesan itu bukan cuma omong kosong," bisik Kirana lirih, jemarinya terulur menyentuh ujung kertas foto yang mulai menguning dimakan usia. "Semua dokumen ini... apakah ini berkaitan dengan identitas asli ayahku? Apakah orang yang selama ini membesarkanku benar-benar bukan keluarga kandungku?" Fajar terdiam, menatap sorot mata Kirana yang mulai berkaca-kaca namun penuh keteguhan untuk mencari tahu kebenaran mutlak.

Di tempat terpisah, jauh dari dinginnya ruang arsip kantor pusat, Ardi mondar-mandir dengan gelisah di ruang tamu apartemen mewahnya yang kini tampak berantakan. Televisi di sudut ruangan masih menyiarkan berita tentang kebangkrutan PT Arunika Jaya dan penyelidikan aliran dana fiktif Baskara Holdings. Pria paruh baya itu mencengkeram kepalanya sendiri, merutuki kebodohan bawahannya sekaligus kelicikan Fajar yang berhasil membalikkan keadaan dalam waktu singkat. Namun, keputusasaan itu perlahan berubah menjadi seringai penuh tipu daya saat ia memikirkan satu-satunya kartu truf yang masih ia miliki di tangannya.

"Anak itu... Kirana pasti sedang mencari tahu masa lalu keluarganya sekarang," gumam Ardi seorang diri, suaranya terdengar serak dan berbahaya di tengah kesunyian apartemen. Ia tahu betul watak Kirana; anak tirinya itu tidak akan pernah bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban yang jujur atas kebohongan yang menghancurkan hidupnya. Dan Ardi berencana memanfaatkan rasa penasaran itu sebagai senjata terakhir untuk menjatuhkan siapa pun yang berani merusak kerajaannya.

Ia menyambar jaket tebalnya, lalu merogoh saku untuk memastikan ponsel enkripsi daruratnya masih aktif. Ardi tidak berniat menyerah begitu saja pada takdir atau penjara. Jika kerajaannya harus runtuh, maka ia akan memastikan orang-orang yang menghancurkannya ikut terbawa dalam kebinasaan. Langkah kakinya berderap cepat meninggalkan apartemen, meluncur membelah malam menuju satu tempat yang bisa memberinya keunggulan taktis terakhir sebelum semuanya benar-benar berakhir.

Sementara itu, kembali ke ruang arsip bawah tanah, Fajar dan Kirana mulai memeriksa lembar demi lembar foto usang di atas meja kayu. Di bawah temaram cahaya ponsel, sebuah fakta mengejutkan mulai terungkap. Foto tersebut menampilkan dua pemuda kembar berwajah identik—Aditya dan Ardi—berdiri berdampingan dengan senyum tulus di masa remaja mereka, jauh sebelum dendam dan ambisi menghancurkan segalanya. Dan di balik salah satu foto itu, terdapat sebuah catatan tangan yang ditulis dengan tinta hitam pekat, mengungkapkan rahasia terbesar tentang siapa sebenarnya dalang di balik tragedi keluarga yang sedang mereka selidiki.

Fajar membaca tulisan tangan di balik foto tersebut dengan seksama, sementara Kirana berdiri tepat di sampingnya, ikut memandangi bukti sejarah yang selama ini disembunyikan. "Ini... tulisan tangan asli," bisik Fajar pelan, merasakan bulu kuduknya meremang. Catatan itu menjelaskan bagaimana Ardi mulai merencanakan pencurian identitas kakaknya setelah insiden penamparan di masa lalu, merebut seluruh hak, masa depan, dan nama besar Aditya untuk mendirikan PT Arunika Jaya di atas fondasi pengkhianatan yang sangat busuk.

Kirana menelan ludah kelat. Kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya bagaikan palu godam. Pria yang selama ini ia panggil sebagai ayah, yang mendidiknya dengan tangan besi dan penuh tuntutan kesempurnaan, ternyata adalah seorang penipu ulung yang merampok kehidupan saudaranya sendiri. "Jadi... semua pencapaian perusahaan ini, semua kerja keras yang kumiliki... dibangun di atas penderitaan orang lain?" suara Kirana bergetar hebat, air mata akhirnya menetes lolos membasahi pipinya yang pucat.

Melihat kesedihan mendalam yang melanda kekasihnya, Fajar segera merangkul pundak Kirana, menyalurkan kehangatan dan kekuatan di tengah dinginnya ruang arsip tersebut. "Kamu nggak sendirian, Kirana. Kita bakal selesaikan semua ini bersama-sama," ucap Fajar penuh keyakinan. Namun, di saat ketegangan emosional itu mencapai puncaknya, suara derap langkah kaki berat tiba-tiba terdengar kembali dari arah lorong luar ruang arsip—langkah kaki yang kali ini terasa jauh lebih cepat, tergesa-gesa, dan dipenuhi oleh niat membunuh yang nyata.

Sebelum keduanya sempat bereaksi atau bersembunyi, sesosok bayangan tubuh muncul di ambang pintu, memegang sebilah benda logam tajam yang memantulkan cahaya redup. Ardi telah tiba, menemukan tempat persembunyian mereka, dan perangkap maut kini resmi tertutup rapat.

1
🍓ADIRA🍓
Semangat berkarya Thoorr 🫰 sukses selalu untuk karya-karyanya /Ok//Pray/
Hamzah [Hiatus]: Terimakasih dukungannya 🤩
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Akhirnya ya... setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga, emosi dan waktu.... kalian bisa bahagia dengan porsi masing-masing/Chuckle/
🍓ADIRA🍓
Yang sebelumnya brarti cuma badai kecil ya Na 🤣🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr 🫰
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr /Good/
🍓ADIRA🍓
Ok. semangat Thor 🫰
Hamzah [Hiatus]: di bab 32 juga aku ubah lagi, lagi direview 😅
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!