Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DIBAWAH LAMPION TAMAN
Hari Minggu malam yang menegangkan akhirnya tiba. Sejak sore hari, Maikel sebenarnya sudah berniat untuk langsung mendatangi rumah petak sederhanaku seperti biasa.
Namun, aku menolaknya dengan tegas lewat pesan WhatsApp. Aku tidak ingin obrolan krusial ini memicu kecurigaan Ibu yang sedang beristirahat di dalam kamar.
Akhirnya, aku meminta kami bertemu di sebuah taman kota yang letaknya agak jauh dari kompleks rumahku.
Taman itu cukup sepi di malam hari, dihiasi pendar lampion gantung yang berpendar kekuningan di antara dahan pohon, menciptakan atmosfer yang tenang namun terasa mendebarkan.
Aku duduk kaku di atas bangku taman kayu, meremas tali tas selempangku erat-erat. Suara raungan mesin mobil sport merah yang sangat kukenali mendadak berhenti di area parkir luar taman. Tak butuh waktu lama, langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat.
Maikel berjalan terburu-buru menghampiriku. Malam ini dia mengenakan jaket bomber hitam andalannya, dan jam tangan sport pemberianku melingkar gagah di lengan kirinya. Wajah tampannya memancarkan raut ketidaksabaran yang teramat pekat.
"Jema," panggil Maikel, nadanya terdengar berat dan parau saat dia langsung mengambil posisi duduk di sampingku.
"Gue beneran udah enggak sabar dari kemarin. Sesuai batas waktu yang gue kasih... malam ini gue mau denger jawaban mutlak dari lu."
Aku menoleh perlahan, menatap tepat ke dalam sepasang mata jernihnya. Jantungku seketika bertalu-talu dengan ketukan yang teramat kencang.
Selama dua hari terakhir, otakku sudah bertarung keras melakukan pertimbangan yang teramat matang, menimbang setiap wejangan Ibu dan realitas hidupku.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan suaraku. "Maikel... setelah aku pikirkan semuanya dengan baik... aku... aku mau menerima kamu. Aku bersedia jadi pacar kamu."
Deg.
Maikel seketika membeku kaku di tempatnya duduk. Sepasang matanya membelalak lebar, menatapku tak percaya seolah baru saja mendengar pengumuman gaib.
Namun sedetik kemudian, sebuah senyuman benderang yang luar biasa cerah terukir di wajah tampannya.
"Serius, Jema?! Kamu... kamu beneran enggak lagi bercanda atau ngerjain Aku, kan?! Yes! Akhirnya—"
"Tapi ada satu syarat, Maikel Sebastian Bach!" potongku cepat dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tegas, dingin, dan terukur.
Aku menahan dadanya dengan telapak tanganku agar dia tidak langsung lepas kendali.
Maikel menghentikan kegirangannya, menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Syarat? Syarat apa, Jems? Apapun bakal aku penuhin sekarang juga."
Aku menatapnya lurus-lurus dengan gurat keseriusan seorang wanita dewasa.
"Syaratnya... hubungan kita ini harus dirahasiakan. Ibu aku jangan sampai tahu dulu tentang hal ini. Begitupun orang-orang ditempat kerjaku, maupun dirumahmu termasuk abang kamu, Pak Samuel... semuanya jangan ada yang tahu dulu."
Senyum benderang di wajah Maikel perlahan agak meredup. Bahu tegapnya sedikit merosot lemas, memancarkan raut kekecewaan yang teramat ketara.
"Hah... Kenapa harus disembunyikan sih, Jem? Gue kan pengen pamerin ke seluruh dunia kalau montir paling pinter sedunia ini udah resmi jadi milik gue lahir dan batin. Kenapa harus sembunyi-sembunyi kayak backstreet gini?"
"Maikel, tolong dengerin alasan logis aku dulu," ujarku selembut mungkin, menggenggam balik jari-jarinya yang hangat demi meredakan kekecewaannya.
"Ibu aku sempat berpesan kalau dia kurang sreg jika aku berhubungan dengan anak SMA karena kamu terlalu muda.
Di workshop diler pun, posisiku baru saja diangkat jadi karyawan tetap, aku enggak mau ada gosip miring tentang aku yang pacaran sama anak pemilik diler raksasa tempatku bekerja. Itu bakal ngerusak profesionalitas kerjaku."
Maikel terdiam, menatap jemari kami yang bertautan erat di atas pangkuan.
"Hubungan ini baru boleh kita buka sampai kamu masuk kuliah nanti, dan di saat kita sudah mendapatkan waktu yang paling tepat dan stabil buat bicara baik-baik ke Ibu," lanjutku penuh harap, menatap wajah cemberutnya lekat-lekat.
"Gimana? Kamu sanggup memegang rahasia ini?"
Maikel menghembuskan napas panjang yang teramat pasrah, menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman sembari mendengus pasrah.
"Huft... ya sudahlah. Walaupun gue agak kecewa dan kesel karena harus main rahasia-rahasian begini... tapi demi kenyamanan lu di tempat kerja dan demi dapet restu Tante nanti, gue bakal nurut aja sama syarat lu."
Aku tidak bisa membendung senyuman tipis yang teramat bahagia terbit di bibirku melihat kepatuhannya.
Maikel mendadak kembali mencondongkan tubuh tegapnya ke arahku, mengunci pergerakanku dengan tatapan mata yang mendadak kembali berubah menjadi sangat jail dan posesif.
Dia meraba kantong jaketnya, mengeluarkan kotak beludru merah darah berisi cincin berlian emas putih tempo hari.
"Tapi karena lu udah resmi jadi pacar gue malam ini..." Maikel meraih jemari tangan kananku, lalu dengan gerakan pelan nan mantap menyelipkan cincin berlian itu ke jari manisku hingga melingkar sempurna.
Dia mengecup punggung tanganku sekilas dengan gaya liarnya yang khas, sukses membuat pipiku membara panas.
"...cincin ini harus tetap lu pakai di luar jam kerja diler ya, Jema. Sebagai tanda mutlak kalau 'anak kecil' di depan lu ini udah berhasil ngeruntuhin seluruh benteng pertahanan hati lu."
Maikel menatap jemariku yang kini dihiasi cincin emas putih darinya, lalu mendongak menatap mataku dengan binar yang jauh lebih lembut.
"Mulai malam ini, enggak ada lagi panggilan 'lu-gue' di antara kita, Jema. Aku mau kita pakai 'aku-kamu'. Biar kamu sadar kalau posisi aku sekarang sudah setara sebagai pria dewasa di samping kamu."
Wajahku kembali memanas mendengar perubahan panggilannya yang mendadak terasa sangat intim.
"I-iya... terserah kamu, Maikel. Tapi ingat janji rahasia kita tadi, ya?"
"Iya, Jema Sayang. Aku pasti tepati janji aku," godanya riang dengan cengiran jail yang khas, sengaja menekankan kata 'sayang' yang sukses membuatku refleks memukul lengan jaket bomber-nya karena salah tingkah.
Malam Minggu itu tidak berakhir di taman kota begitu saja. Maikel yang teramat bahagia karena cintanya diterima langsung mengajakku pergi menjelajahi sudut kota.
Kami menghabiskan malam bersama, berjalan-jalan di tengah hiruk-pikuk pasar malam yang meriah. Di sela-sela aroma harum arumanis dan riuhnya wahana komidi putar, Maikel terus menggenggam erat tanganku, membelikan aku beberapa jajanan kecil dengan tawa lepas yang sangat bebas.
Kini hidupku yang semula kaku dan dipenuhi beban fungsional, malam ini terasa dilepaskan begitu saja karena kehadirannya.
Setelah puas berkeliling pasar malam, kami kembali masuk ke dalam kabin mobil sport merahnya. Maikel melajukan mobilnya dengan santai sepanjang malam membelah jalanan kota yang kian temaram, sembari menyetel instrumen musik jazz klasik ber-volume rendah yang menenangkan atmosfer di antara kami.
Hingga akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari pusat kota, deru mesin mobil sport merah Maikel perlahan berhenti di sebuah tepi pantai yang sangat sunyi dan sepi. Suara gemuruh ombak yang bergulir lembut, berpadu indah dengan hembusan angin malam yang membawa aroma garam yang segar.
Kami turun dari mobil, lalu melangkah perlahan menuju hamparan pasir putih yang dingin. Kami mengambil posisi duduk bersama di atas sebuah batang kayu besar yang terdampar di tepi pantai, menatap riak air laut yang memantulkan pendar cahaya bulan sabit di langit.
Maikel melepas jaket bomber hitamnya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut nan penuh perhatian, dia menyampirkan jaket hangat itu ke atas bahu kemeja putihku.
Sikapnya malam ini benar-benar sangat manis, tenang, dan matang layaknya seorang laki-laki dewasa yang sesungguhnya, yang tahu cara menjaga wanitanya dari dinginnya angin malam.
"Kamu... enggak kedinginan, Jema?" tanya Maikel lembut, menoleh menatap profil wajahku dari samping.
Aku merapatkan jaket hitamnya di pelukanku, lalu tersenyum tipis menatap hamparan laut lepas.
"Enggak kok. Makasih ya, Maikel. Makasih buat malam ini. Aku beneran enggak pernah ngerasa sebahagia dan selega ini sebelumnya."
Maikel tidak langsung menjawab. Dia perlahan menggeser posisi duduknya menjadi lebih rapat di sampingku, meraih jemari tangan kananku dan mengaitkannya di sela-sela jarinya dengan sangat erat.
"Aku yang harusnya makasih, Jema. Kamu udah mau buka hati kamu buat aku, dan mau percaya sama pria sembilan belas tahun yang sebelumnya selalu kamu anggap bocah berisik ini."
Aku menoleh menatapnya, dan tepat saat itu juga, sepasang mata jernih Maikel sudah lebih dulu mengunci manik mataku dengan intensitas ketulusan yang teramat dalam dan menghanyutkan.
Di bawah pendar cahaya bulan yang temaram dan melodi desau angin pantai yang sunyi, atmosfer di antara kami mendadak larut dalam keheningan yang teramat pekat dan intim.
Jarak di antara wajah kami perlahan-lahan mengikis drastis seiring dengan deru napas Maikel yang mulai terasa hangat menyentuh kulit pipiku.
Maikel memiringkan kepalanya sedikit, menutup jarak yang tersisa di antara kami dengan gerakan yang teramat pelan dan sangat lembut, hingga akhirnya... bibirnya mendarat dengan sempurna menyentuh bibirku.
Deg!
Jantungku seketika berhenti berdetak sesaat. Seluruh sistem logikaku di otak mendadak meledak parah dan nge-blank total.
Mataku membelalak pelan karena terkejut yang luar biasa hebat. Ini... ini adalah pertama kalinya seumur hidupku merasakan sebuah ciuman.
Sentuhan bibirnya yang lembut, hangat, dan penuh dengan riak ketulusan, seketika meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanan di dalam hatiku.
Perlahan, kelopak mataku mulai terpejam pasrah, membiarkan diriku hanyut sepenuhnya ke dalam dekapannya di tepi pantai yang sunyi.
Malam Minggu ini menjadi saksi bisu bahwa aku, Jema Juvita, seorang wanita dewasa yang tangguh, kini telah resmi menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku ke dalam pelukan hangat sang pewaris Bach, mengabaikan total semua batas keraguan yang pernah ada di duniaku.