Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1:PERKENALAN BANG TUA
Kalau ada penghargaan untuk "Orang yang Paling Gampang Dilupakan di Kampus", Sahat Tua kemungkinan besar akan menang telak. Bukan karena dia tidak menarik, bukan juga karena dia berbuat salah. Justru sebaliknya, dia terlalu rapi menjalankan hidupnya sampai-sampai tidak menyisakan alasan bagi orang lain untuk mengingatnya.
Setiap pagi jam enam lewat sepuluh, dia sudah keluar dari kos petak yang disewanya dekat kampus, membawa tas selempang lusuh berisi laptop tua dan map berisi bahan ajar yang selalu dilipat rapi di sudut kanan atas, kebiasaan yang entah dari mana asalnya, mungkin dari dosen pembimbingnya dulu waktu S2. Dia akan mampir dulu ke warung kopi Bu Rohana, memesan kopi susu tanpa gula dengan nada datar seolah dia baru bangun tidur padahal sebenarnya sudah bangun sejak jam empat pagi untuk membaca jurnal.
"Kayak biasa, Bang?" tanya Bu Rohana setiap hari, dan setiap hari pula Bang Tua hanya mengangguk singkat sambil menaruh uang pas di meja tanpa menunggu kembalian, meski sebenarnya dalam hati dia sudah menyiapkan lima kalimat lucu untuk membalas candaan Bu Rohana soal cuaca, atau soal berita terbaru yang baru saja ia baca semalam. Tapi tidak. Bang Tua akan tetap diam, mengangguk, lalu pergi.
Itulah masalahnya. Sahat Tua, atau yang lebih dikenal dengan panggilan "Bang Tua", panggilan yang sudah melekat sejak dia masih mahasiswa baru, entah karena gaya bicaranya yang terlalu formal untuk anak muda, atau karena wajahnya yang memang dari dulu terlihat lebih tua dari usia aslinya, adalah orang yang aslinya cerewet setengah mati. Di dalam kepalanya, ada komentar untuk hampir semua hal: dari cara orang menyetir, cara kasir menghitung kembalian, sampai typo di baliho kampanye yang terpampang di pinggir jalan. Tapi semua komentar itu berhenti di tenggorokan. Tidak pernah keluar. Karena entah sejak kapan, dia sudah memutuskan bahwa tampil kalem dan pendiam adalah versi dirinya yang lebih aman.
"Orang introvert itu keliatan lebih berwibawa," katanya suatu kali pada dirinya sendiri, di depan cermin kos-kosannya, sambil mempraktikkan ekspresi datar yang menurutnya terlihat "cool". Padahal siapa pun yang benar-benar mengenalnya, dan sayangnya, hampir tidak ada, akan tahu bahwa dia adalah orang yang bisa tertawa keras sendirian nonton video kucing jatuh dari sofa, atau menyanyi lagu dangdut lengkap dengan cengkok di kamar mandi.
Usianya baru menginjak awal tiga puluhan, tapi orang-orang sudah memanggilnya "Bang Tua" seolah dia berumur lima puluh. Bahkan mahasiswanya, yang jarak usianya tidak terlalu jauh, tetap memanggilnya begitu, bukan karena hormat berlebihan, tapi karena entah kenapa nama itu terasa pas untuknya. Seolah dia memang ditakdirkan untuk selalu terlihat lebih tua dari zamannya, bahkan sejak dia masih muda.
Statusnya baru saja naik: dosen tetap di Program Studi Pendidikan Matematika, The Master College University, kampus swasta menengah di Kota Medan yang tidak terlalu besar namanya, tapi cukup dihormati di kalangan pendidik lokal karena disiplin akademiknya. Bersamaan dengan itu, dia juga sedang mengambil izin belajar untuk program doktoral di sebuah universitas negeri di kota yang sama, mengejar gelar yang konon katanya akan membuka lebih banyak peluang, meskipun diam-diam dia lebih menikmati proses mengajarnya sendiri daripada memikirkan gelar.
Dua status itu, dosen tetap yang baru, dan mahasiswa S3 yang masih meraba-raba, membuat harinya penuh, tapi tidak pernah benar-benar dianggap penting oleh siapa pun. Di rapat dosen, dia duduk di kursi paling ujung, mencatat semua yang dibicarakan tapi jarang diminta pendapat. Di kelas doktoralnya sendiri, dia jadi salah satu dari belasan mahasiswa yang datang tepat waktu, duduk diam, dan pulang tepat waktu pula, tanpa pernah benar-benar berteman dekat dengan siapa pun.
Ada satu hal yang orang-orang di sekitarnya tidak sadari tentang Bang Tua: di balik wajah datarnya, ada mata yang mengamati segalanya. Dia memperhatikan siapa yang menyerobot antrian, siapa yang bicara manis di depan tapi menusuk di belakang, siapa yang diam-diam berbuat curang demi keuntungan sendiri. Dan setiap kali dia melihat hal semacam itu, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk bicara, untuk menegur, untuk membela yang benar.
Tapi dia selalu menahannya.
"Buat apa," pikirnya, hampir setiap saat. "Dunia memang begini. Orang jahat akan selalu ada. Yang bisa kulakukan cuma menjaga diriku sendiri supaya tetap benar."
Prinsip itu sudah dia pegang bertahun-tahun, sejak entah kejadian apa di masa lalunya, sesuatu yang akan kita bahas nanti, di lain waktu. Untuk sekarang, cukup diketahui bahwa Bang Tua adalah orang baik yang memilih diam. Orang yang lebih suka menjadi saksi bisu daripada pahlawan yang berisik.
Dan pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya, dia berjalan menyusuri trotoar menuju kampus, kopi susu tanpa gula di tangan kanan, map bahan ajar di tangan kiri, wajah datar yang menyembunyikan seribu satu komentar yang tak akan pernah keluar.
Dia tidak tahu bahwa hari itu, sesuatu akan mulai berubah. Bukan karena dia mencarinya. Bukan karena dia menginginkannya. Tapi karena mulutnya, yang selama ini begitu setia dia kekang, akhirnya akan mulai bicara sendiri, tanpa dia sadari, dan dunia akan mulai mendengarkan dengan cara yang paling tidak terduga.