"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 13
"Jadi ... kamu ingin melihatnya langsung?" tanya Arga. Sebuah senyum merekah di bibirnya.
"T-tapi, Sayang ... Bi Titin benar-benar tidak ada di rumah!" suara Kirana terdengar lirih, cemas.
"Biarkan saja. Biar dia percaya dan melihatnya sendiri bahwa ibunya tidak ada di rumah ini," ucap pria manipulatif itu tenang.
Kirana terdiam. Ada sesuatu dari nada bicara Arga yang membuat hatinya terasa tidak nyaman. Namun, wanita itu tidak bisa melihat ekspresi suaminya.
"Kalau begitu ... biarkan saya mencarinya sendiri," jawabnya tegas.
Arga mengangguk pelan. "Benar. Kamu masuk saja ke kamar."
"Tapi—"
"Kirana." Suara Arga terdengar lebih tegas.
Kirana langsung terdiam.
"Jangan khawatir. Aku akan menyelesaikan semuanya." Arga kemudian memberi isyarat kepada dua anak buahnya. "Bawa dia."
"Baik, Pak." jawab mereka serempak.
Kedua pria itu mendekati Kacul. Pemuda itu langsung mundur satu langkah.
"Tunggu!" Tatapannya beralih kepada Arga. "Aku bisa mencari ibuku sendiri."
Arga tersenyum tipis. "Tentu saja." Tangannya menunjuk ke arah pintu rumah. "Silakan."
Kacul mengerutkan kening. Sikap Arga justru membuatnya semakin curiga. Orang yang tidak menyembunyikan apa pun seharusnya tidak keberatan jika dirinya mencari seseorang di dalam rumah. Namun, Arga terlihat terlalu tenang. Seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan ditemukan Kacul.
'Apa yang sebenarnya terjadi dengan ibuku ...?' batin Kacul gelisah.
Kacul menelan ludah. Ia melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah. Matanya menyapu seluruh ruangan. Rumah itu terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara orang berbicara. Bahkan para pelayan pun tidak terlihat.
Kacul berhenti. "Kenapa rumah ini sepi sekali ...?"
Arga berdiri di belakangnya. "Karena memang tidak ada siapa-siapa."
Kacul menoleh. "Termasuk ibuku?"
"Termasuk ibumu." Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Kacul kembali memandang ke depan. Tangannya menggenggam ponsel erat-erat. Di dalam kepalanya, pesan terakhir dari Bi Titin terus terngiang.
"Kalau Ibu tidak bisa dihubungi selama dua hari, datang ke rumah Bu Kirana. Kalau Ibu menghilang, laporkan suami Bu Kirana kepada polisi."
Pesan itu bukan pesan biasa. Ibunya pasti sedang ketakutan ketika menulisnya. Dan sekarang ibunya benar-benar menghilang.
Kacul berjalan semakin dalam. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu.
Krek ...
Langkahnya berhenti. "Apa itu?"
Arga tidak menjawab.
Kacul menoleh. "Apa itu? saya mendengar suara?"
"Mungkin suara pipa?" Arga terdengar santai. "Sepertinya bukan apa-apa."
Kacul menggeleng. Ia berjalan ke arah lorong. Arga mengikuti dari belakang. Langkah kaki pria itu terdengar tenang — terlalu tenang.
Tak ... Tak ... Tak ...
Kacul tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu. Tangannya hendak menyentuh gagang pintu. Namun Arga lebih dulu bersuara.
"Ruangan itu kosong."
Kacul menoleh. "Kenapa kamu tahu?"
Arga tersenyum. "Karena ini rumahku."
Jawaban itu membuat Kacul semakin curiga. Ia justru mencoba membuka pintu.
"Namun—"
Ceklek!
Pintu terkunci. Kacul mengerutkan kening. "Kalau kosong, kenapa dikunci?"
Arga tidak menjawab. Untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya menghilang.
"Jangan buang waktuku."
"Aku hanya mencari ibuku." Kacul menatapnya tajam.
"Aku sudah bilang ibumu tidak ada di sini."
Kacul mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, kenapa aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu?"
Suasana mendadak hening. Dua anak buah Arga yang berdiri tidak jauh dari mereka saling berpandangan.
Arga perlahan berjalan mendekati Kacul. "Jaga ucapanmu."
"Aku tidak takut." Kacul berdiri tegak. "Kalau ibuku memang tidak ada di sini, aku akan pergi."
Ia mengeluarkan ponselnya. "Tapi kalau ternyata aku menemukan sesuatu ..." Kacul mengangkat ponselnya. "Aku akan langsung menghubungi polisi."
Wajah Arga berubah. Hanya sepersekian detik. Namun Kacul melihatnya. Ada kemarahan membara di mata pria itu.
'Aku benar ... ada sesuatu di rumah ini ...' Kacul mundur perlahan.
Arga kembali tersenyum. "Silakan."
Kacul berbalik. Ia berjalan menuju pintu keluar. Namun baru beberapa langkah, terdengar suara samar dari lantai atas.
"Tok ..."
Kacul berhenti.
"Tok ..."
Suara itu terdengar lagi. Seperti sesuatu yang jatuh.
"Suara apa itu?" Kacul mendongak.
"Tidak ada." Arga menjawab cepat.
Kacul justru berbalik menuju tangga.
"Kacul!" Suara Arga terdengar keras.
Kacul berhenti. "Aku hanya ingin memeriksa."
"Jangan naik." Tegas Arga.
Kacul menatapnya. "Kenapa?"
Pria itu terdiam. Lalu sebuah senyuman begitu menakutkan terukir di bibirnya.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa aku tidak boleh naik?" Kacul tersenyum tipis.
Arga tidak menjawab.
Kacul langsung menaiki tangga. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya. Namun satu hal yang ia tahu — ibunya pernah bekerja di rumah ini. Dan sekarang ibunya menghilang.
Ketika sampai di lantai atas, Kacul melihat sebuah pintu di ujung lorong. Pintu itu sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara seperti benda bergeser.
Kacul berjalan mendekat. "Bu?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
"Bu Titin?"
Hening.
Kacul mendorong pintu itu perlahan.
Kreeek ...
Ruangan kosong. Hanya ada beberapa kardus tua. Kacul menghela napas. "Mungkin aku salah dengar." Ia berbalik.
Namun matanya menangkap sesuatu di lantai. Sebuah benda kecil. Pemuda membungkuk. Ia mengambil benda itu. Sebuah gelang sederhana milik wanita paruh baya. Wajah Kacul langsung berubah pucat.
"Itu ...!" Ia mengenalinya. "Itu gelang Ibu." Tangannya gemetar. "Bu ..."
Dari belakang terdengar suara Arga.
"Kamu menemukan sesuatu?" tanya Arga tenang.
Kacul perlahan berbalik. Arga berdiri di ambang pintu. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
Kacul menggenggam gelang itu. "Kenapa gelang ibu ada di sini?"
Arga tidak menjawab.
"Kamu bilang ibuku tidak pernah datang ke sini," kata pemuda itu bergetar.
"Memang," jawabnya tegas.
"Jangan bohong!" Kacul berteriak.
Arga masih tersenyum. "Kadang-kadang orang meninggalkan barangnya di tempat yang tidak seharusnya."
Kacul menatapnya penuh kemarahan. "Aku akan bawa gelang ini ke polisi."
Senyum Arga menghilang. Untuk beberapa detik, tidak ada suara. Kemudian Arga menghela napas pelan.
"Kacul ..."
"Apa?"
"Kamu benar-benar ingin mencari tahu tentang ibumu?" ucap Arga datar.
"Ya."
Arga melangkah masuk. "Kamu yakin?"
Kacul mengangguk. "Yakin."
Arga tersenyum tipis. "Kalau begitu ..." Ia melirik kedua anak buahnya yang berdiri di luar. "Ikuti aku."
"Ke mana?" Kacul tidak bergerak.
"Ke tempat ibumu berada." Arga berbalik.
Mata Kacul membesar. "Apa ...?"
Namun Arga sudah berjalan pergi. Kacul mengejarnya. "Pak Arga!"
Tidak ada jawaban. Mereka berjalan menuju bagian belakang rumah. Lorong semakin gelap. Kacul berhenti ketika melihat pintu gudang. Pintu yang sama yang sebelumnya berada di dekat Kirana. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
"Di sana?" Kacul menunjuk.
Arga berhenti. "Ya."
Kacul menatap pintu itu. Tangannya perlahan meraih gagang pintu. Namun sebelum sempat membukanya — seseorang memukul bagian belakang kepalanya.
Pandangan Kacul langsung berkunang-kunang. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. "Argh ..." Ia terjatuh.
Ponselnya terlepas dari tangannya. Layar ponsel menyala. Pesan terakhir dari Bi Titin masih terlihat jelas.
"Kalau Ibu menghilang, tolong laporkan suami Bu Kirana kepada polisi."
Kacul mencoba meraih ponselnya. Namun tubuhnya tidak lagi memiliki tenaga. Matanya perlahan tertutup.
Suara Arga terdengar samar. "Sayang sekali."
Kacul masih berusaha membuka matanya. "Bu ..."
Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya. Kemudian semuanya menjadi gelap.
* * *
Beberapa saat setelahnya.
Di depan rumah, Kirana berdiri sendirian. Tangannya memegang tongkat. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun sejak Kacul datang, perasaannya tidak pernah tenang.
Tiba-tiba!
BRAK!
"Siapa?" Kirana terkejut. Tidak ada jawaban. Ia hanya bisa menunggu.
Hening.
Kemudian terdengar langkah kaki dari arah lorong.
Tak ... Tak ... Tak ...
Kirana menggenggam tongkatnya. "Sayang?"
Langkah itu semakin dekat.
Tak ... Tak ... Tak ...
"Sayang! Apa itu kamu?"
Tidak ada jawaban. Kirana menelan ludah. "Siapa di sana?" Suaranya panik.
Hening.
Kemudian suara Arga terdengar. "Aku, Sayang."
Kirana menghela napas lega. "Kacul mana?" tanyanya dengan nada cemas.
Arga diam sejenak. Kemudian ia sedikit tersenyum. "Dia sudah pulang."
Kirana mengangguk. "Oh."
Namun tepat saat Arga berjalan melewatinya — Kirana mencium sesuatu. Bau yang asing. Bau tanah. Dan sesuatu yang membuat perutnya terasa mual.
Kirana mengerutkan kening. "Sayang ..." panggilnya lirih.
Arga berhenti. "Apa?" sahutnya menoleh.
"Kamu habis dari mana?" tanya istrinya.
Arga tersenyum menyeringai. "Kenapa bertanya begitu?"
Kirana terdiam. "Aku ... aku tidak tahu." Wanita itu menundukkan wajah.
Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan kecil muncul di dalam pikirannya.
'Kalau Kacul sudah pulang ... kenapa langkah kaki yang baru saja kudengar begitu berat ...?'
Sementara di tempat lain ...
Ponsel Kacul masih menyala di lantai gudang. Layar menampilkan satu pesan yang belum sempat terkirim.
[Bu Kirana. jangan percaya suamimu.]
Layar perlahan padam. Dan sampai saat itu, tidak ada seorang pun yang tahu apakah Kacul benar-benar mati.
Atau ...
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,