Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Dia Membantuku?
Siang itu, meja makan panjang di kediaman Bianchi dipenuhi hidangan yang baru saja disajikan. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan, berpadu dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di sisi ruangan.
Maria duduk di salah satu sisi meja dengan sikap tenang. Di sampingnya, Daniel tampak sibuk memainkan ponsel. Sesekali, ia mencuri pandang ke arah Elena.
Sementara itu, Elena duduk di samping Leon. Wanita itu terlihat santai. Tangannya sesekali mengambil makanan dengan tenang, seolah tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya.
Berbeda dengan Leon.
Sejak tadi, tatapan pria itu beberapa kali beralih pada Elena. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang.
Tapi, saat ia mencoba mengalihkan pandangannya, tanpa sengaja ia menangkap gerakan mata Daniel, yang menatap Elena.
Dan, tatapan itu terlihat tidak biasa.
"Kenapa kamu terus melihat Elena?" tanyanya tiba-tiba.
Jari-jari Daniel yang sedang bergerak di atas layar ponsel, seketika berhenti. Ia mengangkat pandangannya dan tersenyum tipis.
"Aku tidak melihatnya."
Leon tersenyum sinis. "Benarkah? Kalau begitu, mungkin matamu yang salah arah."
Elena terdiam. Matanya melirik Daniel sekilas, sebelum beralih pada Leon. Lalu, ia memiringkan sedikit tubuhnya, mendekat dan berbisik pelan.
"Sepertinya, adik mu itu menyukaiku."
Leon menoleh dengan tatapan tajam.
"Makanya, jangan bersikap dingin pada istrimu. Bisa-bisa, istrimu di ambil orang," bisik Elena.
Leon mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras. Ia menatap Daniel, lalu mengikuti arah pandang Daniel yang tertuju pada Elena.
"Apa dia tertarik pada Elena?" batinnya geram.
Maria yang duduk di antara mereka hanya menghela napas pelan.
"Sudah. Jangan mulai bertengkar saat makan."
Daniel mengangguk pelan. "Baik, mom."
Elena sempat melirik kursi di ujung meja yang biasa di tempati Victor.
"Apa tuan Victor tidak ikut makan siang?" tanyanya.
Maria meletakkan gelasnya. "Dia tidak pulang untuk makan siang. Katanya ada meeting dengan klien di sebuah restoran."
Elena mengangguk pelan. "Begitu, ya."
"Ya. Katanya ada pembahasan cukup penting, jadi kemungkinan baru pulang sore," lanjut Maria.
Leon tidak ikut berkomentar. Ia hanya kembali menatap piringnya.
Tapi, entah mengapa, ketidakhadiran Victor siang itu justru membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Tetapi Leon tahu, ketenangan di meja makan ini mungkin tidak akan berlangsung lama. Terutama dengan Elena yang duduk di sampingnya dengan ekspresi terlalu tenang.
Di tambah tatapan Daniel pada Elena yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Tidak perlu memikirkan pak tua itu. Sekarang, kita makan saja," ucap Maria.
Ia mulai menyantap makan siangnya dengan tenang. Tapi, baru beberapa suapan, gerakannya tiba-tiba melambat.
Ia mengunyah daging yang baru saja masuk ke mulutnya dengan kening berkerut tajam. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari biasanya.
Maria kembali mencicipinya untuk memastikan. "Kenapa rasanya berbeda?" gumamnya pelan.
Meski suaranya lirih, ucapan itu masih terdengar jelas oleh Leon dan Elena.
Elena yang sedang mengambil makanan langsung menghentikan gerakannya.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya, berusaha terdengar biasa.
Maria meletakkan peralatan makannya. "Aku merasa daging ini berbeda dari yang biasa aku beli."
Tubuh Elena seketika menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Baru saat itu ia menyadari satu kesalahan kecil yang nyaris ia lupakan. Ia memang meminta orangnya membeli beberapa barang, tetapi lupa memberi tahu tempat yang biasa digunakan keluarga Bianchi untuk berbelanja.
Akibatnya, bahan makanan yang dibeli, kualitasnya berbeda dari biasanya.
Tatapan Elena perlahan beralih kepada Leon. Ia teringat percakapan mereka sebelumnya.
Tentang bagaimana Leon langsung menyadari rencananya.
"Pantas dia bisa berkata seperti itu," batin Elena. "Ternyata, dia sudah menyadarinya sejak awal."
Maria mengambil tisu dan mengusap sudut bibirnya. "Aku akan bertanya kepada pelayan dulu."
Ia bangkit dari kursinya, tapi suara Leon menghentikannya.
"Mom."
Maria menoleh.
Leon tetap duduk dengan tenang, meskipun tatapannya sempat melirik sekilas Elena.
"Sudahlah. Mungkin di tempat biasa kehabisan stok. Makanya, mereka membeli di toko lain."
Maria menggeleng tidak percaya. "Itu tidak mungkin. Mereka—"
"Mom," potong Leon lagi dengan suara lebih lembut. "Biar aku yang mengurusnya nanti. Sekarang, kita makan dulu."
Maria menatap putranya beberapa detik. Ia merasa tidak puas, tetapi akhirnya memilih mengalah.
"Baiklah."
Ia kembali duduk dan melanjutkan makan.
Elena yang sejak tadi diam-diam mengamati Leon akhirnya mengalihkan pandangan ke piringnya.
Pria itu baru saja menyelamatkannya dari pertanyaan yang mungkin bisa membongkar sesuatu.
Tapi, belum sempat ia mengatakan apa pun, tiba-tiba Leon sedikit memiringkan tubuhnya, sehingga jarak mereka menyempit. Dan, Leon mendekatkan wajahnya ke telinga Elena.
"Sepertinya, kamu berutang budi padaku," bisiknya.
Elena meliriknya dari sudut mata. Alih-alih merasa terancam, ia justru menaikkan sudut bibirnya.
"Jadi, kamu mau imbalan?"
Leon terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Elena akan menjawab seperti itu.
Elena kemudian menoleh, membuat wajah mereka hampir berhadapan.
"Baiklah," ucapnya santai. "Aku akan membayarnya nanti malam."
Seketika wajah Leon memerah. Ia langsung menegakkan tubuhnya kembali.
"Kamu..." Leon menghentikan ucapannya sendiri. ia buru-buru mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya daripada memperpanjang percakapan yang hanya akan membuat dirinya semakin salah tingkah.
Gerakannya bahkan terlihat sedikit gugup. Dan, hal itu berhasil membuat Elena menahan tawa.
Pria yang biasanya begitu tenang dan sulit dibaca itu ternyata cukup mudah dibuat kehilangan kata-kata.
Tapi, senyum Elena perlahan memudar. Tatapannya kembali jatuh pada Leon.
Ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan tentang godaan yang baru saja ia lontarkan. Melainkan, tentang tindakan Leon.
Leon bisa saja membiarkan Maria bertanya kepada para pelayan. Bahkan, mungkin pria itu dapat menggunakan kesempatan itu untuk mengorek lebih banyak informasi darinya. Tapi, Leon justru memilih menutupinya.
"Kenapa dia membantuku?" batin Elena.
Dia mengerti kenapa sejak awal, Leon tidak memberitahu Victor tentang dirinya. Pasti karena pria itu ingin tahu lebih dulu siapa dirinya? Apa rencana dan tujuannya? Tapi, begitu Leon tahu semuanya, dia tetap diam. Bahkan, sekarang membantunya agar tidak membuat Maria curiga.
Elena tidak tahu apakah tindakan Leon itu bagian dari rencananya untuk mengawasi dirinya atau, karena pria itu benar-benar mulai melindunginya.
apa dia orgtua leo?
disinilah jackson dibunuh