Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Satu Jujur, Satu Bohong
Esok paginya, hari Jumat, kantor sudah ramai dengan kesibukan kerjaan. Namun, di sudut ruangan divisi Administrasi, Lady dan Marina sama sekali tidak bisa fokus pada tumpukan berkas di meja mereka. Berulang kali mata mereka melirik ke arah kubikel Naya yang kosong melompong.
"Gimana ini, Kak? Naya benar-benar enggak masuk hari ini," bisik Marina berdiri di dekat meja Lady, berpura-pura merapikan dokumen padahal jarinya gemetar. "Nomornya dialihkan ke suara voicemail terus. Aku takut, Kak. Gimana kalau dia tahu dan laporin kita?"
Lady mendesis pelan, mengedarkan pandangan panik ke sekeliling ruangan. "Jangan asal ngomong kamu! Jangan bikin panik! Lagian semalam kan Pak Danang cuma minta kita mastiin Naya dapat taksi dan pulang ke rumahnya. Kalau sampai Pak Danang tahu kita malah ninggalin dia teler di kamar random, kita yang kena pecat!"
Kepanikan mereka bukanlah soal keselamatan atau kondisi psikologis Naya, melainkan keselamatan posisi dan reputasi mereka sendiri.
Pak Danang sangat menggebu-gebu membanggakan kinerja Naya akhir-akhir ini, juga tadi malam di depan semua orang. Tentu saja mereka benci melihat Naya yang bagai penyelamat dunia. Terlalu lebay, pikir mereka.
Lalu, kalau ketahuan bahwa mereka sengaja mencekoki Naya alkohol lalu menelantarkannya di kamar hotel milik orang asing, karier mereka di perusahaan ini dipastikan tamat hari itu juga.
Mereka tidak pernah benar-benar memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Naya. Bagi mereka, itu hanya sebuah "pelajaran" untuk gadis yang selama ini mereka anggap terlalu polos dan terlalu disukai atasan. Mereka hanya ingin Naya bangun dalam keadaan kebingungan, lalu menanggung rasa malu karena berada di kamar orang asing.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa "pelajaran" yang mereka buat akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih buruk.
Tepat saat Marina hendak membuka suara lagi, Raka melintas di antara barisan meja kerja sambil membawa cangkir kopi.
"Ngapain pada berdirian begitu? Muka udah kayak ditagih utang pinjol," celetuk Raka melirik heran pada raut wajah pucat kedua rekannya itu.
Lady dengan cepat menetralkan ekspresinya. "Eh, Ka... kamu tahu Naya ke mana? Kok jam segini belum kelihatan di mejanya? Pekerjaannya belum di-handover semua lho."
Raka mendengus geli, menyeruput kopinya santai. "Ya iyalah enggak ada. Naya hari ini libur kali."
"Hah? Libur?" sahut Marina refleks, suaranya naik satu oktav.
"Iya. Pak Danang sendiri yang ngasih jatah libur khusus buat Naya hari ini. Bonus apresiasi karena dia sukses besar pegang proyek kemarin " jelas Raka. "Masa kalian enggak tahu?"
Lady dan Marina saling berpandangan. Untuk sesaat, keduanya sama-sama mengembuskan napas lega.
Setidaknya hari ini Naya tidak akan muncul di kantor. Mereka punya waktu untuk menenangkan diri dan memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan terjadi.
"Kenapa emangnya? Kok kalian heboh banget nyariin Naya? Mau dibabuin?" terkanya, sangat hafal.
"E-nggak... enggak apa-apa! Cuma nanya aja, kan semalam kita makan-makan bareng," sela Lady cepat-cepat sebelum Marina kelepasan bicara.
Raka hanya mengangguk-angguk tak peduli lalu berjalan menuju mejanya sendiri. Bian yang memperhatikan sejak awal berdecih, gelagat Marina dan Lady terlihat sangat aneh hari ini. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya dan kembali pada pekerjaannya.
Sepeninggal Raka, Lady langsung menarik siku Marina menuju lorong pantry yang sepi. Keduanya saling tatap dengan wajah yang kian memucat.
"Dia libur hari ini, Kak..." cicit Marina dengan napas memburu. "Gimana kalau selama libur hari ini dia lagi ngumpulin keberanian buat ngelaporin kita ke Pak Danang? Atau gimana kalau dia inget semalam kita berdua yang bopong dia ke kamar itu?"
Lady meremas jemarinya sendiri, mencoba menutupi rasa takut yang mulai menggerogoti dadanya. "Tenang dulu! Naya itu anak yang selama ini paling enggak suka bikin masalah. Dia pasti lebih memilih diam daripada bikin keributan di kantor." Lady menelan ludah.
"Lagian semalam dia mabuk berat. Kemungkinan besar dia enggak ingat kita yang bawa dia pergi dari sana." Lady berusaha terdengar yakin, meskipun jemarinya terus meremas ujung lengan bajunya. "Selama dia enggak ingat, kita aman."
"Tapi kalau dia ingat?"
Lady terdiam.
Pertanyaan sederhana itu justru membuat wajahnya kembali tegang. Karena kalau Naya mengingat satu hal saja tentang siapa yang terakhir bersamanya sebelum mereka meninggalkannya di hotel, mereka akan selesai.
****
Ponsel Ibra berdenting nyaring di atas meja. Sebuah balasan masuk dari Mamanya, memecah keheningan apartemen yang dingin.
|Mama
Pulang ke rumah sekarang, Ibra. Jelaskan sama Mama kesalahan apa itu.
Pesan singkat itu sarat akan nada tegas yang tak menerima bantahan. Ibra memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang yang amat berat. Ia mengusap wajahnya yang lelah, lalu segera menyambar kunci mobil.
Ia sadar, melarikan diri bukan pilihan. Jika ia ingin bertindak sebagai laki-laki sejati untuk menyelesaikan kekacauan ini, ia harus bersikap jujur pada keluarganya sendiri terlebih dahulu.
Sementara itu di tempat lain, di dalam kamar tidurnya yang sendu sebab gorden yang sengaja tak dibuka, Naya didera ketakutan luar biasa.
Gorden kamar tertutup rapat. Sejak pulang tadi, Naya bahkan belum benar-benar berani melihat dirinya sendiri di cermin. Setiap kali matanya menangkap pantulan tubuhnya, ingatannya kembali pada pagi tadi.
Ia ingin melupakan semuanya. Tetapi semakin keras ia mencoba melupakan, semakin jelas potongan-potongan kejadian itu muncul di kepalanya.
Naya memeluk kedua lututnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya terus bergetar tanpa henti. Setiap kali mendengar helaan napasnya sendiri, ia ketakutan setengah mati
Drt... drt...
Ponsel Naya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar.
Bunyi itu menyerang indera pendengarannya. Naya tersentak, napasnya langsung memburu.
Panic attack, yang sering menderanya kini menyergap begitu cepat sampai ia merasa kehabisan oksigen. Dengan pandangan liar dalam ketakutan, Naya melirik layar ponselnya dari kejauhan.
Nama Gea tertera di sana.
Naya menatap nama itu. Gea adalah salah satu orang yang semalam berada di sana. Salah satu orang yang terakhir ia ingat sebelum semuanya menjadi gelap, yang juga ikut permainan Truth or Drink.
Jarinya sempat bergerak hendak menerima panggilan. Namun rasa takut membuatnya berhenti.
Bagaimana kalau Gea bertanya? Bagaimana kalau ia tahu? Bagaimana kalau dari suara Naya saja orang-orang bisa mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi?
Naya tak sanggup menyentuhnya. Ia takut Gea tahu. Ia takut Bundanya tiba-tiba masuk. Ia takut semua orang akan memandangnya jijik dan menudingnya sebagai perempuan kotor.
Pada akhirnya, Naya mematikan ponselnya. Ia belum sanggup berbicara dengan siapa pun.
Pandangan Naya pun tanpa sengaja jatuh pada pergelangan tangannya sendiri. Bekas luka lama yang selama ini ia sembunyikan dari orang-orang kembali mengingatkannya bahwa dirinya memang sudah tidak baik-baik saja bahkan sebelum terjadinya tadi malam.Dirinya sudah berjuang dengan banyak hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.
Dan sekarang, satu masalah baru seolah ditimpakan tepat di atas semua beban yang selama ini susah payah ia sembunyikan.
Air mata Naya kembali jatuh. Kenapa hal seperti ini harus melanda dirinya?
****
Tak butuh waktu lama bagi Ibra untuk sampai di kediaman orang tuanya. Pukul 11 siang, ia melangkah masuk ke ruang keluarga yang tenang, di mana Mamanya sudah duduk menanti dengan cangkir teh yang mengepul. Wajah wanita paruh baya itu tampak anggun namun tegas, menatap putranya yang melangkah mendekat dengan raut penuh beban.
"Ibra..." panggil Mamanya pelan saat Ibra memilih berlutut di depan kakinya, bukan duduk di sofa. "Ada apa? Wajahmu pucat sekali. To the point, kesalahan apa yang kamu maksud?"
Ibra menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengepalkan tangan di atas lututnya sendiri. Suaranya bergetar berat saat kalimat itu akhirnya terucap dari bibirnya.
"Ma... Ibra sudah melakukan sesuatu yang membuat hidup seorang gadis berubah," lirihnya, suaranya bergetar, tenggelam dalam keputusasaan.
"Semalam Ibra mabuk... dan pagi ini Ibra terbangun sama seorang gadis polos dari divisi administrasi kantor Ibra. Dia... dia trauma berat, Ma. Ibra enggak tahu gimana memperbaiki masalah ini."
Ibra memejamkan mata, bersiap menerima amukan atau tamparan. Namun yang terdengar hanyalah hening yang mencekam, sebelum Mamanya menghembuskan napas berat yang terdengar begitu terpukul.
"Kamu sadar apa yang kamu katakan?"
Ibra mengangguk pelan. "Sadar, Ma."
"Perempuan itu sadar?"
Pertanyaan itu membuat Ibra terdiam. "Ibra enggak tahu, Ma. Yang Ibra tahu, dia ketakutan waktu bangun."
Liana—mamanya menatap Ibra, terdiam cukup lama. Tatapannya berubah. Bukan lagi sekadar kecewa kepada putranya, tetapi juga prihatin pada perempuan yang bahkan belum ia temui.
"Kalau begitu, hal pertama yang harus kamu pikirkan bukan pernikahan, Ib. Pastikan dulu dia aman."
"Jangan jadikan kata 'tanggung jawab' sebagai alasan untuk mengambil keputusan sepihak atas hidupnya."
Ibra mengangkat wajah. "Maksud Mama?"
"Kamu boleh bertanggung jawab. Tapi dia tetap punya hak untuk menentukan apa yang dia inginkan. Jangan membuat dia merasa semakin terjebak hanya karena kamu merasa bersalah."
Ibra menunduk. Pagi tadi, dia mengatakan akan bertanggung jawab berkali-kali. Apakah itu malah membuat Naya makin tertekan? Ah, itu artinya dirinya melakukan kesalahan tanpa ia sadari.
"Ma, maafin Ibra."
Mama Ibra menyesap tehnya sejenak, pikirannya mendadak kacau mendengar pengakuan putra bungsunya. Namun, ia berusaha terlihat tenang. Ketika begini, penghakiman tidak diperlukan sebab putranya juga butuh ditenangkan.
"Minta maaf ke dia, bukan Mama. Selesaikan masalah yang kamu buat terlepas dari alkohol yang mungkin kamu salahin—"
"Ibra enggak nyalahin alkohol," potong Ibra.
"Mama paham, Ibra. Tapi, kamu tetap pemilik dari tubuhmu. Sadar atau enggak, sama saja. Kamu sudah dewasa, keputusan hidup di tanganmu sendiri. Jadi, selesaikan sebelum Papa yang turun tangan duluan."
Ibra meneguk ludahnya susah payah. "Iya, Ma. Sekali lagi, maafin Ibra, sudah gagal."
Di tempat lain Naya perlahan membuka pintu kamarnya yang terkunci. Dengan sisa tenaga yang melumpuh dan raut wajah yang diusahakan se-normal mungkin, ia berjalan menuju meja makan. Di sana, Bunda sedang sibuk merapikan beberapa piring lauk pauk sederhana.
Bunda menengok, sedikit terkejut melihat putrinya sudah berganti pakaian santai. "Lho, Naya... kok belum siap-siap? Kamu enggak kerja hari ini?"
Naya menghentikan langkahnya sejenak, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu kaku di bibirnya. "Enggak, Bun. Naya libur hari ini. Pak Danang ngasih jatah libur bonus... karena proyek yang Naya pegang kemarin berjalan lancar."
Mendengar hal itu, binar bahagia langsung terpancar dari wajah Bunda. "Ya ampun, anak Bunda hebat! Bener kan kata Ayah, kamu itu rajin dan pinter." Bunda mengusap lembut bahu Naya dengan bangga. "Nanti kalau menikah, harus sama yang bisa mengarahkan, biar tambah hebat."
Deg
Binar bahagia itu perlahan meredup saat Bunda memperhatikan lekat-lekat raut wajah putrinya dari dekat. "Tapi... kok muka kamu murung banget, Sayang? Matanya sembap, terus lemes begini. Enggak kayak Naya yang biasanya kalau dapet apresiasi."
Bagaimana ini?
Jantung Naya berdegup kencang. Kepanikan kembali merayapi dadanya. Dalam jeda beberapa detik yang menekan, otaknya berputar cepat menyusun kebohongan tanpa arah untuk menutupi keadannya.
"A-anu, Bun... Naya cuma capek banget aja," kelit Naya pelan, membuang pandangan ke arah lauk di meja. "Kemarin kan kejar deadline sampai begadang terus, jadi pas proyeknya selesai, badan rasanya kayak ambruk semua. Agak pusing juga karena kurang tidur."
Naya meremas ujung kausnya di balik meja, berdoa dalam hati agar jawaban asal-asalannya itu masuk akal. Beruntung, Bunda tidak bertanya lebih jauh. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk paham dan mengelus kepala Naya.
"Ya sudah, dimakan dulu ya sarapannya yang kesiangan. Nanti habis ini kamu istirahat lagi aja seharian. Pekerjaan rumah biar Bunda yang urus."
Mereka pun makan bersama dalam keheningan yang hangat. Naya memaksa dirinya memakan beberapa suap nasi, meski rasanya hambar dan tenggorokannya masih terasa menyempit akibat sisa tangis.
Makan berhadapan dengan Bunda, wajah Bunda yang begitu tenang dan meneduhkan, bagaimana jika wajah tenang ini hancur kalau tahu kejadian ini. Membayangkannya saja Naya tak sanggup.
Maafin Naya, Bunda.
Setelah menyelesaikan makanannya dan membantu merapikan piring, Naya berdiri di samping kursi Bunda. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Bunda dari belakang, menyandarkan kepalanya erat-erat di bahu sang ibu.
Bunda sedikit tersentak, namun tersenyum hangat sambil mengusap jemari Naya yang melingkar di dadanya. "Kenapa, Sayang? Kok mendadak manja begini?"
"Naya kangen Bunda..." bisik Naya amat pelan. Matanya memejam rapat, menahan air mata yang kembali mendesak ingin keluar. "Kangen... udah lama kita enggak leluasa duduk berdua kayak hari ini."
Bunda terdiam beberapa detik. Entah kenapa, pelukan itu terasa berbeda. Terlalu erat, terlalu lama. Pelukannya sama, tapi rasanya berbeda.
Namun Bunda tidak bertanya. Ia hanya mengusap kepala Naya perlahan.
"Bunda di sini, Sayang. Kalau ada masalah, cerita, ya? Jangan simpen sendiri."
Kalimat sederhana itu hampir membuat pertahanan Naya runtuh lagi.
"Iya, Bunda."
Kata-kata itu terucap begitu tulus namun sarat akan rasa sakit yang tak kasat mata. Naya memeluk ibunya erat-erat, menjadikan tubuh hangat Bunda sebagai satu-satunya tempat bersandar di tengah dunianya yang baru saja mengabur..
Apa Naya bisa hebat, seperti yang sering Ayah bilang? Atau sejak tadi malam, semua itu sudah tidak mungkin lagi?
Makasih thor lanjut up ya