NovelToon NovelToon
Before The Red Winter

Before The Red Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:355
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedang Kayu

Beberapa hari setelah Marcus dipulangkan lebih awal dari pekerjaannya, matahari siang jatuh langsung ke tanah lapang di sisi gedung Empire. Bayangan bangunan yang semula menutupi hampir setengah lapangan telah menyusut menjadi bidang gelap sempit di dekat dinding.

Debu menempel pada betis, lengan, serta wajah Aiden yang basah oleh keringat. Setiap kali ia mengusap dahi, telapak tangannya hanya memindahkan kotoran dan meninggalkan garis kecokelatan pada kulit.

Anak-anak laki-laki lain tidak berada dalam keadaan lebih baik. Napas mereka terdengar berat, kemeja mereka telah dilepas dan ditumpuk di bawah bayangan, sedangkan telapak kaki beberapa anak mulai memerah karena berlari menggunakan sepatu tipis.

Eddie tidak memberi mereka waktu lama untuk mengeluh. Kepala penjaga itu berjalan menyusuri barisan dengan tongkat pendek di tangan, mengamati posisi kaki mereka sambil sesekali menekan lutut atau bahu yang tidak berada di tempatnya.

“Punggung lurus. Jangan letakkan seluruh berat tubuh kalian pada tumit.”

Aiden segera membetulkan posisinya. Kedua pahanya bergetar akibat latihan jongkok yang baru selesai, tetapi ia menahan tubuh agar tidak naik sebelum Eddie memberi perintah.

Beberapa langkah dari mereka, para penjaga yang baru menyelesaikan sesi latihan duduk di bawah naungan gedung. Kemeja seragam mereka basah dan menempel pada dada, sedangkan senapan diletakkan dalam jangkauan tangan di atas kain agar tidak dipenuhi debu.

Sebagian mengipas wajah menggunakan topi. Beberapa yang lain menyandarkan kepala pada dinding sambil memperhatikan Eddie memberikan latihan yang sama kerasnya kepada anak-anak.

Aiden pernah mendengar salah seorang dari mereka mengatakan bahwa menyaksikan sesi anak-anak membuat tubuhnya ikut sakit. Eddie kebetulan lewat ketika itu dan menyuruh pria tersebut berlari lima putaran tambahan karena masih mempunyai cukup tenaga untuk berbicara.

Tidak ada yang memberikan komentar hari ini. Salah seorang penjaga hanya meringis ketika melihat Eddie meminta anak-anak menahan posisi lebih lama, lalu meneguk air dari botol logamnya.

“Berdiri.”

Perintah itu membuat seluruh barisan bergerak bersamaan. Aiden mendorong tubuhnya ke atas dan harus mengatupkan gigi ketika kedua lututnya hampir kehilangan tenaga.

Eddie menunggu sampai mereka kembali tegak. Keringat juga membasahi rambut hitamnya dan menggelapkan bagian dada kemeja, tetapi napasnya telah teratur meskipun sebelumnya ia berlatih bersama para penjaga dewasa.

Di tanah dekat kakinya terdapat tumpukan pedang kayu. Bentuknya sederhana, dengan bilah tumpul sepanjang lengan orang dewasa dan gagang yang dibalut potongan kulit agar tidak mudah terlepas dari tangan.

Aiden sudah pernah memegang salah satunya. Berat pedang tersebut tidak sebanding dengan senapan, tetapi setelah diayunkan puluhan kali, pergelangan tangan akan terasa seperti sedang menahan sebongkah batu.

“Ambil satu untuk setiap anak.”

Barisan segera pecah. Anak-anak bergerak mendekati tumpukan dan memilih pedang yang dianggap paling lurus, walaupun Eddie berkali-kali mengatakan mereka tidak selalu dapat memilih senjata terbaik dalam pertarungan.

Aiden mengambil pedang dengan gagang yang balutannya masih rapat. Ia mencoba satu ayunan pendek, lalu memindahkannya ke tangan kiri agar dapat mengeringkan telapak kanan pada celana.

Eddie berdiri di tengah lapangan sambil menunggu. Setelah setiap anak memperoleh pedang, ia memerintahkan mereka mencari pasangan dan berlatih saling menyerang serta menangkis.

Seorang anak di dekat barisan belakang tidak langsung bergerak. Ia memandangi pedang di tangannya dengan dahi berkerut, kemudian mengangkat tangan seperti ketika meminta izin berbicara di kelas Nyonya Elma.

“Pak, kenapa kita berlatih bertarung dengan pedang?”

Beberapa anak yang sudah berjalan mencari pasangan berhenti. Aiden ikut menoleh karena pertanyaan tersebut pernah muncul di kepalanya pada minggu pertama latihan.

“Bukankah kita bisa menggunakan senjata api untuk menjatuhkan musuh?”

Anak itu bernama Josh dan berusia setahun lebih tua daripada Aiden. Rambutnya berwarna gandum, sedangkan bintik-bintik kecokelatan tersebar di sekitar hidung serta kedua pipinya.

Eddie tidak langsung menjawab. Pandangannya berpindah dari Josh menuju anak-anak lain yang kini menunggu, kemudian berhenti pada Aiden.

“Aiden, pinjamkan ketapel yang selalu kaubawa kepadanya.”

Aiden merapatkan bibir. Ketapel itu tersimpan di saku kemeja yang diletakkannya dekat dinding, terlindung dari matahari bersama botol air dan beberapa barang milik anak-anak lain.

Ia tidak menyukai orang lain memegangnya. Ernest memang memberikannya tanpa meminta bayaran, tetapi kayu hitam yang mengilap dan lapisan logam pada kedua ujungnya tetap menjadi benda terbaik yang pernah Aiden miliki.

“Sekarang, Aiden.”

Aiden meletakkan pedang kayunya, lalu berlari kecil menuju dinding. Telapak kakinya mengangkat debu panas yang menempel pada kulit berkeringat sampai mencapai tempat kemejanya berada.

Ia merogoh saku dan mengeluarkan ketapel tersebut. Permukaan kayunya terasa hangat, sedangkan kulit penarik yang baru dibersihkannya beberapa malam lalu masih lentur saat disentuh.

Josh mengulurkan tangan ketika Aiden kembali. Aiden tidak langsung menyerahkannya dan menatap anak itu lebih dahulu.

“Jangan sampai kau merusaknya.”

“Aku hanya akan memakainya sebentar.”

Josh mengambil ketapel dari tangan Aiden dan membolak-baliknya dengan rasa ingin tahu. Aiden tetap berdiri dekat dirinya, siap merebut benda tersebut kembali jika kulit penariknya ditarik tanpa peluru atau rangka kayunya dijatuhkan.

Eddie berjalan menjauh sampai jarak mereka mencapai hampir dua puluh langkah. Ia menyerahkan tongkatnya kepada salah seorang anak, lalu berdiri menghadap Josh dengan kedua tangan kosong.

“Sekarang, Josh, tembak aku.”

Josh berkedip. Ketapel di tangannya segera turun dan wajahnya berubah tegang.

“Apa?”

“Kau mendengarku.”

“Anda sedang bercanda, bukan, Pak?”

“Tembak saja. Tunjukkan bahwa kau bisa menjatuhkan musuhmu dengan serangan jarak jauh.”

Para penjaga yang berteduh mulai menegakkan tubuh. Salah seorang dari mereka menurunkan botol air dari mulut, sedangkan yang lain tersenyum seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

Josh menoleh kepada Aiden, mungkin berharap pemilik ketapel itu akan menolak. Aiden hanya mengangkat bahu meskipun bagian dalam perutnya ikut menegang.

Ia tidak takut Eddie akan terkena. Aiden lebih mengkhawatirkan Josh panik, melepaskan pegangan, dan membuat ketapel tersebut terlempar bersama batu.

Josh membungkuk untuk mengambil batu sebesar ujung ibu jari. Ia memasukkannya ke kantong kulit, menarik karet ke belakang, lalu mengarahkan ketapel tersebut pada dada Eddie.

Tangannya tidak benar-benar mantap. Ujung rangka kayu bergerak ke kiri dan kanan bersama napasnya, sementara Eddie tetap berdiri tanpa berusaha berlindung.

“Lepaskan.”

Josh membuka jemarinya. Batu itu melesat dengan bunyi pendek, memotong udara menuju bahu kanan Eddie.

Eddie hanya memiringkan tubuh. Batu tersebut melewati sisi lengannya dan menghantam dinding Empire dengan bunyi kecil yang membuat beberapa penjaga tertawa.

Josh masih memandangi tempat batu itu jatuh ketika Eddie mulai bergerak. Kepala penjaga tersebut menempuh jarak di antara mereka begitu cepat hingga Aiden hanya sempat melihat debu meledak di bawah sepatu botnya.

Josh mencoba meraih batu lain. Sebelum tangannya mencapai tanah, Eddie telah menangkap pergelangan yang memegang ketapel dan menyapu salah satu kakinya.

Tubuh Josh terangkat sesaat, lalu jatuh miring ke tanah. Ia memekik ketika punggung dan pinggulnya menghantam permukaan keras, sedangkan ketapel Aiden terlepas dari tangannya.

Aiden segera menerjang maju dan menangkap ketapel itu sebelum diinjak siapa pun. Ia memeriksa kayu, lapisan logam, serta kulit penariknya sambil mengembuskan napas lega.

Eddie menahan Josh di tanah hanya menggunakan satu lutut dekat bahunya. Tangan Josh yang tadi hendak mengambil peluru terkunci di belakang punggung, membuatnya tidak mampu melawan ataupun meraih ketapel yang telah terjatuh.

“Kau lihat?”

Josh mengerang dan mengangguk cepat. Eddie segera melepaskannya, lalu berdiri sambil mengulurkan satu tangan.

“Ada saatnya pertahanan jarak dekat diperlukan. Senapan bisa macet, peluru bisa habis, dan musuh tidak akan menunggumu mengisi ulang.”

Josh menerima tangan tersebut dan ditarik sampai berdiri. Ia mengusap pinggul dengan wajah mengernyit, tetapi tidak terlihat mengalami cedera selain rasa sakit akibat jatuh.

“Serangan jarak jauh memberi kalian keunggulan selama jaraknya masih ada. Begitu lawan berada sedekat ini, senjata panjang dapat direbut atau diarahkan menjauh sebelum kalian sempat menembak.”

Eddie berpaling kepada seluruh anak. Tatapannya bergerak dari satu wajah ke wajah lain untuk memastikan mereka mendengarkan.

“Kalian tidak belajar menggunakan pedang karena aku berharap kalian selalu membawa pedang. Kalian mempelajarinya supaya tangan, kaki, dan mata kalian terbiasa menghadapi orang yang menyerang dari dekat.”

Aiden menyelipkan ketapel ke bagian belakang celananya karena belum ingin berlari ke dinding lagi. Josh memandang benda tersebut, lalu mengusap debu yang menempel pada sikunya.

“Aku hampir mengenaimu, Pak.”

Beberapa anak tertawa. Eddie menatap Josh tanpa tersenyum, tetapi salah satu alisnya sedikit terangkat.

“Hampir tidak akan menghentikan orang yang ingin membunuhmu.”

Tawa itu langsung lenyap. Aiden memikirkan induk Dire Mole yang terus menyerang meskipun Marcus telah menendang dan menghantamkannya ke dinding.

Jika Josh menembakkan batu kepada makhluk tersebut, hampir mengenai kepalanya tidak akan mempunyai arti. Bahkan tembakan tepat mungkin hanya membuatnya semakin marah, seperti sesosok Remnant yang pernah berbalik mengejar Aiden setelah terkena peluru ketapel di belakang kepala.

Eddie mengambil pedang kayu dari tangan anak yang memegangnya. Ia mengangkat benda itu setinggi dada, lalu menunjuk kelompok menggunakan ujung bilahnya.

“Buat lingkaran. Dua orang bertarung di tengah, yang lain memperhatikan.”

Anak-anak segera bergerak. Mereka membentuk lingkaran tidak rata, lalu mundur beberapa langkah setelah Eddie meminta ruang yang lebih luas.

Para penjaga di bawah bayangan ikut memperhatikan. Salah seorang dari mereka bersiul pendek ketika Eddie menyebut pasangan pertama.

“Aiden dan Josh. Masuk.”

Aiden mengambil pedangnya dari tanah. Josh memilih pedang lain dari tumpukan dan menguji gagangnya dengan beberapa ayunan, sementara debu masih melekat pada sisi wajahnya.

Mereka berdiri saling berhadapan di tengah lingkaran. Rambut cokelat Aiden telah menempel pada dahi, sama basahnya dengan rambut berwarna gandum milik Josh.

Eddie memeriksa jarak di antara mereka. Ia melarang serangan ke mata, tenggorokan, belakang kepala, dan bagian tubuh yang dapat menimbulkan cedera berat.

“Kalian berhenti jika salah satu menjatuhkan pedang, menyerah, atau tidak mampu melanjutkan. Pukulan keras tetap akan terasa sakit, jadi jangan berdiri di sana dan membiarkan diri kalian dipukul.”

Aiden menggenggam gagang menggunakan kedua tangan. Telapak kanannya masih perih akibat latihan pagi, dan balutan pada buku-buku jari terasa lembap oleh keringat.

Josh menekuk lutut serta mengangkat pedangnya. Ia lebih tinggi hampir setengah kepala daripada Aiden, sedangkan kedua lengannya terlihat sedikit lebih panjang.

“Mulai.”

Josh menyerang lebih dahulu. Pedangnya bergerak dari atas menuju bahu Aiden, cepat tetapi cukup lebar untuk terlihat sejak awal.

Aiden mengangkat bilah kayu dan menangkisnya. Benturan tersebut mengguncang kedua tangannya sampai pergelangan terasa nyeri, lalu Josh segera mendorong dan memaksanya mundur.

Tumit Aiden menggesek tanah. Ia berhasil mempertahankan keseimbangan, memutar pedang, dan mengayunkannya menuju rusuk Josh.

Josh mundur sehingga ujung pedang hanya menyentuh kulitnya. Anak itu membalas dengan pukulan mendatar yang mengenai lengan atas Aiden sebelum sempat ditangkis.

Rasa sakit menyebar dari bahu sampai siku. Aiden mengatupkan gigi dan mengambil jarak, sementara suara beberapa anak terdengar dari sekitar lingkaran.

Josh tersenyum kecil setelah berhasil mengenai sasaran. Ia maju lagi, kini mengayunkan pedang lebih pendek agar Aiden tidak mudah membaca arahnya.

Aiden menangkis satu pukulan, tetapi pukulan berikutnya mengenai sisi pahanya. Kayu keras menghantam tepat di atas memar lama dan membuat kaki tersebut hampir tertekuk.

Ia tidak membiarkan Josh melihatnya berhenti. Aiden menyerang balik dua kali, memaksa lawannya mengangkat pedang untuk melindungi bahu serta wajah.

Benturan kayu terdengar berturut-turut. Serbuk tipis terlepas dari salah satu bilah, sedangkan tangan Aiden semakin sulit mempertahankan genggaman.

Josh kembali mencoba menggunakan tubuhnya yang lebih besar untuk mendorong. Aiden teringat cara Eddie menjatuhkan Josh beberapa saat sebelumnya dan tidak melawan tenaga tersebut secara langsung.

Ia mundur satu langkah, kemudian satu langkah lagi. Josh mengira Aiden mulai kehilangan keseimbangan dan bergerak mengejar dengan pedang terangkat.

Aiden menunggu sampai kaki depan Josh mendarat. Ia bergerak menyamping, membiarkan ayunan lawannya melewati bahu, lalu menghantamkan gagang pedang ke lengan Josh.

Josh mengumpat dan kehilangan pegangan satu tangan. Aiden segera mengayunkan bilahnya ke belakang lutut lawan, cukup keras untuk membuat kaki tersebut tertekuk.

Josh jatuh pada satu lutut. Ia masih berusaha mengangkat pedang, tetapi Aiden menekan bilahnya menggunakan seluruh berat tubuh sampai gagang itu terlepas dari tangan Josh.

Pedang kayu jatuh ke debu. Aiden menempelkan ujung bilahnya pada dada Josh dan menahan napas yang memburu.

“Berhenti.”

Suara Eddie memotong sorakan anak-anak. Aiden segera menurunkan pedangnya dan mundur, walaupun kedua lengannya gemetar akibat benturan.

Josh bangkit tanpa menunggu bantuan. Ia mengambil pedangnya sambil mengusap belakang lutut, kemudian memandang Aiden dengan rahang mengeras.

Aiden sempat mengira anak itu akan marah. Namun, Josh hanya mengulurkan pedang untuk menyentuh bilah milik Aiden, seperti yang dilakukan para penjaga setelah berlatih.

“Kau sengaja membuatku mengejarmu.”

“Kau tetap mengejar.”

Josh mendengus, tetapi sudut mulutnya bergerak naik. Aiden membalas dengan senyum lebar sebelum rasa nyeri di lengan membuatnya meringis.

Kemenangan itu terasa menyenangkan. Tubuhnya sakit pada bahu, paha, telapak tangan, dan rusuk, tetapi untuk pertama kalinya ia berhasil menjatuhkan anak yang lebih besar saat Eddie mengamati.

Aiden melirik para penjaga yang berteduh. Dua orang mengangguk kepadanya, sedangkan salah seorang menepukkan tangan pada lutut sebagai bentuk penghargaan.

Ia berusaha menyembunyikan kebanggaan dengan menunduk dan memeriksa pedang. Senyum di wajahnya tidak benar-benar hilang meskipun ia mencoba merapatkan bibir.

“Jangan terlalu puas, Aiden.”

Eddie memasuki lingkaran dan mengambil pedang dari tangannya. Ia menunjukkan bagian lengan serta paha Aiden yang mulai memerah akibat pukulan Josh.

“Kalau itu bilah sungguhan, kau menang dengan satu tangan rusak dan kaki yang hampir terpotong. Kemenangan seperti itu tidak akan membawamu pulang dalam keadaan utuh.”

Rasa bangga Aiden sedikit mengempis. Ia tetap mengangguk dan memaksa dirinya mengingat setiap pukulan yang berhasil melewati pertahanannya.

Eddie memanggil dua anak berikutnya. Aiden dan Josh keluar dari tengah lingkaran, lalu berdiri berdampingan sambil mengatur napas.

Aiden mengambil ketapel dari belakang celananya dan memeriksa benda tersebut sekali lagi. Josh melihatnya melakukan itu, lalu memutar mata.

“Sudah kubilang aku tidak merusaknya.”

“Kau menjatuhkannya.”

“Eddie yang membuatku menjatuhkannya.”

Aiden hendak membalas ketika suara seorang pria terdengar dari kejauhan. Suara itu datang dari arah pintu samping gedung dan cukup keras untuk mencapai lapangan.

“Kami menemukan alphanya!”

Pedang yang sedang beradu di tengah lingkaran langsung berhenti. Semua kepala menoleh hampir bersamaan, termasuk para penjaga yang sejak tadi berteduh.

Seorang pria muncul dari pintu samping dengan pakaian kotor dan wajah berkilat oleh keringat. Dua penjaga berjalan di belakangnya, tetapi sesuatu di luar sudut gedung menghalangi pandangan Aiden dari apa pun yang mereka bawa atau temukan.

Lingkaran latihan pecah tanpa menunggu perintah. Anak-anak berhamburan menuju sumber suara, saling mendahului agar menjadi orang pertama yang melihat alpha Dire Mole.

“Hei, kembali!”

Suara Eddie mengejar mereka. Tidak seorang pun langsung mematuhinya, dan Aiden sudah berlari bersama Josh sambil menggenggam ketapel erat di tangannya.

1
Pena Quality
nice, saling support
Annabelle
Lanjutkan 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!