NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:290
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33 : Dia sudah berniat melakukannya

Lucas terdiam. Alisnya mengernyit, jelas tak setuju.

“Tapi dia mabuk,” bantahnya. “Dia memilih minum. Itu bukan ketidaksadaran murni.”

Sudut bibir Blair terangkat tipis, bukan senyum... lebih seperti bayangan sinis.

“Dan karena itulah aku menunda sidang.”

Ia menoleh sebentar ke arah jendela panjang di lorong, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.

“Ada sesuatu yang tidak cocok. Korban di dua lokasi berbeda, satu saksi yang menghilang, dan seorang terdakwa yang mengaku tidak ingat bagaimana bisa berpindah tempat.”

Blair kembali menatap Lucas.

“Kalau aku memaksakan putusan sekarang, yang kuadili bukan kebenaran, melainkan asumsi.”

Lucas mengepalkan tangan.

“Dan kalau ternyata dia memang pelakunya?”

“Maka aku akan menjatuhkan vonis tanpa ragu,” jawab Blair dingin.

“Tapi kalau ada orang lain yang memanfaatkan kondisinya… aku tidak akan membiarkan pelaku sebenarnya berjalan bebas.”

Hening. Beberapa detik kemudian, Blair berbalik.

Langkahnya kembali terdengar menjauh, lebih pelan dari sebelumnya seolah pikirannya tertinggal di ruang sidang.

Lucas berdiri di tempat, menatap punggung Blair yang kian jauh.

Wajahnya tegang, antara frustrasi dan takut pada konsekuensi yang akan datang.

Lorong itu kembali sunyi, hanya ada gema sepatunya sendiri. Lucas sudah tertinggal di belakang, tak lagi mengejar.

Ekspresi Blair berubah perlahan.

Bayangan di wajahnya mengeras, seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai naik ke permukaan. Matanya menajam, dingin dan berbahaya. Bahunya menguat, punggungnya tegak sempurna. Dagunya terangkat sedikit, menciptakan aura otoritas yang kini bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap.

Ia berhenti di depan jendela panjang.

Pantulan dirinya menatap balik, wajah seorang hakim yang tampak tak tergoyahkan, namun di balik mata itu ada keyakinan yang menggeram pelan.

Bibir Blair bergerak, suaranya nyaris tak terdengar.

“Mabuk bukan alasan untuk membunuh…”

Ia menatap bayangannya sendiri, sorot matanya semakin dingin.

“Karena sejak awal… dia sudah berniat melakukannya.”

...

Di sisi lain gedung pengadilan, Theodore berjalan menjauh dari kerumunan. Langkahnya tenang, nyaris tanpa suara, seolah ia tahu ke mana harus pergi tanpa perlu menoleh.

Lorong di sisi barat gedung itu sepi.

Lampu dinding memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang di lantai. Theodore berhenti di sudut, menyandarkan punggung ke dinding yang dingin.

Tangannya masuk ke saku jas.

Ia mengeluarkan ponsel, menekan beberapa angka dengan gerakan singkat dan presisi, lalu mendekatkannya ke telinga.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi.

“Ada apa?” suara dari seberang terdengar akhirnya.

Itu suara Nathan terdengar waspada, seperti orang yang tak pernah benar-benar siap menerima kabar baik.

Theodore tak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, dingin, datar.

“Ada tindakan keji,” katanya akhirnya, suaranya tenang namun berat, “yang lolos dari pengawasan.”

Hening sejenak di ujung sana.

“Tindakan apa?” tanya Nathan, nadanya menegang.

Theodore menjawab singkat,

“Pembunuhan.”

Ia berhenti sejenak, seolah menimbang kata berikutnya. Lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah,

“Dan mungkin… akan ada pembunuhan lagi.”

Napas Nathan terdengar tertahan.

“Apa maksudmu? Akan ada pembunuhan lagi?”

Suaranya naik, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Theodore menarik napas pelan.

Dagunya terangkat sedikit, matanya mengarah ke jendela di ujung lorong, menatap dunia di luar sana yang tampak tenang, terlalu tenang.

“Ada seseorang,” katanya datar, “yang membiarkan seorang pembunuh lolos.”

Kecurigaan langsung merayap dalam suara Nathan.

“Siapa?”

Theodore diam.

Keheningan itu bukan ragu, melainkan penolakan. Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali bicara,

“Periksa lokasi yang kukirim. Lakukan sebelum malam tiba.”

Nathan terdengar gelisah.

“Kenapa harus sebelum malam?”

Rahang Theodore mengeras. Ia memijat pelipisnya dengan ibu jari, menahan kesal.

“Lakukan saja,” ucapnya dingin.

“Dan jangan banyak tanya.”

Sebelum Nathan sempat membalas, Theodore memutus panggilan.

Layar ponselnya menggelap. Ia menegakkan tubuh, memasukkan ponsel kembali ke dalam saku jas. Dua langkah ke depan, lalu ia berhenti lagi.

Tatapannya tertuju ke arah jendela di ujung lorong. Sorot matanya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyinggung kematian.

Bibirnya bergerak, gumamannya nyaris tak terdengar.

“Entah kau… atau siapa pun yang terlibat,” katanya pelan,

“aku akan mengungkap semuanya.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!