INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 19 Tuntutan Tanpa Ampun
🌸🌸🌸🌸
Pagi hari di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan disambut oleh rinai hujan gerimis yang membasahi pelataran beton. Suasana di dalam Ruang Sidang Utama terasa kian dingin dan mencekam. Hari ini adalah sidang pembacaan tuntutan resmi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU)—momen penentuan yang akan mengunci nasib Reno Pratama dan Sella Anindya.
Di bangku terdakwa, Reno duduk membungkuk dengan kepala terbenam. Lingkaran hitam di bawah matanya kian menghitam, pipinya tirus, dan kulitnya pucat pasi akibat tekanan mental di sel tahanan. Di sebelahnya, Sella terus menunduk rapat, meremas jemarinya yang dingin tanpa berani menoleh sedikit pun ke arah Reno.
Nadia duduk anggun di barisan depan ruang sidang, mengenakan setelan blazer berwarna biru gelap bergaris tegas. Di sampingnya, Pak Hendra dan Bimo mendampingi dengan tenang. Tidak ada riak kecemasan di wajah Nadia; yang ada hanyalah keteguhan seorang Ratu Bisnis yang siap menyaksikan hukum bekerja secara penuh.
TOK! TOK! TOK!
Hakim Ketua mengetukkan palu, membuka jalannya persidangan.
"Agenda sidang hari ini adalah pembacaan Surat Tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum. Kepada Saudara Jaksa, disilakan," tegas Hakim Ketua.
Jaksa Penuntut Umum berdiri tegap, membentangkan berkas tuntutan tebal bersampul kuning. Suaranya bergema nyaring, memenuhi seluruh sudut ruangan yang mendadak hening.
"Bahwa berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, keterang para saksi, surat bukti audit forensik, serta pengakuan para terdakwa, kami menyimpulkan bahwa Terdakwa I Reno Pratama dan Terdakwa II Sella Anindya telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Penggelapan dalam Jabatan secara Bersama-sama dan Berlanjut, sebagaimana diatur dalam Pasal 374 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP," paparnya dengan intonasi berat.
Jaksa Penuntut Umum melanjutkan pembacaan hal-hal yang memberatkan para terdakwa.
"Hal-hal yang memberatkan: Terdakwa I dan Terdakwa II telah menyalahgunakan kepercayaan perusahaan, merugikan keuangan PT Apex Media Nusantara dan PT Cakrawala Capital hingga mencapai sembilan ratus dua puluh dua juta rupiah, serta sama sekali tidak menunjukkan iktikad baik untuk mengembalikan kerugian negara maupun korban. Terdakwa I juga terbukti mencoba mengalihkan kesalahan serta mencederai nama baik saksi korban di depan publik."
Reno menelan ludah yang terasa bagai duri di tenggorokannya. Napasnya tersengal-sengal, sementara dadanya naik turun menahan kepanikan yang kian memuncak.
"Maka dari itu," ujar JPU menaikkan nada suaranya sebelum membacakan tuntutan akhir, "menuntut agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan:"
"Satu, menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa I Reno Pratama selama empat tahun dan delapan bulan penjara, dikurangi masa tahanan sementara."
"Dua, menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa II Sella Anindya selama tiga tahun dan enam bulan penjara."
"Tiga, menghukum Para Terdakwa untuk membayar ganti rugi secara tanggung renteng sebesar sembilan ratus dua puluh dua juta rupiah, atau jika tidak dibayar dalam waktu satu bulan, maka seluruh aset pribadi Para Terdakwa akan disita dan dilelang oleh Penuntut Umum."
DEGG.
Suara seruan tertahan memecah keheningan ruang sidang dari arah bangku penonton.
Ibu Risma yang duduk di barisan belakang bersama Maya langsung terkulai lemas seraya menangis histeris. "Empat tahun... Ya Tuhan! Reno...!" tangis Ibu Risma pecah hingga harus ditopang oleh Maya yang ikut menangis sesenggukan.
Di meja terdakwa, tubuh Reno bergetar hebat. Angka empat tahun delapan bulan serasa petir yang menyambar jiwanya hingga hancur berkeping-keping. Dunia dan cita-cita besarnya runtuh seketika. Masa mudanya, kariernya, dan kebebasannya harus ditukar di balik sel tahanan yang dingin.
Sella langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak-isak meratapi nasibnya yang terseret ke dalam jurang akibat kesenangannya menikmati uang penggelapan.
Hakim Ketua menatap kedua terdakwa dengan pandangan dingin dari atas mimbar. "Kepada Terdakwa dan Penasihat Hukum, Anda diberikan hak untuk mengajukan Nota Pembelaan atau Pelesiran pada persidangan minggu depan."
Pengacara Lukman berdiri, membungkuk pasrah. "Kami akan mengajukan pembelaan tertulis minggu depan, Yang Mulia."
TOK!
Hakim Ketua mengetuk palunya satu kali, menandai berahirnya sesi sidang tuntutan hari itu.
Saat majelis hakim meninggalkan ruangan, suasana ruang sidang menjadi riuh oleh jepretan kamera para wartawan. Dua petugas kepolisian segera maju membawa borgol besi, melingkarkannya kembali ke pergelangan tangan Reno dan Sella.
Ibu Risma dengan sisa tenaganya menerobos kerumunan wartawan, berlari menghampiri Reno yang sedang dituntun petugas.
"Reno! Anakku!" jerit Ibu Risma histeris seraya memeluk lengan putranya. "Pak Polisi, kasihan anak saya! Tolong jangan dibawa dulu! Reno nggak salah, Pak!"
"Ibu, harap tidak mengganggu tugas kami," tegur petugas tegas seraya menepis pegangan tangan Ibu Risma secara terukur.
Reno menatap ibunya dengan mata merah yang basah oleh air mata. "Ibu... maafin Reno, Bu..." bisik Reno parau, tak sanggup lagi menutup kemalangannya.
Ibu Risma yang panik dan kehilangan akal sehat mendadak berbalik. Pandangannya yang liar tertuju pada Nadia yang sedang berdiri merapikan dokumen di meja penasihat hukum.
Dengan langkah sempoyongan, Ibu Risma berlari mendekati Nadia dan langsung berlutut di atas lantai marmer dingin di hadapan mantan menantunya itu.
"Nadia! Ibu mohon sama kamu, Nak!" tangis Ibu Risma meraung-raung di lantai, memegangi ujung sepatu tumit tinggi Nadia. "Ibu berlutut di kaki kamu! Cabut tuntutan itu, Nadia! Kasihan Reno! Biar Ibu yang gantikan Reno di penjara, asal Reno bisa bebas!"
Maya ikut berlutut di samping ibunya, menangis tersedu-sedu. "Mbak Nadia... tolong Mbak... kasihan Mas Reno..."
Aksi berlutut Ibu Risma dan Maya di depan umum mendadak menjadi pusat perhatian seluruh wartawan di dalam ruang sidang. Lampu kilat kamera bertubi-tubi membidik pemandangan dramatis tersebut.
Nadia berdiri tegap, menunduk menatap wanita tua yang dulu selalu menindasnya, menyuruhnya seperti pembantu, dan menghina keluarganya. Namun di mata Nadia hari ini, tidak ada rasa dendam yang meluap, tidak pula ada rasa kasihan yang tersisa.
Nadia melangkah mundur satu tapak dengan amat halus, menarik jalurnya dari pegangan tangan Ibu Risma.
"Ibu, berdirilah. Jangan mempermalukan diri Ibu sendiri di depan umum," ujar Nadia dengan suara yang begitu tenang, jernih, dan tidak menggugah emosi sedikit pun.
"Nadia... kamu punya hati nurani kan, Nak?" ratap Ibu Risma seraya menengadah, matanya memohon ampun. "Dulu kamu sayang sama Ibu... Dulu kamu penurut..."
"Dulu saya menghormati Ibu karena saya mencintai Reno," potong Nadia pelan namun setiap katanya menusuk tajam ke ulu hati. "Tapi ketika cinta dan rasa hormat itu Ibu injak-injak demi uang dan kesombongan... tidak ada lagi alasan bagi saya untuk berdiri menopang hidup kalian."
Nadia menatap Reno yang berdiri kaku di bawah pengawalan polisi, lalu beralih menatap Ibu Risma dan Maya.
"Tuntutan empat tahun delapan bulan itu bukan dari saya, Bu," lanjut Nadia penuh keanggunan hukum. "Itu adalah tuntutan negara atas kejahatan penggelapan yang dilakukan Reno. Hukum hanya mengambil apa yang menjadi haknya."
Nadia menyunggingkan senyum tipis—senyuman penutup yang menandai kedaulatannya yang tak tertembus.
"Ibu dan Maya lebih baik pulang, rapikan barang-barang kalian dari rumah fasilitas Cakrawala Capital sebelum tim kurator datang besok pagi," bisik Nadia lembut, namun memberikan dampak kehancuran seketika.
Nadia membalikkan badannya, melangkah keluar dari ruang sidang diiringi oleh Pak Hendra dan Bimo.
Di belakangnya, ratapan histeris Ibu Risma yang pingsan di lantai sidang dan teriakan penyesalan Reno menggema memecah udara. Namun, langkah kaki Nadia tetap konstan, mantap, dan tak tergoyahkan.
Ratu telah memenangkan pertarungan hukumnya, dan kini takdir baru yang lebih besar di dunia korporasi internasional telah menunggunya di depan mata.
🌸🌸🌸🌸