Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.
Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.
Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’
Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKANAN YANG PECAH
Angin malam mengantarkan aroma kopi dan sate di angkringan pinggir jalan. Lampu temaram menggantung di atas gerobak. Kuswara duduk bersama teman-temannya menyeruput kopi pahit dan asap rokok yang mengepul pelan.
Temannya, seorang tukang parkir yang biasanya bekerja di depan rumah sakit, berhenti di depan meja, menepuk pundak Kuswara. "Lo, kok kamu malah di sini?" tanyanya heran.
Kuswara menoleh sambil mengernyit, tapi wajahnya langsung mengeras. "Memangnya kenapa? Apa juga urusanmu? Aku bebas mau di mana saja!"
Sang teman mengangkat alis, terkejut dengan respon tak ramah itu. "Ditanya baik-baik kok jawabnya malah ketus," gerutunya.
"Memangnya cuma kamu yang boleh nongkrong disini?" balas Kuswara sinis.
"Ya pantas saja kamu tidak dianggap keluarga. Mulutmu setajam lesung!" balas si tukang parkir lalu menoleh menatap si pemilik angkringan. "Pakde, kopi satu tanpa gula ya!" lanjutnya memesan kopi.
Kuswara menghentakkan gelasnya ke meja. "Berani kamu? Ngajak ribut?!"
"Enggak. Malas ribut." Temannya mengangkat kedua tangan, dengan santai ia mengambil lalu menggigit gorengan. "Aku cuma mau kasih tahu baik-baik. Kenapa kamu tidak di rumah sakit? Padahal Bapakmu sakit. Terus... kakakmu juga dilamar orang disana. Tadi...."
Kopi di mulut Kuswara hampir menyembur karena terkejut. "Apa? Dilamar? Maksudmu apa?" tanyanya menurunkan nada bicara.
"Mbakyumu dilamar Randu. Masa kamu tidak tahu?"
"Randu? Randu yang mana?"
"Randu yang baru pulang dari Jepang itu."
Teman di sebelahnya ikut menimpali sambil tertawa kecil. "Wah, beruntung sekali kalian, Kus. Punya calon ipar orang sukses di Jepang."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Kuswara berdiri. Ia melempar selembar uang lima puluh ribuan ke atas meja. "Itu untuk bayar kopi! Kembalinya buat kalian saja!"
Kuswara berlari. Menembus keramaian pejalan yang entahbkenapa malam itu terasa lebih padat, lalu menyeberang jalan, sampai ke lobi rumah sakit. Di kepalanya hanya ada satu pemikiran, 'Akhirnya si pembawa sial itu akan laku. Kali ini tidak boleh gagal lagi!'
.............
Pintu bangsal belum tertutup rapat. Dari celahnya, Kuswara mendengar suara yang ia kenal betul.
"Berikan saya waktu untuk berpikir dan menimbang..."
Darah Kuswara langsung naik. Ia mendorong pintu bangsal itu tanpa mengetuk.
Di dalam, suasana masih tegang. Pak RT, Bu RT, dan beberapa warga berdiri melingkar. Di samping brankar, Randu berdiri tegak dengan kemeja rapi. Dan di tengahnya, Sutami menunduk, kedua tangannya meremas tali tas selempangnya.
"Oh," kata Kuswara lantang, memecah keheningan. "Jadi perawan tua pembawa sial sekarang mulai sok jual mahal?"
"Cukup, Kus!" Mak Mia maju selangkah. Suaranya bergetar menahan marah dan malu. "Jangan terus memojokkan mbakyumu!"
Kuswara mengabaikan amarah ibunya. Ia berjalan melewati warga, lalu merangkul bahu Randu dengan gaya sok akrab. Logat bicaranya pun dipaksa gaul, tapi tetap terdengar medok. "Bro, gue restuin lu nikahin kakak gue. Nggak usah dengerin omongan mereka. Besok pagi gue siapkan rumah dan penghulu. Lu tinggal datang aja sama orang tua dan saksi."
"Kuswara! Kamu keterlaluan!" bentak Pak RT.
"Jangan bertindak sesukamu, Kuswara! Jangan mendahului keputusan kakakmu!" suara Pak Sukimin meledak dari brankar. Tubuhnya lemah, tapi wibawanya masih ada.
Randu mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar semua tenang. Wajahnya pun tetap tenang. "Maaf jika kedatangan saya menimbulkan kegaduhan," ucapnya oelan. "Begini, Dik Tami. Cuti saya hanya tersisa tiga hari terhitung hari ini. Saya sungguh berharap Dik Tami menerima pinangan saya. Setelah itu kita langsung berangkat ke Jepang."
"Nah, dengar itu!" potong Kuswara menoleh ke Sutami, matanya berbinar penuh perhitungan. "Masa depanmu cerah, Mbak! Tidak perlu lagi repot mengajar TK, langsung jadi istri orang sukses. Dan yang paling penting, aura sial di rumah akan hilang."
Sutami menarik napas panjang, menahan gejolak amarah dan rasa malu yang bergemuruh. "Kuswara... Mbak bukan tidak laku. Tapi menikah bukan hal yang bisa diputuskan terburu-buru. Besok pagi? Mbak belum siap."
Wajah Kuswara seketika menggelap. Ia mengangguk-angguk, menahan tawa sinis.
"Oh, begitu. Baiklah. Jika itu maumu... terserah. Tapi terpaksa rumah itu akan aku jual, sekarang juga!"
Kuswara berbalik dan melangkah cepat keluar ruangan.
Sutami terkejut, refleks ia berlari mengejar. "Hentikan, Kuswara! Jangan jual rumah itu!"
Di ambang pintu, Kuswara berhenti lalu menoleh.
"Jika kau ingin rumah itu selamat, maka nikahi pria itu tadi. Aku sudah muak melihatmu di rumah itu!"
Langkah Sutami terhenti di ambang pintu. Ucapan Kuswara itu terdengar begitu menyakitkan. sementara hening di belakangnya, disertai tatapan orang-orang yang tidak tahu harus berpihak ke mana.
Namun kemudian dari dalam bangsal terdengar suara keras, "Bapak!" teriak Mak Mia.
Jantung Sutami serasa mau copot, ia berbalik cepat.
Pak Sukimin yang tadi masih duduk di brankar dengan wajah merah padam karena marah, kini tubuhnya melemas. Matanya terpejam dan napasnya tersengal-sengal hingga membuat selang infus di tangannya tertarik.
Suasana seketika kacau. Pak RT dan warga berdesakan. Randu sigap menekan tombol untuk memenghil perawat. Mak Mia menjerit kecil, lalu buru-buru menggenggam tangan suaminya.
"Sadar, Pak. Bangun!" Suara Mak Mia bergetar.
Sutami berlari menghampiri dengan lutut yang lemas. Ia mencengkeram sisi brankar. "Bapak... Bapak..."
Alat monitor berbunyi nyaring. Garisnya naik-turun tidak beraturan. Dua orang perawat datang diikuti seorang dokter. "Harap tenang, biar kami periksa dulu, ya."
.................
Dua puluh menit terasa sangat lama, hingga Dokter akhirnya keluar dengan masker masih menggantung di leher.
"Berkat doa kalian, kondisi Pak Sukimin sudah stabil. Tekanan darahnya sudah mulai turun. Tapi bapak butuh istirahat total. Jangan ada keributan lagi. Stres sedikit saja dapat memicu serangan berikutnya."
Mak Mia mengangguk sambil terisak. Pak RT dan warga menghela napas lega. Dari dalam terdengar suara mesin monitor yang berdetak teratur. Pak Sukimin sudah terlelap, wajahnya pucat di bawah selimut putih.
"Dik Tami." Suara Randu memecah keheningan.
Sutami menoleh pelan, ekspresi wajahnya pun datar, tanpa ada niat bersuara.
"Ayahmu akan membaik dengan kabar baik," ucap Randu tanpa tekanan, tapi seolah menyembunyikan maksud lain.
Sutami mengerutkan dahi, masih tak mengerti, tapi malas bertanya balik.
"Menikahlah denganku besok." Pelan, ucapan Randu, tapi cukup membuat semua orang menoleh dengan tatapan heran, penuh selidik dan penuh tanya.
Napas Sutami tercekat, di kepalanya masih berputar rasa khawatirnya akan Kuswara yang bisa saja bertindak nekat.
Tapi Randu seolah tak peduli. "Dengan begitu kau bisa menyelamatkan semua orang," lanjut Randu. Nadanya datar, tetapi mendesak. "Rumah orang tuamu. Juga kesehatan ayahmu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Mak Mia menutup mulutnya dengan tangan, menatap Sutami, lalu menatap Randu. Ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Sutami mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh dinding lorong yang dingin. "Besok?" suaranya nyaris berbisik. "Mas... itu terlalu cepat."
"Aku tahu," jawab Randu sambil mengangguk. "Tetapi kita tidak punya waktu. Cuti saya tinggal tiga hari, dan ancaman saudaramu nyata. Kau mendengarnya sendiri." Ia maju selangkah, tidak menyentuh Sutami, hanya menatapnya lurus. "Aku tidak memintamu karena kasihan. Aku memintamu karena aku serius."
Dari dalam bangsal, Pak Sukimin mengerang pelan dalam tidurnya.
Sutami memejamkan mata. Dadanya sesak.
Di satu sisi ada Randu dengan jalan keluar yang jelas. Di sisi lain ada dirinya, yang selalu percaya bahwa pernikahan bukan transaksi.
Belum sempat ia menjawab, suara-suara lain menyusul dari belakang. Beberapa warga yang belum pulang masih berdiri di bangku tunggu.
Bu RT maju paling depan. "Sudahlah, Mbak Tami. Terima saja. Umurmu juga sudah lebih dari cukup. Mas Randu juga sudah ingin segera berumah tangga. Lagipula, biar tidak dituduh terus sebagai perawan tua. Tidak enak, kan?"
"Betul," timpal Pak RT pelan. "Ini demi Bapakmu juga, Nak. Demi rumah itu. Jangan keras kepala."
"Rumah warisan jangan sampai lepas, Mbak," kata salah seorang tetangga. "Kesempatan seperti Mas Randu tidak datang dua kali."
Desakan itu datang bertubi-tubi. Bukan marah. Bukan memaksa dengan kasar. Tetapi seperti tali yang perlahan mengikat semua kebebasannya.
Sutami menunduk, mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Pertimbangan beratbitu terus berputar di kepalanya. menghimpit dan sangat menyesakkan.
Dalam semua tekanan itu, Sutami akhirnya mengangguk pelan disertai hembusan napas yang panjang tapi bergetar. "Baiklah...." ucapnya dengan kedua tangan semakin erat terkepal, menahan sesak dan air mata agar tak jatuh.
Suara itu kecil, tapi cukup membuat semua orang terdiam. Antara lega dan berterimakasih. Mak Mia menghambur, memeluk putrinya dengan isak yang tak mampu ia tutupi.
...****************...
Bersambung
bojoku biyen Yo mergae ngono, Kus, Kus...
rasain tuh 😏