NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Bianca Kusuma

Aku tiba di markas untuk bicara dengan Satria, siap mengatakan semua yang perlu kukatakan dan menanggung akibatnya. Tapi aku dihadang kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan.

Begitu kakiku masuk ruang tunggu di depan ruangan Satria, dari jauh aku sudah melihat Sigit Samudra, calon suamiku yang terkutuk, kakek-kakek jelek dan aneh yang bau wiski mahal dan cerutu. Tipe pria yang sering kamu lihat di film, dikelilingi perempuan bayaran dan mengira uang adalah segalanya dalam hidup.

Aku ingin mundur, ingin lari, tapi Satria sudah melihatku. Sebelum aku sempat melangkah, dia memanggilku.

"Bagus kamu datang, Adikku. Sigit datang untuk bicara denganmu, membereskan detail pernikahan." Dari wajah Satria kulihat betapa dia tidak menginginkannya. Tapi kesepakatan ini ada sebelum dia jadi Don, dan itu kesepakatan bernilai miliaran, secara harfiah. Jadi biarpun dia berkuasa, membatalkannya bisa sangat berisiko. Karena itu dia berusaha tetap netral dalam urusan ini.

Aku menatap Sigit tanpa berkata apa-apa. Dia lalu mendekat dan hendak mencium pipiku. Tapi sebelum bibirnya sempat menyentuh pipiku, aku sudah ditarik ke belakang.

"Kurasa ciuman dan sentuhan nggak boleh ada sebelum pernikahan." Rendra berdiri di depanku, sorot matanya gelap, dan Sigit menatapnya penuh kebencian. Kukira perang akan pecah detik itu juga.

"Sigit, gimana kalau kita bicara di ruanganku, dengan tenang. Beri Bianca waktu, dan Rendra juga. Kamu tahu sendiri, buat kami, kakak-kakaknya, berat melihat adik kami menikah." Satria mencoba meredakan situasi, dan Sigit ikut dia masuk ke ruangan. Tapi sebelum pintu ditutup, kulihat tatapan kakakku pada Rendra. Aku jadi yakin urusan ini belum selesai dan dia pasti ingin bicara soal tindakan si gila itu.

Kutarik lengan Rendra dan kuseret dia ke ruangannya, tak peduli ada yang melihat. Kami dianggap saudara, dan kalaupun bukan, tidak ada yang cukup nyali di sini untuk mempertanyakan apa pun padaku, apalagi mempertanyakan aku dan Rendra bersama-sama.

"Lo ngapain sih, sialan?" tanyaku sambil menutup pintu ruangannya.

"Udah gue bilang, cowok itu nggak boleh nyentuh milik gue."

"Rendra, gue bakal ngomong sama Satria, gue bakal cari jalan keluar, tapi dia nggak akan pernah tahu siapa yang tidur sama gue. Lo nggak usah ikut campur. Gue udah bilang bakal tanggung jawab atas perbuatan gue, dan itu yang bakal gue lakuin."

"Lo kira gue bakal ngumpet di belakang lo kayak cacing? Kalau harus membuka semuanya ke semua orang demi lo, ya udah, tapi kita jatuh bareng. Atau kalau gue bisa, gue jatuh sendirian."

"Sial, Rendra, kenapa sih lo harus bikin semuanya makin susah?"

"Gue pengin lo bertahun-tahun, gue telan semuanya diam-diam. Tapi sekarang, setelah kita udah kelewat batas dan nggak bisa mundur, lo beneran kira gue bakal biarin lo hancur sendirian?"

Aku mondar-mandir mencoba berpikir, tidak tahu harus berbuat apa menghadapi semua yang terjadi.

"Gue mulai mikir, mungkin nggak seharusnya gue nyerahin diri ke lo."

"Lo nyesel, Manis?" Dia mendekat pelan-pelan.

"Gue bakal ngelakuin itu lagi berkali-kali, karena perbuatannya nggak ada hubungannya sama omongan gue. Gue nyesel karena tindakan lo. Gue kira lo bisa nanganin ini lebih baik."

"Bi, lo mau gue diam aja ngelihat cowok itu nyentuh lo, ngelihat lo ngaku ke kakak lo kalau lo udah nggak perawan, ngelihat Dewan sialan itu menghakimi lo sebagai pengkhianat, dan gue diam aja, nggak ngomong sepatah kata pun? Sialan, lo bisa dibunuh, tahu nggak?"

"Ya jelas gue tahu, tapi itu risiko yang gue pilih dan gue terima."

"Gue nggak. Lagian gue nggak bisa berhenti mikirin lo." Dia melilitkan seuntai rambutku di jarinya, dan dengan ibu jari mengusap pipiku, membuatku menatapnya. Aku meleleh total dan semua pertahananku runtuh. Cowok sialan, seksi banget.

Cuma dengan menatapku begitu, dia sudah membuatku luluh, tapi dia bisa memperburuk semuanya dengan elusan itu.

"Gue bisa ajak lo kabur, tapi nggak akan ada gunanya. Kita bakal ditemukan dan disiksa karena pengkhianatan, dan jabatan Satria juga terancam, karena kita berdua orang yang paling dia percaya."

"Gue benci nggak bisa mengendalikan keadaan. Gue tahu bakal begini, gue tahu gue bakal dihakimi, dan bisa aja disiksa lalu dibunuh. Tapi gue nggak pernah mau nyeret lo ikut."

"Bi, lo beneran kira, walau sedetik, gue bakal biarin lo nanggung ini sendirian? Sial, gue cinta sama lo, cewek."

Mendengar dia bilang cinta padaku itu seperti mimpi, tapi sekaligus mimpi buruk. Aku tidak mengira urusannya bakal sejauh ini, dan aku benci tidak bisa mengendalikan keadaan. Aku tidak pernah mengira kami akan punya hubungan atau bersama. Aku cuma ingin mengendalikan bagaimana malam pertamaku nanti.

Aku sempat berpikir membius suamiku di malam pengantin lalu pura-pura dia yang mengambil keperawananku. Tapi setelah itu bagaimana? Aku akan tetap menikah dengan orang gila, tanpa jalan keluar. Dan mengenal Rendra, dia pasti ikut campur, dan semuanya jadi lebih buruk.

Kenyataannya, kukira semuanya akan berjalan satu cara, tapi tidak ada yang seperti kubayangkan. Satria akan celaka karena ini, dan Rendra akan merusak semuanya.

Aku baru mau bicara ketika kakakku masuk ruangan dengan wajah murka.

Kepala Rendra menempel di kepalaku, dia sedang menghirup rambutku dan mengusap pipiku. Begitu melihat Satria dia melompat menjauh, tapi sudah terlambat. Satria melihat, lalu mematung menatap kami.

"Sial..." Satria masih mematung. "Jadi begitu, kan? Kalian berdua bersama. Makanya tadi ada drama biar Sigit nggak nyentuh dia. Sial, Rendra, lo itu saudara kita, bangsat."

Sampai di titik ini sudah tidak ada tempat untuk lari. Sekali lagi, semuanya meleset dari yang diharapkan, sialan.

"Gue saudara LO, Sat. Kalau Bianca..."

Satria mondar-mandir, benar-benar bingung, kedua tangannya menyisir rambut dengan frustrasi.

"Sampai sejauh mana kalian?"

"Maksudnya?" Aku sebenarnya paham, tapi pura-pura tidak, karena aku tidak mau menjawabnya, tidak dengan cara begini. Aku memang akan memberitahu, tapi tidak mengira akan di situasi seperti ini.

"Jangan pura-pura bego, itu nggak cocok sama lo, Bianca."

"Kami udah tidur bareng, tapi Sat..."

Rendra belum selesai bicara ketika sebuah pukulan telak menghantam wajahnya. Saat itu juga aku menerjang kakakku, tapi dihentikan Rendra, yang meski wajahnya lebam kena pukulan dan alisnya berdarah, tetap menahanku supaya tidak menyerang kakakku.

"Santai, Bi, gue nggak apa-apa. Satria cuma lagi emosi."

"Emosi? Sialan, emosi itu bahkan belum seberapa. Brengsek, kok bisa-bisanya kalian berdua, bangsat. Bianca, gue selalu kasih lo kebebasan penuh, gue selalu jaga lo dan berusaha supaya lo bebas. Tapi lo malah begini ke gue? Sialan, lo sadar nggak apa yang bakal gue hadapi buat membatalkan pernikahan ini?"

"Gue cinta dia, Kak. Dari dulu selalu dia. Sejak gue mulai tertarik sama cowok, selalu dia."

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!