NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian 3 : teras yang selalu ramai

Malam mulai merayap turun secara perlahan di Kota Yogyakarta.

Lampu-lampu jalan berkerlap-kerlip sepanjang gang kompleks, membiaskan cahaya kekuningan ke atas jalan paving blok yang sejak sore riuh oleh gelak tawa anak-anak kecil. Kini, suasana meredup tenang. Hanya tersisa derik jangkrik di antara semak-semak, sesekali diselingi obrolan santai bapak-bapak yang menikmati ronda malam di ujung gang.

Di teras rumah keluarga Fernansyah...

Dua remaja duduk berdampingan di atas tikar pandan yang agak kusam. Di hadapan mereka, sebuah meja lipat kayu mungil dijejali buku tebal Matematika IPA, Fisika, Biologi, lembaran kertas coretan yang berantakan, kalkulator, serta dua gelas teh hangat yang mulai mendingin karena tak tersentuh sama sekali.

Arga sibuk memutar-mutar pensil 2B di sela jemarinya dengan lihai, sementara Nadira tampak serius menunduk, menggoreskan rumus-rumus rumit ke dalam buku catatannya. Sesekali dahi gadis itu berkerut dalam, menatapi soal yang rasanya tak masuk akal.

"Ga," panggil Nadira tanpa menoleh.

"Hm?"

"Nomor tujuh ini gimana, sih? Rumus integral tertentunya kok nggak nemu hasilnya?"

Arga melirik sekilas ke arah kertas kerja Nadira.

"Yang integral turunan itu?"

"Iya. Hasil gue minus terus dari tadi."

Arga tertawa kecil. "Duh, gampang banget ini mah."

"Gampang dari mananya? Coba kerjain kalau bisa!"

"Sini." Arga menarik buku catatan Nadira mendekat. Jemari panjangnya mulai menggoreskan beberapa langkah penyelesaian yang ringkas namun presisi di tepi kertas.

Nadira memperhatikan gerakan tangan Arga dengan saksama. Alur berpikirkannya selalu ajaib-cepat dan praktis.

Beberapa detik kemudian...

"OHHH!" Nadira menepuk jidatnya sendiri. "Tinggal disubstitusi ke p dulu dari awal?!

"Kan," kekeh Arga jumawa. "Kirain susah.

"Ya lagian rumit banget muter-muturnya!"

"Soalnya otak lu kebanyakan mikir beban hidup," ledek Arga santai.

PLAK!

Nadira menyabet lengan Arga menggunakan penghapus karet berwarna putih. "Setan. Nyebelin banget!"

Arga hanya tertawa lepas, mengusap lengannya yang sama sekali tidak sakit.

Sudah jadi rahasia umum di kompleks mereka. Kalau ada tugas kelompok atau jadwal belajar bersama, entah kenapa tempat akhirnya selalu di rumah Arga-atau di rumah Nadira. Pindah-pindah begitu saja tanpa rencana.

Lagipula, rumah mereka berdampingan persis. Kalau bosan di rumah Nadira, tinggal lompat pagar ke rumah Arga. Kalau buntu di rumah Arga, tinggal geser beberapa langkah ke rumah Nadira. Kedua orang tua mereka bahkan sudah paham betul luar-dalam. Kalau salah satu anak hilang dari rumah jam berapa pun, cari saja di rumah sebelah.

"Eh, ini besok dikumpulin jam pertama, kan?" tanya Nadira memastikan seraya merapikan letak kacamatanya.

"Iya, Pak Rudi kan galak. Untung kita ngerjain sekarang."

"Kalau nggak, besok pagi pasti lu yang kelabangan nyontek di kelas."

"Dih, kok gue? Kita, kali!"

Baru saja Nadira hendak melayangkan pukulan kedua, terdengar engsel pintu rumah Arga berderit.

Ceklek.

Seorang pria berusia awal empat puluh tahunan melangkah keluar sambil memegang secangkir kopi hitam panas yang berasap tipis. Wajahnya teduh, dengan senyum hangat khas bapak-bapak Jawa yang selalu berhasil menyebarkan rasa nyaman.

Pak Surya Fernansyah. Ayah Arga

Begitu mendapati dua anak remaja itu masih ngelesot di atas tikar teras, alisnya terangkat sedikit. "Lho..."

Arga dan Nadira spontan menoleh bersamaan.

Pak Surya tersenyum lebar, matanya menyipit ramah. "Ealah... ada Dira toh."

Nadira seketika langsung menegakkan punggung dan berdiri sopan. "Iya, Om. Malam, Om."

"Lho, kok malah di luar, Nak? Nggak masuk aja?" tanya Pak Surya penuh perhatian.

Nadira tersenyum canggung. "Tadi mumpung anginnya enak di luar, Om. Sekalian ngerjain tugas sekolah."

Pak Surya kemudian menatap putranya tajam,

namun berbalut nada bercanda. "Arga."

"Iya, Yah?"

"Kamu ini gimana, toh? Punya tamu kok diajak di luar begini? Nggak kamu suruh masuk?"

Arga menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Hehe... di luar adem, Yah. Enak."

Pak Surya menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan. "Adem gimana, wong udah jam delapan malam lewat. Nanti diculik angin malam, malah masuk angin Dira-nya."

Arga cuma menyengir tanpa dosa.

Pak Surya kembali beralih menatap Nadira dengan tatapan kebapakan yang hangat. "Ayo masuk, Dira. Nggak usah sungkan-sungkan kayak sama siapa aja. Kerjain tugasnya di dalam ruangan, lampunya lebih terang. Sekalian nanti cerita-cerita sama Om."

Nadira tersenyum kikuk, mengusap tengkuknya. Sejujurnya, ia sudah sangat akrab dengan keluarga Fernansyah. Sejak masih balita, ia sudah terbiasa bolak-balik keluar-masuk rumah ini tanpa permisi dan tak pernah dimarahi. Namun, rasa tahu diri sebagai seorang gadis membuatnya tetap merasa segan.

Matanya secara refleks beralih menatap Arga, seolah meminta dorongan.

Arga yang peka langsung mengangguk pelan. Keningnya terangkat sedikit, seolah memberikan isyarat terselubung 'Masuk aja, elah. Santai kayak biasanya.'

Nadira akhirnya mengangguk lega. "Kalau gitu... izin ngerjain di dalam ya, Om."

"Lho, pakai izin segala," Pak Surya tertawa renyah. "Rumah ini mah udah kayak rumah sendiri buat kamu dari dulu, Dira."

Kalimat sederhana itu merambat masuk ke dalam dada Nadira, menghangatkannya. Ia sudah ratusan kali mendengar Pak Surya atau Bu Rani mengucapkan hal itu, tapi rasanya tidak pernah berubah. Selalu menghadirkan rasa aman dan keterikatan yang pekat.

Pak Surya mendorong pintu depan lebih lebar. "Ayo, masuk."

Mereka berdua merapikan buku-buku lalu melangkah masuk ke ruang keluarga. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun sangat berkarakter dan tertata rapi. Di sudut ruangan, berdiri rak kayu jati berisi barisan novel, majalah arsitektur tua, dan beberapa piala kejuaraan basket Arga semasa SMP.

Di dinding kremnya, terpajang puluhan bingkai foto keluarga dalam berbagai ukuran. Foto Arga balita yang pipinya masih tembem, foto liburan ke Parangtritis, foto ulang tahun, hingga... sebuah foto unik yang selalu menarik perhatian.

Di foto itu, Arga kecil tampak menangis sesenggukan dengan seluruh permukaan wajah yang dicoret-coret garis hitam asal-asalan.

Melihat bingkai itu lagi, tawa Nadira refleks pecah. "Om..."

Pak Surya yang hendak menuju meja makan menoleh. "Iya, Dira?"

"Itu Arga waktu kecil kenapa mukanya penuh coretan spidol gitu, Om?"

Pak Surya langsung terkekeh geli mengingat momen itu. "Oalah, itu! Itu ulah dia sendiri, Dira."

"Yah! Astaga... dijaga dong aurat masa kecil Arga," protes Arga panik, wajahnya mendadak merona merah. "Malu-maluin banget didepan Dira!"

"Lah, memang kenyataan!" balas Pak Surya santai. "Waktu umur lima tahun, habis nonton film kartun, dia bilang sama Ayah pengen jadi harimau Sumatra."

Nadira menahan tawanya setengah mati, memegangi perutnya. "Terus, Om?"

"Terus dia ngambil spidol permanen hitam milik Ayah, dibalurin ke seluruh mukanya sendiri buat bikin kumis dan loreng-loreng harimau!"

Kini, pertahanan Nadira jebol sepenuhnya. Tawa nyaringnya memenuhi ruang keluarga. "BHAHAHA! Seriusan, Om?!"

Pak Surya mengangguk mantap. "Serius! Ibumu sampai nangis-nangis nggosok mukanya pakai minyak kayu putih berturut-turut seminggu biar hilang!"

Arga menutup seluruh wajahnya menggunakan bantal sofa abu-abu, mengaduh pasrah. "Yah... udah, Yah... cukup. Malu banget, sumpah."

Pak Surya justru makin puas tertawa. "Makanya, kecilnya bertingkah aneh-aneh. Biar Dira tahu kelakuan asli kamu!"

Nadira masih tertawa mengikik, melirik Arga yang masih bergulingan menyembunyikan wajahnya di balik bantal. "Duh... kirain dari kecil udah sok keren kayak sekarang. Lah ternyata..."

"Ternyata apa?!" sahut Arga dari balik bantal, suaranya terendam.

"...ternyata harimau dipakein spidol!"

"DIRA! Awas kamu ya!"

Ruang keluarga itu makin pecah oleh gelak tawa. Tak berapa lama kemudian, dari arah dapur terdengar aroma gurih yang menguar manis, disusul suara derap langkah kaki.

Bu Rani-ibu Arga-muncul membawa nampan berisi sepiring pisang goreng kipas yang masih kebul-kebul dan semangkuk singkong rebus tabur kelapa.

"Wah, ada Dira rupanya! Pantesan ramai banget," sapa Bu Rani hangat.

"Iya, Tante," balas Nadira, langsung menyalami tangan Bu Rani dengan takzim.

"Pas banget, Nak. Ini Tante baru aja ngangkat pisang goreng sama singkong. Yuk, dimakan dulu selagi hangat." Beliau meletakkan nampan itu di meja kaca.

"Aduh, jadi ngerepotin, Tante..."

"Ngerepotin apa toh, Dira ini," potong Bu Rani cepat sambil mengibaskan tangan. "Nggak usah nolak. Tante tahu kamu kalau udah belajar suka lupa makan."

Nadira hanya bisa tersenyum malu-malu. "Makasih banyak ya, Tante."

Bu Rani mengusap lembut puncak kepala Nadira yang tertutup rambut terurai halus. "Iya, Sayang. Kamu sama Arga ini jangan belajar terus-terusan, toh. Otak juga butuh dimanja."

Pak Surya yang kembali membawa cangkir kopinya mengangguk setuju dari sofa sebelah. "Betul kata Ibu. Lagian kelas dua belas memang berat, tapi jangan sampai stres cuma gara-gara ngejar nilai. Kesehatan fisik sama hati itu yang nomor satu."

Arga akhirnya menurunkan bantal dari wajahnya, lalu saling berpandangan dengan Nadira. Ada kehangatan membuncah di dalam dada mereka masing-masing.

"Iya, Yah," sahut Arga pelan.

"Iya, Om, Tante," timpal Nadira tulus.

Malam itu, di dalam ruang keluarga Fernansyah yang sederhana, aroma pisang goreng hangat, denting cangkir kopi, dan tawa yang renyah menyatu sempurna-menciptakan kenangan sederhana tentang masa remaja yang kelak akan sangat mereka rindukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!