WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Milikku Selamanya!
Jantung Cecilia terasa hampir copot dari tempatnya. Napasnya tercekat di tenggorokan saat melihat sosok pria berpostur tinggi menjulang berdiri tepat di hadapannya. Perbedaan tinggi badan di antara mereka begitu kontras, Douglas berdiri dengan tinggi sekitar 190 sentimeter lebih, mendominasi penuh ruangan sempit itu, sementara Cecilia hanya memiliki tinggi badan 160 sentimeter, membuat gadis itu tampak begitu kecil dan rapuh di hadapan sang CEO.
Panik yang teramat sangat langsung merajai diri Cecilia. Tanpa sadar, ia melangkah mundur secara perlahan, berusaha menciptakan jarak aman.
Namun, gerakan itu justru memicu amarah Douglas semakin menjadi-jadi.
Slam!
Sebelum Cecilia sempat bergeser lebih jauh, tangan kekar Douglas bergerak secepat kilat. Pria berdarah dingin itu langsung menjambak kuat rambut panjang Cecilia, menariknya ke belakang tanpa ampun dan memaksa wajah pucat wanita itu mendongak mendekat ke arahnya.
"Mau lari ke mana lagi, hah?!" desis Douglas dengan suara berat yang terdengar seperti geraman iblis dari neraka.
Sepasang netra biru milik Douglas menatap tajam ke seluruh inchi wajah Cecilia. Alih-alih melihat wanita itu kurus kering, menderita, atau menangis histeris seperti yang dibayangkannya selama dua minggu terakhir, Douglas justru mendapati kulit Cecilia tampak bersih, pipinya sedikit lebih berisi, dan sorot matanya meskipun kini dipenuhi ketakutan memancarkan aura seorang wanita yang hidupnya tengah berjalan dengan damai.
Melihat kenyataan itu, urat di pelipis Douglas menegang hebat.
"Sialan!" umpat Douglas penuh kebencian.
"Aku berharap kamu menderita, hidup dalam ketakutan, dan merangkak memohon-mohon padaku! Tapi apa ini? Kamu malah menikmati hidupmu tanpa aku, brengsek?!"
"A-akh...! Lepaskan aku, Douglas! Sakit...!" rintih Cecilia kesakitan, air mata spontan menggenang di pelupuk matanya akibat tarikan di kulit kepalanya yang terasa nyaris terlepas.
"DIAM!" bentak Douglas kian mengeraskan cengkeramannya pada helaian rambut Cecilia.
"Berani sekali wanita murahan sepertimu mengabaikanku?! Sudah kubilang, hanya aku yang berhak menentukan kapan hubungan ini berakhir! Kalau aku belum bosan, kamu tidak punya hak untuk pergi!"
"Sakit, bodoh! Lepasin rambutku!" rontok Cecilia, mulai tersulut rasa kesalnya di tengah ketakutan yang mencekam. Sifat aslinya yang anti pelakor dan keras kepala mendadak melawan rasa sakit di kepalanya.
"Lepas!"
"Berani kamu memakiku, hah?" maki Douglas murka.
"Wanita jalang tidak tahu diri! Wanita murahan sepertimu memang pantas diperlakukan kasar!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Cecilia. Suara hantaman telapak tangan itu menggema nyaring di dalam kamar sempit tersebut, membuat kepala Cecilia terpelanting ke samping. Rasa perih yang teramat sangat langsung membakar kulit pipinya, menyisakan jejak kemerahan dan rasa kebas yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan tubuhnya.
Cecilia tumbang, tidak berdaya. Kakinya lemas seketika, membuatnya hampir tersungkur ke lantai jika saja cengkeraman tangan Douglas di rambutnya tidak menahannya tetap berdiri.
Melihat Cecilia yang melemah, Douglas sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Pria itu justru semakin kesetanan. Dengan gerakan kasar, Douglas merengkuh tengkuk Cecilia, lalu melumat bibir mungil wanita itu secara brutal dan tanpa perasaan. Tidak ada kelembutan, yang ada hanyalah ciuman penuh amarah, dominasi, dan hasrat destruktif untuk menghancurkan perlawanan Cecilia.
"Mmmh... mpph!" Cecilia meronta hebat, memukul-mukul dada bidang Douglas dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Rasanya begitu menyiksa, bibirnya terasa pecah dan amis darah akibat gigitan kasar gigi Douglas.
Douglas menikmati setiap penderitaan, isakan, dan permohonan yang keluar dari tenggorokan Cecilia. Setiap kali wanita itu mencoba bergerak menghindar, Douglas langsung menahan pinggang rampingnya dengan kuat, memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi Cecilia untuk melarikan diri.
Bruk!
Tanpa ampun, Douglas mendorong tubuh kecil Cecilia ke atas ranjang tidur tunggalnya yang berukuran sempit. Cecilia terbaring dengan napas memburu dan dada naik turun.
Sebelum Cecilia sempat merangkak mundur, Douglas sudah melemparkan jas kerjanya sembarangan ke lantai, lalu dengan tangan gemetar penuh amarah mulai merobek atau membuka kancing kemejanya secara serampangan, memperlihatkan dada bidangnya yang naik turun menahan nafsu destruktif.
Melihat pemandangan itu, mata Cecilia membelalak ngeri. Sisa-sisa keberaniannya mendadak meledak.
"Douglas! Hentikan! Apa-apaan kamu?!" jerit Cecilia dengan suara parau bercampur isak tangis.
"Pergi! Cepat pergi dari kamarku!"
Douglas mendengus sinis, mengabaikan teriakan penolakan itu sepenuhnya.
"Pergi? Setelah kamu membuatku gila selama dua minggu ini? Jangan bermimpi, Cecilia!"
"Hubungan kita sudah berakhir, brengsek!" desis Cecilia tajam, air matanya tumpah membasahi pipinya yang memerah bekas tamparan.
"Aku sudah keluar dari neraka itu! Aku sudah tidak mau jadi wanita simpananmu lagi! Dengar itu?! Aku jijik!"
Mendengar kata-kata jijik dan penolakan mentah-mentah dari wanita yang selama ini berada di bawah telapak kakinya, amarah Douglas menembus batas kewarasan. Wajah pria itu memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"JIJIK KATAMU?!" bentak Douglas dengan suara menggelegar yang mengguncang dinding kamar kos.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Douglas langsung menindih tubuh Cecilia yang jauh lebih kecil dan ringan darinya. Ia mengunci kedua pergelangan tangan Cecilia dengan satu tangan di atas kasur, sementara tangan bebasnya mencengkeram rahang wanita itu.
"Kalau aku belum melepaskanmu, sampai mati pun kamu tetap milikku, Cecilia!" maki Douglas penuh geram.
Dan untuk kesekian kalinya, Douglas kembali menghujamkan ciuman beringas ke bibir Cecilia, melumatnya tanpa ampun hingga sudut bibir gadis itu robek dan mengeluarkan darah segar, meredam setiap jeritan protes yang ingin dikeluarkan oleh sang wanita malang.
Bersambung...
Brengsek banget ya Douglas, padahal Cecilia udah gamau jadi simpanan nya.😒Umm... Atau ada pembaca yang mau jadi simpanan Douglas? Silahkan japri author ya biar kita masukkan namanya nanti.🫠
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas