Sejak kecil Karina terbiasa melihat ibunya bekerja keras ditambah lagi setelah sang Ayah memilih pergi dengan wanita lain, oleh karena itu, Karina berjanji pada dirinya sendiri dimana dia ingin bebas dari kemiskinan, Sampai suatu hari, Karina bertemu dengan Adrian Mahardika pemuda Tampan. Berpendidikan. Pewaris keluarga konglomerat yang memiliki segalanya. Bagi Karina, Adrian bukan sekadar lelaki. Ia adalah jalan keluar dari kehidupan yang selama ini ia inginkan, yaitu kemewahan. Sejak saat itu, Adrian menjadi obsesinya. Akankah Karina mampu memenangkan Obsesinya atau malah membuat Hidupnya hancur dengan Obsesinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Akhirnya, tibalah hari yang telah dinantikan oleh hampir seluruh karyawan Mahardika Group.
Sejak pagi, suasana kantor tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Hampir setiap bagian bekerja dengan ritme yang lebih cepat. Para staf hilir mudik membawa dokumen, mengecek perlengkapan, memastikan dekorasi, hingga mengatur kedatangan para tamu undangan, hari ini bukan sekadar acara biasa, Mahardika Group akan memperkenalkan produk terbaru mereka di bidang kecantikan. Produk yang menjadi langkah besar bagi Adrian untuk mengembangkan sayap perusahaan ke dunia yang selama ini belum pernah mereka geluti secara serius.
Bagi Adrian, peluncuran ini adalah sebuah pembuktian, sebagai seorang direktur muda yang baru dipercaya menduduki posisi President Director, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu membawa Mahardika Group ke tingkat yang lebih tinggi.
Sejak pagi, Tomy terlihat mondar-mandir memastikan semua persiapan berjalan sesuai rencana. Sesekali ia memeriksa tablet di tangannya, mengecek susunan acara, daftar pemegang saham, undangan para investor, hingga memastikan kedatangan para tamu, dan beberapa awak media tidak mengalami kendala. Sementara itu, Adrian masih berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya.
Kedua tangannya terselip di saku celana. Tatapannya tertuju pada gedung-gedung tinggi di kejauhan, tetapi pikirannya justru sibuk memikirkan acara yang akan berlangsung beberapa jam lagi, Ia menarik napas panjang, ada satu hal yang membuatnya gelisah sejak kemarin, sejak dirinya tau bahwa Karina lah yang menjadi gambar utama dalam produk yang akan diluncurkan nya, seluruh kru menyatakan bahwa hasil cukup memuaskan bahkan ada yang berdecit kagum dibuatnya, namun bagi nya tetap saja masih ada keraguan dalam hati nya, kenapa bisa Tomy dan Ayahnya mempercayakan urusan sebesar ini pada wanita yang baru saja mereka kenal, bahkan minim pendidikan, Adrian berharap Karina mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Ia tidak ingin kerja keras seluruh tim berakhir sia-sia hanya karena kesalahan satu orang.
"Semoga semuanya berjalan lancar," gumamnya pelan.
Setelah merasa cukup menenangkan diri nya, Adrian mengambil jasnya lalu meninggalkan ruangan.
Ballroom Mahardika Group telah berubah menjadi tempat yang begitu megah. Panggung utama telah dihiasi dengan logo produk terbaru. Beberapa kamera telah terpasang di sudut ruangan. Meja-meja untuk para tamu penting juga telah ditata dengan rapi. Adrian berjalan perlahan menyusuri ballroom, sesekali memperhatikan setiap detail.
Tidak lama kemudian, matanya menangkap sosok Tomy yang sedang berbicara dengan beberapa staf.
"Tomy." sapa Adrian sambil mata nya melihat sekeliling
"Bagaimana persiapannya?" lanjutnya lagi
Tomy tersenyum tipis.
"Semua aman, Pak. Tinggal menunggu para tamu datang."
Adrian mengangguk, Kemudian, seolah baru teringat sesuatu, ia bertanya tentang kekhawatiran nya sejak tadi
"Apa Karina sudah datang?"
"Sudah, Pak. Dia sudah berada di ruang ganti."
Adrian terdiam sesaat.
"Aku harap dia tidak mengecewakan."
Tanpa menunggu jawaban Tomy, Adrian kembali berjalan meninggalkan tempat itu sambil melihat sekeliling nya. Tomy hanya menghela napas kecil.
Belum sempat kembali mengatur pekerjaannya, sebuah suara terdengar dari belakang.
"Pak Tomy..."
Tomy menoleh.
Karina sudah berdiri di hadapannya, dengan riasan bak seorang model, namun wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Kenapa, Mbak Karina?"
Karina menarik napas.
"Saya tidak disuruh bicara tentang produknya, kan?"
Tomy langsung tertawa kecil melihat ekspresi panik di wajah Karina.
"Tenang saja, Mbak. Semua biar pak Adrian yang bicara, mba Karina cukup senyum dan jangan tegang dan nanti juga ada beberapa awak media yang meliput."
"Apa?" dengan suara kaget, Karina mencoba menenagkan dirinya, "Apa mungkin aku akan jadi terkenal?" guman nya dalam hati
Tiba tiba Tomy menepuk bahunya ringan membuat lamunan Karina buyar
"O..iya mba nanti malam juga ada jamuan, mba karina juga harus hadir."
"Jamuan...?"
"Iya, acara nya dirumah pak Surya, nanti saya atur buat mba Karina." kata Tomy kemudian kembali sibuk dengan pekerjaanya. Setelah tomy pergi wajah karina kembali terlihat tegang, Ia menggenggam erat kedua tangannya, Jantungnya kembali berdebar, bagaimana bisa diri nya melalui semua ini, mungkin ini yang dinamakan kesuksesan yang akan dia capai, "Aku harus bisa Karina, kesempatan sudah ada di depan mata." bisik nya pelan. "Aku harap tidak melakukan kesalahan yang memancing kemarahan Adrian dalam acara nya." ucap nya lagi
Sementara itu, di tempat lain...Katrin terus mencari tahu mengenai produk terbaru Mahardika Group. Rasa penasarannya semakin besar setelah melihat beberapa unggahan perusahaan yang mengisyaratkan adanya sosok baru dalam kampanye produk tersebut, dan dirinya semakin kesal dengan sosok Karina yang terlihat jelas di unggahan yang ia temukan
"Ayah....ayah akan pergi?" kata katrin yang mencoba menghentikan ayah nya
"Iya...ayah sudah telat."
"Ayah harus lakukan sesuatu."
"Apa yang harus Ayah lakukan katrin, ini mungkin sudah menjadi pertimbangan bagi Adrian."
"Tidak Ayah, itu tidak boleh terjadi, mana mungkin seorang pelayan bisa menjadi model brand ternama."
"Baiklah, akan ayah usaha kan nanti." jawab sang Ayah kemudian pergi meninggalkan putrinya
"Lihat saja kau Karina, aku tidak akan membiarkan kau dengan mudah mendekati Adrian"bisik katrin
Bisikan suaranya mengungkapkan kekesalan yang mendalam, mana mungkin Adrian dengan mudah mempercayakan hal besar ini pada Karina, dirinya berjanji akan terus berusaha menjauhkan Karina dari Adrian. Katrin berjalan kembali ke kamarnya, sambil terus memantau acara peluncuran tersebut lewat media sosial.
Acara peluncuran produk pun akhirnya dimulai, live streaming pun terus berjalan, semua bersorak ketika Adrian mulai menaiki podium diikuti Karina yang berjalan menyusul beberapa langkah di belakangnya.Beberapa jam kemudian, ballroom Mahardika Group akhirnya dipenuhi para tamu. Para pemegang saham, investor, mitra bisnis, serta sejumlah awak media telah memenuhi ruangan. Lampu ballroom perlahan diredupkan. Suasana yang sebelumnya dipenuhi percakapan mendadak berubah hening. Sebuah musik pembuka terdengar. Kemudian, sorotan lampu mengarah ke panggung.
"Selamat datang di acara peluncuran produk terbaru Mahardika Group!" ucap Adrian
Kilatan lampu kamera bertubi-tubi, Karina sempat gugup, tangannya terasa dingin, Namun ia mengingat pesan Tomy, tersenyum dan jangan tegang.
Karina menarik napas perlahan, kemudian tersenyum. Adrian terus berbicara menjelaskan tentang produknya sementara Karina berdiri tepat di sampingnya. Adrian juga telah memperkenalkan posisi Karina dalam produk terbaru milik nya, semua mata kini tertuju pada Karina, Dan ketika sesi tanya jawab dimulai untuk seputar produk, tiba - tiba ada muncul dari salah satu awak media satu pertanyaan yang membuat seisi pengunjung ballroom tercengang
"Maaf mba Karina, apa mba Karian sebenarnya pelayan yang hanya tamatan sekolah menengah."
Karina membeku, wajahnya seketika pucat.
Adrian menatap layar dengan rahang mengeras. Sambil menatap Karina dengan tatapan kemarahan
Untuk pertama kalinya, karina benar-benar merasa seluruh dunia sedang menghakiminya, dan tatapan Adrian untuk kesekian kalinya membuat dada nya semakin terasa sesak.Karina masih berdiri terpaku di atas panggung. Ratusan pasang mata menunggunya memberikan jawaban, sementara kamera terus menyorot wajahnya yang mulai memerah menahan malu.
Ditempat berbeda Katrin yang menyaksikan acara tersebut melalui live streaming tertawa bahagia dengan pertanyaan tersebut, Katrin melihat wajah Karina yang tampak panik, dan kepanikan Karina adalah langkah awal katrin dalam rencananya untuk menjatuhkan dan mempermalukan Karina.