Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Dimas, dimana adiku?" tanya Karen yang saat ini baru saja tiba di dekat Dimas.
"Pak Karen, kenapa kau kembali sendirian? Bukankah kau bilang akan menghubungi ku untuk menjemput?" tanya Dimas, ia sejenak menepis pertanyaan yang baru saja di lontarkan Karen kepada nya.
"Lupakan itu, dimna Lilian," ucap Karen singkat.
"Nona besar, katanya dia ingin ke toilet sebentar, jadi aku menunggu di sini," jawab Dimas dengan polosnya.
"Kau ini bagaimana? Kenapa kau tidak mengikuti nya? Dia baru saja kembali kekeluarga Pratama setelah tiga tahun menghilang, bagaimana kalau ada banyak orang yang penasaran dengan nya dan menyakiti nya, apalagi malam ini dia datang bersama kita," ucap Karen sambil mengerutkan keningnya.
Ia tampak jengkel dengan ketidak pekaan Dimas.
"Maaf pak, kalau begitu saya akan menyusul nona besar," ucap Dimas yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Tidak perlu, kau sudah terlambat," ucap Karen ya g kini matanya tertuju pada Lilian yang berjalan menghampiri mereka, sementara di belakang nya sosok yang menjengkelkan di hati Karen juga berjalan di belakang Lilian.
"Aku berusaha keras agar mereka tidak bertemu, tapi kenapa malah bertemu juga, Erlan sialan itu akan mengambil adikku, aku tidak rela untuk saat ini, aku tidak mau Lilian menikah lagi sekarang," batin Karen.
"Kak," sapa Lilian saat tiba di hadapan Karen.
"Dari mana saja Lilian? Bukan kah aku sudah bilang tunggu di sini?" ucap Karen, sisi posesif nya sebagai kakak tiba-tiba keluar.
"Lah, apa Dimas tidak bilang? Aku ke toilet," ucap Lilian lagi.
"Hm, baiklah, cepat duduk dan makan, setelah itu pulang," ucap Karen lagi.
"Oh iya kak, aku bertemu seseorang," ucap Lilian yang kemudian memegang pergelangan Erlan lalu menarik nya ke hadapan sang kakak.
"Dia kakak Karin kan? Sahabat SMA mu, dia bilang dia baru pulang, aku bertemu dengan nya tampa sengaja, aku benar-benar tidak menyangka, aku berharap karin juga ada di sini," ucap Lilian terlihat sangat senang.
Erlan membiarkan dirinya di tarik-tarik oleh Lilian, dia bahkan sangat senang ketika tangan Lilian memegang pergelangan tangan nya.
Dimas dan Karen seketika saling pandang satu sama lain, entah apa yang ada di isi pikiran mereka saat ini.
"Aduh, ternyata nona besar mengenali pria mengerikan itu," batin Dimas.
"Hay, Karen, sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Erlan sambil mengulurkan tangannya.
Hal ini benar-benar membuat Karen sangat jijik, karena sebelumnya saat mereka berdua berada di ruang VIP Erlan sama sekali tidak seprhatian ini, apalagi sampai mengulurkan tangan dan menanyakan kabar Karen.
"Kau benar-benar pintar mengubah sikap dan gayamu ya," ucap Karen dengan mata sedikit melotot, dia bahkan menepis tangan Erlan.
"Kak Karen dan kak Erlan sejak SMA terbilang sangat akur, mereka tidak pernah berkelahi, kenapa sekarang seperti bermusuhan? Apakah itu karena evek sudah lama tidak bertemu? Ya aku dengar dulu kak Karen sangat menantang kepindahan keluarga Gemilang ke kota itu, tapi kenapa ya keluarga Gemilang kekeh tiba-tiba mau pindah? Apakah karena itu mereka jadi bermusuhan sekarang?" batin Lilian.
"Aduh bagaimana ini?" ucap Dimas dalam hatinya.
"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau aku ikut makan bersama dengan kalian," ucap Erlan mengabaikan tatapan tajam Karen.
"Boleh, kebetulan aku pesan banyak makanan," ucap Lilian.
Lilian yang tidak mengerti apapun dan tidak tau apapun itu tampak sangat polos, yang ada di pikiran nya adalah Erlan itu sahabat baik Karen dan juga kakak dari sahabat kesayangan nya ya itu Karin.
"Aku harus baik dengan kak Erlan, siapa tau kalau aku baik padanya dia bisa membantu ku bertemu Karin lagi dan dia juga bisa membantu ku memperbaiki hubungan dengan Karin, dari dulu kan Karin selalu mendengarkan kakak nya," batin Lilian.
Ya, Lilian bersikap demikian semua nya dilakukan untuk Karin sahabat nya, dia sangat merindukan Karin rasa bersalah nya juga sampai sekarang masih ada karena dulu sudah memutuskan hubungan hanya demi seorang laki-laki biadab seperti Alen.
"Adik polos ku ini, pantas saja kau selalu terperangkap di dalam ikatan cinta laki-laki, kau benar-benar mudah untuk dekat dengan orang asing," batin Karen.
"Karena Lilian setuju, kalau begitu aku tidak sungkan untuk bergabung," ucap Erlan yang kemudian duduk di sebelah Lilian.
Sementara itu di sisi lain, tepat nya di keluarga Bayron.
Sudah beberapa hari sejak kepergian Lilian keluarga Bayron kini memilih perubahan yang sangat besar.
"Kak minta uang," ucap Raya yang saat ini berdiri di hadapan Alen dengan pakaian yang sudah sangat rapih.
"Kau mau kemana malam-malam seperti ini? Pakaian mu juga sangat terbuka, tidak bisakah kau berpakaian sedikit lebih sopan?" tanya Alen yang baru pertama kali nya melihat kenakalan Raya.
Biasanya hal-hal sperti ini selalu Lilian yang menegur dan mengurus nya.
"Memang nya kenapa? Aku sudah dewasa, terserah aku mau berpakaian seperti apa, ayo lah kak, mana uang nya," ucap Raya lagi sambil menadahkan tangan nya.
"Aku sedang tidak pegang cas, minta ke ibu saja," ucap Alen lagi. Ia tak kuasa bertengkar dengan suasana yang tidak nyaman ini.
"Ibu mana pernah pegang uang kak? Selama ini kan kau mengirim biaya rumah tangga selalu ke rekening Lilian, bukan Ibu," ucap Raya lagi.
Alen seketika terdiam, dia mengerutkan keningnya menatap Raya.
"Aduh, gawat," ucap Bu yang kebetulan mendengar percakapan mereka, tak hanya itu, Tasya yang sedang menyiapkan teh untuk Alen pun mendengar saat di perjalanan menuju ruang tengah.
"Apa maksudnya aku tidak pernah mengirimkan uang ke rekening ibu? Ya, aku memang mengirim uang bulanan untuk rumah ini ke rekening Lilian, tapi hanya beberapa juta, dan kepada ibu aku selalu mengirimkan dua puluh juta satu bulan untuk jajan mu dan juga ibu," ucap Alen dengan tatapan penuh arti.
Ya, itulah laki-laki yang selama ini di cintai dengan hebat oleh Lilian, satu bulan uang yang di kirim ke Lilian hanya tiga sampai empat juta, sedangkan ibunya, dia mengirim kan uang jajan sampai dua puluh juta, aku yakin tidak akan ada seorang istri yang bersedia di perlakukan seperti ini kecuali Lilian.
"Tidak mungkin, ibu selalu bilang tidak punya uang, apa Lilian yang mengambil semua uang ibu? Soalnya ketika aku meminta uang padanya aku selalu mendapatkan berapapun yang aku mau," ucap Raya lagi.
"Tidak, itu tidak mungkin karena Lilian sama sekali tidak mengetahui nya," ucap Alen.
Seketika semua orang terkejut termasuk Tasya dan Raya yang mendengar penjelasan tersebut.
****
punya nama. jadi bagus ,,,ehhh malah berhianat sekarang belum tau siapa Lilian
enakan,,,coba loe kelurahan anaknya abis lah nasib loe,,,,
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,