NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Beberapa menit kemudian...

Ting...

Sebuah bunyi pelan terdengar dari panel lift. Lampu yang sempat redup mulai kembali menyala dengan normal.

Pintu lift perlahan bergeser ke samping.

Di luar... Beberapa teknisi mengembuskan napas lega.

"Sudah aman, Pak."

Arga mengangguk singkat. "Terima kasih."

Ia tidak langsung melangkah keluar. Sebaliknya... Ia sedikit memiringkan tubuhnya. "Silakan duluan."

Calista tampak terkejut. "Bapak dulu saja."

"Tidak apa-apa."

"Silakan."

Calista menundukkan kepala dengan sopan. "Terima kasih, Pak." Ia melangkah keluar terlebih dahulu.

Arga berjalan menyusul beberapa langkah di belakangnya.

Dimas yang sejak tadi menunggu hanya melirik sekilas. Tatapannya bergantian mengarah kepada Arga, lalu kepada Calista.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Namun ia memilih diam.

Sepanjang koridor lantai dua puluh... Calista masih memeluk map biru itu. Langkahnya tenang. Sesekali ia mengucapkan salam kepada karyawan yang berpapasan.

"Selamat pagi."

"Pagi, Bu Calista."

Sapaan itu selalu dibalas dengan senyum yang sama.

Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.

Arga yang berjalan beberapa meter di belakangnya memperhatikan tanpa sengaja. "Dia tidak berubah..."

Bahkan setelah beberapa minggu bekerja... Calista tetap menjadi pribadi yang sama. Rendah hati. Tidak mencari perhatian. Tidak pernah berusaha mendekati atasan demi keuntungan. Entah mengapa... Hal-hal kecil seperti itulah yang justru semakin menarik perhatian Arga.

Siang harinya...

Ruang rapat divisi administrasi tampak lebih ramai dari biasanya.

Hari itu setiap tim diminta memaparkan perkembangan sistem pengarsipan yang sedang diperbarui.

Supervisor berdiri di depan. "Baik. Siapa yang akan menjelaskan hasil pekerjaan tim kita?"

Beberapa karyawan saling berpandangan. Tak ada yang langsung mengangkat tangan.

Supervisor akhirnya menoleh kepada Calista. "Calista."

Perempuan itu sedikit terkejut. "Saya, Pak?"

"Iya."

"Kamu yang paling memahami data ini."

Calista tampak ragu. "Tapi saya masih baru...."

"Justru karena kamu yang menyusunnya."

Supervisor tersenyum memberi semangat. "Coba saja."

Calista menarik napas pelan. "Baik, Pak."

Ia membawa laptop menuju depan ruangan. Tangannya sedikit dingin. Namun wajahnya tetap tenang.

Di lantai paling atas...

Arga baru saja menyelesaikan rapat singkat bersama jajaran direksi.

Dimas menutup mapnya. "Pak."

"Ada apa?"

"Divisi administrasi sedang mempresentasikan sistem arsip baru."

Arga mengangguk sekilas. "Lalu?"

"Katanya... Bu Calista yang mempresentasikan."

Tangan Arga yang hendak mengambil cangkir kopi berhenti sesaat. "Calista?"

"Iya, Pak."

Hening beberapa detik.

Kemudian Arga berdiri.

Dimas pura-pura bertanya. "Bapak mau ke mana?"

"Mengecek."

"Mengecek apa, Pak?"

"Presentasi. Hanya ingin memastikan semuanya berjalan baik." Jawaban itu terdengar datar.

Namun Dimas hampir saja tersenyum. Ia sudah terlalu mengenal atasannya. Selama bertahun-tahun... Arga tidak pernah sekali pun menghadiri presentasi kecil divisi administrasi.

Hari ini... Ia justru berjalan sendiri menuju ruang rapat.

Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Tidak ada yang menyadari kedatangan CEO perusahaan. Semua perhatian tertuju kepada layar presentasi.

Calista berdiri di depan. Tangannya memegang sebuah alat penunjuk. Suaranya lembut. Namun cukup sangat jelas.

"...berdasarkan evaluasi selama dua minggu terakhir, kami menemukan beberapa dokumen memiliki kode ganda sehingga proses pencarian membutuhkan waktu lebih lama."

Ia mengubah slide berikutnya. Di layar muncul sebuah tabel sederhana.

"Karena itu saya mencoba mengelompokkan arsip berdasarkan tiga kategori utama. Bukan hanya berdasarkan tanggal. Tetapi juga berdasarkan tingkat prioritas dan divisi."

Beberapa peserta rapat mulai mengangguk.

Calista melanjutkan penjelasannya dengan perlahan. Tidak tergesa-gesa. Ia memahami setiap data yang sedang dijelaskan.

Sesekali ada pertanyaan dari salah satu staf senior. "Kalau jumlah dokumen bertambah dua kali lipat?"

Calista tidak panik. Ia menatap tabel sebentar. "Prinsipnya tetap sama, Pak. Hanya perlu menambah kode cabang tanpa mengubah struktur utama. Jadi sistemnya masih bisa digunakan."

Staf senior itu mengangguk puas. "Masuk akal."

Di bagian belakang ruangan... Arga berdiri tanpa mengeluarkan suara. Tatapannya tidak lepas dari sosok Calista. Bukan karena wajahnya. Bukan karena senyumnya. Melainkan karena cara perempuan itu berpikir. Setiap jawaban keluar dengan tenang. Tidak bertele-tele. Namun tepat sasaran.

"Dia bukan hanya rajin... Dia juga cerdas."

Arga merasakan kekaguman itu tumbuh sedikit demi sedikit. Semakin lama ia memperhatikan... Semakin banyak sisi Calista yang belum pernah ia ketahui. Perempuan itu tidak pernah membanggakan dirinya. Tidak pernah berusaha terlihat paling hebat. Namun ketika diberi kesempatan berbicara... Ia mampu menjelaskan pekerjaannya dengan runtut, logis, dan penuh keyakinan.

Tanpa sadar... Sudut bibir Arga kembali terangkat. Senyum tipis itu muncul lagi.

Dari samping pintu... Dimas yang baru menyusul ikut memperhatikan presentasi itu. Ia lalu melirik wajah atasannya. Melihat senyum kecil yang masih bertahan di sana.

"Pak Arga... sepertinya kali ini Bapak benar-benar sudah jatuh hati." Gumam Dimas di dalam hatinya.

*

Di sisi lain kota...

Langit menjelang sore tampak mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas gedung megah milik Arganta Group.

Namun... suasana di dalam ruang rapat utama jauh lebih kelam. Beberapa map berserakan di atas meja panjang. Presentasi yang sejak pagi dipersiapkan dengan matang... justru berakhir di luar dugaan.

Danis masih berdiri di depan layar proyektor. Napasnya terdengar berat.

Di hadapannya, tiga orang perwakilan perusahaan asing saling berpandangan. Salah seorang di antara mereka menutup laptop perlahan.

"We're sorry, Mr. Danis."

Danis langsung menatap mereka. "Is there any problem?"

Pria itu tersenyum tipis, tetapi senyumnya penuh penyesalan. "We don't think this partnership can continue."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Faas yang duduk di sisi kanan langsung mengangkat wajah. "May we know the reason?"

Perwakilan klien menghela napas. "Your presentation was good." Ia berhenti sejenak. "But... you looked distracted."

Danis mengepalkan kedua tangannya.

Klien itu melanjutkan dengan tenang. "Several times you answered questions with different numbers from the report." (Saat kami meminta penjelasan mengenai proyeksi keuntungan, Anda justru membuka data tahun lalu. Kami membutuhkan mitra yang benar-benar fokus.")

Tak ada satu pun yang mampu membantah.

Karena... Semua itu memang benar. Sejak rapat dimulai... Pikiran Danis sama sekali tidak berada di sana.

Bayangan Calista terus muncul. Senyumnya. Kesabarannya. Tatapan matanya saat dulu selalu menyambutnya pulang. Semua bercampur menjadi satu. Dan akibatnya... Ia melakukan kesalahan demi kesalahan.

Perwakilan perusahaan asing itu berdiri. "Thank you for your time."

Mereka mengulurkan tangan.

Danis membalas jabat tangan itu dengan wajah pucat. Tak lama kemudian...

Ketiga klien itu keluar dari ruang rapat.

Pintu tertutup perlahan.

Klik.

Suara kecil itu terasa begitu keras di telinga Danis.

Ruangan mendadak sunyi.

Tidak ada seorang pun yang berani berbicara.

Beberapa staf hanya saling berpandangan.

Faas mengembuskan napas panjang. Ia tahu... Kontrak yang baru saja hilang bukan kontrak kecil. Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Danis masih berdiri mematung. Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa detik.

Lalu...

Brak!

Tangannya menghantam meja rapat begitu keras hingga botol air mineral terjatuh.

"Pak!" seru beberapa staf kaget.

Danis tidak menjawab. Ia justru mengacak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Jemarinya mencengkeram rambut hingga berantakan.

Napasnya memburu. "Sial...!" Suara itu terdengar serak. Ia kembali menjambak rambutnya. "Aku ini kenapa...?"

Faas segera menghampiri. "Danis..."

"Aku kehilangan fokus..." Danis menundukkan kepala. "Aku bahkan tidak bisa membedakan laporan minggu lalu dengan laporan hari ini." Suara laki-laki itu bergetar hebat. "Aku tidak pernah seperti ini..."

Faas menepuk bahunya pelan. "Kamu terlalu memaksakan diri."

Danis tertawa hambar. "Memaksakan?" Ia menggeleng pelan. "Setiap aku menutup mata... yang muncul cuma Calista."

Dadanya naik turun menahan sesak. "Aku mencarinya ke mana-mana. Tidak ketemu. Pulang ke rumah lamanya... Rumah itu kosong. Datang ke kantorku... aku malah menghancurkan pekerjaan sendiri."

Danis kembali meremas rambutnya frustasi. "Aku benar-benar kacau..."

Faas memandang sahabatnya dengan prihatin. Selama bertahun-tahun mengenal Danis... Belum pernah sekali pun ia melihat laki-laki itu sehancur ini. Bahkan ketika perusahaan mengalami kerugian besar beberapa tahun lalu... Danis tetap mampu berpikir jernih.

Namun sekarang... Hilangnya satu perempuan telah menghancurkan ketenangan yang selama ini selalu dimilikinya.

Faas mengembuskan napas panjang. "Kalau begini terus... Kamu bukan cuma kehilangan Calista. Tapi juga bisa kehilangan perusahaan yang sudah susah payah kamu bangun."

Danis memejamkan mata. Dua tetes air mata kembali jatuh tanpa mampu ia tahan.

Untuk sesaat dalam hidup... Ia merasa benar-benar kalah. Bukan karena pesaing bisnis. Bukan karena kerugian. Melainkan karena penyesalan yang datang... saat orang yang paling berharga telah pergi meninggalkannya.

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!