Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Tatapan Adrian beralih kepada adiknya yang masih terbaring lemah di atas sofa.
Wajah gadis itu terlihat begitu damai, seakan tidak sedang memikul rahasia sebesar itu.
Dadanya kembali terasa sesak.
"Kenapa kau memikul semuanya sendirian, Aurora...?" gumamnya lirih.
Ia tak habis pikir bagaimana adik yang selalu ia kenal sebagai gadis lembut dan penurut bisa nekat mendatangi klinik untuk mengakhiri kehamilannya.
Apakah selama ini ia terlalu sibuk hingga gagal melihat penderitaan adiknya?
Ataukah Aurora memang terlalu takut hingga memilih menyimpan semuanya seorang diri?
Rasa bersalah itu menghantamnya tanpa ampun.
Dengan napas yang bergetar, Adrian kembali membungkuk hormat ke arah Kael.
"Tuan... maafkan adik saya," ucapnya dengan suara yang hampir pecah. "Dia masih muda dan mungkin telah membuat keputusan yang keliru. Saya akan membawanya pulang... lalu mengurus semuanya. Saya akan memastikan ia menikah dengan pria lain agar tidak lagi menjadi beban bagi Tuan."
Tangannya yang gemetar mengusap air mata sebelum perlahan melangkah menuju sofa.
"Bangun, Ra. Ayo, kita pulang."
Dengan senyum yang dipaksakan demi menyembunyikan sesak di dadanya, Adrian menggoyangkan bahu adiknya dengan lembut. Sentuhan hangat itu perlahan membangunkan Aurora dari tidurnya. Kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna.
"Kak... kok Kakak ada di sini?" gumam Aurora pelan, alisnya bertaut bingung.
Tatapannya berkeliling mengamati ruangan yang asing baginya. Setiap sudut dipenuhi perabot mewah dengan ukiran elegan, lampu kristal menggantung megah di langit-langit, dan dekorasi berkelas yang membuat tempat itu lebih menyerupai istana daripada sebuah rumah. Kebingungan memenuhi benaknya. Bagaimana ia bisa berada di tempat semewah ini?
Aurora bangkit perlahan dari sofa. Tubuhnya masih terasa lemah.
Adrian memperhatikan perubahan raut wajah adiknya. Ada kelegaan karena Aurora telah sadar, tetapi di balik itu tersimpan kegelisahan yang begitu dalam.
"Aurora... kenapa kamu tidak pernah memberi tahu Kakak kalau kamu sedang mengandung?" tanyanya dengan suara lirih namun penuh kekecewaan.
Bukan kebenaran tentang kehamilan itu yang ingin ia pastikan. Adrian sudah mengetahui semuanya sejak mendengar langsung dari orang yang tak mungkin bermain-main dengan persoalan sebesar itu. Yang membuat hatinya terluka justru kenyataan bahwa adik yang paling ia sayangi memilih menanggung semuanya seorang diri, tanpa sekali pun membuka suara kepadanya.
"Kakak... maafkan Aurora. Aurora benar-benar bersalah. Apa pun keputusan Kakak, Aurora akan menerimanya."
Dengan mata yang mulai dipenuhi air mata, Aurora segera berlutut di hadapan Adrian. Kepalanya tertunduk dalam, seolah tak lagi memiliki keberanian untuk menatap wajah kakaknya. Ia bahkan mengabaikan tatapan Kael dan seorang asisten yang berdiri tak jauh dari sana. Berbagai emosi terpancar dari mata mereka, tetapi Aurora tak sanggup memedulikannya.
Adrian menghela napas panjang. Wajahnya tampak letih menahan begitu banyak beban. Setelah beberapa saat terdiam, ia mengangkat kepala menatap Kael dengan sikap penuh hormat.
"Tuan... izinkan saya mengambil cuti beberapa hari. Saya ingin segera mengurus pernikahan adik saya. Mohon pamit."
Usai membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan, Adrian meraih lembut pergelangan tangan Aurora, bermaksud mengajaknya meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Namun langkah Aurora terasa berat.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Dengan siapa kakaknya berniat menikahkannya? Apakah ada seseorang yang telah dipilih tanpa sepengetahuannya?
Tiba-tiba Adrian menghentikan langkah dan menoleh kepadanya.
"Aurora, kau harus segera menikah." ucapnya tegas, meski nada suaranya menyimpan kepedihan yang sulit disembunyikan.
Ucapan itu membuat dada Aurora semakin sesak. Ia tidak membantah sedikit pun. Bibirnya tetap terkatup rapat, sementara kepalanya semakin tertunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menggenang di pelupuk mata, nyaris jatuh membasahi pipinya.
Ketika Adrian kembali melangkah membawa adiknya pergi, sebuah suara berat dan berwibawa tiba-tiba memecah keheningan.
"Tunggu."
Suara Kael terdengar tenang, nyaris tanpa emosi. Namun satu kata itu cukup membuat langkah Adrian dan Aurora terhenti.
Jantung Aurora berdegup semakin cepat. Secercah harapan yang tadi hampir padam kembali menyala. Mungkin... pria itu akhirnya akan mengambil tanggung jawab. Mungkin Kael akan menghentikan kakaknya dan mengatakan bahwa dialah pria yang akan menikahinya.
Dalam hati, Aurora memanjatkan doa singkat. Ia menggenggam jemarinya erat, berharap keajaiban benar-benar berpihak kepadanya.
Perlahan ia berbalik menatap Kael.
"Om..." bisiknya lirih.
Sepasang mata bening itu menatap penuh harap, seakan memohon tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun. Namun, wajah Kael tetap dingin. Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan.
Tanpa banyak bicara, Kael mengambil tas milik Aurora yang masih tertinggal. Ia melangkah mendekat, lalu menyodorkannya dengan gerakan datar.
"Jangan tinggalkan barang-barangmu di rumahku," ucapnya dingin. "Kalau bisa, bawa juga semua jejak keberadaanmu dari tempat itu."
Kalimat itu menghantam hati Aurora lebih keras daripada tamparan. Harapan yang sempat tumbuh seketika runtuh.
Aurora mengepalkan tangan. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh.
"Kau... benar-benar keterlaluan!" desisnya dengan suara bergetar.
Namun Kael sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, seolah kemarahan gadis itu tak memiliki arti sedikit pun baginya.
Melihat suasana mulai memanas, Adrian segera melangkah maju. Ia membungkukkan badan berulang kali di hadapan Kael.
"Maafkan sikap adik saya, Tuan. Saya sungguh meminta maaf atas ucapannya."
Kael mengalihkan pandangannya kepada Adrian. Sorot matanya tajam, sementara nada suaranya tetap rendah, tetapi sarat tekanan.
"Didik adikmu dengan benar. Jika tidak, suatu hari nanti, dunia akan menghukumnya jauh lebih keras daripada yang bisa kau bayangkan."
Ucapan itu menggantung di udara, membuat ruangan kembali diselimuti keheningan yang mencekam.
Dada Aurora terasa sesak mendengarnya, harga dirinya seakan diinjak tanpa ampun. Semakin lama ia memandang pria itu, semakin besar amarah yang berkobar di dalam dirinya. Menurutnya, Kael telah bertindak seolah-olah dunia berada di bawah kendalinya.
"Apa sebenarnya maumu?" seru Aurora dengan suara bergetar. "Kau pikir karena memiliki kekuasaan, kau bisa menentukan hidup semua orang? Hidup dan mati tetap milik Tuhan, bukan milikmu. Jangan merasa dirimu paling hebat! Dasar pria menyebalkan, egois, gila kekuasaan... semoga suatu hari nanti kau menerima balasan atas semua kesombonganmu!"
Kata-kata itu meluncur tanpa sempat dipikirkan.
"Aurora, cukup!" Adrian segera menutup mulut adiknya sebelum gadis itu mengucapkan sesuatu yang lebih berbahaya. Wajahnya pucat karena panik. Tanpa membuang waktu, ia menarik Aurora menjauh dari ruangan itu.
Sebagai seorang kakak yang membesarkan adiknya seorang diri, Adrian tahu betul seperti apa sosok Kael. Ia tidak ingin kemarahan adiknya menjadi alasan yang mengancam keselamatan mereka. Satu-satunya yang ada di pikirannya saat itu adalah membawa Aurora pergi sejauh mungkin.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe