GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer
Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.
Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.
Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 "Hampa"
Chapter 24
Di pangkalan Home, udara terasa begitu berat dan menyesakkan dada. langkah tentara The Hawk yang mengawal ketat pergerakan Belial. Kini, Belial telah mengenakan seragam militer tim elite The Hawk, pakaian biru dengan aksen emas yang kaku dan mengintimidasi. Langkahnya pelan namun pasti, meninggalkan area kediaman Tim 05. Seluruh anggota Tim 05 berdiri mematung di koridor. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka, perasaan bersalah, bingung, dan duka bercampur aduk menjadi satu keheningan yang mencekat.
Shin, yang berdiri di tengah kerumunan dengan tubuh yang masih tampak rapuh, menatap punggung Belial yang perlahan menjauh. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan, mengalir membasahi pipinya yang pucat. Hatinya meronta hebat. Tak sanggup menerima perpisahan ini, kaki Shin refleks melangkah maju hendak mengejar sosok itu. “Belial!!” teriak Shin, suaranya parau.
Namun, sebelum langkahnya terayun penuh, sebuah genggaman tangan yang amat kuat menahan lengannya. Sua berdiri di sampingnya, mencekal Shin agar tidak maju selangkah pun. “Shin, jangan egois!” bentak Sua tegas. Matanya bergetar hebat, menahan gelombang emosi yang berkecamuk di dalam dadanya sendiri. “Tapi aku... aku tidak bisa membiarkannya pergi, Kak Sua! Aku harus—” suara Shin pecah, sarat akan rasa sakit yang mendalam. Sebelum Shin sempat menyelesaikan kalimatnya, Sua mendadak menarik kerah baju Shin, mendekatkan wajah mereka, lalu menempelkan bibirnya di atas bibir Shin.
Sebuah ciuman singkat. Namun dalam sepersekian detik itu, waktu seolah-olah berhenti berputar di sekitar mereka. Raungan mesin tentara dan suara hujan mendadak pudar. Shin membeku, matanya melebar dalam keterkejutan total. Ketika Sua perlahan menarik kembali wajahnya, jarak di antara mereka tersisa hanya beberapa sentimeter. Matanya memancarkan rasa sayang yang samar, sebuah perasaan ambigu yang menggantung rapuh di garis batas antara kasih sayang seorang kakak perempuan atau hasrat seorang wanita. “Aku juga mencintaimu, Shin...” bisik Sua tulus, jemarinya mengusap lembut bekas air mata di pipi Shin. “Tolong... jangan pernah bahayakan dirimu sendiri lagi. Cukup... jangan buat aku makin tersiksa melihatmu sekarat.”
Hari demi hari berlalu. Luka-luka fisik pada tubuh Shin perlahan pulih di bawah perawatan intensif, namun luka di lubuk hatinya justru kian menganga. Shin semakin sering mengurung diri, menatap kosong ke luar jendela dengan tatapan hampa. Sua memperhatikan perubahan itu dengan rasa prihatin yang amat dalam. Hatinya teriris melihat Shin yang kehilangan separuh jiwanya, namun di saat yang sama, rasa khawatirnya yang berlebihan membuat Sua enggan membiarkan Shin mengingat Belial lagi. Malam itu, setelah makan malam yang hening, Sua melangkah pelan menyusuri koridor menuju kamar Shin. Dari celah pintu kayu yang sedikit terbuka, ia melihat Shin duduk melamun di tepi ranjangnya, memandangi jemari tangannya sendiri.
Sua tersenyum lembut, memutar gagang pintu tanpa menimbulkan suara. Dengan langkah seringan bulu, ia menyelinap mendekat dari belakang Shin. Ketika bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari daun telinga Shin, Sua berbisik dengan nada lirih, menggoda, dan tersirat nuansa sensual yang halus. "Boo...”
Shin terlonjak kaget. Tubuhnya tegang seketika dan rona merah langsung menjalar cepat hingga ke ujung telinganya. Ia berbalik dengan penuh canggung. “S-Sua! A-aku... kau membuatku kaget...” ucapnya terbata-bata, menyembunyikan rasa gugupnya. Sua menutup mulutnya dengan jemari tangan, terkekeh pelan menikmati reaksi polos Shin yang sudah lama tak dilihatnya. Tatapannya menghangat, merasa telah menemukan celah kecil untuk masuk lebih dalam ke dalam hati sang adik. “Ada apa, Adikku sayang? Kau sering sekali melamun akhir-akhir ini...” ucap Sua lembut, melangkah mendekat dan duduk di samping Shin di tepi ranjang.
Shin menghela napas panjang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya terdengar sangat lirih, bagai keputusasaan yang dibisikkan pada kegelapan malam. “Belial... dia sudah benar-benar pergi, Kak...” Mendengar nama itu terucap dari mulut Shin, senyum hangat di wajah Sua seketika sirna. Dadanya terasa diselimuti rasa sesak yang membakar—sebuah rasa cemburu yang tak lagi mampu ia redam. Dengan suara yang bergetar menahan emosi, Sua menatap mata Shin lurus-lurus. “Apakah aku saja... tidak cukup untuk menggantikannya di hatimu, Shin?”
Shin tertegun. “Kak Sua—?” Tanpa menunggu jawaban, Sua memajukan tubuhnya dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Shin. Kali ini bukan ciuman singkat, melainkan sebuah ciuman yang panjang, intens, dan dipenuhi gelombang emosi yang menuntut. Shin terbelalak, tubuhnya kaku seperti batu, tak tahu harus merespons bagaimana di tengah rasa canggung dan bersalah yang menghimpitnya. Ketika Sua akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, rona merah menghiasi pipi Shin yang kebingungan. “K-Kak Sua... kau ini kenapa...?” lirih Shin.
Sua menatapnya dalam-dalam, lalu mendekap kedua pipi Shin dengan jemarinya yang hangat namun gemetar. “Karena aku mencintaimu, Shin... Lebih dari sekadar saudara,” bisiknya penuh ketegasan, sebelum akhirnya kembali mendaratkan bibirnya di bibir Shin untuk ketiga kalinya—kali ini terasa lebih dalam dan penuh keputusasaan. Sua menarik diri, dan detik berikutnya, pertahanannya runtuh. Tangisnya pecah seketika. Sua memeluk leher Shin erat-erat, membenamkan wajahnya di bahu pemuda itu. “Aku... aku memang bodoh! Aku kakak yang sangat bodoh!!” jerit Sua dalam isak tangisnya yang sesak, meremas punggung baju Shin seolah ingin menahan seluruh rasa sakit dan penderitaan yang ia ciptakan sendiri. Shin terdiam dalam pelukan itu. Tangannya mengambang di udara, diliputi rasa bersalah yang amat besar karena tahu, di dalam hatinya, ia tak mampu membalas perasaan Sua dengan cara yang sama.
Sementara itu di Markas Besar Highlander, Di balik struktur megahnya, Highlander menyimpan rahasia kelam tentang bagaimana kelangsungan hidup manusia dipertahankan. The Hawk membangun station-station raksasa sebagai benteng perlindungan terakhir bagi umat manusia dari ancaman *Cataclysm*. Namun, perlindungan itu tidak gratis. Sebagai imbalan atas tempat tinggal dan keamanan, setiap orang tua yang melahirkan anak di Highlander harus menyerahkan bayi mereka yang baru lahir. Anak-anak ini diangkut ke Birdcage untuk disaring dan dilatih secara brutal menjadi pilot Gear. Bagi anak-anak yang terbukti tidak memiliki kualifikasi atau gugur dalam masa pelatihan, mereka akan dilenyapkan secara diam-diam mati tanpa pernah tahu siapa orang tua kandung mereka, dan tanpa pernah dicatat dalam sejarah.
Di sebuah koridor steril di ruang isolasi kebidanan, Nathan pemuda berambut merah yang merupakan anak angkat pimpinan tertinggi The Hawk berdiri tegak di balik kaca tebal. Pandangannya terpaku pada pemandangan memilukan yang membuat dadanya terasa sesak bergetar. Di balik kaca, seorang bayi mungil yang baru saja lahir dipisahkan secara paksa dari pelukan ibunya. Tangisan melengking sang bayi bergema bersahutan dengan jeritan histeris sang ibu yang membanting tubuhnya di atas ranjang, berusaha meraih kembali buah hatinya. “Kembalikan anakku! Tolong, kembalikan anakku!!” jerit wanita itu hancur. Namun, para tentara The Hawk yang berbaju zirah dingin tak sedikit pun tergerak. Dengan gerakan mekanis tanpa belas kasihan, mereka mendorong sang ibu dan membawa bayi tersebut menjauh menyusuri lorong steril.
Nathan menggenggam tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, rahangnya mengeras menahan amarah yang membakar. Cahaya merah dari rambutnya berkilau memantulkan lampu neon putih ruangan. Matanya menyala penuh kebencian atas ketidakadilan ini. Tanpa mengeluarkannya dalam kata-kata, Nathan berbalik dengan gerakan cepat. Langkah kakinya yang berat dan tergesa memantul keras di sepanjang koridor, meninggalkan pemandangan penuh dosa tersebut.
Ia melangkah masuk ke Garage Station 6, tempat di mana gemuruh suara mesin, dengungan energi, dan percikan listrik alta voltase bergema memenuhi ruangan raksasa. Nathan berjalan perlahan menyusuri lorong di antara deretan unit Silver Gear yang tersusun rapi. Mesin-mesin raksasa itu menjulang tinggi. Seluruh badannya dilapisi warna putih mengilat dengan garis-garis perak yang memantulkan kilatan lampu garasi. Aura yang dipancarkan oleh unit Silver Gear begitu dingin, kaku, dan mengintimidasi, sebuah monumen berjalan yang menegaskan bahwa mereka adalah alat kendali mutlak milik The Hawk atas para pilotnya.
Namun, langkah Nathan terhenti tepat di depan satu unit yang berdiri di barisan paling depan. Falcon. Sang pemimpin dari seluruh Silver Gear. Postur tubuh Falcon terlihat lebih kokoh, lebih ramping, dan tampak sangat anggun dibanding unit lainnya. Yang paling mencolok adalah sepasang sayap mekanis perak raksasa yang membentang gagah di punggungnya. Sayap itu seolah menjadi simbol keagungan sekaligus peringatan kejam, bahwa hanya Falcon yang memiliki hak mutlak untuk terbang lebih tinggi dan menguasai langit di atas yang lain.
Nathan menatap Falcon dengan tatapan sinis. “Mesin indah untuk dosa yang begitu busuk...” gumamnya pelan.
Di ruang rapat utama Highlander, sebuah manuskrip kuno bernama Lebensskript, tersegel rapat dengan ratusan rantai dan teknologi pengaman tingkat tinggi. Kougen, pimpinan tertinggi The Hawk sekaligus ayah angkat Nathan, berdiri memandangi manuskrip tersebut bersama para petinggi lainnya. Cahaya temaram ruangan membuat garis wajah Kougen tampak begitu dingin dan misterius. “Sebentar lagi gerhana akan tiba...” ucap Kougen dengan suara berat yang memenuhi ruangan rapat. “Lebensskript akan menentukan takdirnya... dan Second Catastrophe akan menjadi sempurna untuk menyucikan dunia ini dan memyatukan semua individu menjadi satu kesatuan.” Para petinggi di sekelilingnya mengangguk pelan, menyunggingkan senyum penuh ambisi di balik kegelapan.
Sirene bahaya tiba-tiba meraung-raung panjang, memecahkan ketenangan. Lampu darurat berwarna merah berputar liar, memantulkan bayangan mencekam di seluruh dinding ruangan. Seluruh anggota Tim 05 berkumpul dengan cepat di ruang briefing. Suasana tegang menekan udara di sekitar mereka. Komandan Ace berdiri tegak di depan meja proyektor besar yang menampilkan peta radar pertempuran dengan titik-titik merah yang terus berkedip. “Dengar semuanya,” buka Komandan Ace dengan suara berat. “Gelombang Cataclysm bertipe Arthropoda berkelas Archangels terdeteksi bergerak cepat menuju ke sektor ini.” Lei maju selangkah, menatap layar hologram dengan mata menyipit tajam. Pandangannya membeku ketika menyadari pola pergerakan di layar.
“Tunggu sebentar...” desis Lei, jemarinya mengetuk panel kontrol untuk memperbesar skala peta. “Itu bukan cuma satu kelompok.” Titik-titik merah baru bermunculan secara masif dari berbagai sudut peta, memadati layar dengan warna merah menyala. “Jumlah mereka terlalu banyak! Ini tidak normal!” seru Lei. “Sialan! Dari mana datangnya monster-monster ini dalam jumlah sebanyak ini?!” ucap Teiben frustrasi dan panik.
Komandan Ace mengepalkan tangannya di belakang punggung. “Kemungkinan besar... mereka menembus barisan pertahanan di garis depan. Ini adalah sisa-sisa Cataclysm yang berhasil lolos.” Seketika, ruangan*briefing menjadi hening mencekam. Shin, yang sejak tadi menunduk diam, mendongak mendadak. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur. Keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya. Mendengar kata 'garis depan', pikirannya langsung melayang pada satu sosok. Belial...
Jika gelombang musuh sebanyak ini berhasil lolos dari garis depan, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Apakah pertahanan di sana sudah runtuh? Dan yang paling membuat dadanya sesak... bagaimana keadaan Belial sekarang?
Shin menggigit bibir bawahnya erat-erat, tangannya di atas meja gemetar hebat. Kegelisahan yang membakar dalam dirinya terpancar jelas dari sorot matanya yang panik. Sua, yang duduk tepat di sebelah Shin, memperhatikan setiap gerak-gerik dan kepanikan pemuda itu. Dengan wajah datar namun penuh penekanan, Sua memegang bahu Shin dan berbisik tegas di dekat telinganya. “Shin... fokuslah pada misimu sekarang.” Kata-kata Sua dingin, berhasil menarik kembali kesadaran Shin ke dalam kenyataan pahit yang harus mereka hadapi saat ini.
Beberapa menit kemudian, pertempuran meletus hebat di area luar Station 5. setengah gerhana kegelapan menyertai kedatangan kawanan Cataclysm Arthropoda. Swan meluncur kencang menembus udara, mengaktifkan pendorong utamanya. Dengan gerakan aerodinamis yang memukau, Swan melompat tinggi membelah langit, lalu meluncur turun menancapkan pedang energinya tepat di tengkuk seekor Cataclysm yang hendak menyerang dari samping.
“Stork, ambil sisinya!” teriak pilot Swan dari saluran radio. Stork melesat dari balik asap ledakan. Dengan sapuan tombak raksasanya yang berputar cepat, Stork memenggal kepala Cataclysm tersebut hingga roboh dan hancur berkeping-keping di atas tanah.
Dari jarak jauh, Pigeon dan Sparrow mengambil posisi saling membelakangi di atas bukit buatan. Tembakan beruntun dari meriam dan rudal mikro mereka meluncur tiada henti, menghujani kawanan monster berkaki banyak yang merayap cepat. Ledakan demi ledakan membakar kegelapan malam. Namun, jumlah musuh benar-benar melampaui perhitungan awal. Setiap kali sepuluh musuh tumbang, puluhan lainnya bermunculan dari balik kegelapan. CARRRRKKK!!
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat. Retakan-retakan besar merambat cepat di permukaan bumi. Dari dalam perut bumi, sesosok monster raksasa menyeruak keluar ke permukaan dengan raungan yang membingitkan telinga. Itu adalah Cataclysm kelas Cherubim bertipe Quadrupedal. Bentuk tubuhnya menyerupai tikus tanah raksasa dengan lempeng zirah tebal di sekujur tubuhnya dan sepasang cakar Raksasa yang amat tajam. Guncangan dari kemunculannya menciptakan gelombang kejutan dahsyat yang menghempaskan unit-unit*Gear Tim 05. Formasi tempur mereka yang rapi seketika hancur berkeping-keping, membuat barisan mereka terhuyung-huyung tanpa arah di tengah kepungan musuh.
“Sial, dia merusak pijakan kita!” teriak Lei di dalam kokpitnya. Namun, kekacauan di tempat mereka belum ada apa-apanya dibanding pemandangan mengerikan yang terjadi di horizon jauh. Dari jarak belasan kilometer, Station 3 terlihat mulai retak. Struktur benteng raksasa itu perlahan runtuh, rubuh dan hancur berkeping-keping dihantam kekuatan misterius dari bawah tanah. Ledakan demi ledakan melahap bangunan utama Station 3. Suasana berubah menjadi chaos total.
Tim 05 hanya bisa terpaku menatap dari kejauhan dengan mata terbelalak ngeri. Ribuan manusia yang berada di dalam Station 3 ikut tenggelam dan tertimbun di dalam reruntuhan besi dan beton yang hancur. Sebelum rasa syok mereka mereda, sebuah penampakan yang jauh lebih mengerikan muncul dari tengah reruntuhan Station 3.
Sesosok ekor raksasa yang amat sangat panjang menjulang tinggi menembus awan, keluar menyeruak dari balik reruntuhan bawah tanah. Meskipun dilihat dari jarak yang sangat jauh, ukuran ekor tersebut begitu raksasa hingga mampu menutupi pemandangan langit. Detik berikutnya, sebuah raungan ghaib yang maha dahsyat menggelegar membelah bumi dan langit. Suara itu begitu mengerikan, menggetarkan struktur kokpit Gear mereka dan menyeret jiwa siapa pun yang mendengarnya ke dalam mimpi buruk yang nyata. Tak berhenti di situ, kawanan Cataclysm yang tak terhitung jumlahnya kini berbalik arah, mulai bergerak serempak seperti gelombang pasang hitam, meluncur deras menerjang ke arah pangkalan tempat Tim 05 bertahan.