Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 "MIMPI ANEH" HARUMI UNTUK PERTAMA KALINYA
.....
.....
((Sekarang kita beralih ke sudut pandang Harumi))
"Hmmm... Hmmm... Hmmm~~..."
Aku bersenandung pelan, sambil membuka lembaran-lembaran buku pelajaran buat hari Senin besok.
Aku sedang belajar di teras rumah kontrakanku.
Rumah kontrakan yang sederhana, tempat tinggalku bersama kedua orang tua angkatku.
Rumah kontrakan ini, tak banyak berbeda dengan kontrakan-kontrakan lainnya. Hanya memiliki tiga buah ruangan yang memanjang ke belakang.
Area paling depan adalah teras. Kemudian ruangan pertama adalah ruang keluarga, sekaligus menjadi ruang tamu. Ruangan kedua menjadi ruang keluarga, sekaligus menjadi ruang kamar. Dan terakhir, adalah ruangan dapur yang menyatu dengan kamar mandi.
Berjajar rapi di sisi kanan dan kiri, kontrakan yang bentuknya juga sama persis.
"Ngeeeeeeng!!!"
Sesekali, aku terganggu dengan beberapa motor yang lalu lalang di jalanan tepat di depan kontrakan.
Dan juga, terkadang ada orang-orang yang lewat. Karena aku sudah tinggal di Gang Ansip ini sekitar lebih dari 6 bulan, sudah mulai banyak orang yang ku kenal. Sehingga sesekali diriku disapa, dan aku menyapa balik pada mereka.
Aku tetap berusaha untuk bisa fokus belajar. Meski banyak hal yang membuatku terganggu. Dan itu sudah menjadi rutinitas malamku.
Setelah beberapa lama aku belajar, ku intip melalui jendela depan kontrakan. Menatap ke arah jam dinding yang ada di ruang tamu.
Ternyata, jam itu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00 malam.
Aku pun memutuskan untuk selesai belajar saja, karena sudah waktunya untuk segera tidur.
Segera ku rapikan buku-buku dan peralatan belajarku. Ku bawa masuk. Segera ku kunci pintu depan kontrakanku ini.
"Harumi..." suara bapak angkatku, memanggilku dari arah dapur.
Jujur, setelah kedua orang tua angkatku saling kenal dengan keluarga Haruma, mereka berdua jadi terbiasa juga memanggilku Harumi.
"Iya, Pak?" sahutku sambil berjalan ke arah ruang tengah. Dan langsung kudapati ibuku ternyata sudah tidur duluan malam ini.
"Mau makan lagi, gak?" tanyanya.
"Enggak, Pak. Harumi masih kenyang..." jawabku, sambil mulai memasukkan buku pelajaran ke dalam tas sekolahku.
Terdengar suara bapak angkatku itu sedang menggoreng telur. Aku sudah sangat hapal dengan aroma gurihnya.
Jujur saja, kondisi keuangan kedua orang tua angkatku ini memang tak sebagus orang-orang lain.
Bapak angkatku cuma seorang supir taksi, sementara ibu angkatku sudah lama tak bekerja. Sehingga, telur adalah salah satu lauk yang paling sering menjadi teman nasi untuk makan kami.
Kedua orang tua angkatku itu juga belum memiliki anak. Padahal usia pernikahan mereka sudah 12 tahun.
Dan, rasanya, akan terlalu panjang kisah hidupku jika harus ku ceritakan disini.
Aku menyiapkan seragam sekolah untuk hari Senin besok. Kerudung putih, seragam baju dan rok putih, ikat pinggang, semuanya ku siapkan sebelum tidur.
Ketika sudah selesai, aku hendak ke kamar mandi. Berniat untuk sikat gigi dan cuci muka terlebih dahulu. Dan ternyata benar, bapak sudah selesai menggoreng telur.
"Krucuk-krucuk-krucuk..." suara air yang keluar dari keran kamar mandi, menemaniku yang sedang sikat gigi.
Setelah selesai, aku kembali ke ruang tengah yang sekaligus menjadi kamar tidur.
Bapak angkatku sedang makan disana, bersandar di tembok, sangat lahap ia makan. Mungkin, hari ini ia belum makan. Karena, tadi ketika pulang bekerja, bapak bilang ke ibu bahwa hari ini penumpang sedang sepi.
"Harumi, seragam sama buku udah disiapin belom?" tanya bapakku.
"Udah, Pak. Barusan udah aku siapin." jawabku, sambil mulai merebahkan tubuh di atas kasur yang tipis.
"Harumi tidur duluan ya, Pak..." kataku.
"Iya..." jawab bapak.
Segera ku baca do'a sebelum tidur, dan ku pejamkan kedua mataku. Tubuhku semakin nyaman berbaring di sebelah ibu.
"Ngoook... Ngoook... Ngoook..." suara mengorok dari ibu yang sudah pulas.
Suaranya itu membuatku tak bisa langsung terlelap. Tapi, aku sudah terbiasa dengan suara mengorok ibuku itu.
Dan, karena masih sadar, meskipun kedua mataku ini ku pejamkan rapat-rapat, aku jadi mengingat kebersamaanku bersama Haruma.
Mengingat awal pertama kali aku berjumpa dengannya di sekolah beberapa bulan lalu.
Mengingat keseruan dan kebahagiaan bersamanya.
Teringat juga bagaimana sikapnya yang lembut padaku.
Dan, aku tak pernah menyangka, bahwa takdir hidupku benar-benar akan mempertemukanku dengan Haruma.
Beberapa lama aku terus mengingat kebersamaanku dengan Haruma, bapak angkatku itu akhirnya selesai makan. Ia langsung berbaring juga, setelah mencuci piring.
Tak butuh waktu lama, bapak angkatku itu bisa segera terlelap, di sebelah istrinya.
Tapi, berbeda denganku...
Kesadaranku masih saja terjaga, meski sedari tadi aku tak membuka kedua mataku ini.
Seolah, isi hati dan pikiranku tak terima jika aku tertidur.
Seolah, hati dan pikiranku selalu ingin bersama Haruma.
Jika aku boleh jujur, seumur hidupku sampai usiaku sekarang 13 tahun, aku tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.
Ku akui, memang aku bisa mudah bergaul dengan teman-teman baru. Mudah mendapatkan pertemanan.
Tapi, rasanya jauh berbeda saat aku bertemu dengan Haruma.
Meski dengan keterbatasan fisiknya (buta) itu, sangat terasa sebuah ketulusan darinya untukku.
Ah... Tak terasa...
Air mataku sedikit mengalir membasahi pipiku.
Aku sampai menahan suara isak tangisku sendiri, supaya kedua orang tua angkatku itu tak mendengarnya.
Setelah mengusap air mata dengan selimut, kembali ku coba lebih rileks tubuhku. Menarik napas dalam-dalam. Dan semakin berusaha untuk segera bisa tidur.
Dan...
Syukurnya, akhirnya aku bisa terlelap juga...
.....
.....
"Wuuussshhh..."
"Uuuhhh... Eeemmmhhh..." suaraku lirih saat merasakan hembusan angin yang dingin.
Sejenak, kembali kesadaranku, tapi masih dengan posisi kedua mataku yang terpejam. Terasa sangat mengantuk diriku.
Beberapa kali hembusan angin yang dingin itu menerpa tubuhku. Sampai-sampai aku merasa menggigil.
Masih dengan mata yang terpejam, aku merasa aneh...
Dari mana angin ini datang?
Sebelumnya tak pernah ada angin sedingin ini yang bisa sampai mengganggu tidurku.
Dan...
Karena hawa dingin itu, ku paksa saja untuk membuka kedua mataku.
AKAN TETAPI...
KETIKA KEDUA MATAKU TERBUKA...
SANGAT TERKEJUT DIRIKU...
.....
.....
"Loh?! A-a-aku... Di-di-dimanaaa?!"
Suaraku gemetar.
Jantungku berdetak cepat.
Napasku terasa berhenti seketika.
KARENA AKU TERBANGUN BUKAN DI ATAS KASUR KAMAR KONTRAKANKU.
AKU TERBANGUN DI TENGAH-TENGAH HUTAN LEBAT YANG SANGAT GELAP!
"A-a-a... Emm..." suaraku tertahan.
Ku edarkan pandangan mataku ke sekeliling.
Suasana hutan ini sangat hening.
Dan, aku sendirian di antara barisan pepohonan yang menjulang ke langit.
"I-i-i-ibuuu...? B-b-b-bapaaak...?"
Suaraku mencoba memanggil kedua orang tua angkatku.
"A-a-a-aku dimanaaa? Ibuuu? Bapaaak?" panggilku sekali lagi.
Tapi, tak ada jawaban apapun.
HANYA ADA KEHENINGAN YANG MENUSUK.
Dan, seolah aku merasakan sebuah keanehan, aku langsung menampar sendiri wajahku. Mencubit tanganku.
Dan benar saja...
ANEH, SANGAT ANEH...
PIPIKU TERASA SAKIT SAAT KU TAMPAR!
TANGANKU JUGA MERASAKAN SAKIT SAAT KU CUBIT!
Dan, saat kepalaku tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi, aku tahu kalau ini bukanlah mimpi.
Dan seketika itu juga aku baru sadar, aku benar-benar terbangun di atas tanah penuh dedaunan kering.
Di tengah hutan lebat dan gelap.
SENDIRIAN.
Aku langsung berusaha untuk bangun, meski terasa gemetar sekujur tubuhku.
Kedua mataku tak henti-hentinya melihat ke sekeliling hutan ini.
Di tengah kepanikan ini, tiba-tiba...
Ku dengar ada suara seorang anak perempuan di ujung sana. Tepat di antara barisan pepohonan yang menjulang.
Suara anak perempuan itu seperti memanggil-manggil, tapi bukan memanggil namaku.
"SEKAR ARUUUM? SEKAR ARUUUM?"
Iya, nama Sekar Arum yang dipanggil oleh suara anak perempuan itu.
Akhirnya, entah apa yang terjadi pada tubuhku, tiba-tiba saja aku melangkah maju. Seolah batinku sangat ingin menemukan sumber suara itu.
Dengan langkah gemetar, mata yang memandang awas, jantung berdetak cepat, ku tembus saja barisan pepohonan di depanku yang dipenuhi oleh semak-semak.
Dan, ketika aku sampai di ujung sana...
Kedua mataku langsung melihat seseorang.
"Ha-Haruma?!" gumamku.
Iya, yang ku lihat sekarang adalah Haruma.
Semakin aneh dan bingung diriku. Tak bisa mencerna sama sekali otakku.
Ada apa ini sebenarnya?
Kenapa ada Haruma di tengah hutan gelap seperti ini?
Dan siapa Sekar Arum itu?
Lalu, sesuatu yang ku lihat selanjutnya, amat sangat mengejutkan diriku.
Di dekat Haruma...
TIBA-TIBA MUNCUL SATU SOSOK PEREMPUAN BERMAHKOTA HITAM DAN BERBAJU HITAM.
Tapi, sosok wanita itu hanya berdiri diam di dekat Haruma. Sambil menatap Haruma dengan kedua matanya yang keemasan terang.
Lalu, Haruma terlihat dituntun oleh sosok perempuan itu, berjalan menjauhiku.
Sontak, entah ada perasaan apa dalam batinku sekarang, aku merasa bahwa Haruma akan di bawa ke suatu tempat yang bahkan aku tak tahu sama sekali.
Dengan sekuat tenaga, ku coba untuk menyusul Haruma yang di tuntun oleh sosok wanita bermahkota hitam itu.
Menembus semak-semak yang semakin lebat tubuhku.
"Harumaaa..." panggilku.
Semakin jauh aku ditinggal oleh Haruma. Tapi aku tak menyerah, aku berusaha semakin kuat melangkah.
"Harumaaa..." panggilku sekali lagi.
Dan, tak lama kemudian, aku bisa menemukan Haruma.
Dia sedang berdiri di tepi sebuah kolam, sedang menatap lurus ke arah airnya yang jernih. Dan ada sebuah batu besar di sisi kirinya.
Kembali ku panggil Haruma, aku khawatir jika akan terjadi sesuatu padanya.
"Harumaaa..."
Aku mencoba untuk melangkah, mendekat padanya.
Kembali ku panggil namanya saat sudah di dekatnya, "Harumaaa..."
DAN...
LANGSUNG KU PEGANG TANGAN KANANNYA.
TAPI ANEHNYA, HARUMA SEPERTI TAK BISA MELIHAT KEBERADAANKU!
DAN AMAT SANGAT TERKEJUT DIRIKU, SAAT BARU MENYADARI BAHWA KEDUA MATA HARUMA ITU...
NORMAL!