Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Sulit Dilawan
"Lalu kau... kau... kau sungguh beringas...," sambung Teddy dengan suara meninggi menganggap Lova diperlakukan bagai mesin pencetak anak saja.
Namun, alih-alih meledak marah atau menunjukkan reaksi emosinya, Arnold malah mengulas senyum tipis yang teramat tenang. Sepasang matanya yang tajam berkilat penuh kepuasan. Dia baru saja berhasil memancing emosi lawan lama yang kembali masuk ke dalam perangkap.
Arnold sangat menikmati bagaimana amarah Teddy mendidih. Dia tahu Teddy kembali salah beramsumsi. Setidaknya, dengan begini ia merasa puas atas perlakuan masa lalu Teddy saat membongkar tentang dirinya bersama duo ular dulu, membuat Lova lari dan mereka kehilangan buah hati pertama.
"Aku harap, kali ini kau tak melakukan hal yang lebih bodoh lagi, dibanding dulu."
Teddy tidak tahu bagaimana hancurnya Arnold dan Lova saat kehilangan calon anak pertama mereka karena keguguran akibat benturan jalan waktu insiden Telo dulu. Seandainya hasutan itu tak berhembus, mungkin benar adanya ... Ia sedang menanti buah hati yang kedua dari pernikahan mereka.
Teddy juga tidak tahu berapa banyak air mata Lova yang menetes hingga akhirnya Tuhan memberikan bonus kehamilan kembar ini.
Bukannya meluruskan kesalahpahaman itu, Arnold justru memilih menggunakan fakta tersebut untuk semakin memanipulasi dan mengacak-acak mental Teddy.
"Beringas?"
Arnold terkekeh sangat rendah, terdengar begitu santai dan elegan. Dia sengaja mengusap perut buncit Lova dengan gerakan perlahan, memperlihatkan cincin kawinnya tepat di depan mata Teddy.
"Kalau aku tidak beringas, bagaimana mungkin aku bisa menjaga dan memberikan kebahagiaan ganda seperti ini untuk istriku, Zarisha? Kamu tahu sendiri kan, Teddy ... Zarisha hanya bisa menerimaku, meskipun kamu merasa sebagai pria yang satu-satunya tulus mencintainya selama bertahun-tahun."
"Sudah, Kak. Jangan bertengkar lagi. Kasihan anak kita mendengar ayahnya bertengkar seperti ini."
Lova yang mendengar suaminya mulai mengeluarkan mode manipulatifnya mulai memijit pelipisnya. Dia sudah sangat hafal tabiat Arnold yang senang menguji ketahanan mental orang lain, tapi ini untuk pertama kali melihat pada Teddy.
Aira yang berdiri di samping Teddy mulai memahami kisah masa lalu, yang membuatnya begitu benci pada Arnold. Di saat inilah, insting keperawatannya, terutama di stase kejiwaan, langsung menangkap bahwa Dokter Arnold sedang memainkan taktik gaslighting yang sangat halus untuk memancing emosi Teddy agar lepas kendali.
Melihat Teddy yang mengepalkan tangan di dalam saku jasnya dengan wajah yang kian menggelap, Aira dengan cepat menyodorkan kantong kresek di tangannya ke tengah-tengah atmosfer yang mencekam itu.
"Anu ... Dokter Arnold, ini saya baru membeli sarapan bubur ayam di kantin depan sana," potong Aira, mencoba mencairkan ketegangan sambil tersenyum kikuk.
Arnold mengalihkan pandangannya pada Aira, menatap mahasiswi yang ia uji dari atas ke bawah, lalu beralih pada Teddy.
"Simpan saja sarapanmu, Saudari Aira. Lebih baik kamu gunakan energimu untuk berpikir. Biar nanti tidak salah lagi bersikap sebagai seorang perawat, dan segera menyerahkan laporan yang benar kepada saya."
Arnold memundurkan langkahnya, kembali memegang kemudi kursi roda Lova dengan ketenangan seorang pemenang.
"Tepat pada pukul satu siang, bawa laporan revisimu ke ruangan saya. Kita lihat, apakah pembimbing barumu ini bisa membantumu menggunakan otaknya secara logis, atau dia hanya bisa mengajari kamu cara meluapkan emosi dengan sesaat di mana pun dan kapan pun?"
Setelah melemparkan kalimat manipulatif yang telak menjatuhkan mental keduanya, Arnold memutar kursi roda Lova dengan gerakan anggun, mendorong istrinya masuk menuju lobi utama rumah sakit tanpa beban sedikit pun. Lova sempat menoleh sekilas, memberikan senyuman tipis seolah berkata pada Teddy agar tidak perlu memasukkan kata-kata suaminya ke dalam hati.
Di parkiran, Teddy masih berdiri mematung. Napasnya terdengar berat, berusaha keras meredam gemuruh di dadanya agar tidak terpancing permainan psikologis Arnold.
Aira menatap punggung Dokter Arnold yang menjauh, lalu beralih menatap Teddy yang tampak seperti bom waktu siap meledak.
"Mas Om Teddy," panggil Aira pelan, suaranya kembali imut. "Jangan didengerin ya. Dokter Arnold itu emang agak gila, dia itu lagi sengaja bikin Om marah supaya fokus kita buyar pas benerin laporan nanti."
Teddy melirik Aira tajam, tetapi perlahan kepalan tangannya di dalam saku mengendur. Dia tersadar, anak kecil di sampingnya ini ternyata punya kepekaan yang cukup baik sebagai calon perawat jiwa.
"Masuk ke mobil," perintah Teddy pendek, suaranya kembali kaku bagai triplek. "Kita bedah laporanmu sekarang. Aku tidak akan membiarkan pria manipulatif itu menang untuk kedua kalinya."
Aira menggigit bibir dan segera masuk ke dalam mobil itu. Teddy pun segera masuk dengan suara hempasan pintu yang teramat keras.
Brakk.
Pintu sedan ditutup dengan rapat, seketika memutus pandangan mereka dari lobi rumah sakit. Aira langsung menyelinap masuk ke balik sabuk pengaman yang sudah ia klik duluan ke kuncinya, membuat Teddy lagi-lagi hanya bisa mengembus napas pendek menahan dongkol melihat kelakuan ajaib gadis ini.
"Mana laporanmu? Sini," perintah Teddy tanpa basa-basi, suaranya kembali berat dan kaku.
Aira buru-buru mengeluarkan map jepit plastik berwarna biru dari dalam tas yang ia bawa tadi. Lalu menyodorkannya pada Teddy bersama dengan kantong kresek bubur ayam yang tadi ditolak Arnold.
"Ini, Om. Sama ini ... buburnya dimakan dulu. Om Teddy pasti belum sarapan, kan? Makanya tadi sensi banget pas disenggol Dokter psikopat itu."
Teddy mengabaikan kresek bubur tersebut. Jemari kokohnya membuka map laporan milik Aira dengan cekatan. Sebagai seorang manajer utama di perusahaan properti raksasa, membaca berkas analitis dan data evaluasi adalah makanan sehari-harinya.
Namun, begitu matanya membaca istilah-istilah medis seperti Isolasi Sosial, Halusinasi Pendengaran, hingga Defisit Perawatan Diri, membuat kening Teddy langsung berkerut dalam.
"Ini apa maksudnya? 'Pasien VIP Tn. X mengalami waham kebesaran dhi. mengaku sebagai titisan Raja Pajajaran'?" Teddy membaca salah satu baris laporan Aira dengan dahi melipat tiga.
Aira yang sedang membuka bungkus karet bubur ayamnya langsung menyahut berapi-api.
"Nah! Itu dia, Om! Itu pasien VIP yang ditangani Dokter Arnold. Kemarin aku salah tulis dosis terapi obat pembatas wahamnya di lembar observasi harian. Harusnya 2 miligram, aku malah ketik 20 miligram karena kepikiran Mas Beni yang nggak ada kabar di pulau yang jauh! Untung belum sempat dikasih sama perawat ruangan, kalau sempat ... bisa tidur tiga hari tiga malam itu si Raja Pajajaran!"
Teddy memijat pangkal hidungnya yang mendadak pening. Dia menatap Aira dengan pandangan tidak habis pikir.
"Kamu hampir membunuh orang hanya karena memikirkan abdi negara amatiran yang sekarang sudah jadi suami orang itu?"
Aira langsung cemberut, menyuap satu sendok bubur dengan kasar. "Ya kan namanya juga khilaf, Om! Namanya juga lagi bingung waktu itu belum ada kabar! Tapi sekarang udah tau dia udah nikah, ya udah. Aku lupain aja."
"Makanya, Om ... Bantuin aku. Om Teddy pasti pinter kan? Masa kalah sama Dokter Arnold."
Teddy terdiam sejenak. Kata-kata Arnold di parkiran tadi kembali berdengung di telinganya. 'Kita lihat, apakah pembimbing barumu ini bisa membantumu menggunakan otaknya secara logis, atau dia hanya bisa mengajari kamu cara meluapkan emosi dengan sesaat di mana pun dan kapan pun?'
"Aira," panggil Teddy, nadanya berubah serius dan taktis.
"Secara medis sebagai calon perawat, tentu kamu yang lebih paham alurnya. Tapi secara penyusunan data, regulasi, dan cara menyajikan laporan agar terlihat tanpa celah, itu merupakan keahlianku. Sekarang, kamu suapkan bubur itu ke saya, lalu jelaskan satu per satu apa saja poin revisi yang diminta si psikopat itu."
"Eh? Disuapin?!" Aira melongo dengan sendok menggantung di depan mulutnya.
"Saya tidak punya waktu untuk memegang sendok kalau tangan saya harus mengetik ulang format laporanmu di laptop," ucap Teddy dingin, langsung meraba jok belakang untuk mengambil laptop kerjanya tanpa peduli dengan wajah Aira yang mendadak bersemu merah muda.
Aira mengerjapkan matanya, melihat bagaimana profil samping wajah Teddy yang tampak begitu fokus dan berwibawa di balik kemudi saat mulai menyalakan laptop. Sifat kakunya memang cukup menyebalkan. Akan tetapi entah kenapa, untuk pertama kali ia merasa aman bersama seorang pria. Ini merupakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Mas Beni di saat mereka bertemu.
"Ya ... ya udah. Buka mulutnya dulu, Om. Aaaak ..." cicit Aira pelan, menyodorkan sendok buburnya dengan tangan sedikit gemetar.
Di dalam mobil Teddy yang terparkir di sudut RSJ itu, sebuah kerja sama antara pria yang harga dirinya sedang terluka dan gadis muda yang nekat resmi dimulai. Mereka hanya punya waktu kurang dari enam jam untuk membalikkan keadaan. Untuk membuktikan kepada Dokter Arnoldy Darmawan, bahwa mereka bukanlah lawan yang bisa diremehkan.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣