NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

Suasana pagi di ruang rawat inap terasa lebih hangat dibanding dua hari sebelumnya. Sinar matahari menembus celah tirai, menerangi wajah Lidya yang kini tampak lebih segar. Warna pucat yang sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar. Bahkan senyum tipis mulai kembali terlihat di bibirnya.

Di sisi tempat tidur, Alvaro tengah sibuk memeriksa hasil pemeriksaan terakhir. Sesekali ia mencatat sesuatu di rekam medis, lalu mengecek infus yang masih terpasang di tangan ibunya. Selama dua hari terakhir, ia nyaris tidak pernah meninggalkan rumah sakit. Sebagai seorang dokter sekaligus anak, ia ingin memastikan kondisi wanita yang telah melahirkannya itu benar-benar pulih.

Lidya mengamati putranya dengan tatapan penuh kasih. Di balik wajah yang tampak tenang, ia tahu Alvaro menyimpan kelelahan. Mata pria itu terlihat sembap akibat kurang tidur, tetapi ia tetap memaksakan diri tersenyum setiap kali bertemu dengannya.

"Al..." panggil Lidya pelan.

Alvaro segera menoleh. 

"Iya, Ma?"

"Kalau mama lihat hasil pemeriksaannya sudah bagus begini, mama ingin pulang saja hari ini."

Alvaro menghentikan aktivitasnya. Ia menghela napas kecil sebelum mendekati ranjang.

"Mama masih butuh perawatan yang intensif. Kondisi mama memang membaik, tapi belum sepenuhnya stabil. Mama tidak boleh pulang tanpa izin dokter yang menangani."

Lidya langsung mengerucutkan bibirnya.

"Lah... kamu sendiri dokter, Nak. Kenapa urusan seperti ini malah dipersulit?" bantahnya dengan nada manja.

Alvaro hanya menggeleng pelan.

"Justru karena Al dokter, Al tahu risikonya. Sedikit saja mama memaksakan diri, kondisi mama bisa kembali menurun."

"Lagian..." Lidya kembali menyela sambil tersenyum penuh harap.

"Ada kamu yang merawat mama di rumah."

Ucapan itu membuat Alvaro terdiam. Ia menatap wajah ibunya beberapa saat sebelum menarik napas panjang. Ia benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi sifat keras kepala wanita itu.

"Ma..." gumamnya lirih.

"Apa?"

"Menjadi dokter itu tidak berarti Al bisa melanggar aturan. Semua pasien harus diperlakukan sama, termasuk mama."

Lidya terkekeh pelan.

"Kamu ini keras kepala sekali. Persis seperti ayahmu."

Kalimat itu membuat senyum Alvaro perlahan menghilang. Nama Denis masih menyisakan jarak di hatinya. Meski begitu, ia memilih tidak menanggapi dan kembali memeriksa infus sang ibu.

Melihat perubahan ekspresi putranya, Lidya merasa bersalah. Ia menggenggam tangan Alvaro dengan lembut.

"Maaf... mama hanya bercanda."

Alvaro mengangkat kepalanya dan membalas genggaman itu.

"Al cuma tidak mau kehilangan mama lagi."

Suara itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat hati Lidya bergetar. Ia menyadari, di balik sikap tegas putranya, tersimpan rasa takut yang begitu besar.

Tanpa terasa, mata Lidya mulai berkaca-kaca. Dengan tangan yang masih lemah, ia mengusap pipi Alvaro.

"Mama janji akan menuruti semua perkataan dokter... asal setelah sembuh nanti, kamu juga berjanji mulai memikirkan kebahagiaanmu sendiri."

Alvaro membeku. Kalimat itu kembali mengingatkannya pada seseorang.

Namun kali ini ia hanya tersenyum tipis.

"Nanti kita bicarakan lagi, Ma. Sekarang yang paling penting, mama harus benar-benar sehat dulu."

Lidya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak dirawat di rumah sakit, ia memilih mengalah. Ia percaya, di balik ketegasan putranya, tersimpan kasih sayang yang begitu besar kasih sayang seorang anak yang tak ingin kehilangan satu-satunya tempat pulang.

" Setelah Mama pulih, ajaklah Eliz dan keluarganya makan malam di rumah. Kami ingin membicarakan tentang pernikahan kalian." Alvaro hanya diam di tempatnya, seolah enggan membahas soal pernikahan. "Al... kamu mau, kan?" Lidya kembali bertanya, memastikan jawabannya. 

 "Iya, Ma. Asal Mama benar-benar pulih kayak dulu.

***

Cahaya lampu yang berkilauan memantul pada etalase-etalase toko, sementara senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini. Hari itu, ia menghabiskan waktu bersama seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya Dokter Arga.

Di kedua tangannya telah bergelantungan beberapa kantong belanja. Mulai dari sepatu, perlengkapan rumah tangga, hingga beberapa aksesori sederhana yang akan digunakan untuk hari istimewanya nanti.

Anna mengembuskan napas pelan sambil tertawa kecil.

"Sudah ya, Dok. Belanjaanku sudah banyak," katanya sembari mengangkat kedua kantong belanja yang hampir memenuhi tangannya.

Arga menoleh dan tersenyum hangat. Tatapannya penuh kelembutan, seolah tak pernah bosan melihat wanita yang kini berdiri di sampingnya.

"Tidak apa-apa," jawabnya santai.

 "Ini untuk persiapan pernikahan kita. Aku ingin semua yang kamu butuhkan tersedia. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun."

Ucapan itu membuat langkah Anna terhenti sesaat. Pipinya perlahan memerah. Entah mengapa, setiap kali Arga menyinggung pernikahan mereka, jantungnya selalu berdetak lebih cepat.

"Dokter selalu saja membuatku malu," gumam Anna lirih sambil menundukkan kepala.

Arga hanya terkekeh pelan. Baginya, melihat Anna tersipu jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa dibelinya.

Mereka kembali berjalan hingga Arga menghentikan langkah di depan sebuah butik mewah. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah gaun berwarna putih gading yang terpajang anggun di balik kaca etalase. Potongannya sederhana, tetapi memancarkan kesan elegan.

Arga masuk ke dalam butik tanpa banyak bicara. Beberapa menit kemudian, ia keluar sambil membawa gaun itu.

"Yang ini... cocok untuk kamu, An," katanya seraya memperlihatkan gaun tersebut.

Mata Anna membulat. Jemarinya perlahan menyentuh kain halus itu dengan hati-hati.

"Indah sekali..." bisiknya.

"Aku membayangkan kamu mengenakannya di hari pernikahan kita," ujar Arga dengan penuh keyakinan. 

"Aku yakin semua orang akan terpukau. Tapi bagiku, yang paling penting adalah melihatmu tersenyum."

Anna terdiam. Ada rasa hangat yang menjalari dadanya. Selama ini Arga selalu memperlakukannya dengan penuh penghargaan, tanpa pernah memaksa atau menuntut. Kesabarannya membuat Anna perlahan membuka kembali pintu hatinya yang dulu pernah tertutup rapat.

"Terima kasih, Dok," ucap Anna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

 "Aku beruntung dipertemukan dengan orang sebaik kamu."

Arga tersenyum, lalu mengusap lembut pucuk kepala Anna.

"Bukan kamu yang beruntung, An. Justru aku yang bersyukur karena Tuhan mengizinkanku menemanimu menjalani sisa hidup."

Anna tersenyum malu, lalu mengembuskan napas panjang sambil mengusap dahinya. Seharian berkeliling pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan hari pernikahan ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang ia bayangkan.

"Anna capek, Dok," keluhnya lirih.

Mendengar keluhan itu, Arga hanya tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia mengambil seluruh kantong belanja dari tangan Anna. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia menggandeng wanita itu keluar dari pusat perbelanjaan menuju area parkir.

"Mulai sekarang jangan memaksakan diri. Kalau sudah lelah, bilang saja," ucap Arga penuh perhatian.

Anna mengangguk pelan.

 "Iya, Dok."

Perjalanan pulang berlangsung tenang, rintikan hujan membasahi kaca mobil. Tidak seperti biasanya, Anna lebih banyak memandang keluar jendela. Wajahnya tampak letih setelah seharian berjalan.

Arga beberapa kali melirik ke arah tunangannya. Ia sengaja tidak mengajak banyak bicara agar Anna bisa beristirahat. Sesekali hanya terdengar alunan musik lembut yang memenuhi kabin mobil.

Beberapa menit kemudian, Arga memecah keheningan.

"Minggu depan, tepatnya hari Senin, aku ingin mengajak salah satu rekan kerjaku makan malam bersama kita. Dia akan datang dengan tunangannya."

Anna mengalihkan pandangan dari jendela dan menoleh ke arah Arga.

"Rekan kerja yang sering Dokter ceritakan itu?"

"Iya. Dia sudah lama ingin bertemu denganmu."

Anna tersenyum tipis.

 "Boleh. Aku tidak keberatan."

Jawaban yang sederhana itu membuat Arga tersenyum lega.

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!