NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:47.1k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 33

Sementara itu, mobil sport Riven akhirnya memasuki area perusahaan. Begitu kendaraan mewah itu berhenti tepat di depan lobi utama, atmosfer yang semula tenang mendadak terasa mencekam.

Di depan pintu masuk, Oakley, sekretaris sekaligus orang kepercayaan ayah Riven, sudah berdiri menunggu.

Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, bahkan helaan napasnya terdengar memburu, tidak setenang biasanya. Seorang staf dengan cekatan membukakan pintu mobil. Riven turun dengan langkah tenang, membiarkan mobilnya dibawa menuju area parkir oleh petugas valet.

Belum sempat Riven melangkah jauh, Oakley sudah bergegas menghampirinya.

“Dari mana saja Anda, Tuan?” tanyanya dengan nada cemas yang tertahan.

Riven menatapnya sekilas. “Memangnya ada masalah?”

Kontras dengan Oakley yang didera ketegangan, wajah Riven justru masih menyisakan ketenangan. Bahkan, sisa semburat kebahagiaan setelah menghabiskan waktu bersama Angie belum sepenuhnya pudar.

“Tuan… Anda tidak memeriksa ponsel? Bagaimanapun jika anda pergi pastikan anda selalu memeriksannya., sebaiknya Anda tidak kembali ke negara ini untuk sementara waktu,” bisik Oakley lirih. “Pergilah ke Jepang. Setidaknya sampai amarah Tuan Thomas mereda.”

Riven mengernyit. “Ada apa denganmu?”

“Tuan Thomas sangat marah. Beliau sudah menunggu Anda di ruangannya sejak tadi.”

Mendengar nama itu disebut, Riven langsung memahami situasinya. Tanpa banyak bicara, ia merogoh ponsel dari saku.

Benar saja, puluhan pesan belum terbaca memenuhi layar. Belasan panggilan tak terjawab juga berjejer di bilah notifikasi. Barulah ia teringat bahwa saat bersama Angie tadi, ia sengaja membungkam ponselnya tanpa suara bahkan tanpa getaran. Seluruh perhatian, waktu, dan pikirannya hanya tertuju pada gadis itu, memilih mengabaikannya demi bisa menggenggam erat jemari Angie.

Riven mengembuskan napas pelan sebelum kembali mengantongi ponselnya.

“Baik.”

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya. Ia lalu mempercepat langkah menuju lift pribadi.

Sepanjang koridor, para karyawan yang berpapasan spontan menepi. Beberapa langsung menundukkan kepala memberi hormat, tetapi tak sedikit pula yang saling bertukar pandang penuh arti.

Mereka tahu, badai besar di lantai atas baru saja dimulai.

Sesampainya di lantai teratas, Riven berjalan lurus menuju ruang kerja ayahnya. Di depan pintu ganda yang megah, Oakley mendahuluinya untuk membukakan pintu dengan sangat hati-hati.

“Saya akan menunggu di luar, Tuan,” bisik Oakley pelan.

Riven hanya mengangguk. Oakley memang tidak pernah berani menapakkan kaki ke dalam pusaran Thomas jika Thomas sedang murka. Pria paruh baya itu tahu betul aturan sang atasan yang melarang siapa pun menginterupsi jalannya hukuman.

Riven pun melangkah masuk seorang diri.

Di balik jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, berdiri seorang pria paruh baya dengan postur tegap dan bahu lebar.

Meski beberapa helai rambut putih mulai menghiasi pelipisnya, perawakannya masih terlihat sekuat pria yang jauh lebih muda.

Menyadari kedatangan sang putra, Thomas perlahan membalikkan badan.

“Dari mana saja kau?” tanyanya dengan suara berat yang menggelegar rendah.

“Ada urusan.”

“Urusan?” Thomas mendengus dingin, sarat akan penghinaan. “Lebih penting daripada kedatangan Tuan Yamamoto?” Thomas kini berdiri tepat di hadapan Riven.

Tatapan Riven seketika mengeras. “Jadwal pertemuan itu seharusnya dua hari lagi dan…”

Belum sempat Riven menyelesaikan kalimatnya,

“BUGH!!”

Sebuah pukulan mentah dan keras menghantam telak perutnya.

Tubuh Riven sedikit terdorong ke belakang, tetapi kedua kakinya tetap menapak kokoh di atas lantai.

Ekspresi wajahnya nyaris tidak berubah, seolah rasa sakit fisik seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari yang biasa ia terima.

Thomas menatap putranya tanpa sedikit pun rasa iba di matanya. Riven tahu, ini baru awal pemanasan.

Thomas kemudian berjalan menuju sudut ruangan, tempat satu set tongkat golf tersusun rapi. Tangannya meraih salah satu tongkat besi dengan gerakan yang teratur dan tenang.

Riven hanya menarik napas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya berdiri. Ia tahu betul aturan tidak tertulis yang selama bertahun-tahun diterapkan oleh ayahnya, jika ia mencoba menghindar, melawan, atau bergeser sedikit saja saat hukuman dijatuhkan, maka setiap langkah yang ia ambil akan dihitung sebagai tambahan satu pukulan gratis.

Thomas menggenggam erat tongkat golf di tangannya. Tatapannya sedingin es, sementara amarah yang sejak tadi coba diredam kini telah mencapai puncaknya.

“Aku sudah mengajarimu sejak kecil,” ucapnya dengan suara berat yang menekan. “Dalam dunia bisnis, satu kesalahan waktu bisa menghancurkan investasi miliaran. Dan kau… justru memilih menghilang.”

Riven tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat. “Aku tahu.”

“Bukan hanya itu!” Thomas melangkah semakin dekat, mengikis jarak di antara mereka. “Tuan Yamamoto terbang langsung ke sini. Seluruh jajaran direksi sudah menunggu di ruang rapat. Kau baru saja mempermalukan perusahaan ini di saat semua orang meragukanmu! Dan kau seolah ingin memperjelasnya pada mereka!”

Riven tidak membantah. Ia tahu betul, setiap penjelasan atau pembelaan hanya akan menyulut api kemarahan ayahnya menjadi lebih besar.

Thomas mengangkat tongkat golf itu tinggi-tinggi.

“WUSSHHH!!”

“BUGGH!!”

Pukulan pertama menghantam punggung Riven dengan telak.

Tubuh Riven kentara berguncang pelan akibat benturan keras itu, tetapi kedua kakinya tetap terpaku di tempat. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menahan gelombang rasa sakit.

“Lihat aku!” bentak Thomas.

Riven yang menatap lurus ke depan kini berpindah kepada sepasang mata yang paling tidak pernah ia lupakan, membuat tatapan ayah dan anak itu saling beradu di udara.

“Kau ingin ku lempar ke Jepang lagi?” tanya Thomas tajam.

“Tidak.” Jawaban singkat dan tegas itu justru membuat wajah Thomas semakin menggelap. “Kau tidak mau? Kenapa kau membuat kesalahan!”

“Aku akan bertanggung jawab atas semua kelalaianku.”

Thomas mengembuskan napas kasar. “Kau masih berani membela diri! Kau pikir semudah itu!”

Tongkat golf itu kembali berayun membelah angin.

“BUGH!!”

Kali ini, hantaman keras mendarat di lengan kanan Riven. Rasa nyeri yang panas seketika menjalar hingga ke ujung jemarinya, tetapi pria itu bahkan tidak meloloskan satu pun erangan. Ia hanya menarik napas panjang, mengerahkan seluruh kekuatan untuk menjaga tubuhnya tetap berdiri tegak.

Thomas terus menatap putranya dengan napas memburu. “Jika kau memimpin perusahaan ini nanti, ribuan orang akan bergantung pada setiap keputusanmu. Sekali saja kau menghilang tanpa kabar, seluruh sistem bisa hancur berantakan!”

“Aku mengerti.”

“Mengerti?” Thomas tertawa hambar, sinis. “Kalau benar-benar mengerti, kau tidak akan melakukan kebodohan kekanak-kanakan ini!”

Tongkat besi itu kembali diangkat ke udara. Namun, tepat sebelum ayunan berikutnya mendarat, Thomas mendadak menghentikan gerakannya sendiri.

Ruangan itu seketika hening. Hanya suara napas berat keduanya yang terdengar saling memburu di tengah kesunyian.

Thomas menatap Riven lekat-lekat selama beberapa detik, seolah sedang mencari secuil rasa penyesalan di wajah putranya.

Namun, yang ia temukan justru sepasang mata yang memancarkan keteguhan.

Riven memang menerima hukuman itu tanpa perlawanan, tetapi sorot matanya tidak ikut tunduk. Tidak ada rasa takut, pun tidak ada kebencian di sana. Hanya ada keyakinan mutlak bahwa keputusan yang ia ambil hari itu adalah pilihannya sendiri, dan ia sepenuhnya bersedia menanggung seluruh konsekuensinya.

Thomas perlahan menurunkan tongkat golf tersebut ke lantai. “Pergi ke ruang kesehatan.”

“Tidak perlu.”

“Aku tidak sedang meminta pendapatmu, Riven.”

Riven mengangguk tipis. “Baik.”

Saat ia berbalik menuju pintu, langkah kakinya tetap mantap dan konstan, meski punggung dan lengannya mulai berdenyut hebat akibat hantaman yang baru saja diterimanya.

Di balik pintu ganda, Oakley yang sejak tadi menahan napas cemas akhirnya bisa mengembuskan napas lega begitu melihat Riven keluar dengan hidp. Hanya dengan melihat raut wajah sang tuan muda, Oakley yang sudah hapal, ia tahu bahwa badai besar itu baru saja di terimanya.

Bersambung

1
yaman taena
up
yaman taena
lnjut
booo nita
mantul riv
booo nita
Seru riv
yerin malsih
next
yerin malsih
up
tiaramonic
lanjut
tiaramonic
upp
Rini
g respek sama angie
Rini
sengaja bgt ni uler
yiman ciroh
next
yiman ciroh
up
Nur
fans berstmu rif aq.
Nur
keren km riv
tiara meldani
seru yass
tiara meldani
angie menyebalkan
yoman batin
next
yoman batin
up
zalsa minara
uop
zalsa minara
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!