NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Alarm Bahaya

Tiga pria berjas hitam berdiri kokoh di depan pintu apartemen Savira tanpa izin darinya.

Kabel bening melingkar di telinga kanan mereka, menempel erat pada kulit leher yang tegang. Postur tubuh ketiganya memblokir akses lorong sempit apartemen murah itu. Kehadiran mereka mengubah area hunian sipil ini menjadi barikade militer tingkat tinggi.

Savira menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Kantung belanjaan plastik berisi stok mi pedas instan di tangannya mendadak terasa bertambah berat, menarik otot bahunya ke bawah secara kasar.

Udara lorong yang biasanya pengap kini digantikan oleh aura ancaman berintensitas tinggi. Bau tembakau menguar dari pakaian ketiga pria asing itu, menabrak aroma melati samar yang menempel pada jas almamater Savira.

"Nona Savira," sapa pria di tengah dengan nada mekanis. Tangannya terbuka lebar, memberikan ruang sempit menuju pintu kayu apartemen. "Silakan masuk. Kami akan menjaga perimeter luar ini dua puluh empat jam penuh."

Savira tidak membalas sapaan itu. Ia melangkah melewati ketiganya dengan pandangan lurus ke depan.

Sistem sarafnya membunyikan alarm bahaya beringas. Ayahnya, Wijaya Dharma, memiliki jaringan informan di setiap lapis kota ini. Keberadaan tiga pria berjas mencolok di gedung apartemen kumuh adalah bendera merah terang yang meneriakkan lokasinya kepada musuh.

Sentuhan kartu aksesnya pada pemindai pintu berbunyi bip singkat. Ia mendorong tuas logam tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruang tamunya yang minim cahaya.

Aaron Jayanegara duduk di atas sofa bersalut kulit sintetis. Pria itu menunduk fokus, jemarinya sibuk mengetik barisan perintah di atas papan tik laptop yang berpendar kebiruan.

Sebuah kabel data hitam membentang dari porta laptop Aaron, terhubung langsung ke bagian bawah ponsel pintar milik Savira yang tergeletak pasrah di atas meja kaca.

Paru-paru Savira serasa tertusuk bongkahan es tajam. Ia melempar kantung belanjaannya ke lantai kayu hingga menimbulkan bunyi benturan keras kaleng soda.

Langkah kakinya memangkas jarak dalam dua detik. Tangannya menyentak kabel hitam itu kuat-kuat hingga terlepas paksa dari ponselnya.

Layar laptop Aaron menampilkan barisan kode enkripsi penyadapan yang berkedip tanpa henti. Teks digital itu menyedot seluruh riwayat panggilan, log pesan tersembunyi, dan koordinat satelit dari ponsel Savira secara aktual.

"Apa yang kamu tanam di dalam perangkatku, Aaron?" Suara Savira mendesis rendah, mengiris udara steril ruangan lebih tajam dari bilah pisau bedah.

Aaron menutup layar laptopnya dengan gerakan terkontrol dan efisien. Pria itu mendongak, menatap Savira menggunakan mata gelapnya yang tidak memancarkan penyesalan sedikit pun.

"Wijaya Dharma baru saja menyewa enam agen pencari jejak kelas wahid," bariton Aaron mengalun tenang memenuhi kabin ruangan. "Mereka sedang menyisir setiap sudut kota untuk menemukan lokasi persembunyianmu. Aku butuh akses penuh ke jalur komunikasimu untuk memotong pelacakan mereka."

Savira meremas ponselnya kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih pucat seiring tekanan kuku ibu jarinya yang menancap pada layar kaca gawai tersebut.

Ia menarik napas lewat mulut, memaksa oksigen masuk ke dalam paru-parunya yang memberontak hebat.

"Tarik mundur ketiga anjing penjagamu di luar pintu itu," titah Savira meneteskan racun kemarahan. "Dan hapus semua skrip penyadapanmu dari ponselku sekarang juga."

Aaron berdiri tegap dari sofa. Postur tubuh tingginya menciptakan bayangan gelap yang menelan separuh tubuh Savira. Pria itu menyilangkan lengan berototnya di depan dada.

"Tidak akan kuizinkan," tolak Aaron telak.

Kata tolakan itu bekerja bagai bensin yang disiramkan langsung ke atas bara api.

Tangan kiri Savira merogoh saku celananya secara refleks. Ujung jarinya meraba patahan jepit rambut kayu di sana, menekan tepi tajamnya hingga menembus lapisan kulit tipisnya.

Rasa sakit fisik sekecil gigitan semut itu menahan insting liarnya untuk menghancurkan meja kaca di depannya berkeping-keping.

"Kamu melanggar pakta kita, Aaron." Dada Savira bergemuruh berantakan. Aroma melati dari tubuhnya menguar agresif, membanjiri ruangan seiring lonjakan hormon adrenalin di darahnya. "Tugasmu menjaga perimeter fisikku, bukan meretas telingaku dan mengambil alih kendali otonomiku."

"Otonomimu akan mati malam ini kalau peluru algojo Wijaya menembus pelipis kepalamu," balas Aaron keras. Pria itu memajukan langkah kakinya, menghapus jarak hingga ujung sepatu kulitnya menabrak ujung sepatu kets Savira.

Aaron menunjuk ke arah pintu depan dengan gerakan memvonis. "Kamu memancing ayahmu keluar dari sarangnya semalam. Kamu mengancam kekuasaan mutlak pria sosiopat itu lho. Dia tidak akan membiarkan aset pemberontak sepertimu bernapas bebas lagi."

Savira mendongak menantang intimidasi fisik tubuh besar pria tersebut. Ia menolak menundukkan wajahnya sedarajat pun.

"Lalu apa bedanya kamu dengan Wijaya Dharma?"

Pertanyaan mutlak itu meluncur pelan, tapi efeknya sanggup membekukan sirkulasi darah di urat nadi Aaron.

Otot bahu pria itu menegang kaku seketika. Kilat kemarahan menyala di dasar matanya, menolak keras disamakan dengan monster pembunuh tersebut.

"Jangan pernah menyebut namaku dalam satu kalimat dengan bajingan itu, Savira," tegur Aaron mematikan.

"Kamu merampas privasiku atas nama perlindungan." Suara Savira bergetar hebat menahan badai emosi yang siap meledak. "Kamu memenjarakanku dengan penjaga bayaran bersenjata, menyadap alat komunikasiku, dan memantau setiap langkah kakiku tanpa persetujuanku."

Gadis itu mundur satu langkah. Kepalanya dipenuhi visualisasi masa lalu yang mencekik pita suaranya.

Ia merogoh bungkus permen stroberi dari saku kemejanya. Ia merobek plastik itu menggunakan gigi, melempar gula padat tersebut ke dalam mulut, lalu mengunyahnya brutal hingga hancur menjadi bubuk kasar.

Rasa manis artifisial itu bertarung mati-matian melawan rasa getir sisa trauma di pangkal lidahnya.

"Belasan tahun ayahku mengurungku dalam ruang makan yang dingin memuakkan." Savira menunjuk dadanya sendiri dengan ujung telunjuknya yang memerah. "Dia memutus semua aksesku ke dunia luar, mengawasi setiap remah nasi yang kumakan, menjadikanku pajangan hidup yang hanya boleh bergerak atas perintah mutlaknya."

Aaron menurunkan tangannya ke sisi tubuh. Cengkeramannya pada kain celananya mengendur pelan. Rasa bersalah beracun berupaya naik ke permukaan wajahnya, namun ia menekan emosi itu kembali ke dasar perutnya.

"Aku melakukan semua penyadapan ini murni agar jantungmu tetap berdetak," ucap Aaron membumi. "Hanya nyawamu yang menjadi harga mati bagiku sekarang."

"Bertahan hidup tanpa memiliki ruang untuk mengambil keputusanku sendiri sama saja dengan menjadi mayat berjalan." Savira menepis udara kosong di antara mereka. "Buka pintunya, suruh orang-orangmu pergi, dan hapus penyadapannya. Atau aku yang akan keluar dari gedung ini dan mencari perlindungan hukumku sendiri."

Layar laptop Aaron di atas meja mendadak menyala memancarkan cahaya merah terang. Bunyi alarm pelacakan digital berderik monoton menginterupsi ketegangan leher mereka.

Fokus Aaron terbelah paksa. Pria itu menyentuh papan tik komputernya dengan satu gerakan taktis.

Sebuah peta satelit kota memunculkan satu titik kordinat merah yang bergerak menjauhi area perumahan elit keluarga Dharma. Titik itu berdenyut cepat, membawa paket data mentah dari perangkat pelacak pasif yang ditanam Aaron pada jaringan mobil sewaan premium.

"Nadia menghancurkan ponsel utamanya untuk menghindari pelacakan polisi, tapi dia terlalu bodoh untuk memeriksa sistem navigasi mobilnya," lapor Aaron mengubah intonasi suaranya menjadi objektif. Pria itu memutar layar laptop agar berhadapan langsung dengan Savira. "Adik tirimu sedang melarikan diri ke area distrik kumuh di perbatasan selatan kota."

Mata tajam Savira langsung membedah jalur merah pada peta digital tersebut. Otaknya yang menyala karena amarah kini beralih mode mengeksekusi data analitis dengan kecepatan mesin.

Nadia sedang dalam kondisi hancur lebur secara finansial dan sosial. Otoritas perbankan nasional telah memblokir seluruh akses kartunya sejak pagi tadi atas instruksi manipulatif dari ayah mereka.

Titik kordinat itu berhenti statis di area yang terkenal sebagai pasar gelap pembuatan paspor ilegal dan jalur pencucian uang tunai.

Mobil sewaan itu pasti terparkir diam di sebuah gang sempit yang gelap, terlindung dari jangkauan kamera pengawas lalu lintas kota. Nadia menyerahkan segepok uang tunai sisa hartanya kepada buronan pemalsu identitas di dalam kabin mobil tersebut. Kepanikan buta menuntun putri manja itu menyerahkan lehernya ke arena kriminal tanpa perlindungan.

"Wijaya pasti mengirim tim pembersih untuk merapikan semua jejak skandal korupsi yayasannya malam ini juga," ucap Aaron tanpa nada ragu. "Jika tim bayaran ayahmu menemukan Nadia bertransaksi di jalur hitam, Wijaya akan meresmikan putrinya sebagai tersangka tunggal. Dia akan membiarkan Nadia membusuk di penjara atas tuduhan mencoba kabur ke luar negeri membawa uang yayasan."

Savira memaku pandangannya pada layar bercahaya itu.

"Ini buktinya, Savira." Aaron kembali memusatkan tatapannya pada wajah pucat gadis tersebut. "Di luar ambang pintu ini, nyawa manusia tidak memiliki nilai tukar. Jika kamu melangkah keluar tanpa barisan keamananku, ayahmu akan menggilasmu sama persis seperti dia menggilas adik tirimu malam ini."

Pria itu memangkas sisa jarak lantai kayu di antara mereka. Tangannya terjulur kuat ke depan, mencoba menahan pergelangan tangan Savira untuk memberikan pegangan di tengah kekacauan ini.

Namun Savira menepis tangan besar Aaron kasar sebelum suhu kulit mereka sempat bersentuhan.

Bau disinfektan dari lantai apartemen menabrak aroma melati pekat dari tubuh Savira. Ego kemandiriannya memberontak buas melawan rasa takut yang meracuni logikanya. Ia menolak kembali tunduk di bawah kendali figur perlindungan mana pun.

Savira berteriak marah di hadapan Aaron, "Aku tidak kabur dari satu sangkar hanya untuk masuk ke sangkarmu, Aaron!"

1
DdCantik
ironis banget, baru bab1 padahal 👍
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!