Pada hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya, Aruna justru dipaksa menikah dengan pria yang paling ia benci.
Pria itu adalah Adrian Mahesa, pewaris keluarga Mahesa Group yang dingin, arogan, dan terkenal tidak memiliki hati.
Pernikahan mereka bukanlah tentang cinta.
Melainkan kesepakatan.
Ayah Aruna terlilit utang besar yang mengancam keluarganya. Satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Adrian: menikah dengannya selama dua tahun.
Aruna mengira dirinya hanya akan menjadi istri pajangan.
Namun setelah menikah, ia menemukan banyak hal yang tidak masuk akal.
Mengapa Adrian diam-diam selalu melindunginya?
Mengapa pria itu menyimpan foto masa kecilnya?
Dan mengapa keluarga Mahesa tampak begitu takut jika Aruna mengetahui kebenaran tentang kematian ibunya?
Ketika rahasia masa lalu mulai terungkap, Aruna harus memilih.
Meninggalkan Adrian dan membalas dendam.
Atau tetap bersama pria yang perlahan berhasil merebut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VeLynme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan Terakhir
"Dimas Pradipta."
Meski Nadia tidak sempat mengucapkan nama itu, semua orang memahami maksud jarinya.
Jari yang berlumuran darah.
Jari yang gemetar.
Jari yang menunjuk langsung ke arah ayah Aruna.
Lalu tubuh Nadia jatuh ke lantai.
Bruk.
Suasana langsung berubah kacau.
"Nadia!"
Ratih berusaha bergerak meski dirinya sendiri terluka.
Beberapa anggota keamanan segera berlari menghampiri wanita itu.
Sementara Adrian berdiri membeku.
Begitu juga Aruna.
Karena pikirannya menolak memproses apa yang baru saja terjadi.
Tidak.
Tidak mungkin.
Ayahnya memang menyembunyikan banyak rahasia.
Ayahnya memang berbohong selama enam belas tahun.
Tetapi membunuh ibunya?
Tidak.
Tidak mungkin.
"Ayah..."
Suara Aruna terdengar nyaris seperti bisikan.
Dimas memucat.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Tatapannya tertuju kepada Nadia yang terbaring di lantai.
Lalu perlahan ia menutup mata.
Seolah sudah mengetahui bahwa momen ini akan datang suatu hari nanti.
---
"Tidak."
Suara Adrian memecah keheningan.
Semua orang menoleh.
Pria itu menatap Dimas tanpa berkedip.
"Jawab aku."
Nada suaranya datar.
Terlalu datar.
Dan itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
"Apakah itu benar?"
Dimas tidak menjawab.
"Ayah."
Kini Aruna yang berbicara.
Air mata terus mengalir di wajahnya.
"Ayah..."
Namun lagi-lagi tidak ada jawaban.
Keheningan itu menghancurkan hati Aruna sedikit demi sedikit.
Karena selama ini, setiap kali ayahnya diam, selalu ada sesuatu yang disembunyikan.
Dan kali ini...
Ia takut dengan apa yang akan keluar.
---
Mahendra memperhatikan semuanya dari balkon.
Tatapannya sulit dibaca.
Namun untuk pertama kalinya sejak muncul, pria itu tidak terlihat mengendalikan keadaan.
Seolah sesuatu mulai keluar dari jalur yang ia rencanakan.
"Jawab mereka."
Ratih yang berbicara.
Wanita itu masih duduk di lantai sambil menahan luka tembak.
Namun suaranya tetap tegas.
"Dimas."
Pria itu membuka mata perlahan.
Tatapannya kosong.
Penuh kelelahan.
Penuh rasa sakit.
Dan yang paling mengerikan...
Penuh rasa bersalah.
"Aku tidak membunuh Alya."
Kalimat itu akhirnya keluar.
Aruna langsung menghembuskan napas yang tidak disadarinya sejak tadi ditahan.
Namun kelegaan itu hanya berlangsung sesaat.
Karena Dimas melanjutkan kalimatnya.
"Tapi aku memang penyebab kematiannya."
Dunia seakan berhenti.
---
Aruna merasa seluruh tubuhnya membeku.
"Apa?"
Suara itu keluar otomatis.
Lemah.
Tidak percaya.
Dimas menundukkan kepala.
Air mata jatuh ke lantai.
"Ayah tidak membunuhnya."
"Tapi kalau malam itu Ayah tidak melakukan kesalahan..."
Napasnya bergetar.
"...ibumu mungkin masih hidup."
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menunggu.
Karena akhirnya.
Akhirnya.
Rahasia yang dikubur selama enam belas tahun mulai terbuka.
---
"Malam itu."
Suara Dimas terdengar jauh.
Seolah ia sedang kembali ke masa lalu.
"Kami bertemu di gudang tua."
Aruna mengepalkan tangannya.
Gudang yang sama.
Tempat yang selama ini terus disebut.
Tempat terakhir ibunya terlihat hidup.
"Alya sangat marah."
"Ayah belum pernah melihatnya semarah itu."
"Dia baru menemukan daftar anggota."
"Dan dia ingin menyerahkannya ke media."
Mahendra memejamkan mata.
Ratih menunduk.
Sementara Reza hanya diam.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membantah.
Yang berarti cerita itu benar.
"Ayah memintanya berhenti."
Suara Dimas mulai bergetar.
"Ayah bilang itu terlalu berbahaya."
"Tapi ibumu keras kepala."
Senyum pahit muncul di wajahnya.
Senyum penuh kerinduan.
"Dia selalu seperti itu."
Air mata Aruna mengalir lagi.
Karena untuk sesaat ia bisa membayangkan ibunya.
Wanita pemberani yang tidak pernah ia kenal.
---
"Lalu apa yang terjadi?"
tanya Adrian.
Dimas menutup mata.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia berkata,
"Kami bertengkar."
Jantung Aruna langsung berdebar.
"Kami berteriak."
"Kami saling menyalahkan."
"Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku..."
Suara Dimas pecah.
"...aku kehilangan kendali."
Aruna mulai gemetar.
Tidak.
Tidak.
Tolong jangan.
Namun Dimas tetap melanjutkan.
"Aku menarik tangannya."
Ruangan menjadi sunyi.
"Sangat keras."
Air mata mengalir di wajah pria itu.
"Dan dia terjatuh."
Napas Aruna tercekat.
"Dia membentur meja besi."
Tidak ada yang berbicara.
Karena semua orang tahu.
Mereka tahu ke mana arah cerita ini.
"Aku panik."
Dimas menangis.
"Aku mencoba membangunkannya."
"Aku memanggil namanya."
"Aku memohon agar dia membuka mata."
Tubuh Aruna mulai gemetar hebat.
Karena setiap kalimat terasa seperti pisau.
Menusuk perlahan.
Tanpa ampun.
"Tapi dia tidak bergerak."
---
"Jadi kau membunuhnya."
Suara Reza terdengar dingin.
Dimas langsung menggeleng keras.
"Tidak!"
"Alya masih hidup saat itu."
Semua orang membeku.
Apa?
"Dia masih bernapas."
Jantung Adrian langsung berdegup.
"Kalau begitu?"
Dimas menatap Mahendra.
Tatapan penuh kebencian.
Penuh penyesalan.
Penuh amarah yang dipendam selama enam belas tahun.
"Karena setelah itu..."
Suaranya berubah serak.
"...dia datang."
Semua orang mengikuti arah pandangnya.
Ke arah Mahendra.
Pemimpin kelompok rahasia.
Ayah Adrian.
Pria yang selama ini mengendalikan segalanya.
Mahendra tidak bergerak.
Tidak membantah.
Tidak menyangkal.
Dan itu membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
---
"Aku meneleponnya."
Suara Dimas semakin lemah.
"Aku panik."
"Aku tidak tahu harus melakukan apa."
"Aku menghubunginya."
Mahendra tersenyum pahit.
Seolah mengingat malam itu.
"Malam terburuk dalam hidup kita."
kata pria itu pelan.
"Ketika aku tiba..."
Tatapan Mahendra menjadi jauh.
"...Alya masih hidup."
Aruna langsung menoleh.
Masih hidup.
Ibunya masih hidup.
Berarti masih ada kesempatan menyelamatkannya.
Berarti...
"Kenapa tidak membawanya ke rumah sakit?"
teriak Aruna.
Suaranya menggema di seluruh ruangan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Dan diam itu membuat dadanya semakin sesak.
"Kenapa?!"
Air mata terus mengalir.
"KENAPA?!"
Ratih menutup matanya.
Seolah tidak sanggup mendengar pertanyaan itu.
Sementara Mahendra menghela napas panjang.
Kemudian ia menjawab.
Dan jawaban itu membuat semua orang membeku.
"Karena saat itu kami sadar..."
Tatapannya perlahan mengarah kepada Aruna.
"...Alya sudah menyalin daftar tersebut."
Jantung Aruna terasa berhenti.
Apa hubungannya?
Namun Mahendra melanjutkan.
"Kami tidak tahu salinannya ada di mana."
"Kami tidak tahu siapa yang memilikinya."
"Kami tidak tahu kepada siapa dia mempercayakannya."
Tatapannya berubah suram.
"Dan ada orang-orang yang mulai panik."
---
"Tidak..."
Bisik Aruna.
Tidak.
Jangan katakan itu.
Jangan.
Namun Mahendra tetap mengatakannya.
"Sebagian anggota kelompok ingin memastikan Alya tidak pernah berbicara lagi."
Ruangan seketika membeku.
Karena akhirnya.
Untuk pertama kalinya.
Mereka mendengar pengakuan yang selama ini dicari.
Alya bukan korban kecelakaan.
Bukan korban kebetulan.
Melainkan target.
Target yang harus dibungkam.
"Tapi aku menolak."
kata Mahendra.
"Saat itu aku menolak."
Aruna tidak tahu harus mempercayainya atau tidak.
Namun satu hal pasti.
Malam itu jauh lebih buruk daripada yang pernah ia bayangkan.
Jauh lebih gelap.
Jauh lebih kejam.
---
Tiba-tiba suara lemah terdengar dari arah lantai.
"N... bukan..."
Semua orang menoleh.
Nadia.
Wanita itu masih hidup.
Meski darah terus mengalir.
Meski napasnya mulai melemah.
Ia masih hidup.
"Nadia!"
Ratih merangkak mendekat.
Namun Nadia hanya menatap Aruna.
Lalu Dimas.
Kemudian Mahendra.
Dan akhirnya berkata dengan susah payah,
"Kalian..."
Batuk darah.
"Kalian masih..."
Air mata mengalir dari matanya.
"...belum tahu..."
"Belum tahu apa?"
teriak Adrian.
Nadia berusaha mengangkat tangannya.
Gemetar.
Sangat gemetar.
Lalu ia mengucapkan kalimat terakhir yang membuat seluruh ruangan kehilangan napas.
"Orang yang memerintahkan kematian Alya..."
Ia berhenti.
Menelan darah.
Kemudian berbisik,
"...bukan anggota kelompok."
Jantung semua orang berhenti berdetak.
Apa?
Kalau bukan mereka...
Kalau bukan Mahendra...
Kalau bukan Reza...
Kalau bukan Ratih...
Lalu siapa?
Dan sebelum ada yang sempat bertanya lebih jauh...
Nadia mengembuskan napas terakhirnya.
Dengan satu nama yang nyaris tidak terdengar keluar dari bibirnya.
Nama yang membuat wajah Mahendra langsung berubah pucat.
Nama yang membuat Ratih menangis.
Nama yang membuat Reza mundur selangkah.
Dan nama yang tidak pernah muncul dalam penyelidikan selama enam belas tahun.
"Jonathan..."
Bersambung...