NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Saat Semua Orang Terdiam

Teknisi pencahayaan Mang Kusno hampir menjatuhkan papan kontrol di tangannya. Ia menatap kosong ke arah Citra Lestari, bergumam pelan, "...Ya ampun..."

Seorang gadis kecil pengelola properti di dekatnya membuka mata lebar-lebar. Tangannya sibuk menarik lengan baju orang di sebelahnya, suaranya tertahan sangat rendah namun tidak mampu menyembunyikan kegirangan: "Ya Tuhan — itu Citra Lestari? Dia... dia terlihat seperti ini? Ini terlalu... terlalu..."

Terlalu apa? Ia sejenak tidak menemukan kata yang tepat.

Wajah itu murni sekaligus memikat, tanpa cela satu pun. Setiap detailnya berpadu membentuk keindahan yang terasa mustahil — seperti sesuatu yang seharusnya tidak ada di lokasi syuting biasa ini.

Yang paling menakjubkan adalah matanya. Jernih seperti mata air pegunungan, namun sudut-sudutnya melengkung alami ke atas dengan sedikit kepolosan. Saat tatapannya bergeser, seolah ia bisa mencuri jiwa siapa pun yang menatapnya.

Tidak ada riasan glamor. Tidak ada tatanan rambut rumit. Hanya kaus dan celana jins paling biasa, rambut diikat santai di belakang kepala. Namun ia memancarkan aura yang bersih dan halus, seolah tidak ternoda oleh debu dunia. Kecantikan itu anggun sekaligus memiliki daya tarik alami yang sulit diabaikan — dua hal yang seharusnya bertentangan, namun di wajahnya justru berpadu sempurna.

Shafira Maharani awalnya berdiri dengan tangan bersilang, senyum sinis tersungging di sudut bibirnya. Ia bersiap menyaksikan pertunjukan memalukan.

Tapi senyum itu membeku di wajahnya.

Pupil matanya menyempit. Bibirnya — yang dipoles lipstik indah — mengerucut menjadi garis lurus yang tegang.

*Rasa itu muncul begitu saja, meski ia tidak mau mengakuinya.*

Shafira dikenal sebagai salah satu wajah tercantik di industri hiburan. Ia selalu sangat percaya diri dengan penampilannya, tahu betul cara riasan dan gaya menonjolkan kecantikannya secara maksimal. Namun asisten kecil itu — dengan wajah polos dan pakaian sederhana — hanya dengan berdiri di sana, telah membuat semua orang di sekitarnya tampak pucat.

Temperamen sehalus itu bukan sesuatu yang bisa ditiru. Bukan sesuatu yang bisa dibeli atau dilatih.

Dan tipe seperti itu — justru tipe yang paling langka di industri ini.

Shafira mengertakkan gigi belakangnya. Tanpa sadar, ia menegakkan punggung, mengangkat dagu sedikit, mencoba menggunakan postur arogan yang biasa ia andalkan untuk menutupi sesuatu yang tiba-tiba menggelegak di dalam dadanya.

*Semoga saja dia hanya vas cantik tanpa kemampuan akting,* batinnya. *Kalau tidak...*

"Kakak Siska..." Asisten sutradara tersadar, suaranya bergetar antara tidak percaya dan kagum. "Dari mana kamu... menggali harta karun ini?"

Kak Siska sendiri cukup terkejut. Ia tahu gadis itu punya potensi — tapi tidak menyangka akan sampai sejauh ini. Ia menahan kegembiraannya, melambaikan tangan pura-pura santai: "Sudah, sudah — tonton dulu, tonton dulu!"

Tapi matanya tidak bisa dialihkan dari Citra Lestari. Diam-diam, ia sudah mulai menghitung nilai komersialnya.

Sang sutradara menatap monitor, memperlambat suaranya: "Mulai."

"Menari lah bagian yang paling kamu kuasai. Dengan daya pikat seorang wanita penghibur — tanpa menjadi vulgar. Kecantikan tanpa menjadi sekadar memesona."

Tidak ada musik. Hanya keheningan.

Citra memejamkan mata.

Saat membukanya kembali, ekspresinya telah berubah sepenuhnya.

Ia bukan lagi asisten kecil yang pemalu dan selalu menundukkan kepala. Tatapannya bergeser — membawa kelesuan seseorang yang telah melihat terlalu banyak, namun saat ia mengangkat mata, pesona itu mengalir keluar dengan sendirinya.

Ia perlahan mengangkat lengan ramping seputih giok, ujung jarinya terentang seperti ranting pohon willow di awal musim semi.

Tanpa musik, tubuhnya sendiri yang menjadi ritme.

Pinggang rampingnya melentur fleksibel — seperti pohon willow tertiup angin, lemah sekilas, namun memancarkan kekuatan dari dalam. Langkahnya ringan dan anggun, seolah kakinya menginjak kelopak bunga yang tak kasatmata. Dengan setiap putaran, lehernya terentang membentuk lengkungan panjang yang indah. Matanya terkadang berkabut seperti asap, terkadang jernih seperti bintang — menampilkan kesepian yang menjadi milik seorang pelacur, sekaligus kilatan singkat dari kejayaan yang tidak akan pernah abadi.

Semua orang yang hadir bisa melihat bahwa dasar tariannya lemah. Gerakannya tidak standar, sepenuhnya bertumpu pada temperamennya sendiri.

Namun pemahaman Citra tentang peran wanita penghibur itu, ketenangan yang ia bawa, kemampuannya menyampaikan cerita lewat bahasa tubuh — semua itu membuat siapa pun yang menonton tak mampu mengucapkan sepatah kata.

Terutama saat ia mengakhiri pose terakhirnya — sedikit terengah, lalu mengangkat mata aprikotnya menatap langsung ke kamera.

Sang sutradara lupa mengucapkan *cut.*

*Kesucian yang melekat pada temperamennya, berpadu dengan daya tarik duniawi seorang pelacur dan kesepian yang tak berdaya dari wanita di rumah bordil. Cita rasa yang tak terlukiskan. Penuh cerita. Mengundang untuk dieksplorasi.*

Kekurangan-kekurangan itu tidak mengurangi keindahannya sedikit pun.

Sang sutradara tersadar. Suaranya penuh semangat: "Bagus! Sangat bagus!" Lalu ia menambahkan, hampir tak sabar: "Adegan mayatnya — bisakah kau langsung masuk ke nuansanya?"

Citra tidak menjawab.

Ia hanya perlahan — seolah seluruh kekuatannya telah terkuras habis — ambruk ke belakang di atas tikar panjang yang diletakkan di sana.

Tubuhnya sangat rileks, namun terasa dingin dan kaku. Seolah jiwanya telah lama melayang pergi, hanya menyisakan cangkang yang dulunya sangat indah, namun kini benar-benar tanpa kehidupan. Satu tangan ramping seputih giok tergantung tak berdaya di tepi tikar, ujung jarinya sedikit melengkung.

Seluruh ruangan hening.

Hening sekali, hingga suara jarum jatuh pun akan terdengar.

Asisten sutradara berbisik pelan: "Sutradara?"

Sang sutradara tersadar. Ia menatap mayat yang begitu indah sekaligus memilukan di monitor, lalu menepuk pahanya keras: "Luar biasa!"

"Itu dia!"

"Mayat — itu aksi paling sederhana yang ada. Tapi gadis ini membuat orang merasakan penyesalan yang tak terhingga."

Ia menoleh ke Kak Siska: "Matamu tajam sekali!"

Kak Siska memperlihatkan senyum puas yang tidak ia sembunyikan.

Wajah Shafira Maharani seketika memerah, air mata nyaris menggenang di sudut matanya.

---

Citra perlahan bangkit dari posisi mayat itu. Wajah kecilnya sedikit memerah karena terlalu lama menahan napas.

*Langkah pertama sudah diambil.*

Mulai sekarang, ia tidak akan lagi menjadi eceng gondok tanpa akar, terombang-ambing mengikuti arus. Ia akan mengandalkan usahanya sendiri — perlahan-lahan berakar, dan tumbuh, di dunia ini.

1
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!