NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

...Onde-onde Prajurit Jaga...

Naira duduk di kursi belakang dengan badan yang dipaksa tegap. Mesin kendaraan berderu, membelah jalanan kota yang sangat jarang ia lihat. Sesekali, jemarinya bergerak meremas ujung rok span hitamnya untuk menghalau rasa gugup yang kian merayap.

Tubuhnya beberapa kali ikut bergoyang saat roda mobil menghantam jalanan yang ternyata tak semulus bayangannya. Hingga akhirnya, kendaraan itu melambat dan berhenti beberapa meter di depan pintu gerbang tinggi yang dicat hijau lumut.

"Nai, berkas sama rantangmu yang besar diambil, ya," kata ibunya yang duduk di samping, bersiap membuka pintu.

Gadis itu menoleh sesaat dengan raut bingung. "Lho, Ayah, Ibu, sama Om Seno nggak ikut turun?"

"Kami harus langsung ke rumah Om Seno di kota, ada urusan. Kamu, kan, sudah besar, Nai. Berkas ini juga buat urusan pernikahanmu sendiri," sahut sang ibu santai.

Wanita paruh baya itu menepuk pundak Naira, memberikan dorongan. "Kamu harus berani."

Seketika itu juga, secuil keberanian yang sudah Naira kumpulkan sejak subuh mendadak menciut. Ia menengok ke luar jendela kaca mobil, menatap gerbang besi yang tampak begitu tinggi dan kokoh. Di balik pagar itu, terhampar lapangan upacara yang sangat luas serta bangunan-bangunan megah bercat hijau khas tentara. Naira meneguk ludahnya dengan susah payah.

"Tapi, Bu..."

Ibunya kembali menepuk pundak Naira, kali ini sedikit lebih keras. "Enggak ada tapi-tapian. Nanti Arka juga pasti jemput kamu di depan. Mana mungkin kamu dilepas begitu saja di kandang harimau."

Gadis itu hanya bisa tersenyum kecut. Setelah menyalami tangan kedua orang tuanya dan Om Seno bergantian, Naira akhirnya turun dari mobil. Dengan tas berkas yang ditenteng di satu tangan dan rantang susun besar berisi onde-onde di tangan lainnya, Naira berdiri mematung di tepi jalan tubuhnya agak miring.

Brummm.

Mobil Om Seno langsung melaju pergi, menyisakan kepulan asap tipis dan Naira yang kini benar-benar berdiri sendirian menghadap markas militer tersebut.

Naira berdiri mematung di tepi jalan. Tubuhnya agak miring ke satu sisi demi menahan beban tas berkas dan rantang susun besar yang cukup berat di tangannya.

Angin pagi berembus pelan. Sayup-sayup, suara sirene dari dalam barak terdengar menggaung, memecah keheningan. Gadis itu melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Baru pukul 07.30 WIB. Ia datang terlalu cepat dari waktu yang dijanjikan.

Sepatu pantofelnya mulai berderap pelan di atas jalan aspal. Naira melangkah mendekat ke arah gerbang dengan jantung yang terasa hampir lepas dari tempatnya.

"Halo. Permisi..." ucap Naira ragu-ragu begitu tiba di depan pos penjagaan.

Dua prajurit dengan tubuh tegap yang sedang berjaga segera menghampirinya. Mata mereka langsung tertuju pada rantang susun besar di tangan Naira.

"Maaf, Mbak. Kami tidak menerima produk jualan di area batalyon," ujar salah satu prajurit dengan tegas.

Naira meneguk ludahnya pelan. Kesal. Di dalam hati ia menggerutu, dikira mau dagang apa?! Ia terpaksa melempar senyum kecut. "Saya ke sini bukan mau jualan. Saya ada urusan berkas pernikahan kantor."

Kedua prajurit jaga itu saling pandang sesaat, lalu kembali menatap Naira dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Berkas pernikahan? Memang ada perwira yang mau menikah?"

Naira mendesah pelan. "Ada."

"Dengan siapa, Mbak?"

Naira sempat terdiam. Ia mencoba mengingat pangkat calon suaminya. "Kalau yang balok di kerah bajunya ada dua, itu pangkatnya apa, ya?"

"Letnan Satu," sahut prajurit itu dengan dahi mengkerut heran. "Siapa Lettu kami yang mau menikah?"

"Arka Wiguna."

Seketika itu juga kedua prajurit jaga langsung saling tatap, hampir saja menyemburkan tawa mereka. "Aduh, Mbak. Jangan bercanda. Wadanki kami yang satu itu tidak mungkin menikah dalam waktu dekat. Tidak ada kabarnya."

Naira mendengus kesal. Diabaikan di batalyon sendirian sudah cukup membuat energinya terkuras, sekarang malah dituduh berbohong dan dikira penjual makanan keliling. "Coba kalian telepon Mas Arka saja sekarang!" hentaknya kesal.

Tanpa memedulikan sopan santun lagi karena terlanjur dongkol, Naira membalikkan tubuh dan langsung duduk di kursi kayu panjang depan pos penjagaan. Wajahnya ditekuk habis-habis.

Melihat keyakinan gadis itu, salah satu prajurit segera masuk ke pos untuk menelepon bagian kantor staf. Tidak butuh waktu lama sampai prajurit itu keluar lagi dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Ia menyenggol temannya, dan keduanya langsung bergegas menghampiri Naira dengan sikap yang berubah seratus delapan puluh derajat.

"Aduh, Mbak... eh, maaf! Maksud saya, calon Ibu Lettu Arka!"

Naira melirik sekilas dengan jengah. Merasa kasihan sekaligus masih agak kesal, ia akhirnya membuka lapisan paling atas rantang susunnya. "Sudah-sudah, tidak apa-apa. Sini makan saja dulu, semalam aku membuat camilan."

Kedua prajurit itu kembali saling pandang. Namun, begitu melihat barisan onde-onde hangat dengan taburan wijen yang rapat, serta mencium aroma kacang hijau pekat berpadu pandan dan santan, pertahanan mereka runtuh. Tanpa banyak acara, keduanya langsung mencicipi masing-masing satu buah.

Derap... derap... derap...

Suara langkah sepatu lars yang mantap terdengar mendekat dengan ritme setengah berlari. Naira otomatis menengok ke arah sumber suara.

Lettu Arka Wiguna berdiri di sana, gagah dengan seragam loreng lengkap dan baret hijau yang terpasang rapi di kepalanya. Melihat sosok yang ditunggu, senyum lembut Naira langsung terbit. Ia melambaikan tangannya ringan.

"Mas..." Suara Naira menggantung pelan, sedetik kemudian ia meralatnya seraya melirik dua prajurit jaga yang seketika membeku dengan mulut penuh makanan. "...maksud saya, Lettu Arka."

Kedengaran bunyi deg yang kompak dari dua prajurit di depan Naira. Mereka langsung berbalik secepat kilat tepat ketika langkah kaki Arka berhenti di belakang mereka. Keduanya spontan mengambil posisi siap dan memberi hormat komando—namun dengan bibir yang masih belepotan minyak serta kedua pipi yang menggembung besar.

Dengan susah payah dan mata mendelik demi menelan bulat-bulat onde-onde di dalam mulut, salah satu dari mereka bersuara terbata-bata, "Hormat! Lettu Arka!"

"Kalian sedang apa?" tanya Arka dengan suara tajam dan dingin.

"Lapor, Lettu! Kami sedang menerima tamu sebagai calon istri Anda, dan... sedang menikmati onde-onde yang dibuatnya!"

Naira harus menggigit bibir bagian dalam kuat-kuat karena hampir saja meledakkan tawanya seketika itu juga. Apalagi saat ia melihat betapa kaku dan tajamnya tatapan mata Arka saat ini.

Arka menghela napas pendek, mencoba mempertahankan wibawa baret hijaunya yang mendadak runtuh akibat ulah onde-onde.

"Kembali bertugas. Jangan lengah lagi," ucap Arka singkat.

"Siap, Lettu!"

Setelah kedua anggotanya kembali masuk ke pos dengan takzim, Arka langsung berbalik menghadap Naira. Tatapan matanya yang tadinya tajam seketika melunak saat melihat tas berkas dan rantang besar yang sedang ditutup kembali oleh Naira.

Pria itu bergegas mendekat, lalu tanpa banyak bicara langsung mengambil alih rantang susun dan tas berkas dari tangan gadis itu. "Tadi Mas sudah bilang, tidak usah bawa apa-apa, Naira."

Naira terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa bersalah. "Sudah telanjur bikin, Mas. Eman-eman kalau ditinggal di rumah."

Mereka berdua kemudian mulai berjalan beriringan masuk melewati koridor markas, meninggalkan dua prajurit penjaga pos yang langsung saling tatap dengan mata melebar. Mereka baru saja mendengar dengan telinga kepala sendiri ucapan sang Wadanki sangar yang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan 'Mas' di depan seorang perempuan.

"Onde-ondenya... enak banget, ya?" bisik salah satu prajurit pelan, matanya masih menatap punggung tegap Arka di kejauhan.

"Iya, asli. Buatan calon istri Lettu Arka langsung." Temannya menyahut sambil mengusap sisa minyak di bibir.

"Tapi ngomong-ngomong... sejak kapan Lettu kita itu punya pacar? Tahu-tahu sudah bawa berkas sidang nikah saja."

...----------------...

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!