Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbler
Bel sekolah telah berbunyi, sebagi tanda jam pelajaran di mulai. Arina yang sibuk mempersiapkan bukunya, tiba-tiba di senggol oleh Mila.
“Ada apa?”
Mila langsung mengkode Arina menoleh ke arah jendela sekolah. “Lihatlah pangeran tampan sedang dapat hukuman.”
Arina langsung menoleh, melihat Jagat yang sedang di hukum oleh ketos.
“Se’engaknya hukuman sekolah kita tegas, nggak pandang bulu meski dia anak pemilik sekolah,” Saut Nina yang ikut menimpali.
“Bodo amat lah,” ucap Arina dengan wajah cueknya, entah mengapa setiap memandang Jagat jantungnya sedikit berdebar.
“Oh iya bagaimana belajar bareng dia, Lu suka?” Kali ini Nina sangat penasaran.
Arina menghela nafasnya berat, matanya sedikit berkaca. “Sebenarnya gue mau batalin, tapi pak Wijaya nuntut nyokap gue ganti rugi 100 juta, duit dari mana coba.”
“Whaatt…. Se-ratus juta, Gila.” Mila kali ini sedikit tercengang.
Arina mengangguk pelan, dan Nina berdesis kesal.
“Terus?”
“Ya mau nggak mau, gue tetep ngajarin dia sampai lulus nanti,”
“Kalau ada apa-apa, bilang sama gue, atau kalau dia macam-macam Lu bilang aja sama gue, biar gue kasih pelajaran tu anak.” Nina kali ini terlihat serius.
“Please Bos, gue tau Lu jago karate, tapi gue mohon jangan bikin bonyok pangeran gue,” mohon Mila dengan wajah centil nya. Kali ini Arina dan Nina terlihat geli melihat ekspresi Mila.
Tanpa sadar Arina menoleh ke arah jendela, dan Jagat juga menatapnya, dengan cepat Arina mengalihkan pandangannya ke depan.
Dari jauh Jagat tersenyum samar, dia selalu menganggap tingkah Arina terlihat lucu. “Dia ngapain coba,” gumamnya.
Jam berlalu begitu saja, kelas Arina mulai berisik saat pergantian jam pelajaran, sekilas Arina melirik ke arah luar tetapi Jagat sudah tidak ada di lapangan.
“Hukuman dia udah selesai,” dengan ekspresi tenang dan dingin Nina berceletuk, seolah olah dia mengamati Arina setiap detiknya.
“Maksudnya?” Arina mencoba setenang mungkin.
“Jagat.”
“Gue nggak lihatin dia kali,” elaknya.
“Hemmb…” wajah malas Nina terlihat sangat jelas. “Lu mau nginep rumah gue nggak malam ini?”
“Gue banyak tugas, tar aja kalau longgar,” jelas Arina yang terfokus dengan ponselnya.
“Ar, beliin gue minum, gue haus.” Sebuah voice dari contak ponselnya.
“Tingal ke kantin Jagat, dan di setiap lorong sekolah juga nyediain air minum gratis tinggal ambil.” Protes Arina yang kalah panjang.
“Jauh, Lu tau kan gue anak baru, dan seluas apa sekolah kita, tar gue nyasar, BURUAN MINUM…”
“Ahh… dasar anak manja,” gumam Arina kali ini yang langsung menyaut tumbler di mejanya lalu berjalan gontai ke kelas Jagat.
Wajah kesal Arina kali ini terlihat sangat jelas saat sampai di kelas Jagat, dan melihat meja Jagat yang sudah banyak botol air mineral dingin. “Terus ini apa JAGAT, air kencing?” Arina meninjuk beberapa botol minuman di depan Jagat dengan wajah geramnya.
“Duduk..!” entah mengapa aura Jagat langsung berubah menjadi dingin dan mengintimidasi. Melihat Arina yang masih berdiri membuat Jagat berdecih kesal dan langsung menyeret lengan Arina dan mendudukkan nya di bangku sampingnya. “Lu lupa di bayar bokap gue untuk apa?”
“Baik Tuan.” Cibir Arina.
Jagat tersenyum samar, dia meraih tumbler di tangan Arina lalu meminumnya seperti orang yang kehausan sejak tadi.
“Bukannya udah ada minuman di depan Lu, kenapa masih rewel sih?” tanya Arina yang masih butuh penjelasan Jagat.
“Gue nggak kenal mereka, siapa tau di racun, di pellet, bahkan di campur obat perangsang seperti di drama drama pendek yang Lu lihat kemarin,” jawab Jagat dengan santai, tetapi tidak dengan Arina yang seolah bola matanya mau keluar dari tempatnya.
“Lu bisa filter suara Lu nggak?”
Jagat langsung terkekeh di hadapan Arina, “Santai mbak, lihat bokep hal yang wajar kok,” ejeknya lagi.
“JAGAT…..!!!” kali ini tangan Arina refleks mencubit perut Jagat dengan sekuat tenag.
“Akkkkkhhhhh…. Lepasin Arrr….” ringis Jagat menahan sakit sambil teriak kesakitan.
Melihat wajah dan telinga Jagat mulai memerah Arina semakin mengeraskan cubitannya. “Arrrr….. Akkkkkkhhhhh….!!!”
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...