NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran Bik Asih dan paman Syarif***

Hujan turun sejak maghrib.

Genteng seng Pondok Al Hidayah berisik. Air menetes dari sela plafon ruang tamu. Membentuk genangan kecil di lantai keramik yang sudah retak.

Di meja kayu, ada map coklat terbuka. Isinya surat tagihan bank syariah. Angka tiga ratus juta dilingkari spidol merah.

Paman Syarif duduk di kursi bambu. Sarungnya basah. Baju koko lengket di badan. Wajahnya kosong.

Bik Asih berdiri di depan pintu. Kerudungnya belum dilepas. Tangan menggenggam HP. Layarnya menyala. Nama: Ustadz Yusuf.

Dering.

Bik Asih menatap suaminya. "Ini terakhir. Kalau enggak diangkat, semuanya hancur."

Syarif tidak menjawab. Matanya ke genangan air.

Bik Asih mengusap layar. "Assalamualaikum, Ustadz."

Suara berat dari seberang. "Bu Nyai. Waktu sebentar lagi habis."

Bik Asih menelan ludah. "Saya tahu, Ustadz. Saya sedang berusaha."

"Berusaha atau menunda?" Nada Yusuf dingin. "Saya sudah transfer tiga ratus juta ke rekening pondok empat hari yang lalu. Saya tunggu akad dari Bu Nyai. Mana calonnya?"

Syarif mendongak. Matanya menyala.

Bik Asih melirik cepat. Lalu menjauh dua langkah. "Ustadz, beri saya dua hari lagi."

"Untuk apa?" Yusuf ketus. "Saya sudah beritahu di telepon waktu itu. Saya bilang saya butuh perempuan shalihah. Saya tidak main-main. Seminggu sudah lewat lima hari."

Syarif bangun. Merampas HP dari tangan istrinya.

"Tutup." Tekannya.

Bik Asih terkejut. "Syarif!"

Syarif menempelkan HP ke telinga. "Ustadz Yusuf. Ini Syarif."

"Hm."

"Saya batalkan." Suara Syarif datar. "Pondok tidak akan menjual santri."

Klik.

HP dimatikan. Dilempar ke meja.

Bik Asih terpaku. "Kamu gila?"

Syarif menatapnya. "Kamu yang gila, Asih."

 

Hening. Hanya suara hujan.

Bik Asih tertawa. Pendek. Pahit. "Gila? Kamu bilang aku gila setelah dua puluh lima tahun aku bertahan di pondok ini?"

"Jangan bawa dua puluh lima tahun." Syarif mendekat. "Itu bukan alasan buat zolim ke orang lain."

"Zolim?" Bik Asih membentak. "Yang zolim itu Kirana. Yang zolim itu keadaan. Aku cuma cari jalan keluar."

"Jalan keluar dengan mengorbankan perempuan?" Syarif menunjuk map di meja. "Kamu mau jual Mawar. Mau jual Laila. Mau jual Nisa. Demi apa? Demi atap tidak bocor?"

Bik Asih menampar meja. "Demi delapan puluh santri, Syarif! Demi listrik yang mati. Demi beras yang habis. Kamu pikir aku senang?"

"Aku tahu kamu capek." Syarif melunak. "Tapi capek bukan izin untuk menghalalkan yang haram."

Bik Asih mundur. "Jangan ceramah."

"Aku bukan ceramah." Syarif menahan dadanya. "Aku suamimu. Aku bicara berdasarkan kenyataan. Dan Islam melarang itu"

"Islam?" Bik Asih mengejek. "Islam juga bilang poligami halal. Ustadz Yusuf mampu. Dia adil. Dia kaya. Kenapa tidak?"

Syarif menggeleng keras. "Karena tidak ada yang rela. Karena kamu memaksa. Karena niatmu bukan ibadah. Niatmu cuma uang."

Bik Asih terdiam. Napasnya kasar.

Syarif melanjutkan. "Kamu ingat ayat ini, Asih. _Janganlah kamu mendekati zina._ Zina bukan hanya badan. Zina itu juga jual kehormatan. Kamu mau jual tiga anak perempuan demi uang."

"Jangan bawa ayat." Bik Asih menutup telinga. "Aku muak dengar ayat."

"Kenapa? Karena ayat mengusik nafsu kamu?" Syarif naik.

Bik Asih menampar udara. "Cukup! Kamu dari dulu begini. Diam. Sabar. Pasrah. Sampai pondok mau disita!"

"Lebih baik disita daripada nama kita busuk." Syarif menunjuk dadanya. "Aku lebih milih miskin daripada Allah tanya di akhirat. Kenapa kamu gadaikan anak orang?"

Bik Asih melangkah maju. "Kamu egois."

"Kamu yang egois." Syarif tidak mundur. "Kamu mau dihargai warga. Kamu malu dibilang pondok gagal. Jadi kamu cari pintas."

Bik Asih terdiam. Bibirnya bergetar.

Syarif melihat itu. Suaranya turun. "Asih. Kita mulai dari nol lagi. Kita jualan. Kita ngajar ngaji. Kita kerja. Allah tidak tidur."

Bik Asih menggeleng. "Terlambat, Mas . Ustadz Yusuf tidak akan menunggu. Bank tidak akan menunggu."

"Biarkan." Syarif tegas. "Kalau Allah mau pondok ini tutup, ya tutup. Tapi kita tutup dengan kepala tegak."

Bik Asih tertawa. Air matanya keluar. "Kepala tegak tapi perut kosong?"

"Perut kosong lebih baik daripada hati kotor."

Tamparan itu melayang.

Plak.

Syarif terdiam. Pipinya merah.

Bik Asih menutup mulutnya sendiri. "Maaf... aku..."

Syarif tidak membalas. Dia hanya menatap. Lama.

"Maaf?" Suaranya parau. "Kamu minta maaf setelah dua puluh lima tahun kita berjuang, kamu tampar aku karena aku bilang benar?"

Bik Asih mundur. "Aku tertekan, Syarif."

"Kita semua tertekan." Mas Syarif menunjuk atap yang bocor. "Tapi tertekan bukan alasan hancurkan orang lain."

Bik Asih menangis. "Aku takut, mAs Syarif. Aku takut miskin lagi. Aku takut warga bicara di belakang. Aku takut jadi Bu Nyai yang gagal."

Syarif melangkah. Memegang bahu istrinya. "Kamu tidak gagal. Gagal itu kalau kamu jual harga diri."

Bik Asih menepis tangannya. "Jangan sentuh aku."

Syarif terdiam.

Bik Asih menghapus air mata. Kasar. "Kalau kamu tidak mau bantu aku, aku cari jalan sendiri."

"Jalan apa?"

"Jalan keluar." Bik Asih menatap lurus. "Aku ceraiin kamu."

Kata itu jatuh seperti batu.

Hujan makin deras.

Syarif terpaku. "Ulangi."

"Aku mau cerai." Bik Asih ulang. Suaranya datar. "Kalau kamu pilih miskin daripada nyelametin pondok, aku tidak mau."

Syarif tertawa. Tanpa suara. "Dua puluh lima tahun. Kamu mau membuang ku karena utang?"

"Karena kamu tidak mengerti aku." Bik Asih berteriak. "Kamu tidak pernah mengerti capekku."

"Aku mengerti." Syarif mendekat. "Tapi aku tidak mau ikut kamu jatuh."

Bik Asih mengambil tas. "Bagus. Aku pergi ke rumah Ustadz Yusuf malam ini. Aku bilang aku yang akan jadi istri keempat."

Syarif membeku. "Jangan."

"Kenapa? Bukankah itu solusi?" Bik Asih sinis. "Kamu bilang pondok tidak dijual. Ya sudah. Aku yang jual diriku."

Syarif menahan pintu. "Asih. Jangan bodoh."

"Bodoh itu kamu." Bik Asih mendorong. "Lepas."

Syarif tidak lepas. "Dengar. Poligami itu amanah. Bukan pelarian utang. Kamu itu istri ku

".

Bik Asih menangis lagi. "Aku memang takut, Mas Syarif. Aku takut semua ini sia-sia."

Syarif melepaskan pintu. "Kalau begitu hadapi. Jangan lari ke pelukan orang lain."

Bik Asih terdiam. Tas di tangannya bergetar.

Syarif duduk lagi. Lesu. "Kamu mau cerai? Silakan. Tapi ingat. Aku tidak pernah zolim ke kamu. Aku cuma tidak mau zolim ke orang lain."

Bik Asih melangkah keluar. Pintu ruang tamu terbanting. hujan menghantam wajahnya. Tapi dia tidak peduli. Tas selempang diseretnya kasar.

Syarif mengejar. "Asih!"

Langkahnya berhenti di teras. "Kamu mau ke mana tengah malam begini?"

"Jauh dari kamu." Bik Asih berteriak. Suaranya pecah. "Jauh dari pondok sialan ini."

Angin membawa teriakan itu ke halaman.

Dari arah asrama, pintu kayu berderit. Beberapa kepala santri muncul.

Mawar. Laila. Nisa. Tiga nama yang tadi sore dipaksa Bik Asih.

Mereka berdiri di bawah emper. Mata lebar.

Syarif menoleh. Melihat santri. Wajahnya langsung panas. "Masuk. Kembali ke kamar."

Tidak ada yang bergerak.

Bik Asih tertawa. Kering. "Lihat, Syarif. Mereka dengar. Bagus. Biar tahu Bu Nyai mereka mau dijual."

"Jaga mulut." Syarif mendesis.

"Kenapa? Takut malu?" Bik Asih melangkah turun ke halaman. Lumpur mengotori kakinya. "Aku sudah malu dua puluh lima tahun."

Syarif menyusul. Menarik lengan istrinya. "Cukup. Ini bukan tontonan."

Bik Asih meronta. "Lepas! Kamu mau aku diam sementara kamu biarkan pondok mati?"

"Lebih baik mati daripada hidup dengan dosa."

Plak.

Tamparan kedua mendarat di pipi Syarif. Lebih keras dari tadi.

Santri di emper terlonjak. Nisa menutup mulut.

Syarif terpaku. Matanya merah. Tapi dia tidak membalas.

"Asih..." Suaranya bergetar. "Kamu sudah gila."

"Aku gila karena kamu." Bik Asih menjerit. "Kamu suami, tapi tidak memberi solusi. Kamu imam, tapi tidak bisa lindungi rumah ini."

Hujan deras. Membasahi gamis mereka.

Dari asrama, suara bisik mulai terdengar.

"Bu Nyai mau cerai?"

"Pak Ustadz ditampar."

"Utang tiga ratus juta itu beneran?"

Syarif mendengar. Wajahnya hancur didepan santrinya.

Bik Asih melihat itu. Dia makin keras. "Iya. Tiga ratus juta! Bank mau sita pondok besok! Dan suamiku pilih gaya-gayaan alim daripada nyelametin kita semua!"

Laila maju setengah langkah. "Bu Nyai..."

Bik Asih menoleh. "Diam kamu. Kamu penyebabnya. Kalau kamu mau, pondok selamat."

Laila mundur. Mata berkaca.

Mawar menarik Laila ke belakang. "Jangan, Bu."

Bik Asih menunjuk Mawar. "Kamu juga. Pengecut semua."

Syarif melangkah cepat. Berdiri di depan santri. Punggungnya jadi tameng. "CUKUP ! Jangan sentuh anak-anak ini asih"

Bik Asih terdiam.

Syarif menoleh ke santri. Suaranya serak. "Masuk. Sekarang. Ini urusan orang dewasa."

Kali ini santri bergerak. Pelan. Takut.

Pintu asrama tertutup. Tapi suara tetap bocor lewat sela.

Bik Asih tertawa lagi. "Dengar itu? Mereka takut sama kamu."

"Mereka takut sama teriakan kamu." Syarif membalas.

Bik Asih mengambil batu kecil. Melempar ke tanah. "Aku capek, mas Syarif. Capek pura-pura kuat."

"Aku juga capek." Syarif berteriak. "Capek lihat kamu berubah jadi serigala karena uang."

"Uang itu nyawa pondok!"

"Marwah itu nyawa kita!"

Mereka saling dorong. Bukan fisik. Tapi kata.

Bik Asih menangis deras. "Aku tidak mau miskin lagi, mas Syarif. Aku tidak mau warga bilang pondok Al Hidayah bangkrut di tanganku."

Syarif mendekat. "Lalu kamu mau warga bilang pondok ini rumah jual beli manusia?"

Bik Asih terdiam.

Syarif melanjutkan. "Kamu ingat waktu kita nikah? Maharmu cuma mushaf. Rumah kita cuma bilik bambu. Tapi kita ketawa. Ingat tidak?"

Bik Asih menggeleng. "Itu dulu. Sekarang beda."

"Yang beda itu hati kamu." Syarif menunjuk dada istrinya. "Hati kamu penuh takut. Bukan tawakal."

Bik Asih menampar dadanya sendiri. "Tawakal tidak bayar tukang, Mas Syarif!"

"Tawakal buka pintu rezeki yang tidak kamu sangka."

"Bohong."

"itu kata Al Quran Asih."

Bik Asih terdiam.

Syarif menurunkan suara. "Asih. Pulang. Kita bicara di dalam. Jangan di depan santri."

Bik Asih mengangkat wajah. "Terlambat. Mereka sudah dengar semua."

Dari balik pintu asrama, Nisa menangis.

Suara itu tembus ke halaman.

Bik Asih menoleh. Wajahnya berubah.

Syarif melihat celah itu. "Dengar, Asih. Kamu mau hancur? Hancur sendiri. Jangan bawa anak-anak ini."

Bik Asih menggigit bibir sampai berdarah. "Aku... aku..."

Dia terduduk di tanah berlumpur. Tas jatuh.

Syarif tidak langsung mendekat. Dia takut.

"Asih."

Bik Asih mengangkat kepala. Maskara luntur. "Aku takut, Syarif. Aku benar-benar takut."

Syarif jongkok. Jarak satu meter. "Aku tahu."

"Aku mimpi buruk tiap malam." Bik Asih terisak. "Mimpi pondok disita. Santri diusir. Aku dipenjara karena utang."

Syarif diam.

"Aku pikir kalau aku dapat tiga ratus juta itu, mimpi buruk berhenti." Bik Asih menatapnya. "Tapi ternyata aku yang jadi mimpi buruk."

Syarif mengulurkan tangan.

Bik Asih menatap tangan itu lama. Lalu menepis. "Jangan."

Syarif menarik tangannya kembali.

Dari asrama, suara lain. Mawar. "Bu Nyai... masuklah. Dingin."

Bik Asih menoleh. Melihat tiga santri yang mengintip lagi dari jendela.

Wajahnya memerah. Malu. Marah. Hancur.

"Lihat," bisiknya ke Syarif. "Mereka kasihan sama aku."

Syarif menggeleng. "Mereka kasihan sama kita."

Bik Asih berdiri mendadak. "Aku benci kasihan."

Dia berlari.

Syarif terkejut. "Asih!"

Bik Asih lari ke arah gerbang. Dengan bertelanjang kaki. Lumpur menyembur.

Syarif mengejar.

"Berhenti Mas. Jangan kejar aku. Aku butuh berpikir sendiri." Asih melarang Syarif untuk mengejarnya.

Syarif berhenti. Dan terdiam.

Gerbang kayu terbuka. Asih naik motor tidak tau mau kemana...

Paman Syarif masih terdiam mematung di pintu gerbang sambil menggenggam kuat tangannya. Marah, kesal,sedih dan gagal bercampur menjadi satu.

...****************...

1
Sarah
Ini juga berlaku untuk Saqir, dengan penampilan ceweknya dulu.
Sarah
*Saqir Indrawan, dong... bukan Saqira lagi.
Sarah
Gak bakal mau, Bu. Kan mintanya 20 - 25 tahunan + sholehah.
Miss Danica
Aqil @Sarah
Sarah
Umur 8 thor... 😭
Terus ini namanya Agil atau Aqil sih? Bingung gue... 😭
@Miss Danica
Sarah
Kakaknya thor, bukan adiknya. 😭
@Miss Danica
Sarah
Lho? Bukannya sebelumnya pada nyalahin Kirana juga yah sambil maksa nikah pas demo?
Sarah
Masa wudhu bareng? Kalau wudhu bareng atuh auratnya Kirana kelihatan dong gak pake kerudung jadinya?
🗿
@Miss Danica
Sarah
Mana bisa umroh 40 hari langsung pulang gitu aja?! 😭 @Miss Danica
Sarah
Berarti Saqir udah dateng sebelum Kirana dateng dong?
Sarah
Makasih, semuanya... karena sayang sama akuuu. 😇😂
@Miss Danica
Sarah
Pantesan Bik Asih sama Paman Syarif kayak gak punya anak.
Sarah
Bu... aktor sinetron, bahkan idol K-pop juga dandan, Bu. Tebel. Cuma gak keliatan aja karena make-up natural. 🗿
Sarah
Apaan? Emang lu punya mobil? 😂
Paman Syarif awalnya masih rada bener, ke sini-sini mulai sedeng juga. 😌
Sarah
Mending kemeja pink-lah, daripada sebelumnya dress kan? 😂
Sarah
Akhirnya ada orang yang berpendidikan beneran. 😌
Sarah
Justru Paman Syarif kurang tegas karena gak bisa didik istrinya sendiri selama ini.
Sarah
Woo... rupanya... 😂😌
Sarah
Gak kuat, nih cewek baik banget. 😭
Sarah
Kalau apa bener Mas Saqira dosa itu urusan, Allah. Tapi kalau Kirana sayang sama Mas Saqira itu gak dosa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!