Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juan Sakit
Raya mengerutkan alisnya ketika ada panggilan telpon masuk ke ponselnya.
Ibu?, tumben sekali ibu telpon, ada apa ya?
Batin Raya, tangannya meraih ponsel yang berada di atas nakas, kemudian menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan telpon dari Maimun.
Raya : Iya Bu, ada apa?
Maimun : Kamu baik-baik aja kan di sana?
Deg. Untuk pertama kalinya Raya merasakan haru, dibalik sosok yang selalu menatapnya tajam, selalu membentaknya ternyata terdapat rasa khawatir yang mendalam.
Raya : Raya baik-baik saja Bu.
Maimun : Kamu tidak berbohong denganku?, apa keluarga kaya itu menjadikanmu babu?
Raya : astagfirullah Bu, ibu bicara apa si. Raya baik-baik saja disini, dapet suami baik dan mertua yang gak kalah baik juga. Mereka sayang sama Raya.
Maimun : kamu tidak berbohong?
Raya : Enggak Bu, Raya hidup bahagia disini. Oh iya Bu, besok pagi akan ada orang yang mengantarkan bahan bangunan untuk renovasi rumah. Ibu bersiap ya.
Maimun : Ibu tutup telponnya.
Raya : Oh iya Bu, ibu jangan terbawa gosip-gosip ibu ibu yang Suka rumpi disana. Kalau mereka bergosip tentang pernikahan Raya, anggap saja itu semua bohong. Raya hidup enak dan bahagia disini.
Raya tersenyum hangat, baru kali ini dia merasa di khawatirkan oleh Maimun.
****
Pukul 19.30 Raya masih setia menunggu pulang suaminya dari kantor. Duduk di sofa sambil bertopang dagu, dengan mata yang fokus dengan sinetron pavorit Bu Sinta, Raya jadi menyukai sinetron itu karena keseringan nonton bareng Bu Sinta.
"Ray.." sapa pak Bram yang baru pulang dari kantor yang berbeda dengan Juan.
"Pah, sudah pulang?"
"Iya, Juan belum pulang juga?"
"Sepertinya bang Juan belum selesai dengan pekerjaannya."
Tapi, tidak begitu lama.
"Ray... suamimu sakit." pekik Bu Sinta dari arah dapur mampu mengagetkan Raya.
Betapa terkejutnya Raya saat melihat suaminya berjalan dengan di papah oleh seorang pria yang Raya ketahui sebagai asisten Juan, dan pria itu yang sedang di rumorkan dekat dengan Juan.
"Abang..." panik Raya.
Juan merebahkan tubuhnya yang terasa lemah, dan panas. Raya langsung menghampiri Juan dan mengecek keadaan suaminya.
"Ma, badan bang Juan panas sekali."
Raya melirik sekilas ke arah Rangga yang sedang membantu melepas sepatu yang masih terpasang di kaki Juan, hal itu membuat Raya semakin posesif pada Juan.
"Pak, pak Rangga. Terimakasih sudah mengantarkan suami saya, sekarang tugas bapak selesai. Mengurus bang Juan kini tugas saya."
Bu Sinta tersenyum melihat tingkah Raya yang sangat posesif pada juan, ibu mertua Raya itu beringsut duduk disebelah Juan mengecek suhu tubuh putranya itu.
"Yasudah Bu, saya pamit." tanpa ingin banyak drama dan tanya, Rangga pun pamit. Tugas dia sebagai asisten Juan sudah selesai.
"Kenapa?" tanya Bram yang baru turun dari lantai atas.
"Juan demam tinggi pah," ucap Bu Sinta, sementara Raya sedang melepas sepatu pentofel yang masih melekat di kaki Juan.
"Kerumah sakit?" tanya Bram, terlihat lebih santai daripada dua wanita yang terlihat sangat cemas itu.
"Kalau Juan demam seperti ini biasanya si butuh pelukan hangat dan curahan kasi sayang, ya gak Ray?"
"Hem, gimana ma?"
"Iya kamu urus suami kamu, dengan curahan kasih sayang."
Raya tampak mengangguk malu, malu bukan pada Bu Sinta melainkan pada bapak mertuanya yang terkesan dingin tapi baik.
"Yaudah pindahin aja ke atas, dari pada disini." saran pak Bram.
***
Juan sudah berganti baju, pria yang sedang memejamkan mata karena kepala yang berdenyut nyeri itu menyandarkan tubuhnya pada dipan kasur.
"Ray...kelonin suami kamu ya." bisik Bu Sinta di ambang pintu kamar Raya.
"Kaya bayi aja ma," mata Raya berbinar, kata kelonin terdengar sangat lucu di telinganya.
"Anggap aja bayi besar kamu, biasa Juan memang gitu kalau sakit. Minta pijitin, atau di usap-usap aja punggungnya. Yaudah mama sama papa ke bawah dulu."
Raya mengangguk sambil tersenyum pada Bu Sinta.
"Menjain suami kamu ya Rai," bisik Bu Sinta lagi, sambil mengedipkan sebelah matanya pada Raya.
"Ma!" panggil pak Bram, sepasang suami istri itu sedang menuruni tangga rumah.
"Iya pah..?"
"Mama jangan ngomong sembarangan tentang Juan. Nuduh Juan gak normal, gak suka lawan jenis apalah itu, papa rasa Juan ini normal-normal saja, hati-hati loh mah ucapan adalah doa." Bram meraih tangan istrinya, menuntunnya menuruni tangga satu persatu.
"Papa... ini tuh cara mama biar Juan cepet nikah, mama mau cepet punya cucu. Kalau gak di paksa dengan cara ini kapan Juan mau nikahnya coba pa, tau kan Juan gila kerjanya seperti apa." Bu Sinta melirik suaminya dengan tatapan penuh cinta.
Pak Bram mengacak puncak kepala istrinya kemudian lengan kokohnya merangkul pundak Bu Sinta.
"Mama juga tau kalau Juan itu pria normal, cuman gosip yang beredar itu memang nyata. Bahkan di kantor Juan pun ramai, katanya Juan terlalu cuek sama wanita lah. Telinga mama panas pa,"
"Abang.. apa yang dirasa sekarang, mana yang sakit?" tanya Raya seraya duduk di pinggiran kasur sebelah Juan yang sedang bersandar.
"Kepala nya sakit." Juan dengan suara berat, malah terdengar seksi di telinga Raya.
Raya memijat pelan kepala Juan dengan tangannya. Ia merasakan tubuh Juan yang panas tapi bukan panas yang tinggi, hanya demam tapi kelakuan Juan seperti orang yang sedang sekarat.
"Abang makan dulu ya, terus minum obat biar sakit kepalanya sembuh,"
"Pijitin dulu kepalanya!" tangan Juan menahan Raya yang akan melangkah.
"Manja banget. iya tapi Abang harus makan dulu, nanti Raya pijit lagi sekalian dibalur minyak angin." Ucap Raya sambil berlalu meninggalkan Juan yang masih memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, Raya datang dengan membawa nampan yang berisi semangkuk sup ayam dan segelas air putih.
"Abang laper apa gimana?" Raya menatap aneh Juan, walaupun sedang menutup mata tapi mulutnya terbuka lebar saat Raya suapin dengan sup ayam.
"Pusing Raya.."
"Iya, iya habiskan dulu makannya nanti minum obat." Raya merasa sedang merawat anak nakal yang sedang sakit dan manja.
"Bang, minumnya. Buka dulu matanya! Nanti tumpah lagi airnya."
Walaupun pandangan Juan sedikit buram, tapi yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik Raya yang sangat menyegarkan mata.
Juan meneguk air putih dengan dibantu Raya.
"Tunggu beberapa menit, nanti minum obat biar pusingnya reda." Raya membereskan mangkuk yang barusan dipakai, dan beranjak akan mengantarkannya lagi ke dapur.
Tapi baru saja berdiri, cekalan tangan kuat menghentikan kegiatan Raya.
"Pijitin lagi, biarin mangkuknya biar nanti mbok yang ambil." rengek Juan, benar-benar manja seperti anak laki-laki nakal yang sedang sakit.
Raya beringsut, duduk disamping Juan.
Lucuk banget si, coba kamu ini normal bang. Mungkin aku sudah jatuh cinta.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers, bantu novel author biar ga gagal retensi.
Love u readers🤩