NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Di ruang tamu, Javeno sudah selesai menyalin semua tugas sekolahnya ke buku yang baru. Lehernya terasa kaku sekarang, akibat terlalu lama menunduk mengerjakan semua tugas yang harus ia ulang.

Meregangkan otot sebentar sebelum berdiri, meninggalkan semua buku-buku nya di sana. Ia kembali ke kamar.

Javeno melihat Disty yang tertidur tanpa selimut, dan pipi yang basah seperti habis menangis. Javeno juga melihat jari telunjuk Disty yang memakai handsaplast karakter.

"Luka?" pikir Javeno sebelum mengingat kalau tadi secangkir teh sempat tumpah.

Javeno melihat kearah meja belajarnya yang sudah rapi tanpa noda teh, bahkan di lantai pun sudah bersih. Pecahan cangkir nya juga sudah tidak ada.

Disty memang membersihkan nya tadi, sambil menangis hingga membuat tangannya terluka.

Javeno melihat ke meja kaca yang ada di dekat sofa, di mana di sana masih ada sisa kornet yang belum sempat ia cicipi dengan secangkir teh yang masih utuh.

Teh dan kornet itu sudah dingin sekarang.

"Dia buatin gue kornet dan pengen duduk ngemil sambil minum teh bareng," batin Javeno membuang napas kasar sambil mendekat ke kasur.

Mengusap lembut kepala Disty dan mencium pipinya. Menyelimuti tubuh mungil Disty.

"Aku marah berlebihan lagi sama kamu?" Javeno berbisik pelan sebelum ikut merebahkan tubuh dan memeluk Disty. Menyusul tidur juga sampai pagi.

Saat pagi, Javeno yang lebih dulu bangun, menatap wajah tenang Disty sampai gadis itu juga membuka kelopak matanya. Menatap Javeno yang tersenyum padanya.

"Pagi," sapa Javeno serak lalu mencium bibir Disty sekilas.

"Pagi," balas Disty tersenyum samar.

"Mandi bareng?"

Javeno bukan bertanya meminta persetujuan, tapi ia justru langsung menggendong dan membawa Disty masuk ke kamar mandi.

Di bawah guyuran air shower, Javeno menginginkan tubuh Disty dan Disty yang diam patuh tanpa membantah. Memberikan apa yang Javeno mau hingga puas.

Melumat bibir Disty sambil meremas lembut kedua gundukan yang kenyal. Membuat Disty mendesah tertahan, mengalungkan tangannya di leher Javeno yang menggendongnya. Memasukkan itu dengan penuh nafsu dan kelembutan.

Javeno tidak meninggalkan jejak di leher Disty, ia meninggalkan nya di tempat lain. Di punggung atas, di belahan dada, bahkan di dua gundukan itu juga.

Setelah selesai, Javeno menatap Disty yang tampak lelah mengimbangi nafsunya di pagi hari yang sering memuncak. Javeno menatap bibir Disty yang sedikit membengkak karena ulahnya.

"Kamu selalu buat candu Dis," kata Javeno serak.

Disty menatapnya, hingga Disty lebih dulu melumat bibirnya kembali. Dan Javeno juga tidak akan menolaknya.

Disty menyudahi nya karena ia juga membutuhkan napas. Mengusap saliva Javeno yang ada di bibirnya, sedangkan Javeno menjilat bibirnya sendiri.

"Ronde dua?" tawar Javeno.

"Nggak sekolah?" tanya Disty pula.

Javeno tertawa kecil dan mereka mandi karena Javeno juga tidak berniat untuk bolos. Kalau ia mau, malam ini juga bisa mendapatkannya lagi. Memintanya setiap hari juga Disty tidak akan bisa menolak.

Hari ini, Disty di antar oleh supir lagi dan Javeno yang berangkat dengan motornya.

Seperti biasa, selalu ada Zayna yang menunggu di dekat gerbang.

"Haiii," sapa Zayna melambaikan tangannya sangat semangat.

Tapi, respon Disty yang diam tanpa melihat kearahnya dan langsung pergi begitu saja membuat Zayna terdiam sebentar.

"Kemarin nggak kayak gini kan? Kemarin dia balas sapaan gue, bahkan kita juga cerita dan ketawa bareng," gumam Zayna sebelum berlari mengejar langkah kaki Disty.

"Dis," panggil Zayna tapi Disty diam tanpa menoleh dan acuh.

Seperti Disty pada hari biasanya, bukan Disty yang seharian kemarin full bersamanya seperti sahabat.

"Dis, lo oke?" tanya Zayna menunjukkan perhatian dan rasa khawatir nya.

"Maaf Zay, karena kecerobohan gue sendiri, pertemanan yang baru kita bangun sehari harus hancur lagi," batin Disty menahan air mata. Tidak bisa memberitahukan hal ini juga pada Zayna.

"Dis, apa gue kemarin terlalu berlebihan ya sampe buat lo diem lagi? Maaf," ujar Zayna menyesal padahal ia juga tidak tahu salahnya apa. Dan ini juga bukan salahnya, tapi Zayna rela meminta maaf agar pertemanan mereka yang baru saja di bangun tetap baik-baik saja.

Tidak ada yang salah di dalam pertemanan mereka yang baru sehari kemarin, salah Disty saja yang kurang hati-hati, pikir Disty.

Sampai pulang sekolah, Zayna merasakan perubahan yang terjadi. Disty menghindar dan menjauh lagi.

Menatap nanar punggung Disty yang sekarang sudah masuk ke dalam mobil yang menjemput.

"Kalau sehari kemarin adalah kesempatan untuk gue biar bisa berteman sama lo, gue seneng banget Dis. Tapi gue harap hari kayak kemarin bakal ada lagi, karena temenan sama lo gue seneng, dan gue murni pengen temenan doang," batin Zayna sebelum pulang.

Disty juga murung seharian ini, bahkan sampai malam mau tidur pun tetap terlihat murung. Seperti merasa kehilangan sesuatu yang berharga, dan Javeno juga menyadari itu.

Keduanya sudah di kasur, duduk bersandar sambil menonton televisi.

"Kenapa?"

Disty yang semula bersandar di bahu lebar itu, sekarang menatap Javeno yang baru saja bertanya.

"Apa?" tanyanya pula.

"Hari ini kamu nggak bareng Zayna kayak kemarin. Kenapa?" tanya Javeno lebih jelas.

Disty mengernyit sesaat, lalu menyandarkan kepalanya lagi di bahu Javeno.

"Bukannya kamu sendiri yang bilang untuk nggak deketin dia lagi? Aku cuma ikutin dan patuh. Nggak mau buat kamu marah terus sama aku," jawab Disty jujur.

Kenyataan yang keluar dari jawaban yang Disty berikan itu membuat Javeno tersadar kalau kemarin malam saat marah, ia sempat mengucapkan hal itu. Javeno memang sempat melupakan kalau ia ada mengatakan untuk menjauhi Zayna lagi.

"Boleh," kata Javeno yang membuat Disty tidak fokus menonton, ia melihat Javeno lagi sepenuhnya.

"Apanya yang boleh?" tanya Disty tidak paham.

"Deket Zayna," jawab Javeno lebih jelas.

Disty diam tidak percaya.

"Aku marah sampe nggak sadar ucapin itu. Berteman aja," ujar Javeno lembut.

"Ya walaupun aku kemarin malam sadar penuh ngucapin hal itu buat jauhin Zayna lagi. Tapi ternyata itu berpengaruh banget sama kamu, so.. aku bakal atur rasa cemburu ku," batin Javeno melanjutkan.

"Kamu...."

"Mau atau enggak?" potong Javeno.

"Mau." Disty mengangguk semangat dan kembali tersenyum hangat dan lebar lagi, lalu memeluk Javeno, kembali nonton.

Walaupun Disty sendiri masih kurang paham dengan perubahan Javeno yang selalu tidak bisa di tebak. Tapi Disty tidak akan melewatkan kesempatan ini lagi, dan kali ini, harus ia gunakan dengan sangat baik.

Sekarang gantian Javeno yang tidak fokus menonton, tapi tangannya tetap aktif mengusap kepala Disty.

"Dan apa kalau kamu di pisahkan secara paksa dari aku, kamu bakal murung dan ngerasa kehilangan Dis? Atau justru kamu yang bahagia?" batinnya bertanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!