Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30.
Semua orang berjalan santai menuju posko. Hembusan angin sore terasa lembut, membawa aroma tanah yang masih lembap. Langkah kaki rombongan KKN beriringan, sesekali diselingi canda dan tawa.
Namun suasana berubah ketika dari arah berlawanan muncul sekelompok anak kecil.
Anak-anak itu berlari menghampiri mereka dengan wajah penuh semangat. Sebagian membawa sesuatu di tangan, sementara yang lain terus menatap Alya dengan mata berbinar.
“Kak Alya!”
“Ini buat Kak Alya!”
Seorang anak laki-laki mengulurkan segenggam buah kecil berwarna ungu kehitaman.
“Ini buah karamunting, Kak.”
Alya menerimanya dengan kedua tangan.
“Wah... makasih banyak, ya.”
Anak lain segera maju membawa beberapa buah rambusa.
“Makasih buat permen kemarin, Kak.”
“Iya, sama-sama.”
Tak lama kemudian, seorang anak perempuan berkepang dua maju sambil membawa beberapa buah rumbia.
“Ini juga buat Kak Alya.”
“Wah, lucu banget buahnya.”
Alya menerimanya sambil tersenyum lebar.
Belum selesai, seorang anak laki-laki lain datang membawa beberapa buah kasturi.
“Yang ini juga buat Kak Alya.”
“Terima kasih ya.”
Tak mau kalah, anak terakhir menyodorkan beberapa buah kelubi.
“Kata Ibu ini enak buat rujak.”
“Serius?”
“Iya.”
Alya tertawa kecil.
“Terima kasih banyak ya. Kakak senang banget.”
Senyum Alya yang tulus membuat anak-anak itu ikut tersenyum.
“Nanti main lagi sama kami ya, Kak!”
“Iya, pasti.”
Anak-anak itu pun berlari pulang sambil tertawa riang.
Melihat kejadian itu, rombongan KKN hanya bisa saling pandang.
“Buset...Udah kayak artis desa aja, Al,” goda Adrian.
Alya hanya terkekeh malu.
“Apaan sih.”
Dion langsung mendekat.
“Sini, bagi buahnya.”
Tanpa izin, ia mengambil satu buah rumbia lalu langsung menggigitnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Buset...”
“Buah apaan ini?”
“Awalnya pahit... eh ujung-ujungnya malah manis.”
“Unik banget rasanya.” Ucapan Dion langsung membuat yang lain tertawa.
“Makanya jangan asal makan,” sahut Adrian sambil terkekeh.
Setibanya di posko, tawa mereka masih belum berhenti.
Bagi sebagian besar mahasiswa KKN, mencicipi buah-buahan khas desa merupakan pengalaman baru yang sangat berkesan.
Sesampainya di posko, mereka langsung sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sebagian memilih merebahkan badan karena kelelahan.
Sebagian lagi duduk mengobrol di teras.
Namun Alya memilih duduk di anak tangga depan posko.
Di hadapannya, ia menyusun buah-buahan pemberian anak-anak tadi.
Karamunting.
Rambusa.
Rumbia.
Kasturi.
Dan kelubi.
Dengan wajah penuh antusias, Alya mengambil ponselnya.
Jepret.
Jepret.
Ia memotret buah-buah itu dari berbagai sudut.
Senyumnya semakin lebar.
“Papi pasti senang lihat ini,” gumamnya pelan.
Ia sudah membayangkan reaksi papinya saat melihat foto buah-buahan yang baru pertama kali ia temukan di Desa Sukamaju.
Membayangkannya saja sudah membuat hati Alya terasa hangat.
Setelah puas memotret, Alya mengambil satu buah karamunting.
Ia memperhatikan buah mungil berwarna ungu kehitaman itu sejenak sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
“Hmm...Enak banget.”
Rasa manis yang berpadu dengan sedikit asam langsung memenuhi lidahnya.
Tanpa sadar, senyum di wajah Alya kembali mengembang.
Di dalam hati, Alya tersenyum kecil.
Ia masih duduk santai di teras posko sambil memandangi buah-buahan pemberian anak-anak desa. Tanpa sadar, hampir setengah buah karamunting yang tadi diterimanya sudah habis ia makan.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari arah jalan.
Seorang bapak paruh baya datang memikul sebuah karung goni besar di bahunya. Wajahnya dipenuhi peluh, tetapi senyumnya tetap ramah.
Alya langsung berdiri.
“Eh, Pak...Itu bawa apa?”
Bapak itu terkekeh pelan.
“Cempedak, Nak, Kamu tadi bilang suka, kan?”
Mata Alya langsung membulat.
“Hah? Satu karung, Pak?”
Ia sampai menutup mulutnya sendiri karena terkejut.
“Banyak banget!”
Bapak itu tertawa kecil.
“Kalian kan orangnya banyak.”
“Biar bisa dimakan ramai-ramai.”
Alya buru-buru menggeleng.
“Pak, ini kebanyakan. Beneran nggak apa-apa?”
Bapak itu tersenyum ramah.
“Nggak apa-apa, Nak. DI kebun masih banyak. Alya tertawa kecil. “Terima kasih banyak ya, Pak.”
Mendengar itu, Alya hanya bisa tersenyum kikuk.
“Terima kasih banyak ya, Pak.”
“Kalau begitu saya taruh di sini aja.”
Bapak itu kemudian meletakkan karung berisi cempedak di atas teras posko.
Bruk.
Suara karung yang menyentuh lantai kayu membuat beberapa teman KKN menoleh keluar.
“Buset... Apaan tuh?” Ucap Adrian.
“Cempedak.”
“Dikasih sama Bapak itu,” jawab Alya sambil menunjuk ke arah bapak tadi.
Dion yang baru keluar langsung membelalak.
“Satu karung?”
“Al...”
“Lo minta buah apa minta isi kebunnya?”
Ucapan Dion langsung disambut gelak tawa. Bahkan Alya ikut Terkekeh sambil menggeleng pelan.
“Aku juga nggak nyangka dikasih sebanyak ini.”
Tiba-tiba Alya teringat sesuatu.
“Pak, tunggu sebentar ya!”
Ia bergegas masuk ke dalam posko.
Beberapa menit kemudian, Alya keluar sambil membawa dua paper bag.
“Pak...Ini buat Bapak.”
Bapak itu langsung menggeleng.
“Kalau uang, Bapak nggak mau, Nak.”
Alya tersenyum.
“Bukan uang, kok.”
“Cuma sedikit makanan sama jajanan.”
“Yang kecil buat anak Bapak.”
“Yang satunya lagi buat Bapak sama keluarga.”
Barulah bapak itu menerimanya.
Ia membuka sedikit isi paper bag tersebut.
Benar saja.
Isinya hanya makanan ringan dan beberapa kebutuhan sehari-hari.
“Terima kasih, Nak.”
“Semoga Tuhan memberkati kamu.”
Alya tersenyum hangat.
“Amin.”
“Terima kasih juga ya, Pak, buat cempedaknya.”
Bapak itu mengangguk pelan sebelum berpamitan.
Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di ujung jalan desa.
Alya memperhatikannya hingga tak terlihat lagi.
Tanpa seorang pun menyadari, di dalam paper bag yang lebih kecil Alya telah menyelipkan sejumlah uang.
Bukan untuk bapanaknya, Melainkan untuk anaknya. Ia tahu bapak tersebut pasti akan menolak jika diberi secara langsung.
Karena itu, Alya memilih menyisipkannya diam-diam.
Baginya, membantu tidak selalu harus diketahui orang lain.
Yang terpenting adalah niat baik itu bisa sampai kepada orang yang membutuhkan.
Alya kembali duduk di teras posko sambil memandangi karung cempedak di sampingnya.
Senyum kecil kembali terukir di wajahnya.
Desa Sukamaju mungkin jauh dari kemewahan kota.
Namun kehangatan dan ketulusan warganya membuat tempat itu perlahan terasa seperti rumah kedua baginya.
Alya masih memandangi karung cempedak itu sambil sesekali tersenyum sendiri.
“baik banget,” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, Dion dan Adrian menghampirinya. Keduanya berdiri di depan karung goni itu dengan wajah penuh rasa penasaran.
Dion berjongkok lalu menepuk-nepuk karung tersebut.
“Buset... berat juga.”
“Ini isinya berapa biji, ya?”
Adrian mengangkat salah satu buah cempedak yang berada di bagian atas.
“Kalau dijual lumayan juga nih.”
“Eh, jangan macam-macam,” sahut Alya cepat sambil memelototinya.
“Ini dikasih buat dimakan.”
Dion terkekeh.
“Iya, iya... bercanda.”
“Tapi serius, warga sini baik-baik banget.”
Alya mengangguk pelan.
“Iya.”
“Aku baru bilang suka cempedak tadi siang.”
“Eh, sore-sore langsung diantar satu karung.”
“Padahal aku cuma iseng ngomong.”
Adrian tersenyum kecil.
“Itulah orang desa.”
“Kalau udah sayang sama seseorang, ngasihnya nggak pernah setengah-setengah.”
Ucapan Adrian membuat Alya kembali menatap karung cempedak itu.
Entah mengapa, dadanya terasa hangat.
Beberapa hari yang lalu, ia masih merasa asing dengan lingkungan Desa Sukamaju.
Namun kini, perlahan-lahan ia mulai mengenal kebiasaan warganya, mencicipi makanan khas mereka, hingga merasakan sendiri ketulusan yang diberikan tanpa mengharapkan balasan.
Alya tersenyum kecil.
“Mungkin...”
“Aku bakal kangen tempat ini nanti.”