Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Bisikan dari Laut Liguria
Runtuhnya faksi Bratva di perbatasan utara menyisakan efek domino yang masif di dunia bawah tanah Eropa. Pagi itu, Tasha Sterling meletakkan sebuah map kulit bundar di atas meja Alana—sebuah dokumen digital yang telah ditandatangani secara elektronik oleh Ivan Volkov dari dalam bunkernya. Rusia resmi menyerahkan seluruh jalur hitam Mediterania dan kepatuhan mutlak sisa-sisa pasukannya ke bawah kendali Monako. Kemenangan tak berdarah ini seharusnya membawa ketenangan, namun dalam hukum rimba mafia, kekosongan kekuasaan yang mendadak selalu memancing pemangsa lain untuk keluar dari sarangnya.
Di menara pantau sektor barat Pelabuhan Monako, angin laut berembus kencang, membawa aroma garam yang pekat. Cedric Garrick berdiri tegap di balik kaca tebal, matanya yang tajam menatap lurus ke arah sebuah kapal kargo tanpa bendera resmi yang baru saja bersandar di dermaga isolasi. Tangannya yang dibalut sarung tangan kulit hitam bertumpu pada pagar besi, sementara interkom di telinganya terus berderak menerima laporan dari pasukan bayangan di bawah.
Dari sudut pandang Cedric, dunia ini dulunya sangat sederhana: bunuh atau dibunuh, hancurkan musuh sebelum mereka menghancurkanmu. Ketika Alana pertama kali melangkah masuk ke dalam dinasti ini, Cedric memandangnya dengan skeptisisme yang tinggi. Baginya, Alana hanyalah seonggok porselen rapuh, seorang gadis kecil yang hanya akan menjadi beban fisik di medan pertempuran, yang membutuhkan seribu pengawal untuk memastikan kulitnya tidak tergores peluru. Namun kini, setelah melihat bagaimana Alana meruntuhkan aliansi Rusia hanya dengan jentikan jemari di balik meja kerjanya, pemikiran Cedric berbalik total. Alana bukan lagi beban. Gadis remaja itu adalah otak, sang Ratu, satu-satunya pemimpin yang perintahnya akan Cedric patuhi tanpa ragu. Cedric sadar, otot dan senjatanya kini memiliki tujuan yang jelas: menjadi pelindung bagi kejeniusan mutlak milik adiknya.
"Tuan Cedric, kapal kargo telah sepenuhnya diamankan. Tidak ada perlawanan dari awak kapal," suara komandan regu memecah lamunan Cedric melalui interkom.
Cedric mendengus rendah, menekan tombol komunikatornya. "Apakah ada pasokan senjata ilegal atau logistik Bratva yang tersisa di dalam?"
"Negatif, Tuan. Lambung kapal kosong. Namun... kami menemukan sesuatu di ruang kemudi utama. Sebuah kotak kayu berukir yang ditujukan langsung untuk Penguasa Tertinggi dinasti Garrick."
Mendegar laporan itu, rahang Cedric mengeras. Dia segera berbalik dan melangkah lebar menuju lift menara. Firasatnya mengatakan bahwa runtuhnya Rusia telah mengusik macan tidur yang lain.
Satu jam kemudian, kotak kayu berukir singa emas tersebut telah berada di atas meja kerja Alana di Mansion Utama. Kelima kakak laki-lakinya berkumpul mengelilingi meja, menciptakan barikade protektif yang pekat di dalam ruangan. Adrian baru saja selesai memindai kotak tersebut dengan alat pendeteksi radiasi dan bahan peledak.
"Aman dari zat berbahaya, Alana," ujar Adrian sembari mematikan alat pemindainya. "Tapi frekuensi radio pelacak yang tertanam di engselnya menunjukkan kode enkripsi regional Sisilia."
Julian melangkah maju, menggunakan pisau bedah kecil untuk membuka paksa kunci kotak tersebut. Di dalamnya, tidak ada bom atau ancaman fisik. Hanya ada sebuah gulungan perkamen kuno dengan cap lilin merah berlambang tiga kaki manusia—simbol Trinacria yang sangat terkenal di dunia bawah tanah Italia.
"Ini dari Cosa Nostra," gumam Julian, matanya menyipit di balik kacamata. "Faksi Sisilia. Mereka adalah sekutu logistik lama Victor Garrick yang memegang kendali atas separuh perdagangan maritim di Laut Liguria. Tampaknya, keputusan Alana memotong jalur Rusia membuat bisnis penyelundupan mereka terganggu."
Alana meraih perkamen tersebut, membaca baris demi baris tulisan tangan yang ditulis dalam bahasa Italia klasik. Tasha berdiri di sampingnya, menerjemahkan beberapa istilah diplomatik kuno yang tertuang di sana.
"Mereka tidak mengancam kita secara terbuka," ucap Alana tenang, suaranya mengalun lambat di dalam ruangan. "Mereka 'mengundang' aku untuk menghadiri jamuan makan malam dan negosiasi ulang mengenai pembagian wilayah maritim. Lokasinya di atas kapal pesiar mewah mereka, tepat di titik koordinat netral di tengah Laut Liguria, besok malam."
"Jangan gila. Itu adalah jebakan pembunuhan terbuka!" Dominic langsung mengintervensi dengan suara baritonnya yang menggelegar dan sarat akan penolakan mutlak. Dia melangkah maju, menumpukan kedua telapak tangan besarnya di atas meja. "Sisilia terkenal dengan taktik vendetta mereka yang licik. Menemuinya di tengah laut, di atas kapal mereka, sama saja dengan menyerahkan nyawamu secara sukarela."
"Dominic benar, Alana," Cedric menimpali, wajahnya tampak sangat defensif. "Laut Liguria adalah wilayah yang sulit dipantau secara penuh. Jika mereka memutuskan untuk menenggelamkan kapal tersebut, pasukan bayanganku tidak akan bisa mencapaimu tepat waktu. Aku menolak izin pertemuan ini."
Xavier mendengus sinis, merapikan lengan kemeja sutranya dengan ekspresi dingin. "Jika faksi Italia itu merasa dirugikan karena Rusia tumbang, biarkan mereka datang ke Monako dan berlutut di depan gerbang kita. Kita tidak perlu merendahkan diri dengan mendatangi mereka di tengah laut. Aku bisa membeli seluruh saham pelabuhan mereka di Palermo besok pagi jika itu bisa membuat mereka diam."
Alana menatap kelima kakak laki-lakinya satu per satu. Sifat protektif dan posesif mereka kembali menyala dengan intensitas tinggi begitu mencium adanya bahaya fisik yang mengancam dirinya. Mereka bertingkah seolah-olah siap mengunci Alana di dalam bunker terdalam demi keselamatannya.
Namun, Alana justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat dingin—tatapan yang menandakan bahwa otaknya telah menyusun rencana tiga langkah ke depan.
"Kakak-kakak semua," panggil Alana dengan nada suara yang sangat lembut namun memiliki wewenang mutlak yang menghentikan protes abang-abangnya. "Jika kita menolak undangan ini, Cosa Nostra dan faksi-faksi Italia lainnya akan mengira bahwa dinasti Garrick yang baru berada di bawah ketakutan. Mereka akan berpikir bahwa setelah Victor tidak lagi memegang kendali, dinasti ini dipimpin oleh seorang gadis penakut yang bersembunyi di balik punggung kakak-kakaknya."
Alana berdiri dari kursi besarnya, berjalan perlahan mendekati jendela yang menampilkan pemandangan laut lepas Monako yang biru. "Aku tidak akan membiarkan reputasi keluarga ini cacat sedikit pun. Kita akan mendatangi undangan tersebut."
"Alana, tapi—" Adrian mencoba menyela, namun Alana mengangkat satu tangan mungilnya, menghentikan kalimat kakaknya.
"Kita akan datang, namun tidak dengan aturan main mereka," lanjut Alana, matanya berkilat penuh kecerdasan taktis yang manipulatif. "Kak Julian dan Kak Adrian, kalian akan meretas seluruh sistem navigasi dan radar kapal pesiar mereka sejak enam jam sebelum pertemuan. Pastikan tidak ada satu pun sinyal komunikasi luar yang bisa keluar dari kapal itu selain frekuensi kita."
Mendengar hal itu, Julian dan Adrian langsung saling berpandangan, sebuah seringai genius mulai terbit di wajah kembar mereka. Mereka tahu adiknya sedang merencanakan sesuatu yang luar biasa.
"Undangan ini adalah panggung kita," tambah Alana sembari berbalik menatap Dominic dan Cedric. "Kita tidak akan menaiki kapal mereka. Tasha sudah menyiapkan kapal pesiar mewah lapis baja milik dinasti kita sendiri. Kita akan memaksa para tetua Cosa Nostra itu untuk melangkah keluar dari zona nyaman mereka dan melakukan negosiasi di atas dek kapal kita, di bawah moncong senjata pasukan bayangan Cedric yang bersembunyi di bawah air."
Ruangan kerja itu kembali dilingkupi oleh keheningan yang intens, namun kali ini ketegangan tersebut berubah menjadi rasa kagum yang pekat dari kelima kakaknya. Alana tidak menghindari bahaya; dia justru menjemputnya dan membalikkan keadaan hingga musuh terperangkap dalam jaring laba-laba yang dia buat.
"Negosiasi yang elegan di tengah laut," gumam Dominic, kekakuannya mencair digantikan oleh senyuman kejam yang bangga. "Baiklah, Alana. Jika itu maumu, aku sendiri yang akan menjadi pengawal pribadimu di atas dek."
"Aku akan menyiapkan pasukan penyelam elit terbaik untuk mengunci lambung kapal mereka," tambah Cedric, matanya berkilat penuh gairah tempur yang dingin.
Alana mengangguk puas, lalu melirik Tasha yang segera mencatat seluruh detail instruksi akhir. "Kirimkan balasan kepada Cosa Nostra, Tasha. Katakan pada mereka bahwa Penguasa Tertinggi dinasti Garrick menerima undangan mereka... dan kami menantikan sebuah perjamuan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup."