NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32• Hilang Yang Dicari

Sejak kemarin Bara menyisir kota. Gang demi gang, kontrakan demi kontrakan, warung kopi yang dulu sering Naya datangi. Tidak ada jejak. Nomor ponselnya mati. Pesan WhatsApp hanya centang satu. Seolah Naya sengaja menghapus dirinya dari peta.

Di meja makan, roti lapis masih utuh. Ujungnya mulai kering karena lama dibiarkan. Bara duduk menatapnya tanpa nafsu.

Arkan turun dari tangga. Kaos rumah, rambut berantakan. Ia melirik Bara sekilas, lalu mendekat dan berhenti di samping kursi.

“Mama mau ngomong sama lo,” katanya pelan. Ia mengambil segelas air dari pantry, lalu naik lagi tanpa menunggu jawaban.

Bara menghela napas. Ia mendorong kursi, berdiri, dan berjalan ke kamar Ibu Desy. Pintu tidak ia ketuk.

Di dalam, udara pengap bercampur bau obat. Ibu Desy terbaring lemah di ranjang. Bibirnya pucat, kulit di pelipis mengendur. Punggungnya bersandar di tumpukan bantal, napasnya pendek. Bubur ayam di meja samping sudah dingin, tidak tersentuh sejak pagi.

“Baraa…” Suara Ibu Desy serak, nyaris putus di tengah. Matanya sayu menatap pintu yang baru terbuka.

Bara menutup pintu perlahan. Ia duduk di tepi ranjang. Kasur sedikit ambles di bawah beratnya.

“Ada apa, Ma?”

Ibu Desy menatapnya lama. Tangannya yang kurus bergerak di atas selimut, mencari tangan Bara, tapi tidak sampai.

“Kamu… tidak berubah pikiran?” tanyanya. Setiap kata keluar dengan susah payah. Tenaganya tipis, seperti lilin yang mau padam.

Bara menunduk. “Ma, makan buburnya. Minum obat dari dokter. Banyak istirahat.” Ia meraih mangkuk di meja, menyendok sedikit, menyodorkannya ke bibir Ibunya.

Tapi Ibu Desy menepis. Gerakannya tiba-tiba kuat, tidak sesuai tubuhnya yang lemah. Sendok terlepas, bubur putih berhamburan ke lantai keramik.

“Mama sudah bilang berkali-kali, Bar!” Suaranya meninggi, mengoyak sepi kamar. Tenaga yang tadi hilang seolah kembali saat marah. “Jangan dekati dia. Dia mantan istri kakakmu. Apa kata keluarga kalau tahu kamu berhubungan sama dia? Apa kata orang?”

Bara menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Ia meletakkan mangkuk itu kembali ke meja, pelan, agar tidak menimbulkan bunyi.

“Aku ke kamar,” katanya singkat.

Ia keluar. Di belakangnya, Ibu Desy berteriak, lalu melempar selimut ke lantai. Suara kain jatuh seolah terdengar keras di ruang yang sempit.

Bara menuruni tangga dua anak sekaligus. Amarahnya penuh di dada, menyesak sampai ke tenggorokan. Ia tidak tahu mau ke mana. Hanya ingin menjauh dari suara itu, dari rumah itu.

Di anak tangga terakhir, Arkan menghadang. Berdiri tegak, menghalangi jalan.

“Di mana Naya sekarang?” tanya Arkan. Suaranya rendah, tapi menekan.

Bara diam. Ia mencoba melewati, tapi Arkan menahan lengannya.

“Bar, jawab gue!”

Sesuatu di dalam Bara putus. Tanpa pikir panjang, ia mencengkeram kerah kaos Arkan. Tangannya gemetar. Lalu ia melayangkan pukulan ke pipi kakaknya sendiri.

Bugh.

Suara daging bertemu tulang terdengar jelas di ruang itu. Arkan terhuyung, jatuh terduduk di lantai. Ia mengusap darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Lalu ia tertawa. Pelan, pendek, seperti orang yang sudah menduga hal ini akan terjadi.

“Harusnya lo sadar. Kelakuan lo udah bikin orang sakit hati. Bajingan!.”emosi Bara sudah berada dipuncak, ia tak bisa menahannya lagi.

Arkan bangkit. Ia mengusap sisa darah, lalu melangkah mendekat. Wajah mereka hanya sejengkal. Ia berbisik, cukup keras agar Bara dengar, cukup pelan agar tidak sampai ke kamar Ibu.

“Ternyata benar. Adek kandung gue suka sama kakak iparnya sendiri. Sampai batalin pernikahan”

Ia mundur selangkah. Matanya menatap Bara lurus.

“Berarti yang bajingan yang sebenarnya itu lo, Bara" suara Arkan seolah menusuk dan berbekas di pikiran Bara, lelaki itu tak menjawab hanya mengepalkan tangannya dengan kuat, dan Arkan pergi memasuki kamarnya, bunyi pintu yang dibanting mengisi ruangan sepi itu.

***

Kafe di lantai dua mal kota sepi jam tiga sore. Musik jazz mengalun pelan, tapi Jeslyn tidak mendengarnya.

Tangannya menggenggam gelas iced latte sampai buku-buku jarinya putih. Riasan wajahnya masih sempurna, tapi mata sembab di balik kacamata hitamnya susah ditutupi. Sejak seminggu lalu, undangan pernikahan yang sudah tersebar harus ditarik satu per satu. Alasannya ditunda. Padahal semua orang tahu, Bara yang mundur.

Pintu kafe terbuka. Dewi masuk dengan langkah ringan, tas branded di bahu, senyum tipis di bibir. Ia melihat Jeslyn, lalu berjalan mendekat.

“Telat,” ucap Jeslyn tanpa menoleh.

“Macet,” jawab Dewi sambil duduk. Ia melepas kacamata hitamnya, meletakkannya di meja. “Ngomong aja langsung. Cari aku buat apa?”

Jeslyn menatap Dewi untuk pertama kali sejak duduk di sana. Tatapannya tajam, tapi di balik itu ada retakan yang belum kering.

“Bara batal nikah sama aku.”

Dewi diam. Ia sudah mendengar kabar itu dari Arkan semalam. Tapi ia tetap mengangguk pelan, seolah baru tahu.

“Karena Naya,” lanjut Jeslyn. Suaranya bergetar, tapi ia tahan. “Dia pergi. Bara cari dia keliling kota. Ibu Desy sakit karena stres. Rumah itu berantakan karena perempuan itu.”

“Jes…”

“Jangan belain dia.” Jeslyn memotong. Ia bersandar ke kursi, menarik napas panjang. “Aku sudah dipermalukan di depan semua orang. Ayahku ditelepon teman-temannya nanya kenapa acara dibatalkan. Aku nggak bisa tidur seminggu.”

Dewi menatap gelasnya. Ia tahu Naya adalah duri bagi semua orang di lingkaran itu. Termasuk dirinya. Arkan belum benar-benar lepas dari Naya, walau mulutnya bilang sudah.

“Jadi kamu mau apa?” tanya Dewi akhirnya.

Jeslyn merendahkan suara. “Kita kerja sama.”

Dewi mengerutkan kening.

“Naya harus hancur,” lanjut Jeslyn. “Harus. Biar dia nggak punya tempat balik lagi ke sini lagi. Biar Bara sadar, dia nggak akan pernah bisa sama perempuan itu.”

“Kamu sadar nggak sih omongan kamu itu—”

“Aku sadar.” Jeslyn menatap lurus ke mata Dewi. “Kamu juga benci dia, kan? Dia penghalang antara kamu dan Arkan. Kita punya musuh yang sama.”

Angin dari AC membuat kertas tisu di meja sedikit bergerak. Dewi tidak langsung menjawab. Ia memikirkan risiko, memikirkan Arkan, memikirkan seberapa jauh Jeslyn mau pergi.

"Tqpi dia udah cerai sama Arkan dan.."

"Dan Arkan semakin cuek kan sama kamu?" potong Jeslyn langsung.

Dewi menghela nafas kasar. “Terus rencananya apa?” tanya Dewi pelan.

Jeslyn tersenyum. Untuk pertama kali sejak masuk kafe, senyum itu sampai ke matanya. Tapi bukan senyum bahagia.

“Itu urusan kita berdua sekarang,” katanya. “Yang penting, Naya nggak boleh menang.”

Di luar kafe, langit mulai mendung. Hujan sebentar lagi turun.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!