NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Bertemu Damian

Malam harinya, pesisir Pantai Blue Waves riuh oleh kepulan asap dan tawa. Acara malam itu adalah perayaan api unggun, sekaligus pesta perpisahan bagi seluruh rombongan siswa kelas 3 SMA Vesperania High School. Ini menjadi malam terakhir bagi Evelyn dan Sofia menikmati atmosfer pesisir sebelum besok kembali ke rutinitas kota.

Semua orang duduk melingkar, mengitari kobaran api unggun raksasa yang menari-nari ditiup angin laut. Di sudut lain, beberapa guru dan murid tampak sibuk membalik potongan daging, jagung, dan ikan segar di atas panggangan bbq. Aroma bakaran yang gurih menguar hebat di udara.

"Makanlah ini, Eve!" Sofia menyodorkan sepotong ikan bakar yang masih mengepul hangat pada Evelyn.

Sial bagi Evelyn. Aroma gurih yang bercampur sedikit bau amis laut itu justru langsung mengingatkannya pada si pangeran bajingan, Kaelen. Apalagi saat mata Evelyn tidak sengaja menangkap guratan sisik tebal pada permukaan ikan kakap bakar tersebut. Rasa jijik dan amarah mendadak naik ke ubun-ubunnya.

"Aku tidak mau. Aku mau jagung bakar saja," ketus Evelyn sembari mendorong menjauh piring ikan tersebut. Tanpa permisi, ia merebut paksa jagung bakar yang dipegang tangan kiri Sofia.

"Heh, kau ini! Itu jagung bakarku, kenapa main ambil saja?" protes Sofia merengut. "Lagipula tumben sekali kau menolak ikan bakar. Bukankah ini makanan laut favoritmu?"

Sofia mencubit sedikit daging ikan tersebut lalu mengunyahnya dengan nikmat. "Emm, ini benar-benar enak, Eve. Serius, cobalah sedikit!" Sofia kembali menyodorkan piringnya ke depan wajah Evelyn.

"Ah, tidak mau! Mulai detik ini, aku membenci semua hal yang berhubungan dengan ikan," tolak Evelyn mutlak.

"Tapi ini ikan kakap laut pilihan, rasanya gurih dan lezat—"

"Mau ikan kakap, ikan hias, atau ikan paus sekalipun aku tidak peduli! Pokoknya, aku membenci segala jenis ikan di semesta ini. Singkirkan benda itu dari depanku, Sofia!" Evelyn langsung beranjak berdiri dari atas karpet.

Bau bakaran ikan itu mendadak membuat perutnya bergejolak mual setengah mati. Meskipun aroma bumbunya menggugah selera, egonya menolak keras asupan apa pun yang mengingatkannya pada klan mermaid. Evelyn melangkah lebar, mencoba menjauh dari Sofia.

"Tunggu, Eve! Ayolah, jangan lebay, ini enak tahu!" Sofia terkekeh geli.

Melihat reaksi berlebihan sahabatnya, insting jahil Sofia langsung bangkit. Ia ikut berdiri, membawa piring ikan bakarnya, lalu mulai berjalan cepat mengejar Evelyn demi menjahilinya.

"Berhenti mengejarku, Sofia!" seru Evelyn sembari tertawa tulus. Ia berlari-lari kecil di atas hamparan pasir dengan sebelah tangan memeluk jagung bakar erat-erat.

"Hahaha! Jangan bilang seorang Evelyn mendadak fobia dan takut pada ikan!" goda Sofia tertawa lepas, terus membayangi langkah Evelyn di bawah temaram cahaya api unggun.

****

Setelah perayaan api unggun di tepi pantai Blue Waves usai dilaksanakan, kegelapan malam mulai menyelimuti pesisir. Evelyn pun menepati janji yang ia buat kemarin siang untuk mengajak Sofia kembali mengunjungi festival pasar malam lokal.

"Kau mau beli jagung bakar lagi, kan?" tanya Evelyn saat langkah kaki mereka mulai berjalan memasuki area festival yang gemerlap oleh lampu warna-warni.

Sofia mendengus sembari mengerucutkan bibirnya cemberut. "Yang benar saja, Eve! Kau mau membuat perutku meledak, ya? Tadi sore aku sudah makan banyak ikan dan cumi bakar di pantai. Sepertinya untuk malam ini, aku mau menikmati semua wahana permainan yang ada di festival ini saja. Bagaimana kalau kita naik bianglala? Kau mau, kan?" tanya Sofia dengan tatapan antusias.

Evelyn mengulas senyum tipis. "Oke. Aku ikut saja."

Sofia langsung menggandeng riang tangan Evelyn menuju wahana kincir raksasa tersebut.

Setelah mengantre tiket beberapa menit, keduanya pun melangkah masuk ke dalam salah satu kabin bianglala yang memiliki kapasitas maksimum empat orang.

Kebetulan, saat giliran mereka naik, kabin yang mereka tempati tidak kosong melompong. Sudah ada seorang pria misterius yang duduk di sana, mengenakan jaket tebal dan masker hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya.

Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, Sofia dan Evelyn mengambil posisi duduk di seberang pria tersebut.

"Aku sedikit gugup, Eve," bisik Sofia, merapatkan tubuhnya di sebelah Evelyn saat pintu kabin dikunci dari luar.

Sementara itu, pria bermasker di hadapan mereka hanya diam seribu bahasa tanpa menghiraukan kehadiran dua gadis remaja tersebut. Ia duduk menopang dagu dengan sebelah tangan, sembari memalingkan wajahnya ke samping menatap jendela bianglala.

"Pegangan saja yang kuat," ucap Evelyn menenangkan. Sifat dasarnya yang acuh tak acuh membuat Evelyn memilih mengabaikan pria asing itu dan ikut melemparkan pandangannya keluar jendela kaca.

Begitu wahana kincir itu bergerak naik secara perlahan ke atas, ketakutan Sofia menguap, berganti dengan decak kagum. "Wah, indahnya...!" pekik gadis itu antusias. Ia menempelkan wajahnya ke kaca, memandang ke arah hamparan lampu-lampu kota yang menghias sepanjang area festival di bawah sana.

Namun, tepat saat kabin mereka mencapai puncak tertinggi...

Ctak!

Suara petikan jari yang ghaib bergaung pelan namun beresonansi kuat di udara. Seketika itu juga, keajaiban yang mengerikan terjadi.

Semuanya terhenti. Wahana bianglala raksasa itu mendadak berhenti bergerak, jeritan riuh pengunjung di bawah sana lenyap, bahkan embusan angin malam pun membeku kaku di udara.

Evelyn terlonjak kaget. Insting waspadanya berteriak keras saat menyadari atmosfer di sekitar mereka mendadak mendingin drastis. Ia menatap ke luar jendela dengan panik. "Kenapa tiba-tiba berhenti?"

Evelyn beralih menoleh ke arah Sofia yang duduk di sampingnya. Detak jantungnya seolah mencelos saat melihat tubuh sahabatnya itu mematung kaku tanpa berkedip, persis seperti patung lilin yang kehilangan kesadaran waktu.

"Sofia? Kau kenapa? Hei, Sofia!" Evelyn mengguncang-guncang pundak sahabatnya, namun tidak ada respons sedikit pun.

Sementara itu, pria bermasker di depan mereka tetap bersikap acuh tak acuh, masih setia menatap ke arah luar jendela seolah-olah fenomena pembekuan waktu ini adalah hal yang biasa baginya.

Mulai dikuasai kepanikan, Evelyn beralih menatap tajam pria misterius itu. "Tuan! Tolong... sahabatku ini kenapa bisa mendadak lumpuh begini?!"

Pria itu bergerak lambat. Ia menoleh perlahan, menatap langsung ke arah Evelyn dengan sepasang manik mata gelap yang memancarkan sorot kelam yang sulit diartikan. "Untuk apa aku harus menolong manusia fana rendahan seperti dia?" ucapnya dingin.

Evelyn mengernyitkan keningnya dalam-dalam. Bulu kuduknya meremang hebat. Ia sangat mengenali karakter bariton yang berat, dingin dan penuh intimidasi tersebut. Namun, ia tidak mau bertindak gegabah sebelum memastikan dugaannya.

"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Evelyn dengan nada suara yang bergetar waspada.

Pria itu terkekeh rendah—sebuah tawa sarkas yang terdengar sangat memikat sekaligus mematikan di dalam kabin sempit itu. Jemari tangannya bergerak perlahan, melepas masker hitam yang menutupi wajah rupawannya.

"Hai, Evelyn. Belahan jiwaku... Akhirnya kita bertemu lagi dalam jarak sedekat ini," ucap pria itu sembari menyunggingkan senyuman miring yang provokatif. Pria di hadapannya saat ini tidak lain adalah Damian Dexter, sang Raja Demon.

"Kau...!" Napas Evelyn memburu ghaib. "Jangan bilang... kau yang membuat temanku mematung dan membuat seluruh waktu di tempat ini berhenti?!"

1
Eka Putri Handayani
Benci banget aku sama karakter pangeran duyung sialan itu😭
Soobin Chan: harusnya di apain nih? karungin aja kali ya🤣
total 1 replies
Soobin Chan
yang suka sama ceritanya jangan lupa like, komen dan support author ya😍🙏
Janet Janet
double up Thor ceritamu bagus
Soobin Chan: jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya😄
total 2 replies
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!